Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Menolong Guru


__ADS_3

Ken geram, sementara ia sedang melawan 2 anak buah pria botak itu, gurunya kembali dicurangi. Tiba-tiba ia ingat sesuatu hingga bergerak mundur. Ia menatap ke arah lubang di jurang itu dan berkonsentrasi. Tak lama, benda kecil-kecil berjumlah banyak, keluar dari lubang goa itu mendatanginya. Ternyata itu adalah kepompong ulat sutra. Mereka semua mengambang di atas kepala Ken. Semua orang terkejut melihatnya.


Apa ini? Apa muridnya bisa sihir, batin Zao Shan.


"Sensei, terima ini!" teriak Ken. Segerombolan kecil kepompong itu mendatangi Odagiri dan berhenti di tangan pria itu. Pria berambut pendek itu kemudian beralih melihat ke arah Ejiro. "Ejiro, ini untukmu." Segerombolan kecil lagi kepompong mendatangi pria bercodet itu dan mampir di tangannya.


"Terima kasih, Ken." Odagiri melempar satu kepompong ke arah anak buah Zao Shan yang akan menyerangnya dan kepompong itu berputar-putar mengelilingi orang itu. Ia melempar satu lagi pada pria yang satunya dan kedua-duanya kini terikat oleh benang ulat sutra. Pria botak itu sekarang harus melawan Odagiri sendirian.


Begitu pula Ejiro yang melempar pada orang-orang yang mengerumuni Mira. Ken sudah melihat situasi Mira karena itu ia memberi Ejiro kepompong.


Namun itu hanya untuk memperlambat serangan. Walaupun sakit saat berontak dari benang ulat sutra itu, tapi dengan cepat benang ulat sutra itu dikalahkan dengan sekali tebas, dan karena seringnya dipakai, benang itu pun akhirnya habis.


Walaupun Mira telah melukai beberapa orang, mau tak mau ia terdesak juga dan akhirnya terluka di bahu. "Ah!"


Ejiro dan Ken langsung melirik Mira. Begitu juga Odagiri dan Gojo.


"Gojo, cepat bawa Mira pergi dari sini!" teriak Ken.


"Tapi, ini hanya luka kecil," sahut Mira tak kalah keras.


"Gojo!" teriak pria itu lagi, tak peduli.


Gojo berubah menjadi kuda, membuat semua orang yang berada di sana terkejut, termasuk Ejiro dan Odagiri. "Cepat Mira, kau naik!" teriaknya.


Mira masih belum mau naik hingga pria bercodet itu membujuknya.


"Mira, kau jadi cadangan. Kau istirahat dulu di samping. Tolong Mira," pinta Ejiro.


Gadis itu akhirnya naik kuda itu dan kuda itu membawanya menjauh dari arena pertempuran. "Gojo, jangan jauh-jauh. Aku bertugas membantu Kak Ken di sini."


Kuda itu menurut. Gojo memang khawatir pada keadaan ketiga orang itu sementara para pengawal Menteri Pertahanan semua telah gugur. "Apa Ken akan pindah lagi?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tapi aku di sini untuk memastikannya."


"Bagaimana kalau Ken melompat sebelum pertempuran ini selesai? Kasihan Sensei Odagiri, harus melawan semuanya seorang diri."


"Kan ada Ejiro?"


Kuda itu melirik ke belakang. "Kau tak kasihan pada kakakmu sendiri?"


"Dia orang zaman ini. Aku tak berkepentingan membawa dia keluar dari sini kecuali dia memintanya. Lagipula, kalau dia tertawan, aku akan bilang Ayah untuk menurunkan bantuan."


"Mmh."


Mereka kini mengamati pertempuran yang berlangsung. Benang ulat sutra banyak berguna untuk Ejiro karena ia bisa membuat lawan kelimpungan karena salah satu temannya tiba-tiba terikat hingga lawannya berkurang. Ia bisa dengan mudah mengalahkan lawan. Ia pun tak segan-segan membunuh karena begitulah samurai menyelesaikan tugasnya.


Zao Shan sangat kesal pada Ken, karena beberapa kali Odagiri dibantu pria itu. Kembali ia memanggil 4 orang anak buahnya yang tengah mengepung Ejiro, untuk menyerang Ken. Kini pria berambut pendek itu mendapat lebih banyak lawan dibanding yang lainnya.


"Zao Shan, kau benar-benar rendah!" teriak Odagiri geram.


Namun Ejiro cerdik. Ia bergabung dengan Ken dengan formasi kembar tapi dengan jurus berbeda. Kekuatannya menjadi 2 kali lipat dari yang biasa. Ini sering mereka lakukan saat latihan sehingga ini saatnya mereka mencoba formasi yang sering mereka latih bersama.


Zao Shan geram, anak buahnya terpaksa berusaha untuk memecahkan formasi itu. Dengan akal muslihat, ia melempar Odagiri dengan jangkar yang terbuat dari rantai besi halus. Di saat itulah ia menusuk Odagiri yang tak berdaya tepat di perutnya.


"Agh!"


Ejiro dan Ken terkejut. "Sensei!" teriak keduanya. Mereka melihat guru mereka mengeluarkan darah dari perut dan mulutnya.


Ken benar-benar marah. Amarahnya benar-benar memuncak. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu dan berkonsentrasi. Seketika pedang para pendekar yang telah gugur bergerak naik. Ejiro mengangkat tangannya dan membakar satu-satu pedang itu. Kini pedang yang terbakar itu mengejar anak buah pria botak itu, bersama Zao Shan. Mereka lari tunggang-langgang menghindari pedang yang terbakar itu.


"Tolong ada pedang setan!" teriak salah satu anak buah pria botak itu, berlarian berusaha terlepas dari pedang yang mengejarnya. Zao Shan pun tak beda jauh.


Ejiro dan Ken segera mendatangi Odagiri.

__ADS_1


"Sensei, kau akan hidup abadi bila meminum darahku." Ken hampir saja melukai dirinya ketika pria itu menghentikannya.


"Tidak ... usah ... Ken ...," ucap Odagiri dengan napas tersendat-sendat.


"Kenapa, Sensei? Aku bisa menyembuhkan lukamu."


"Iya, itu benar," imbuh Ejiro.


"Justru, aku ... menunggu waktu ... ini." Guru itu terbatuk-batuk. "Agar aku bisa ... bertemu lagi ... dengan istriku." Ia mengusap darah kental yang masih keluar dari mulutnya. "Tidaklah bahagia ... bila kita hidup ... abadi ... tapi jiwa kita ... sunyi. Aku ingin ... menyusul pasanganku ... di sana, ... kalau benar ada ... tempat itu. Untuk ...bersatu lagi ... dengannya ...." Ia mengatur kembali napasnya.


Ken dan Ejiro menitikkan air mata.


"Ken, Ejiro ... teruslah berlatih dan ... selamat ... tinggal." Pria berambut kaku itu menghembuskan napas terakhirnya.


"Sensei ...," gumam Ken sedih. "Semoga kau bahagia di sana."


Odagiri meninggal dalam keadaan mata terbuka dan Ken menutupnya perlahan. Belum sempat mereka melakukan apa-apa, seseorang melempari pria berambut pendek itu dengan sesuatu dan menyambar tubuhnya dengan cepat.


Ken tak bisa bergerak karena tubuhnya terikat jangkar besi. Saat ia menoleh, Zao Shanlah yang sedang membawanya. Padahal tubuh pria botak itu tengah dalam keadaan punggungnya tertusuk pedang yang terbakar, tapi karena dendamnya pada Ken, di kekuatan terakhirnya ia ingin melampiaskannya pada pria itu.


Ia melempar Ken ke tanah, tapi tak sanggup mengambil pedang dipunggungnya. Pria gundul itu pun juga tak menemukan benda tajam di dekat sana untuk menyelesaikan dendamnya, sementara pria berambut pendek itu berusaha untuk melepaskan diri dari jangkar itu.


Melihat Ejiro yang tengah lari mendekat, Zao Shan meluruskan 2 jarinya ke arah Ken. "Terpaksa ...."


"Kau mau apa?" Ken yang kebingungan menghindar dengan memiringkan tubuhnya.


Dengan cepat, pria botak itu menggerakkan jarinya menotok beberapa titik vital di tubuh Ken, lalu ia tersenyum. "Ilmumu sudah kumusnahkan." Ia tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba wajahnya berubah menyeramkan dan ia berteriak. "Hoagh!"


Ejiro menusuk lebih dalam lagi pedang yang berada di punggung Zao Shan. Mulut pria botak itu memuntahkan darah kental sebelum akhirnya tumbang.


"Sialan!" Pria bercodet itu menendang tubuh pria botak itu ke samping. Ia kini menoleh ke arah Ken.

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2