Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Interogasi


__ADS_3

"Dia muridku. Kenapa aku tak boleh bicara dengannya?" tanya pria berambut kaku itu pada Ejiro.


"Mmh, memangnya orang tidak boleh punya rahasia?" Pria bercodet itu berusaha melindungi Ken. "Apa kau tidak punya rahasia yang kau sembunyikan dari kami?"


Odagiri melotot, kesal. "Jangan mengajariku, bagaimana aku harus mengajari muridku!"


Ejiro tersenyum miring. "Begitukah? Orang besar tak mau ditunjuk kesalahannya, sedang orang kecil selalu diingatkan tentang kesalahannya. Egois!"


"Apa kau bilang!" Pria berambut kaku itu bergerak maju hingga Ken maju melerai keduanya.


Murid Odagiri itu mendorong keduanya menjauh. "Sudah, sudah, sudah. Iya, maaf. Aku mengaku salah. Aku yang membuat semua kekacauan ini," ucapnya masih menunduk. "Tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu, Ivan kabur. Ini sangat berbahaya karena gigitannya bisa membuat seseorang tertular seperti Ivan, jadi drakula."


"Drakula itu, apa semacam penyakit?" tanya pria bercodet itu ingin tahu.


"Setiap di atas jam 10 malam biasanya mereka jadi drakula. Mereka haus darah dan mencari mangsa."


"Tunggu dulu, haus darah dan mencari mangsa?" Ejiro mengulang. "Ini bukan manusia 'kan? Mencari mangsa apa?"


Ken hanya membagikan ingatannya waktu menonton film drakula. "Setahuku, drakula itu tidak bisa keluar siang hari karena takut dengan matahari. Tubuhnya bisa hangus bila kena sinar matahari langsung. Dia mencari mangsa manusia yang akan dihisap darahnya sampai kering, dan yang hanya digigit dan dihisap darahnya sedikit akan jadi drakula seperti Ivan. Untung, itu tak terjadi padaku."


"Maksudmu, kau sempat tergigit olehnya?" tanya Ejiro memperjelas.


"Iya, tapi temanku segera menolongku mengeluarkan racunnya sehingga aku terbebas dari pengaruh drakula itu."


"Jadi dia bukan manusia?" Kembali pria bercodet itu bertanya.


"Dia manusia, hanya awalnya saja aku tidak tahu bagaimana hingga ia bisa jadi drakula. Bahkan mereka lebih menyeramkan lagi saat gerhana bulan merah, mereka jadi ganas."


"Gerhana bulan merah?"


"Hei, sudahi omong kosong ini! Aku tak percaya ada makhluk jadi-jadian atau setengah dewa. Jadi katakan, kau ini penyihir 'kan Ken? Itu pasti temanmu yang sudah berbuat curang padamu dan aku tidak tahu kenapa ia malah menginginkanmu!"


Kemarahan Odagiri malah membingungkan keduanya. Ken dan Ejiro saling berpandangan.


"Terserah saja, kalau tidak percaya," ucap pria berambut pendek itu pelan.

__ADS_1


Odagiri sangat penasaran hingga menarik lengan Ken kasar agar mendekat. "Katakan padaku, kau penyihir 'kan?" tanyanya lagi.


"Tidak."


"Lalu kau mau menerangkan apa tentang benang ulat sutraku yang kau curi dan jadikan tiang kaku seperti itu, mmh?"


"Aku hanya ... bisa melakukannya saja."


"Jangan bohong, Ken." Odagiri kembali menariknya kasar karena marah.


"Hei, sudah!" Pria bercodet itu menarik Ken ke belakang. "Kalau kalian sudah tak sepaham, kenapa tidak hidup sendiri-sendiri saja? Lepaskan saja, Ken."


Ejiro malah didorong ke samping seenaknya oleh pria berambut kaku itu. "Aku sedang bicara dengan muridku, kau jangan ikut campur!" bentaknya.


"Hei, Ken itu pria jujur. Kalau kau tak percaya, ya sudah."


Odagiri menatap pria bercodet dengan tajam. "Aku tidak bertanya padamu, kenapa kau menjawabnya? Memangnya siapa kamu? Kamu hanya seorang teman baginya. Iya 'kan?"


Lama-lama, Ejiro mulai kesal pada pria berambut kaku itu dan hampir menghunus pedang. "Hei, aku juga sama dengannya!"


"Sama apanya? Kau hanya seorang samurai. Seorang anjing yang menurut pada tuannya."


Ejiro naik pitam dan bergerak maju. Pria berambut pendek itu mendorongnya kembali ke belakang. Saat itulah Odagiri melempar kepompong ulat sutra pada pria bercodet itu hingga benda itu berputar-putar pada tubuh Ejiro. Dalam hitungan detik, pria mantan samurai itu tubuhnya terikat benang ulat sutra.


"Apa ini? Agh!" Ia mencoba melepaskan diri tapi ia malah kesakitan.


"Ejiro ...." Ken menatap temannya itu dengan terkejut. Ia spontan menatap benang yang hampir tak terlihat saking tipisnya itu, meminta dilepaskan.


Benang, lepaskan Ejiro.


Benang itu dengan serta merta bergerak mundur dan membuka kembali ikatannya.


Odagiri bisa melihat sendiri bagaimana benang yang hanya dilihat oleh pria muda itu, bisa bergerak membuka ikatan dengan sendirinya. "Benar, kau penyihir!"


Ken terkejut. Apa yang dilakukannya malah membuat orang makin salah paham. "Bukan, bukan begitu ...."

__ADS_1


Tapi ucapannya kalah cepat dengan tangan pria berambut kaku itu yang bergerak ke belakang leher Ken dan menotok jalan darahnya. Seketika pria muda itu tak dapat bergerak.


"Sensei ...."


Odagiri juga menotok jalan darah Ejiro sebelum pria itu sempat terbebas dari benang ulat sutra sehingga baik Ken dan Ejiro, kedua tubuhnya menjadi kaku di tangan pria berambut kaku itu.


"Kau ini ...," geram pria bercodet itu.


"Ini sudah malam. Aku malas bertengkar jadi sebaiknya kalian kembali ke tempatku saja." Odagiri memanggul keduanya di kedua bahu lalu bergerak ke arah jurang.


Ia tetap lincah melompat dan berlari dan tak butuh waktu lama, ia telah sampai di depan pintu rumahnya. Ia memasukkan keduanya di kamar Ken dan membaringkan keduanya di ranjang itu. Kemudian menepuk-nepuk kedua tangannya karena sudah menyelesaikan masalah malam itu walaupun darurat.


"Kalian tidurlah dan kita akan menyelesaikannya besok pagi. Dan aku minta kalian jangan berisik karena aku benar-benar sudah mengantuk." Pria itu meninggalkan mereka di kamar itu berbaring berdampingan.


Ken menghela napas pelan. "Maafkan aku Ejiro, kau malah makin terlibat masalahku. Seharusnya aku bisa menyelesaikan masalah ini berdua dengannya tapi orang itu benar-benar keras kepala. Huh," lirih Ken.


"Sudahlah, kita hadapi saja dia besok. Yang penting aku sudah lega melihatmu sehat-sehat saja."


Pria berambut pendek itu bahkan tak bisa menoleh pada Ejiro. Hanya bola matanya saja yang bergerak dan melirik pria itu di sampingnya. "Terima kasih kau telah mengkhawatirkanku," ucapnya sedikit sedih.


-------------+++-----------


Pagi itu keduanya, Ken dan Ejiro kembali di sidang. Mereka didudukan di tanah menemani pria itu memancing di danau. Pria itu memasang kail dengan umpan dan melempar kail itu ke danau. Setelah itu, ia menancapkan pancingan itu ke tanah. Ia kemudian beralih pada keduanya.


"Coba terangkan padaku, Ken. Ilmu apa yang bisa membuat benang ulat sutraku bersatu dan keras seperti batu dan kini tergantung di pohon itu." Odagiri menunjuk pohon yang tak jauh dari mereka. "Ilmu apa yang kau sebut bukan sihir itu?"


Ken menjatuhkan pandangan karena tak tahu bagaimana cara mengatakannya. "Mereka hanya mengerjakan apa yang aku minta, itu saja," jawab Ken pelan.


"Apa itu bukan sihir?"


"Bukan," sahut Ejiro cepat. "Punya kemampuan dan sihir itu beda, tapi kalau aku ceritakan padamu kau pasti takkan pernah mau mendengar jadi percuma."


Odagiri menatap pria bercodet itu sejenak. "Baik, aku akan dengarkan, tapi ...." Ia mengangkat jari telunjuknya. "Asal kalian jujur."


Ejiro melirik Ken. Mau tak mau mereka harus berterus terang dan melihat reaksinya, karena sudah tidak mungkin lagi menyembunyikan hal ini dari lelaki itu karena lelaki itu sudah melihat Ken beraksi. "Sihir itu bisa dipelajari jadi semua orang bisa melakukannya sedang punya kemampuan khusus seperti Ken itu tidak bisa. Hanya orang yang bersangkutan saja yang bisa melakukannya."

__ADS_1


__ADS_2