
Ken menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak punya banyak uang tetapi ia kini punya koin emas. Koin emas harusnya lebih besar nilainya daripada uang kertas dan ia bukan saja punya banyak tapi banyak sekali. Berpeti-peti yang kini tersimpan di dalam tangan itu. Koin emas! "Lalu aku harus apakan uang itu?" tanyanya.
Gadis itu terdiam. "Dulu waktu Kakak tak punya uang, Kakak ingin apa bila seandainya punya uang?"
Ken mulai berpikir sambil menyentuh dagunya. Ia ingat masa ketika masih di panti asuhan dulu. Ketika lulus SMA, ia iri pada teman-temannya yang bisa melanjutkan sekolah hingga ke Universitas. "Aku ingin kuliah kedokteran."
"Apa?" Mira heran mendengar jawaban pria itu. "Kuliah?"
"Iya, Kakak ingin kuliah seperti teman-teman Kakak yang lain. Kakak ingin jadi dokter."
"Tapi, Kak. Eh, memang sih biaya sekolah kedokteran itu mahal tapi bukan itu maksudku. Apa Kakak tidak ingin beli rumah atau beli mobil mewah, begitu?"
"Dengan keadaanku yang sekarang ini? Tidak mungkin, Mira. Bahkan sekolah kedokteran pun juga sulit, karena kesemuanya itu butuh orang yang tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama, sedang aku, masih melompat-lompat dimensi dan kemungkinannya kecil untuk bisa kembali ke tempat semula."
"Mmh, tapi kalau belajar, sebaiknya Kakak belajar ilmu bela diri saja sebab itu yang paling berguna sekarang."
Ken menatap Mira. "Sebenarnya kalau boleh memilih, aku tidak ingin belajar ilmu beladiri sebab aku lebih suka hidup damai tanpa perlu bertengkar dengan orang lain."
"Tapi gak bisa 'kan? Ayolah, Kak. Belajar. Keren lho, kalo Kakak bisa belajar ilmu beladiri."
Ken mengusap pucuk kepala Mira. "Keren ya? Maaf, tapi Kakak gak suka hidup untuk keren-kerenan."
Mira merengut. "Ya, Kakak ...."
Mereka kemudian kembali keluar dari lubang celah itu dengan berenang. Setelah itu, mereka kembali ke arah kapal. Di tengah jalan, mereka melihat seseorang yang mereka kenal.
"Ibu?"
"Mamiii." Mira berlari-lari ke arah wanita itu membuat Ken terkejut.
Mami? Mira memanggil ibuku, Mami?
Dewi Sri menyambut gadis itu dengan mengusap kepalanya. Gadis itu memeluk wanita itu dari samping.
"Ibu, kenapa Mira memanggilmu 'Mami'?"
"Oh, dia dari kecil sudah memanggilku 'Mami'. Mira sudah tidak punya ibu dari kecil."
Ken terkejut. "Darimana Ibu tahu?"
"Ayahnya teman Ibu."
"Oh, berarti dia anak dewa juga ya?"
"Tentu saja, Ken. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa pindah dimensi mencarimu."
"Oh, iya." Ken menyadarinya.
"Bahkan ada manusia yang berusaha ingin jadi sepertimu, tapi ia harus meminum darahmu dulu agar itu bisa jadi nyata."
__ADS_1
"Ooh ...." Pria itu menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk. "Lucille!"
"Wanita itu tukang sihir, Ken. Tukang sihir walaupun bisa membuat ilusi tapi dia manusia. Dia tidak bisa jadi dewa kecuali meminum darahnya."
"Pantas saja dia melukaiku dan meminum darahku." Pria itu mulai mengerti.
"Ayo, Ken. Kita kembali ke kapal. Ibu akan memasak buat kalian berdua. Sebentar lagi jam makan siang."
"Iya, Bu." Ken menyamai langkah ibunya.
"Ini kenapa kalian berdua-dua bajunya basah sih?"
Ken dan Mira saling berpandangan lalu tertawa.
-----------+++------------
Mereka bertiga makan bersama di kamar Ken.
"Sekarang aku harus apa, Bu. Kenapa aku belum pindah juga?" tanya Ken pada Ibunya.
"Mungkin menunggu kalian ditemukan."
"Wah, lama sekali, pasti."
"Kan bahan makanan cukup banyak di dapur, ibu lihat."
"Tapi bagaimana kalau bahan makanan habis dan kami masih belum ditemukan?"
"Oya?" Ken terkejut.
"Jadi kemungkinan kapal atau pesawat lewat, ada, tinggal kamu bagaimana menarik perhatian mereka agar melihat keberadaan kalian di sini."
"Tapi 'kan orang lihat ada kapal angkatan laut Jepang yang ukurannya besar di sini. Mereka kalau lihat ini pasti berhenti."
"Tidak kalau pesawat, Ken. Bagaimana kalau mereka lewat sini tapi berada di atas awan. Otomatis mereka tidak bisa melihat ada apa di bawahnya kecuali kapal laut. Masalahnya daerah sini sering dilewati kapal terbang dan sedikit kapal laut." Sang dewi menyuap nasinya.
Ken menggaruk-garuk kepalanya. "Rumit sekali sih? Kenapa gak aku ikut Ibu saja, 'kan masalah selesai?"
Dewi menepuk-nepuk bahu anaknya. "Ibu juga mau segalanya mudah bagimu tapi ternyata tidak bisa. Ibu tidak bisa merubah takdirmu, Nak. Kalau ibu melanggarnya, semua akan jadi kacau. Bukan saja ibu, kau juga tidak bisa bertemu dengan Mira dan juga temanmu Yumi. Sudahlah, bersabar saja. Selama ibu ada, ibu akan membantumu."
Pria itu merengut sambil menghela napas pelan.
"Kau harus belajar mengupayakan segala sesuatunya sendiri, Ken. Bukan jadi manja karena ada bantuan. Bantuan yang kamu dapatkan sekarang ini suatu saat akan hilang. Entah ibu berumur pendek atau Mira yang menikah dengan orang lain tapi sekarang kami ada untukmu. Cobalah jadi laki-laki yang bisa mengupayakan segala sesuatu sendiri. Lelaki, yang bisa diandalkan oleh istrimu kelak, sehingga saat kami sudah tidak ada lagi, kau tidak khawatir."
Ken melirik gadis itu yang sibuk makan. Gadis itu terkejut mendapati pria itu memandanginya dengan pandangan yang entah ....
"Ken, kau dengar kata ibu 'kan?"
Pria itu segera menunduk. "Dengar, Bu."
__ADS_1
Seusai makan siang, Sang Dewi pamit. "Ingat, upayakan segala sesuatu untuk dirimu dengan pikiranmu sendiri, jangan mengandalkan orang lain. Mmh? Ibu yakin kamu bisa."
"Iya, Bu."
----------+++---------
"Kakak, ih!" Mira mencuci piring dengan wajah merengut.
Ken di sampingnya melipat tangan di dada sambil memperhatikan gadis itu mencuci piring. "Kerja yang bersih. Kau tak boleh mengandalkan orang lain."
"Kak, bantuin dong!" Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Kamu 'kan suatu saat akan menikah?"
"Itu masih lama Kakak ...," ucapnya sambil merengut.
"Lho, bukannya, katanya kamu mau nikah?"
"Kata siapa, ih Kakak ...." Gadis itu masih menghentak-hentakkan kakinya.
"Ibu tadi."
Gadis itu melirik Ken dengan mengerut dahi. "Punya pacar aja enggak gimana mau nikah?"
"Bohong! Pasti sudah punya pacar ya?"
"Enggak, Kak."
"Tapi kenapa kemarin buru-buru pulang, padahal sudah aku suruh tunggu."
"Ih, Kakak. Beneran aku gak punya pacar. Aku buru-buru karena ingin mempelajari beladiri dengan pedang seperti yang kemarin itu lho!"
Ken menurunkan tangannya. "Beneran belum punya pacar?"
"Belum. 'Kan untuk ikut membantu Kakak, aku dilarang pacaran."
Mendengar keterangan Mira, entah kenapa Ken merasa lega. Ia segera mengambil piring kotor yang dipegang gadis itu dan mencucinya. "Sini biar aku saja. Kamu itu. Cucian cuma sedikit kok!"
Mira bersandar di punggung pria itu dan meletakkan kepalanya di samping bahu Ken sambil tersenyum. "Kakak baik deh!"
Ken pun tersenyum senang.
------------+++----------
Keduanya menatap langit senja duduk di atas pasir pantai itu, tapi hanya Ken yang tengah berpikir keras bagaimana caranya keluar dari pulau itu.
Memang masih ada perahu karet tapi tidak bisa mereka pakai sebab mereka berada di mana, pria itu pun tidak tahu. Kalau naik perahu itu mengandalkan angin, entah sampai kapan bisa menemukan daratan. Mengkayuh kapal itu? Namun ke arah mana ia tak tahu. Ia tak tahu daratan terdekat ada di mana. Bisa-bisa, berhari-hari di laut tanpa menemukan daratan. Masalahnya, makanan ada di sini. Kau aku tinggalkan ....
Ah! Pria itu menjentikkan jemarinya hingga berdiri dari duduknya. Kenapa tidak minta tolong pada mayat saja?
__ADS_1
__________________________________________