Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Bertiga


__ADS_3

Ibu menggendong kucing itu dan membawanya pada pemuda itu. Ken menyambutnya dengan gembira, tapi kemudian datang rombongan dokter dan suster untuk memeriksa pemuda itu.


"Maaf, Bu. Tolong kucingnya dipegang dulu, kami mau periksa tubuh pasiennya."


"Oh ya." Chihiyo kemudian keluar sambil membawa kucing itu. Ia duduk di kursi panjang sambil meletakkan kucing itu di sampingnya. Dibanding memikirkan kucing itu, ia lebih memikirkan keadaan Ken. Ia ingin segera membawa pemuda itu pulang.


"Meong." Kucing itu bersandar pada wanita itu tapi wanita itu tampak terkejut.


Chihiyo merasa kesal karena kucing itu mengotori pakaiannya. Ia mendorongnya dengan ujung jari, tubuh binatang itu agar menjauh. "Ih!"


Aneh sekali ibu Ken yang ini. Ia tak bisa ramah dengan kucing, sepertinya.


Seorang suster kemudian keluar. Chihiyo segera menghampiri.


"Ibu, anak ibu mungkin dirawat di rumah sakit untuk malam ini karena ingin diperiksa lagi lebih mendalam tapi kemungkinan besok sudah bisa pulang," ujar suster itu.


"Benarkah? Syukurlah!" Wanita itu begitu senang. Berarti aku harus lebih perhatian lagi padanya agar ia percaya padaku. Sekarang aku tidak sendirian lagi melawan nenek sihir jahat itu. Lagipula, aku bisa memiliki semua harta kekayaan Northville yang seharusnya menjadi hak milikku dari semula. Ia mengepalkan tangan dengan tekad yang kuat.


-----------+++-----------


"Ibu, maaf, tapi aku bisa makan sendiri," gerutu Ken sambil meraih sendok makan dari Chihiyo.


"Kenzie, 'kan ada ibu. Biar ibu saja." Wanita itu kembali merebut sendok itu.


"Ayah saja membiarkan aku makan sendiri."


Wanita itu membulatkan matanya karena kesal. "Dia bukan ayahmu, Kenzie!"


Pemuda itu merengut.


Chihiyo merasa ia terlalu keras pada anaknya. Dilebarkan senyum dan direndahkan suaranya agak Ken tak jadi ngambek padanya. "Eh, i-ibu bukan mengekangmu tapi ibu sedih di sini karena orang lain kau anggap keluarga tetapi ibu tidak kau anggap siapa-siapa." Ia memperlihatkan wajah sendunya.


"Ibu ... bukan begitu." Ken jadi merasa bersalah.


Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Ken. "Lihat, rambut model apa yang ia buat untukmu ini, mmh?" Ia menepikan poni pemuda itu ke samping. "Anakku setampan ini dibuat seperti anak idiot. Kau tidak idiot, Kenzie. Kau pintar. Kau anak normal yang pintar. Kau anak ibu yang paling tampan dan pintar."


Pemuda itu terdiam mendengar ucapan wanita itu.


"Nah, biarkan ibu menyuapimu ya?"

__ADS_1


Ken mengangguk. Ia tak sampai hati mematahkan perasaan wanita itu yang tengah sedih. Chihiyo mulai menyuapi anaknya.


Terdengar ketukan di pintu. Ketika wanita itu menoleh, beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam ruangan. "Eh, maaf. Aku ingin menanyai saudara Kenzie Wickerman."


"Iya, Saya, Pak," jawab Ken.


"Tapi itu bukan nama aslinya, Pak. Namanya adalah ...."


"Itu sesuai di KTP, Ibu. Kalau mau dirubah, nanti saja," sahut polisi itu.


"Baiklah." Chihiyo mengalah.


Kemudian salah satu polisi itu menginterogasi Ken. "... Jadi saudara tidak tahu menahu soal racun?"


"Tidak, aku tidak tahu, Pak," jawab pemuda itu.


"Sudah pasti itu usaha Jack karena sakit hati aku menikah dengan orang lain, Pak," ucap wanita itu menggebu-gebu sambil melirik Ken. Ia ingin pemuda itu mendengar kata-katanya barusan.


"Maaf, Bu. Ini interogasi, tidak boleh ada asumsi, di sini," terang polisi itu.


"Eh, maaf, Pak."


"Dia bukan ...." Chihiyo melihat pandangan mata yang serius dari pemuda itu kepadanya.


"Mmh, boleh tentu saja," sahut polisi itu pada Ken.


"Bagaimana kalau sekarang?"


"Tapi Kenzie, kondisi badanmu tidak stabil, Kenzie." Chihiyo berusaha mencegahnya.


"Aku harus pastikan apa yang kudengar, Ibu."


Ken segera menggendong kucing yang berada dipangkuan. Wanita itu tak bisa mencegahnya dan polisi membantunya mengantar ke tempat Jack ditahan, sementara wanita itu juga ikut serta.


Jack hanya bisa ditemui di depan sel tahanan. Pria itu melihat Ken datang bersama Chihiyo, tapi pemuda itu meminta wanita itu tidak mengikutinya.


Pemuda itu bicara dengan Jack di depan pintu sel. "Ayah, aku ingin kau jujur kepadaku. Apa benar kau meracuniku?"


Chihiyo menunggu cemas dari kejauhan. Ia sampai menggigit kuku karena khawatir.

__ADS_1


"Baiklah, ayah akan berterus-terang kepadamu, tapi kau tak boleh mendengarnya setengah-setengah."


Ken memasang telinga sambil mengusap tubuh kucing yang berada di gendongan.


"Ibumu membuangmu Ken, demi suaminya yang sekarang, tapi beberapa tahun yang lalu ia menanyakan dirimu. Jadi aku begitu takut kau pergi jauh dariku hingga terpikirkan ide gila itu, tapi sungguh. Aku tidak berniat membunuhmu atau menyiksamu, Ken. Ayah bersumpah!" Wajah pria itu terlihat menyesal.


"Bohong!" sahut Chihiyo dari belakang mendatangi keduanya. Ia sendiri tidak begitu jelas mendengar apa yang sedang diucapkan keduanya tapi ia yakin Jack pasti membicarakan hal yang buruk tentang dirinya.


"Jangan pernah percaya dengan apa yang dikatakan pembohong satu ini. Ayo, kita kembali ke rumah sakit. Besok kau akan pulang ke rumah Keluarga Northville karena suamiku akan mengangkatmu menjadi anaknya dan kau akan mewarisi seluruh harta kekayaan keluarga itu."


"Apa?" Ken terkejut mendengar perkataan wanita itu barusan. "Tapi bagaimana dengan Ayah?"


Wanita itu menatap Ken dengan amat kesal. "Tidakkah kau dengar kata-kata ibu, heh? DIA BUKAN AYAHMU!


Tidak ada pertalian darah antara kamu dan dia, jadi dirimu bukan URUSANNYA LAGI dan dirinya bukan urusanmu lagi karena kalian dari awal sudah memang tak ada hubungan apa-apa. Daripada terus melakukan kebohongan, sebaiknya pria itu berusaha berlaku baik atau hukumannya akan berat, karena telah berhasil membawa lari dan meracuni anak orang lain, APA KAU MENGERTI ITU, KENZIE?"


Pemuda itu terperangah. Ia diam saja saat wanita itu menariknya.


"Kenzie, jangan percaya padanya, Kenzie. Wanita itu bohong! CHIHIYO, SIALAN KAMU!" teriak Jack sambil memukul besi dinding selnya karena geram.


Wanita itu tersenyum penuh kemenangan. Ken tentu saja tidak bisa melihatnya karena ia berada di belakang ibunya.


Di dalam mobil, pemuda itu begitu khawatir pada Jack karena biar bagaimana pun, ia pernah tinggal dengan pria itu. Bagaimana Jack mencurahkan kasih sayang padanya, membuat ia mulai mempercayai kata-kata pria itu tapi benarkah ibunya dulu membuangnya? Namun sekarang ia bersamanya, jadi sebenarnya, siapa yang berbohong di antara mereka? "Ibu... bisakah Ibu meringankan hukuman Ayah?"


Mata wanita itu mulai melotot membuat Ken meralat ucapannya.


"Pak Jack, ok?"


Wanita itu membuang wajahnya ke samping.


"Ibu ...."


--------------+++------------


Ken ikut masuk mengekor wanita itu di belakang. Sebuah rumah yang mirip istana. Langit-langitnya begitu tinggi dan ruangannya besar-besar. Ini mengingatkannya dengan istana Dalai Lama tapi yang ini lebih mewah. Di beberapa ruang lepas ada lampu kristal yang besar dan cantik.


Koridornya saja begitu panjang dan luas hingga akhirnya mereka menemukan ujungnya dan kemudian berbelok. Sebuah meja makan yang besar dengan beberapa orang berpakaian mewah dan elegan duduk di sana.


Seorang wanita paruh baya terkejut dengan penampilan Ken dan juga pakaiannya yang sederhana itu. "Apa ini? Kenapa ia dibawa masuk dengan pakaian olahraga raga seperti ini? Lihat wajahnya yang idiot dan kampungan itu!"

__ADS_1


__ADS_2