
"Hei, berhenti!" teriak Ken.
Para preman yang melihat kedatangan Ken, langsung berlari kabur meninggalkan nenek itu.
Ken bergegas mendatangi nenek itu yang tergeletak di trotoar. "Kau tak apa-apa, Nek?" Ia membantu sang nenek duduk.
Bajunya berantakan. Rambutnya juga dua warna. Eh, dua warna? Bukannya rambutnya berwarna putih saja? "Nenek, kenapa rambutnya ada yang berwarna hitam?"
Sebelum Ken sempat menyentuh rambut nenek itu, tiba-tiba saja sang nenek menepis tangan Ken dan menancapkan sesuatu di lengan pria itu. Ken terkejut. Rupanya nenek itu menancapkan suntikan obat bius di lengannya.
"Nenek, kau ...." Pria itu roboh dalam pelukan sang nenek.
"Ck! Kenapa kau datang di saat begini sih, Ken!" Nenek itu mendengus kesal. Suara neneknya yang serak kini berubah menjadi suara wanita dewasa. Ternyata ia adalah Magdalena, wanita yang ditemui Ken di restoran.
Ia berusaha tersenyum ketika seorang pejalan kaki lewat. Ia memberi kesan seolah sedang berpelukan dengan Ken padahal pria itu telah pingsan. Tempat itu masih lengang karena di tiap kantor orang sedang bekerja.
"Gery, hei! Cepat keluar!"
Seorang pria keluar dari dalam gerobak milik wanita itu. "Apa yang aku harus lakukan padanya? Membunuhnya?"
"Jangan sembarangan, Gery. Aku membutuhkannya! Kau mau kuhajar, hah?" ancam wanita itu.
"Tapi dia sangat berbahaya bagi pekerjaan kita."
Kembali mereka tersenyum ketika dua orang pejalan kaki lewat.
"Cepat bawa masuk dia ke gerobak," bisik Lena lagi.
"Kau bisa membawanya?"
"Kalau begitu, kau saja yang bawa gerobaknya."
Pria tinggi berkulit hitam itu memasukkan Ken ke dalam gerobak setelah membuang jarum suntik itu di jalan. Wanita itu ikut naik ke dalam gerobak yang kemudian ditarik Gery. Ia berbaring di samping Ken dan menatap pria Jepang itu. Ada pertanyaan yang berkali-kali timbul tapi tak tahu jawabannya, setiap kali ia melihat Ken. Kaukah anakku yang hilang itu, Ken?
------------+++----------
Ken terbangun di sebuah ranjang rumah mewah. Ketika ia menggerakkan tubuhnya, ternyata tangannya tengah terikat ke kepala ranjang. Kenapa ini, kenapa aku di sini? Siapa yang mengikatku? Mata pria itu masih mengantuk, tapi ia berusaha mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Oh iya, nenek itu! Dia bukan seorang nenek seperti yang kukira. Siapa dia sebenarnya? Ken gemas karena merasa ditipu. Padahal ia sangat khawatir pada nenek itu, karena itu ia mencari nenek itu kembali.
Apa orang itu sengaja berada di sana untuk menipu banyak orang? Apa ia adalah salah satu korbannya? Untuk maksud apa mereka melakukan semua itu? Ken sangat geram.
__ADS_1
Sementara itu di lantai bawah, Lena beserta beberapa orang lainnya sedang melakukan meeting di ruang tengah.
"Lena, apa tidak berbahaya membawa orang dari tempat kejadian ke sini sebab kita akan merampok bank?" tanya seorang pria beraksen Rusia pada wanita itu.
"Tidak. Aku punya urusan pribadi dengannya," ucap Lena santai, melipat tangannya di dada sambil bersandar di kursi. "Lagipula, misi kita aku yang mendanai 'kan? Aku tahu soal untung rugi, kau tak perlu katakan lagi." Wanita itu, dengan kemeja yang terlihat mewah dan parfum yang menguar lembut menunjukkan kelasnya. Jari-jarinya yang lentik memainkan cangkir di depannya.
Pria berwajah tirus itu menatap Gery yang menaikkan bahu. "Ok, kalau begitu meeting kita mulai. Kau sudah melihat jam yang paling ramai di bank itu, Lena?"
------------+++----------
Dewi Sri baru saja masuk ke pusat pemeriksaan bumi ketika ia bertemu dengan Ejiro. Pria itu kini bekerja sebagai asistennya.
"Oh, bagaimana kabarnya Mira? Masih ngambekkah?" tanya Dewi Sri pada pria yang suka berpakaian kimono ke mana-mana itu.
"Oh, aku sudah suruh Goro membujuknya pergi ke tempat lain. Mira hanya mau mendengarkan Goro, karena itu aku minta tolong padanya."
"Oh, begitu. Kau pasti memberikan sesuatu buat Goro juga 'kan?"
Pria itu tersenyum lebar.
"Oh ya, di mana, Ken?"
"Tolong bawa dia ke sini."
"Apa?" Pria itu terkejut. "Untuk apa?" Ia mengerut dahi.
"Dia 'kan anakku, aku berhak memanggilnya."
"Bukankah dia harus ada di bumi?" Ejiro mengingatkan pesan ayahnya, Dewa Matahari pada Dewi Sri.
"Tapi ada tugas penting yang harus ia kerjakan. Ia harus datang ke sini. Aku rasa pikirannya sudah kembali jernih dan sudah bisa dilimpahi tugas berikutnya."
"Tapi ...." Ejiro begitu enggan mencarinya.
"Kenapa? Ini penting untuk menyelamatkan adikmu," ucap wanita itu lagi.
"Kenapa tidak aku saja? Aku bisa melakukannya," tawar sang pria pada ibu Ken. Ia tak ingin Ken dan Mira bertemu lagi.
"Tidak bisa, karena ini menyangkut masa lalu mereka. Hanya Ken yang bisa menolong Mira."
"Kenapa aku tidak bisa? Aku 'kan kakaknya?"
__ADS_1
"Masalahnya Mira kecil tak percaya orang asing. Kau tak bisa menolongnya, karena saat takdir ditulis, kau tak ikut dihitung. Kalau kau ikut di dalamnya, sejarah akan berubah. Sejarah harus ditulis ulang tapi tak menjanjikan ia selamat juga, jadi sebaiknya kau panggil Ken, itu lebih aman."
Ejiro masih diam di tempat dengan mulut merapat kencang. Ia sedang menahan kesal yang tak berani ia keluarkan.
Dewi Sri menatap heran pada anak Dewa Matahari itu yang tak juga bergerak memenuhi perintahnya. Ia melipat tangan di dada dan memiringkan kepala ke arah Ejiro. "Ejiro ... aku tidak tahu ada masalah apa kamu dengan Ken tapi asal kamu tahu saja, Kenlah yang memintaku mencari ayahmu. Bukankah sudah saatnya kau membalas budi baiknya padamu?"
Pria itu menunduk dan menghela napas panjang. Mendengar kenyataan itu, Ejiro jadi serba salah. "Baiklah."
----------+++-----------
Ken terkejut ketika pintu tiba-tiba terbuka. "Eh, Nyonya Lena?"
Wanita itu juga tak kalah terkejut karena melihat pria itu telah terlepas dari tali yang mengikatnya. "Lho, bagaimana caranya kau bisa melepaskan diri?"
Ken masih melongo. "Jadi ... Nyonya adalah nenek itu? Ada apa ini sebenarnya?" Ia terlihat masih bingung. "Permainan apa yang sedang kau mainkan, Nyonya?"
"Tunggu dulu, kau tidak mengerti." Lena masuk dan menutup pintu. "Ada alasan kenapa aku membawamu ke sini." Ia berusaha membuat Ken tenang.
"Tapi kenapa kau membiusku dan mengikatku di ranjang? Ada masalah apa ini sebenarnya?"
Wanita itu mengangkat kedua tangan dan meminta Ken tenang. "Kita bicara baik-baik ya, bisa?" Ia menyilahkan pria itu untuk duduk di tepi ranjang.
Perlahan walau enggan, Ken menuruti permintaan wanita itu.
"Dulu waktu aku masih sangat muda, aku pernah berpacaran dengan seorang pria hingga hamil, tapi orang itu berjanji untuk bertanggung jawab. Aku menunggu kepastian hingga bayi itu lahir tapi ia tak kunjung memberi jawaban.
Hingga pada suatu hari, ia membawa bayi kami entah ke mana. Ia menghilang. Beberapa tahun kemudian ia diketahui telah tewas dalam perkelahian antar geng mafia tapi bayi kami tidak diketahui rimbanya hingga kini." Wanita itu menutup ceritanya.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" Ken masih kebingungan.
"Kau bilang, kau pernah tinggal di panti asuhan. Apa kau tahu orang tuamu?" Netra wanita itu mulai sendu.
"Lalu, hubungannya apa denganmu?"
"Aku mungkin orang tuamu."
Pria itu malah bingung mendengar pernyataan itu. Bukan karena ia tahu orang tuanya, tapi wanita itu bule, sedang ia adalah orang Jepang. Di mana letak hubungannya?
"Maaf, apa Nyonya tidak memperhatikan aku baik-baik? Aku ini orang Jepang, Nyonya."
"Pacarku itu orang Jepang, namanya Masahiro Uebu."
__ADS_1