
Tali terlepas. Ken melirik Diego yang sedang fokus dengan keadaan sekitar. Pelan, ia bergerak menjauh, tapi itu cuma sebentar. Pria bule itu menyadari, hingga menjerat leher mahasiswa itu dengan lengannya.
"Ah ...." Ken memegangi lengan pria itu yang terlalu menempel di lehernya.
"Entah kenapa, kau selalu bisa kabur setelah kuikat!" ucap pria bule itu kesal.
"Eh, Diego ... tolong. Kita harus keluar dari sini," pinta Ken dengan masih berpegangan pada lengan pria bule itu.
"Jangan mengaturku! Aku tahu apa yang aku lakukan."
Keras kepala sekali orang ini. Padahal tempat ini dipenuhi oleh barang-barang berbahaya yang kalau bertebaran atau meledak, akan membuat kita semua mati. Bodohnya ....
"Hei, berhenti menyiksanya dan lepaskan dia!" teriak salah satu polisi yang melihat dari jauh, bule itu menjepit leher Ken. Padahal Diego hanya menahan agar Ken tak berusaha kabur.
"Mmh, lihat. Polisi tahu apa tentang apa yang dilihatnya, hah?" bisik pria bule itu.
Sambil menunggu melihat situasi, Ken melihat sekeliling. Tempat itu cukup luas sebenarnya, tapi karena banyak barang di dalamnya, tempatnya jadi sempit. Letak barang-barang laboratorium itu juga berada di tengah, jadi riskan untuk tersenggol dan jatuh ke bawah lalu pecah.
Tidak ada jalan lain selain keluar dari situ atau membahayakan semua orang, tapi kondisi Ken yang tak bisa lari membuatnya bingung. Namun setidaknya, ia harus mencobanya.
Kembali terdengar suara tembakan pistol dan suara orang ramai di atas. Sepertinya anak buah pria bule itu tertangkap.
"Sial!" Diego berpikir keras akan langkah selanjutnya. Kemudian ia menarik paksa mahasiswa kedokteran itu keluar dari tempat persembunyian dan menjadikannya tameng. Ia berjalan keluar ruangan sambil memeluk tubuh Ken dan menodongkan senjata pada para polisi.
Polisi masih mengarahkan senjata mengikuti ke mana keduanya pergi. Karena jalan sang pria Jepang pincang, itu menyulitkan Diego untuk membawanya pergi. Andai saja ada anak buahnya yang bisa membantunya.
Tiba-tiba Ken berontak dan berhasil melepaskan diri, tapi karena kondisi tubuhnya ia malah terjatuh. Di saat itulah polisi menembak Diego secara bertubi-tubi.
Pria Jepang itu terhenyak kaget karena pria muda itu harus menerima begitu banyak tembakan di tubuhnya. Sementara, walaupun Diego membalas, itu pun tak ada gunanya karena tubuhnya telah bersarang begitu banyak peluru dari berbagai penjuru. Bahkan dari atas, samping kiri, kanan dan depan.
Darah mengucur deras dari tubuh pria bule itu sebelum ia jatuh ke lantai dengan masih memegang pistol. Napasnya tersengal-sengal sambil melihat ke arah atas. Ken merangkak mendatanginya dengan wajah syok. Ia memangku pria itu. "Diego ...."
Pria itu meraih tangan Ken. "Aku ingin kembali ... ke zaman dulu ... di mana aku masih tinggal ... di panti asuhan. Seharusnya ... di saat itulah ... aku bertemu dirimu ... dan kamu ... menolong aku."
"Diego ...." Ken tak bisa menahan rasa sedihnya.
"Ken ... aku ingin memanggilmu ... Kakak."
__ADS_1
"Panggillah ...," ucap Ken dengan mata berkaca-kaca dan menjatuhkan setetes air matanya pada wajah pria bule itu.
"Kau menangis? Maaf, aku tak bisa ... melihatnya."
Ken memejamkan mata. Kenapa di saat bisa bertobat, ia malah memilih jalan mati? "Kenapa kau begitu keras kepala?"
Pria itu ingin tertawa tapi yang terjadi malah ia mengeluarkan darah kental dari mulutnya. "Kak Ken ...."
"Mmh."
"Temani aku, aku takut ... mati sendirian."
Ken mengangguk. Ia mengeratkan genggamannya hingga tangan pria itu dengan lemah, melepaskan. Pria itu meninggal dengan mata terbuka lebar. Ken membantu menutup matanya perlahan.
Pria bule itu, walau dalam waktu singkat mereka berkenalan. Ken merasa yakin Diego ingin kembali ke jalan yang benar, tapi tak yakin bisa. Karena itu pria bule itu berkeras meneruskan pekerjaannya. Mahasiswa itu hanya bisa menghela napas pelan.
---------+++--------
Ken baru akan masuk ke dalam ambulan, ketika seorang gadis menerobos masuk ke dalam daerah yang sudah ditutup polisi untuk orang umum.
"Kakak ...." Gadis itu berlari-lari ke arahnya.
Ken menoleh pada polisi yang menolongnya berjalan. "Eh, maaf, Pak. Boleh aku bicara dengannya?"
"Oh, boleh, silahkan."
Polisi lain yang hendak mengejar gadis itu menghentikan langkahnya, karena polisi yang bersama Ken memberi kesempatan keduanya bertemu.
"Kak Ken, apa kau baik-baik saja?" tanya Mira melihat pakaian pria itu bersimbah darah. Kemejanya koyak di bagian bahu, dan celananya juga robek di bagian bawah. Ia menyentuh lengan Ken.
"Oh, tidak apa-apa. Hanya luka di kaki dan bahu sedikit. Oh, darah di bajuku ini darah orang lain," pria itu menjelaskan.
"Oh, syukurlah." Gadis itu bernapas lega.
"Kau tahu dari mana tempat ini?" tanya Ken heran, padahal ia tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya dibuang oleh Diego.
"Ada temanmu tadi pagi datang ke apartemenmu, saat aku juga mencarimu."
__ADS_1
"Mmh? Hannon?"
"Iya. Tadinya aku tidak tahu kalau kau ada masalah sampai dia cerita, HPmu tidak bisa dihubungi sejak tadi pagi. Katanya, dosenmu mencarimu. Karena itu aku mencari Dewi."
"Oh, begitu."
"Tadi, aku sampai sini waktu aku dengar suara anjing menggonggong dan suara Kakak mengaduh. Aku ingin menolong tapi aku ada di balik pagar jadi tidak bisa melihat apapun. Lalu, 😅pada saat aku sedang membuat strategi untuk masuk, polisi ternyata telah lebih dulu masuk bersama dengan rombongannya."
Ken menoleh ke arah polisi di sampingnya. Mungkin polisi itu merasa aneh mendengar cerita gadis itu yang berstrategi untuk masuk sarang narkoba. Polisi itu pasti berpikir, gadis ini hanya berkhayal saja, berusaha membohongi pria Jepang ini. Ken hanya tersenyum pada polisi itu. "Eh, apa boleh aku pulang dengannya?"
"Tapi kamu 'kan akan divisum?"
"Eh, aku rasa tidak perlu, karena pelaku sudah meninggal. Tidak akan ada sidang."
"Tapi kami perlu keteranganmu sewaktu-waktu."
"Kalau begitu, aku akan tinggalkan alamatku."
Sambil menuliskan alamat pada buku catatan polisi itu, pria berpakai polisi Amerika itu kembali bertanya. "Apa kau tak mau diperiksa atau dirawat lukanya?"
"Saya mahasiswa kedokteran. Ini saja, aku akan ke rumah sakit, mendatangi guruku." Ken menyerahkan pena dan buku catatan kecil itu pada sang polisi.
Polisi itu akhirnya menyerah dan tidak lagi membujuk pria Jepang itu bersamanya. Ken akhirnya pergi dengan Mira pulang ke rumah menggunakan taksi.
"Kakak yakin ingin pulang ke rumah saja?"
"Tak ada yang seindah rumah sendiri."
Supir taksi sedikit terkejut melihat penampilan pria Jepang itu yang bersimbah darah. Apalagi keluar dari rumah yang tengah dipasang tanda polisi. "Apa boleh kalian pergi begitu saja dari tempat ini?" tanyanya.
"Pelakunya sudah meninggal, Pak. Tidak masalah."
Taksi itu kemudian membawa keduanya ke apartemen Ken. Sang pria dibantu gadis itu kembali ke dalam unit apartemennya dan duduk di sofa panjang. Ken mulai mengobati dirinya.
Ia menekan bahunya dengan satu tangan dan merasakan ototnya serasa tertarik dan ngilu sekali. "Ah!"
Mira hanya bisa melihat saja. Melihat pria itu bergelut dengan rasa sakit. Untung saja Ken bisa menyembuhkan dirinya sendiri, walaupun kadang melihatnya kesakitan tak urung membuat gadis itu merasa sedih.
__ADS_1