Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Masih Mencari


__ADS_3

Kembali Odagiri menghela napas kasar. Ia menatap pria di depannya lekat. "Lalu kau mau apa? Aku tidak memberimu izin melihat Ken dan memintamu untuk menunggu. Percuma kau berdebat denganku karena hasilnya akan tetap sama. Lalu setelah itu, apa yang akan kamu lakukan, karena ilmuku lebih tinggi darimu dan kamu tahu itu. Jangan melakukan hal yang sia-sia bila kau cukup pintar untuk itu!" sarkasnya.


Ejiro terdiam. Ia takkan menang melawan pria ini, secara duel ataupun pikiran, jadi ia harus bagaimana? "Kenapa kau tidak memberiku sedikit keringanan. Paling tidak melihat dia dari jauh jadi dia tidak ...."


Odagiri memasukkan pedang ke dalam sarungnya. "Aku bilang tidak, tidak, dan tidak!"


"Baiklah, tapi aku akan mencari Ken sampai ketemu dan akan berusaha membebaskannya. Saat itu aku tidak akan peduli, seberapa hebatnya kamu, aku akan melawanmu," janji pria bercodet itu.


Pria berambut kaku itu hanya melihat sebelah mata. "Terserah, tapi aku rasa kau takkan mampu menemukan kami, jadi selamat mencari." Pria itu kemudian meloncat dari pohon satu ke pohon yang lain dengan kecepatan yang maksimal sehingga seperti seekor burung yang terbang sangat kencang dan lalu menghilang seketika.


Ejiro menghela napas panjang. Pencarian Ken kembali sulit tapi ia tak punya pilihan. Setidaknya ia tahu manusia setengah dewa itu kini berada di hutan bersama pria itu. Ia menghela kudanya dan memulai pencarian.


------------+++------------


Ken sedang memperhatikan ulat sutra yang tengah membuat kepompong. Mereka mulai menjalin benang yang keluar dari mulutnya untuk menjadi sarang ketika ulat itu melewati tidur panjangnya dan saat itulah kepompong itu diambil.


Mmh, umurmu cuma sebentar ya? Apakah kamu bahagia?


Ia kembali memperhatikan kepompong itu tapi kemudian sesuatu terlintas di kepalanya. Eh, bukankah benangnya benda mati walaupun ulatnya benda hidup? Aku bisa mempengaruhi benangnya untuk melakukan sesuatu untukku, 'kan? Jadi waktu aku terikat oleh Sensei, seharusnya aku bisa memerintahkan benang itu untuk terlepas dari tubuhku juga. Benar 'kan? Ah, kenapa aku begitu bodoh tidak memikirkan hal itu sih?


Ken menatap kepompong di hadapannya lekat. Ada cukup banyak kepompong di tempat itu hingga ia ingin mencobanya. Benang sutra, naikkan benangmu, batin pria itu.


Seketika, ada benang tipis yang naik pada tiap kepompong itu. Ken menatapnya dengan takjub. Puluhan kepompong yang ada di depan mata seakan membuat barisan benang yang terus meninggi tanpa henti. Ah, aku bisa kabur dengan ini, batin Ken tersenyum lebar.


Tiba-tiba ia mendengar suara berisik di luar. Pria itu buru-buru meminta benang itu menggulung kembali. Ketika pintu terbuka, ternyata kucing Suchan masuk dan mengeong.

__ADS_1


"Ah, Suchan kau membuatku kaget." Pria itu meraih dan menggendongnya. Ia menoleh dan melihat benang-benang itu telah jatuh dan menggulung sendiri.


"Ayo Suchan, kita keluar." Ia mengusap kepala kucing itu sambil membawanya keluar.


"Mmh, Suchan. Apa kau lapar? Bagaimana kalau kau temani aku berenang di danau, ok?"


Saat Odagiri pulang, ia menemukan Ken sedang berenang di danau di temanin Suchan yang menunggunya di tepi danau. "Ken!" Ia melambaikan tangannya. "Ayo naik. Aku membawa sesuatu untukmu."


Pria muda itu kemudian menepi dan naik. Ia menutup tubuhnya dengan kain yang lebar lalu masuk ke dalam rumah mengikuti gurunya. "Ada apa, Sensei?" Ia mengusap wajahnya yang masih basah.


"Ini aku belikan beberapa potong pakaian di kota. Jangan kau pakai lagi pakaianku itu. Itu untuk orang tua." Odagiri melepas kain yang terikat di tubuhnya. Di dalam kain itu ada 3 stel kimono untuk laki-laki. "Walaupun kita tinggal di Cina, tetapi tetaplah bangga jadi orang Jepang." Ia menyodorkan tumpukan pakaian itu pada pria muda itu.


Ken hanya diam. Pria berambut kaku itu salut pada Ken karena tak pernah rewel soal pakaian, padahal pria muda itu sering kebesaran saat memakai baju kimono miliknya karena tubuh Ken yang sangat kurus. "Kenapa? Kau tak suka?"


"Tidak. Aku suka. Terima kasih," ucap pria muda itu datar.


"Oh, maaf, Sensei, tapi aku pikir, Sensei membeli makanan. Kalau pakaian, untuk apa jauh-jauh datang ke kota? Yang ada saja sudah cukup. Pakaian Sensei juga bagus-bagus. Aku dulu dibesarkan di panti asuhan, jadi saat membeli kami memilih, apa yang penting atau tidak penting untuk dibeli."


Pria berambut kaku itu iba mendengarnya. Ia yang mantan penjabat tentu saja baru mendengar kehidupan rakyat jelata seperti ini. Ia mengacak-acak poni Ken yang basah. "Karena kau muridku, mulai sekarang kau harus belajar cara berpakaian yang benar. Mmh?" Ia tersenyum simpul. "Tapi aku juga beli makanan untukmu. Manisan dan kue-kue. Kita akan memakannya setelah makan siang. Bagaimana? Kau sudah dapat ikannya?"


Ken tersenyum lebar mendengar kata, 'makanan'. "Sudah, Sensei. Tinggal dibakar."


-------------+++-------------


Sorenya, Ken mendapat ilmu baru. Bermain pedang.

__ADS_1


"Sensei, aku sudah pernah belajar pedang," sahut pria muda itu malas.


"Tapi apa kau bisa seperti ini." Odagiri menyerang pria berambut pendek yang telah diberi pedang itu, dengan serangan cepat.


Ken tentu saja tanggap menyambut serangan dengan menghindar kemudian menangkis. Yang membingungkan, ketika gurunya itu menyerang kembali dengan gaya pedang Cina. Kemudian pria berambut kaku itu memadukan kedua gaya itu bersamaan dan menyerangnya.


Ken kelimpungan. Kuda-kuda yang dibuatnya selalu tak pernah siap. Gerakan menghindar dan menyerangnya itu sangat cepat tapi terkadang lambat. Keras tapi terkadang lembut dan sesudahnya pedang Ken terpental dari tangannya.


"Apa itu yang kau sebut 'pernah belajar pedang'? Kalau iya, ilmumu masih rendah." Odagiri menurunkan pedangnya.


"Tapi, Sensei. Aku belum menyelesaikan ilmu meringankan tubuh yang Sensei ajarkan kemarin itu."


"Latih terus sementara kau mempelajari ini."


"Baik, Sensei."


--------+++---------


Sementara itu, Ejiro meminta tolong warga yang sering ke hutan, menanyakan, jika ada di antara mereka yang pernah melihat gubuk atau tempat tinggal di dalam hutan dan hasilnya mencengangkan. Seorang pencari madu pernah melihat seseorang keluar dari jurang.


Ah, pantas saja. Tak akan pernah ada orang yang berpikir ada orang yang tinggal di dalam jurang. Di tepi jurang mungkin, tapi di dalam jurang ....


Ia sempat curiga dengan jurang itu sebenarnya tapi karena jurang itu di kelilingi gunung dan terjal juga dindingnya, ia menjadi ragu bila ada yang hidup dan tinggal di sana. Namun kalau benar ada kehidupan di sana, bagaimana caranya mereka bisa keluar masuk jurang itu? Ah ya. Pria itu punya ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, jadi pastilah hal itu bukan perkara sulit.


Ia kini memikirkan, bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam jurang itu untuk memeriksa. Mau tak mau ia harus punya persiapan tali.

__ADS_1


________________________________________



__ADS_2