
"Oh, iya. Gojo ini wujudnya sama seperti kita," Ken mengambil alih, menerangkan. "Nih, lihat ya?" Ia mengambil selimut gadis itu dan menutup tubuh kucing itu sebagian. Kucing itu kemudian berubah wujud menjadi manusia. Tubuh kekar dan ototnya tercetak jelas di tubuhnya.
Mira melongo. "Jadi kamu bisa jadi binatang apa saja?"
"Iya."
Gadis itu mengagumi otot-otot di tubuh pria itu membuat Ken menyesal menyuruhnya jadi manusia.
Pemuda itu bergeser menutupi pandangan gadis itu. "Kamu ya, matanya nakal."
Mira menutup wajahnya karena malu. "Enggak kok, aku gak gitu." Namun terlihat jelas, pipinya memerah.
Ken juga tiba-tiba terdesak keadaan ketika perutnya tak bisa diajak kompromi. "Eh, Mira. Maaf." Ia berdehem sebentar. "Aku kabur dari rumah mengaku mau sarapan ditraktir kamu, jadi inilah aku di sini. Apa kamu bisa membelikan kami sarapan?" pintanya dengan wajah memelas.
"Aku yang traktir?" tanya Mira heran.
"Panjang ceritanya, nanti aku akan ceritakan. Yang penting, kau belikan dulu sarapanku dan Gojo, aku sudah tak tahan. Lapar." Pemuda itu mengusap perutnya sementara Gojo sibuk melilitkan selimut itu di pinggangnya. Ken menepuk tangannya dan keluarlah koin emas itu. "Ini sebagai ganti uangmu."
"Sebenarnya tidak usah," tolak gadis itu.
"Tapi aku memaksa, karena harusnya aku yang mentraktir kamu tapi aku tak pegang uang karena gak kerja."
Gadis itu bimbang.
"Mira, jangan lama-lama, aku lapar ini ...," pemuda itu memohon.
"Oh, ya udah." Gadis itu beranjak berdiri.
"Tapi koin ini pegang saja, untuk kamu jaga-jaga." Ken kembali menyodorkan koin emas itu pada Mira.
Gadis berkepang dua itu mengambilnya dan pergi keluar. Tak lama ia kembali dengan bungkusan plastik di tangan. Gojo dan Ken mendapat roti dan susu kotak.
"Kau tidak beli untukmu?" tanya Ken pada Mira.
"Tidak, aku sudah sarapan."
Mereka kemudian duduk di tepi ranjang. Pemuda itu duduk di tengah tapi terkadang Mira melirik tubuh Gojo yang berotot itu. Ia berusaha menghalangi tapi gadis itu seperti penasaran.
"Apa kamu lihat-lihat dia?" Suara pemuda itu terdengar sebal.
"Tidak. Aku baru tahu kalau tubuh berotot pria seperti itu," ucap gadis itu tak berkedip melihat ke arah tubuh Gojo.
"Ah, biasa saja," ucap Ken sambil merengut.
"Ngomong-ngomong, kalian pasti sudah berpetualang ke mana-mana. Boleh gak aku ikut denganmu, misalnya mendaftar jadi tentara seperti Mira?" tanya pria itu.
Keduanya kini menoleh ke arah gadis itu.
__ADS_1
"Rasanya tidak bisa, karena tentara ibu Ken semua wanita," jelas Mira.
Gojo menoleh ke arah pemuda itu sambil menggigit rotinya. "Kenapa semua wanita?"
"Mana aku tahu." Ken meminum susu coklatnya dan ia begitu senang karena akhirnya bisa merasakan susu coklat lagi.
Pria itu masih menatap Ken. "Atau jangan-jangan ibumu juga sibuk mencarikan jodoh buatmu?"
Ken dan Mira saling berpandangan.
"Jangan ngaco deh!" ucap Ken kesal. Ia bahkan pernah merasakan, ibu hendak mengganti gadis itu dengan orang lain.
Gojo tertawa. "Ya, barangkali ...," sahutnya asal. "Tapi aku beneran tertarik lho, kalau melihat pertualangan kalian. Selama ini hidupku membosankan, karena sejak ibu meninggal, aku tinggal sendirian di hutan itu."
"Memangnya sudah berapa lama kamu tinggal di situ?" tanya pemuda itu sambil mengigit rotinya.
"Dari lahir. Mungkin sudah hampir seratus tahun."
"Apa?" Ken melihat lagi tubuh dan wajah pria itu. Pria itu seperti berumur sekitar 25 tahunan. "Kenapa wajahmu masih muda. Aku sebenarnya harus memanggilmu apa? Kakek?"
"Eith, tidak begitu. Setelah dewasa kita akan melambat dan, bahkan berhenti tua."
"Benarkah?" Pemuda itu tercengang.
"Tapi nanti akan aku coba tanyakan pada ibu Ken soal ini." Tiba-tiba Mira bicara.
"Mengenai apa?" tanya Ken tak mengerti.
"Oh."
"Benar ya, soalnya aku mau saja kalau disuruh bantu Ken apa saja. Terserah," ucap Gojo dengan senyum terukir di wajahnya.
Ken merasa tubuhnya agak berbeda, padahal ia belum selesai makan. "Eh, Gojo. Kita pulang yuk!"
"Kenapa, Ken?" Gojo bisa melihat karena wajah pemuda itu pucat.
"Maaf Mira, aku pulang dulu." Ken segera berdiri. Ia tidak ingin gadis itu melihat tubuh lemahnya. Gojo pun segera berubah menjadi kucing kembali dan turun dari ranjang.
"Kenapa buru-buru?" tanya Mira heran.
"Eh, aku takut ayah mencariku," ucap pemuda itu tanpa menoleh.
"Iya, benar. Ayahnya sangat rewel," sambung Gojo.
Mira hanya menatap keduanya pergi dari tempat tinggalnya sambil melambaikan tangan. Kucing itu mengiringi Ken melangkah pulang ke rumah.
"Gojo, apa kamu tidak salah lihat? Kenapa kepalaku masih pusing, Gojo? Mungkin Ayah tidak meracuniku. Darimana kau tahu aku diracun?" tanya Ken.
__ADS_1
"Saat kau pingsan di hutan. Aku mengecek nadimu dan itu detak nadi dari seorang yang sedang keracunan. Aku tak mungkin salah sebab aku sudah belajar akupuntur sudah lama dan tak pernah meleset."
Pemuda itu melirik kucingnya. "Kau bisa akupuntur? Wah hebat juga. Hanya aku saja yang bodoh, tidak bisa apa-apa," ujarnya mulai lemah.
"Jangan bilang begitu, Ken. Kau sudah sampai sejauh ini menandakan kau pintar. Kau cerdas."
"Iya, maunya. Uh, aku mulai tak kuat." pemuda itu menyentuh dahinya.
"Kuatkan dirimu, Ken. Sebentar lagi kita sampai di rumah."
Ken tertatih berjalan di depan rumahnya tapi Gojo tak bisa membantu. Untung saja, tiba-tiba Jack keluar dan membantu pemuda itu masuk ke dalam rumah. Ketika pria itu membawa Ken ke arah tangga, pemuda itu menghentikannya.
"Ayah, katakan padaku, kau sayang padaku 'kan?"
"Tentu saja, Ken."
"Apa Ayah jujur padaku?"
Pria itu heran dan menoleh pada Ken. "Kenzie, kau bicara apa? Ayo! Sepertinya bicaramu semakin ngawur saja." Pemuda itu hampir saja digendong ketika Ken meraih baju Ayahnya dan menggenggamnya kuat-kuat.
"Ayah, apa kau meracuniku?" tanya pemuda itu, di saat tubuhnya sedang pada titik terendahnya.
"Apa?" Jack terkejut, tapi ia tak bisa fokus karena kini di depan rumahnya terdengar banyak mobil yang masuk. Terlihat bayangan mobil yang samar dari kaca jendela yang tertutup gorden tipis. Ia pun bingung, ada apa gerangan sehingga membawa Ken dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
Ia mengira anak buahnya datang sehingga ia membukakan saja pintu sebelum diketuk dan ia terkejut. Begitu banyak mobil polisi yang datang ke rumahnya. Seketika ia ingat Ken. Belum sempat ia berbalik, seorang polisi sudah menahannya untuk bergerak.
"Berhenti! Jangan bergerak!"
Rupanya Jack sudah diacungi senjata oleh beberapa dari mereka.
"Tapi anak Saya sedang sakit," dalih pria itu.
"Berhenti dan dengarkan kami!"
Jack terpaksa tak bisa berkutik karena dua orang dari mereka telah turun dan meringkusnya. Beberapa orang masuk ke dalam rumah dan juga memeriksa Ken.
"Jangan sentuh anakku, dia anakku!" Jack mulai memberontak tapi sia-sia. Ia mulai tahu, siapa yang telah mendalangi semua ini.
Seorang yang lebih senior turun dan memerintahkan untuk mengamankan rumah. "Geledak rumah ini, periksa anak itu."
"Dia anakku, jangan kau ambil dia dariku!" Pria itu kembali berontak.
"Bawa dia ke kantor polisi." Pria berpakaian polisi senior itu menunjuk pada Jack.
Jack pun digiring paksa ke dalam mobil.
"Komandan, anaknya sepertinya sedang sakit parah. Dia pingsan." Seorang perwira polisi menggendong Ken keluar dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bawa ia segera ke rumah sakit dan amankan rumah ini."
"Baik, komandan."