
Ken terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia tertawa. "Kau bercanda 'kan?"
Kucing itu menatap pemuda itu dengan serius. "Aku sungguh-sungguh, Ken. Kau pikir, kenapa tubuhmu lemah dan gampang pingsan?"
Pemuda itu langsung syok. "Tak mungkin ... tak mungkin Ayah melakukan itu padaku, tak mungkin ...." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tak ingin mempercayai informasi yang diberikan Gojo barusan. "Ayah sangat menyayangiku. Dia sangat baik padaku," ucapnya dengan yakin.
"Buka matamu lebar-lebar, Ken. Aku tak berbohong. Kau coba cari ibumu dan bicarakan ini padanya."
Ken melirik kucing itu. "Bukan begitu. Aku sedang ada misi masuk ke dalam tubuh ini."
Kucing itu melongo tidak mengerti. Akhirnya, Ken menceritakan tentang bagaimana ia bisa sampai masuk ke tubuh yang sekarang ditempatinya.
"Oh, begitu." Kucing itu akhirnya paham.
"Tapi aku yakin, Jack sangat menyayangi Ken karena dia adalah orang tuanya."
"Apa kau yakin, Jack adalah orang tuanya?"
"Apa?" Ken kembali terkejut.
"Ken ... Kenzie!" terdengar teriakan Jack dari lantai bawah yang menyadarkannya segera.
Kucing itu kembali menyentuh kaki pemuda itu. "Ken, usahakan kau tak makan makanan itu ya?" Ia memperingatkan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ken termenung.
"Kenzie!"
"Iya, Ayah!" teriak pemuda itu yang kemudian bergegas turun. Kucing itu pun mengekor di belakang.
"Ayo cepat makan, nanti kau sakit lagi." Pria itu menunjuk mangkuk Ken dengan dagunya.
Ken terdiam sesaat mencari cela untuk melarikan diri. Walau ia masih ragu dengan keterangan Gojo tapi keterangan itu masuk akal dan memang sebaiknya berjaga-jaga, seandainya saja apa yang dikatakan kucing itu benar adanya.
Ia tidak bisa memilih antara Gojo dan Jack, siapakah yang telah membohonginya karena keduanya adalah orang baru baginya.
"Eh, Ayah. Aku baru ingat. Aku diundang Mira ke rumahnya pagi ini untuk sarapan. Aku pergi dulu ya, Yah ya!" Tanpa persetujuan ayahnya, Ken bergegas pergi melewati pintu depan.
__ADS_1
"Ken, Kenzie, tunggu!" Namun pemuda itu telah menghilang di balik pintu.
Kucing itu mengikuti Ken dari samping.
"Udah 'kan?" sahut pemuda itu pada kucing itu. Ia sedikit tak nyaman karena sudah meninggalkan ayahnya begitu saja di meja makan.
"Mmh. Lalu sekarang kita ke mana?"
"Ya ke rumah Miralah!" Pemuda itu langsung menggendong kucing Gojo dan membawanya serta. "Nanti aku kenalkan sama Mira ya?"
Pemuda itu bersenandung sambil melangkah ke tempat tinggal Mira. Baru saja mereka akan sampai ke tempat itu, dilihatnya dari kejauhan Mira tengah berbicara dengan seseorang, di depan pagar tempat ia tinggal. Seorang pria berbadan besar yang terlihat lancang menyentuh tangan gadis itu. Mira berusaha menepisnya tapi tak bisa.
Ken melepas kucingnya dan berlari-lari mendekat. Ia berusaha melepas pegangan pria itu pada Mira hingga membuat pria itu marah.
"Hei, jangan ikut campur urusan orang ya, anak kecil!" hardik pria itu.
"Kalau kami ini anak kecil, bersikap sopan dong jadi orang dewasa!" tangkis Ken sebal.
Pria itu tersenyum miring. "Kamu tahu apa, ANAK KECIL YANG IDIOT!" ejeknya pada penampilan pemuda itu yang terlihat bodoh. "Sana pergi! Mengganggu urusan orang saja, bisanya." Ia memperlakukan Ken seolah anak terbelakang yang akan dengan mudahnya diusir.
Namun yang terjadi kemudian, Mira malah bersembunyi dibalik punggung pemuda itu.
Namun apa yang terjadi, Ken malah meraih tangan pria itu, memutar, lalu melemparnya ke yang sisi lain. Mira terkejut dengan serangan cepat itu yang membuat pria itu terbanting jatuh ke tanah. Gadis itu sampai melongo. Ken tentu saja bangga sambil menepuk-nepuk tangannya membersihkan debu di tangan, melihat gadis itu terperangah dengan gayanya mengalahkan pria kurang ajar itu.
Tentu saja, Jack juga. Pria itu ternyata membuntuti Ken dan terkejut mengetahui pemuda itu bisa ilmu bela diri.
Dari mana ia belajar ilmu itu karena setahunya, ia selalu memantau pemuda itu setiap waktu. Sekolah saja, dari kecil selalu dipanggilkan guru ke rumah. Ken belum pernah di sekolahkan di sekolah umum. Adakah waktu di saat ia tidak bersamanya, Ken belajar dengan seseorang? Itu pun terasa janggal.
Pria muda itu yang tak terima di kalahkan oleh Ken, kembali menyerang. Namun ia menyerang tempat kosong karena pemuda itu mampu menghindar. Kemudian ia menyerang lagi dengan tinjunya ke tempat lain.
Kali ini Ken tak menghindar tapi menangkap tangan itu dan menyerang tubuh pria itu dengan siku dan tangan lainnya. Ia menjadikan tangan pria itu tumpuan untuk bergerak hingga beberapa kali pria itu kena pukul Ken. Namun pria itu sempat mendaratkan pukul pada dagu pemuda itu yang menyebabkan dagu itu sedikit memerah karena memar.
"Ah!"
Keduanya mundur karena sama-sama kena pukulan. Pria itu melirik kucing yang terus berada di dekat kaki pemuda itu. Ketika kembali menyerang, ia dengan sengaja menendang kucing itu dengan keras hingga membentur pagar hingga perhatian Ken terpecah. Pemuda itu kena pukul pria itu.
"Gojo! Agh ...." Pemuda itu menatap pria itu dengan geram. Ia membabibuta menyerang pria itu yang dalam sekejap kalah dan kabur.
__ADS_1
"Gojo ...." Ia segera mendekati Gojo yang telah terkulai lemas di tangan Mira. "Tolong, kita harus menyelamatkan Gojo. Gojo ini teman kita," ucapnya pada gadis itu.
Walau gadis itu tak mengerti apa yang dikatakan Ken tapi ia membawanya ke dalam rumah kontrakannya. Tempat itu saat kecil karena hanya berupa satu kamar saja.
Sementara itu di luar, Jack mengikuti pria yang bertengkar dengan Ken. Setelah tahu tempat tinggalnya, ia menelepon seseorang.
Ken meletakkan Gojo di atas meja dan memeriksanya. "Apa kau terluka, Gojo?"
"Aku ...."
Mira terkejut, kucing itu bisa bicara.
"Apa yang sakit, katakan," tanya pemuda itu lagi berusaha fokus.
"Tubuhku ... ngilu."
Ken memeriksa sekali lagi dengan menekannya pelan.
"Agh!"
Pemuda itu coba memeriksanya pelan-pelan.
"Rasanya mau mati saja, sakiit ...." Kepala kucing itu sudah terkulai lemas.
"Ada yang retak sepertinya, igamu." Ken mengusap kepala kucing itu. "Aku akan mengobatimu, tapi tolong ditahan kalau sakit ya? Aku bisa 'kan Mira?" tanyanya beralih pada Mira.
Gadis yang masih melongo itu sendiri bingung. "Eh, eh, aku tidak tahu."
"Baiklah, aku coba saja. Ini untuk pertama kalinya aku mengobati orang lain." Ken berkonsentrasi. Ia meletakkan tangan kanannya di atas tubuh kucing itu, kemudian sedikit menekannya. Kucing itu sedikit mengerang kesakitan tapi ditahannya, hingga kemudian kucing itu terdiam. Tak lama tubuhnya kembali pulih.
Kucing itu senang hingga berdiri dan bersandar pada tubuh pemuda itu. Ekornya yang panjang meliuk-liuk karena bahagia. Ken tertawa karena kucing itu kembali sehat. "Gojo, kau sudah tidak apa-apa 'kan?"
"Iya, terima kasih, Ken."
Pemuda itu terharu hingga menitikkan air mata. "Aku pikir aku akan kehilanganmu, Gojo."
"Tidak akan, aku 'kan juga setengah dewa. Kalau tidak ada yang menyembuhkanku, aku hanya sedikit menderita saja untuk waktu yang lama. Setelah itu aku akan sembuh. Terima kasih. Kau memang dewa penolongku."
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan.
"Kau juga setengah dewa?" tanya Mira yang kini ikut bicara.