Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Janji


__ADS_3

Ken masih melongo. "Kau ada hanya untuk memastikan?"


Gadis itu tertawa pelan demi mengurangi ketegangan. "Ah, sudahlah, Kak. Ayo, bawa orang ini pulang." Ia beranjak berdiri.


Namun pemuda itu dengan cepat meraih tangan gadis itu dan menariknya. "Kamu jangan menghindar lagi, Mira."


"Yang menghindar itu siapa? Kakak 'kan?" Mira menghempas bokongnya di kursi, merengut lalu menghela napas kasar. Gerakan kelopak matanya yang pelan menatap pemuda itu dengan tatapan yang melankolis.


"Kalau Kakak tidak mau menjalani kehidupan Kakak yang sekarang, aku bisa apa? Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk menyukai hidupnya, tapi kakak tetap tak bisa ikut denganku. Aku hanya seorang tentara. Kalau pekerjaanku sudah selesai, aku harus kembali pada dewi Inari sampai aku mendapatkan tugas baru lainnya."


"Dewi Inari? Siapa itu dewi Inari?" Dahi pemuda itu berkerut.


"Masa Kakak tidak tahu. Itu 'kan nama lain ibumu?"


"Nama lain?"


"Iya."


"Kenapa ibuku pakai nama lain? Seperti buronan saja. Eh?" Pemuda itu melirik gadis itu. "Bukan 'kan?"


Mira tergelak. "Masa gak tau, Kak? Dia 'kan dewi."


"Eh, maksudnya apa, aku tak mengerti." Ken menggaruk-garuk kepalanya.


"Kak, ibu Kak Ken 'kan dewi padi. Kak Ken mengenalnya dengan nama siapa?"


"Sri."


"Oh, berarti nama Indonesianya."


"Nama Indonesianya? Memangnya dia punya berapa banyak nama?"


"Inari itu nama Jepangnya, Kak. Apa Kakak gak tau? Negara-negara penghasil padi pasti punya dewi untuk pelindung tanaman padi mereka dan nama berbeda-beda di tiap negara, tapi sebenarnya dewinya itu-itu juga."


"Oh, dewi Inari Jepang, aku tahu itu. Pantas saja rasanya nama itu begitu familiar. Eh, jadi ibuku sebenarnya orang mana?" Pemuda itu semakin bingung dibuatnya.


Mira mengangkat bahu. "Aku tidak tahu."

__ADS_1


Saat Ken sibuk berpikir, Mira berdiri. Gadis itu baru akan meninggalkan, ketika kembali pemuda itu meraih tangannya.


"Tunggu." Ken melepas kemeja dan meninggalkan kaos lengan pendek ditubuhnya. Ia memasangkan kemeja itu di bahu Mira . "Malam sedikit dingin. Jangan terlalu lama di luar, ya?"


Gadis itu terkejut dengan perhatian pemuda itu padanya, hingga tak ada kata yang bisa ia ucapkan.


"Aku akan bawa Vicky pulang tapi ...." Ken kembali meraih tangan gadis itu. "Kita akan ketemu lagi, 'kan?"


"Eh, iya, Kak."


Ken mengangkat jari kelingkingnya. Ia menggerakkan kelingking itu tanda menunggu. Gadis itu menautkan kelingkingnya pada kelingking pemuda itu.


"Janji selalu datang menemaniku, di saat aku membutuhkanmu?"


"Akan aku usahakan, Kak."


Sebenarnya pemuda itu tidak suka kalimat tanggung yang diucapkan gadis itu tapi ia maklumi karena ia tak tahu kendala apa yang dihadapi Mira. "Aku janji akan menolongmu di masa depan."


Gadis itu menatap nanar pemuda itu.


"Iya." Mira tersenyum bahagia.


"Ok, sekarang bantu aku membawanya ke motor." Ken membangunkan Vicky.


Pria itu sedikit kesal karena dibangunkan. "Mmh? Sebentar, aku mau tidur." Namun kemudian pria itu bersandar di kursi dan kembali tertidur.


"Eh, bagaimana cara aku membawanya?" Pemuda itu menoleh pada Mira. "Oh, tali!"


Mira memberikan sebuah tali dan Ken mengikat tangan pria itu. Pemuda itu membawa Vicky dengan mengalungkan tangan pria itu di leher dan menggendongnya di punggung. Mira mengiringi memastikan agar tak jatuh. Mereka berjalan hingga ke depan motor yang terparkir di depan bar. Gadis itu membantu Ken menaikkan pria itu ke motor.


Pemuda itu menyalakan motor. "Sampai jumpa, mmh ...."


"Besok!" Mira melambaikan tangannya dengan gembira.


"Hah, besok?"


Gadis itu melambaikan tangan dengan riang.

__ADS_1


Ken tiba-tiba teringat sesuatu hingga ia menepuk dahinya. "Oh, iya. Kami belum bayar minumannya."


"Nanti aku bayar, Kak."


Ken sebenarnya tak tega meninggalkan gadis itu sendirian di situ, tapi memang dialah yang dilindungi gadis itu, bukan gadis itu yang ia lindungi. Karena itu, pemuda itu bertekad agar segera menjadi manusia yang kuat agar bisa melindungi gadis itu di masa depan. "Terima kasih, ya? Nanti aku bayar." Ia menjalankan motornya.


Sesampainya di depan gedung markas West Eagle, hari sudah menjelang pagi. Untung saja ia mengingat jalan pulang, kalau tidak, entah kapan Ia bisa sampai ke gedung itu.


Ia memarkirkan motor itu di samping gedung dan kembali menurunkan Vicky yang mabuk dan menggendongnya ke dalam gedung. Orang-orang yang berkumpul di ruang tengah terkejut melihat kedatangan mereka.


Ternyata mereka tengah mengkhawatirkan keduanya. Melihat Ken tiba dengan menggendong pria itu di punggung, membuat mereka ramai-ramai datang untuk mengetahui ada apa gerangan hingga keduanya menghilang. Pemuda itu menurunkan Vicky di kursi sofa.


"Kalian ke mana?" tanya Ben bingung. Dialah orang yang pertama tahu, keduanya menghilang. Ia dekat dengan Vicky. Pria itu saat itu mengaku akan ke toilet, tapi ketika ditunggu sekian lama, pria itu tidak juga muncul hingga ia mencarinya sampai ke kamar.


Ia akhirnya mengetahui kalau Ken juga menghilang dan menyimpulkan keduanya memang sedang pergi bersama. Ketika melaporkan hal ini pada Jack dan membangunkan yang lainnya, mereka tidak setuju dengan pendapat Ben karena bisa saja terjadi hal lain yang tidak mereka ketahui. Mereka sibuk mengeluarkan teori hingga pada akhirnya Ken pulang membawa Vicky.


"Eh, kami pergi ke bar," jawab pemuda itu sambil membuka ikatan tangan Vicky.


"Hanya itu?" tanya Ben tak percaya.


"Iya. Kalau kalian tak percaya, tanyakan saja padanya," ucap Ken yang memasang wajah tanpa rasa bersalah. Ia melakukannya karena ia memang tak bersalah dan juga tidak bodoh. Ia kesal mendengar orang menyebutnya berwajah seperti orang bodoh.


Ben, Devan, Hugo dan juga Irish menoleh ke arah Vicky yang terlihat tertidur nyenyak.


"Eh, tapi mungkin setelah dia sudah tidak mabuk lagi." Pemuda itu melirik ke semua orang yang menatap ke arahnya. "Hoah ...." Ken menutup mulutnya pura-pura mengantuk. "Aku ngantuk, jadi aku mau tidur dulu ya?"


Pemuda itu meninggalkan mereka yang masih terheran-heran terhadapnya, lalu mulai menapaki anak tangga.


Jack yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum. "Pemuda misterius. Kau bahkan tidak lari dari tempat ini. Aneh. Ada pembicaraan apa kau dengan si bodoh itu hingga berubah pikiran dan menetap? Mmh ... makin hari kau makin menarik saja."


Ken sampai ke kamar dan menghempas tubuhnya ke atas ranjang. Tubuh pemuda itu sebetulnya lelah, tapi pertemuan dengan gadis itu hari ini sangat berkesan untuknya. Membuat ia punya tujuan dan mengenal sedikit tentang gadis misterius itu.


Ah, sudahlah. Waktuku untuk tidur mungkin tak banyak, jadi aku harus memanfaatkannya dengan maksimal. Pemuda itu memejamkan mata. Namun kembali terbayang wajah gadis itu yang imut dan lucu saat tersenyum atau tertawa. Saat diam, ia seperti gadis misterius yang entah kenapa, menarik. Ken tersenyum dengan mata terpejam.


-------------+++----------


Ken terbangun saat hari sudah mulai siang. Aneh, biasanya Irish dengan lancang datang ke kamar dan akan membangunkannya, tapi hingga sesiang itu tidak ada tanda-tanda wanita itu akan datang. Ini aneh. Apakah mereka terjaga hingga pagi seperti dirinya hingga kini mereka baru bisa menikmati tidur lelapnya?

__ADS_1


__ADS_2