
Penjaga musium itu bertemu dengan tentara kerajaan Arab. Ia terengah-engah mendatangi mereka karena habis berlari. "Pak, maaf. Sepertinya permata Ainum Zah dicuri. Permata itu sudah tidak ada lagi di tempatnya."
"Apa?" sahut Kepala Polisi itu, terkejut.
"Benar. Tadi aku ke sana memeriksa permata itu, tapi permata itu tidak ada dalam kotaknya."
Segera Kepala Polisi itu berlari ke tempat permata itu berada. Anak buahnya mengikuti pria itu dari belakang. Ia melihat sendiri kala lampu sorot itu, menyinari kotak perhiasan itu dan permata itu kini sudah tak ada lagi ditempatnya. Permata itu sudah menghilang.
Pria itu melongo. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah pengamanan diganti jadi lebih canggih? Seharusnya pengamanan itu bekerja lebih baik dari pengamanan anak buahnya, tapi kenapa malah bekerja sebaliknya?
Ia mendekat. Lampu sorot dimatikan dan ia menyalakan lampu ruangan. Segera, ia menelisik seluruh ruangan dibantu anak buahnya. "Apa, kau tidak mendengar sesuatu atau bertemu seseorang?" tanyanya pada penjaga musium.
"Seseorang? Aku setiap hari bekerja sendirian di sini. Cuma ... tadi ada suara berisik di saluran udara, tapi sepertinya hanya tikus saja."
"Apa? Saluran udara?" Pria itu mengeluarkan pistolnya dan menatap ke arah saluran udara di atas mereka. "Berarti, kemungkinan pencuri itu masih ada karena kami baru meninggalkan tempat ini baru beberapa menit yang lalu."
"Apa?" Penjaga itu ikut-ikutan menatap ke arah saluran udara yang berada tepat di atas mereka.
"Di mana kira-kira sekarang mereka berada?"
"Mereka?" tanya penjaga itu.
"Kalau sendiri, pria itu pasti seorang profesional."
"Mmh ...." Penjaga itu masih menatap ke atas.
Kepala Polisi itu mengarahkan laras pistolnya ke arah saluran itu dan mengarah ke salah satu ujung saluran udara di ruangan itu. "Yang mana yang mengarah ke luar cepat?"
"Oh, aku tidak tahu itu, Pak," sahut penjaga.
Kepala Polisi itu bingung ingin menembak yang mana, tapi kemudian ia menunjuk dua orang anak buahnya yang juga membawa pistol laras pendek, untuk saling menembak di kedua ujung saluran itu mengikuti instruksinya. Pria itu kemudian menunjuk salah satu ujung saluran, lalu menunjuk di saluran berikutnya membuat bunyi letusan pistol itu terdengar beruntun.
Ken dan Mira bisa mendengar letusan itu, bahkan anggota tim yang berada di luar gedung. irish dan Jack saling berpandangan.
Mira dan Ken sudah berada dekat lubang angin yang terbuka. Keduanya saling pandang. Ken menyentuh lengan Mira. "Mira, ayo!"
"Tidak, Kakak yang harusnya keluar."
"Mira, ini bukan waktunya bercanda. Mereka sedang memburu kita lho. Ayo!" Pemuda itu meraih lengan gadis itu tapi gadis itu bertahan.
"Kak, tim Kakak menunggu di luar. Kalau aku ikut, mereka akan menangkapku."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Dari pada kau mati tertembak di sini. Jangan takut, aku akan melindungimu dari gangguan orang-orang di timku. Aku janji aku akan menjagamu."
Gadis itu menatap Ken. Bola matanya terlihat indah saat gadis itu tersenyum. "Terima kasih."
Kembali terdengar letusan. Para tentara itu memang tidak main-main dan memang sedang memburu si pencuri permata itu.
"Kakak duluan, nanti aku di belakang." Gadis itu menepis tangan pemuda itu.
"Oiya, nanti aku akan menangkapmu turun." Ken bergerak merangkak ke arah saluran udara menuju keluar.
Tak lama terdengar lagi suara letusan. Pemuda itu menoleh. Ia melihat gadis itu masih belum bergerak dari tempatnya. "Mira, ayo!"
"Aku akan pergi."
"Tidak! Mira! Kau tak boleh ke sana!" teriak Ken. Suaranya menggema sehingga para tentara di dalam musium itu mendengarnya. Mereka mulai bisa menemukan daerah yang dicurigai.
Sementara itu di luar, Jack menelepon Ben yang berada di gedung yang berseberangan dengan musium. "Halo Ben. Lindungi Ken, bila bisa keluar dengan selamat. Kau dengar?"
Ben yang berada di atap gedung, mengiyakan. "Ok." Kemudian ia menutup handphone-nya dan menoleh pada Vicky. "Ayo. Kita siap-siap kabur."
"Mmh," jawab pria itu sedikit kesal.
Ben mulai mengarahkan pistol ke bawah dengan bersandar di pinggir dinding pembatas atap gedung.
"Ok, Jack." Pria berbadan kekar itu turun dari mobil.
Sementara itu di saluran udara, Mira meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Ssst." Ia kemudian menyusul Ken.
Pemuda itu kembali merangkak hingga sampai ke depan lubang udara. Ia menengok ke bawah dan ada Hugo di sana. "Mira, temanku ...."
Belum selesai ia bicara, gadis itu mendorong Ken ke arah luar.
"Ah, Mira, nanti aku ja— Ah!" Pemuda itu benar-benar jatuh karena dorongan gadis itu.
Untung Hugo menangkapnya. Pemuda itu terkejut dan mendongak ke atas. Wajah gadis itu muncul dari lubang saluran udara dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Mira, kau mau ke mana?! Jangan ... jangan masuk lagi, itu bahaya!" teriak Ken.
Pemuda itu diturunkan ke atas aspal dan diseret Hugo menuju mobil van. Ia tak bisa melepaskan diri karena genggaman tangan pria itu yang begitu kuat.
"Tunggu, Hugo! Temanku ada di atas," pinta Ken tapi Hugo tak peduli.
__ADS_1
Pria itu terus saja menarik pemuda itu tanpa peduli apa yang dikatakannya.
"Mira!" Ken masih menoleh sementara Mira mengirim Kiss bye(mencium telapak tangan lalu meniupnya) pada Ken sambil melambai-lambaikan tangannya kembali. Gadis itu kembali masuk ke dalam lubang.
"Mira ...." Ken terkejut. Kenapa gadis itu terlihat santai? Apa dia akan baik-baik saja berada di dalam sana? Apa dia sanggup menghindarinya? Kepala pemuda itu dipenuhi berbagai pertanyaan yang ia tak sanggup menjawabnya. Sementara tubuhnya masih ditarik ke arah mobil tim, ia menatap ke arah gedung itu. Semoga kau selamat, Mira, doa Ken dalam hati.
Pintu mobil van terbuka di bagian belakang. Setelah Ken masuk bersama Hugo, mobil bergerak cepat keluar area perparkiran.
Devan melirik ke arah Ken yang duduk di lantai mobil bersama Hugo. "Apa kau mendapatkan permatanya?"
Ken mengeluarkan permata itu dari salah satu kantung di pinggangnya. Ia menyerahkannya pada Devan.
Irish melihat dari cermin kecil di depannya bahwa Ken telah mendapatkan permata itu. Rupanya Irishlah yang sedang menyetir mobil.
Terdengar kembali suara letusan. Wanita itu melirik ke arah kaca spion samping. 2 orang tentara tengah mengejar mobil mereka. Senjata diarahkan pada mobil tapi sebelum ditembakkan, terdengar suara tembakkan 2 kali dan kedua pria itu roboh. Irish masih sempat menyaksikan, sebelum mobil itu berbelok dan mengencangkan laju mobil itu di jalan.
Kepala polisi itu dan yang lainnya datang terlambat. Mereka tidak melihat kejadian yang sesungguhnya sehingga hanya bisa melihat kedua anak buahnya tergeletak di aspal sudah meregang bernyawa. Ia terlihat begitu kesal.
Ken dibawa kembali ke markas mereka, tapi di sana ia malah diinterogasi.
"Siapa itu Mira?" tanya Irish, ingin tahu.
"Oh, dia temanku. Dia sedang ada urusan di sana jadi kami bertemu." Pemuda itu berbohong.
"Teman dari mana?"
Ken menatap Irish dengan kening berkerut. "Itu tidak penting 'kan? Yang penting aku sudah mengambilkan permata itu untukmu. Mana kalungku, sini!" Ia menyodorkan tangannya.
"Kita belum dibayar."
"Tidak perlu!" ucap Ken cepat. "Aku hanya ingin keluar dari sini."
"Kau tidak bisa keluar tanpa izin Jack."
"Ck!" Wajah pemuda itu terlihat kesal. "Aku tidak mau bekerja lagi untuk kalian, jadi ...."
"Kau akan ikut misi berikutnya, Ken," potong Jack yang datang mendekat.
"Apa?"
____________________________________________
__ADS_1
Yuk, kepoin novel punya teman author yang satu ini.