Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Negosiasi


__ADS_3

Namun pria Jepang itu tetap terus melangkah ke luar. Ken mendatangi meja di mana Ramires duduk, membuat banyak orang melirik padanya. Tentu saja karena Ken lupa melepas celemeknya.


Ramires segera tahu, untuk apa seorang pegawai dapur datang padanya. Ia menanti kedatangannya. "Silahkan duduk," ucapnya ketika pria Jepang itu telah berdiri di hadapan.


Sedikit takut dan ragu, Ken duduk di kursi di depannya. "Maaf, Tuan. Kaldu Saya rasanya berubah, tapi sungguh. Kaldu itu Saya masak dengan benar. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, pembuatan kaldunya prosesnya sudah benar dan hasilnya pun bagus, tapi saat Saya melihat lagi tadi ... kaldunya sudah berubah." Ia tak tahu bagaimana cara menjelaskan ini pada pelanggan itu.


Ramires mendengarkan dengan melipat tangannya di dada sambil bersandar ke belakang. Mmh, pria ini sedikit lugu. Pasti ia berkata jujur, tapi kalau ia jujur berarti ada yang mencuranginya di dapur itu. Kalau ia seberbakat itu, aku tahu cara mendapatkannya. "Mmh, apa kamu tahu rasa masakan ini?" Pria itu mendorong piring makannya pada Ken.


"Oh, tidak."


"Cobalah."


Ken mengambil sendok dan mencoba sedikit pasta kerang itu. Tiba-tiba mulutnya melebar dengan mata menyipit mencicipi rasa yang aneh di lidahnya itu. "Apa ini?" Ia mengambil tisu di atas meja untuk mengeluarkan lagi makanan di mulutnya. "Eh, maaf."


Pria itu merasa, hari itu ia sial sekali. Kenapa ia bisa gagal membuat kaldu? Padahal membuatnya itu hanya perlu merebus bahan-bahan yang dibutuhkan, dan lalu ia tinggal membersihkan lemak yang naik ke permukaan. Proses ini sangat mudah hingga tak mungkin gagal.


"Kau tahu, kau telah meracuni orang."


"Apa?" Ken terkejut mendengar pernyataan pria itu. Ia tidak pernah bermaksud meracuni siapa pun. "Tapi, Tuan a-aku tidak berniat menyengsarakan orang." Ia tergagap karena takut.


"Aku bisa menuntutmu dan memasukkanmu ke penjara bila itu terbukti."


Ken terdiam. Ia tak tahu harus bicara apa. Menyangkal pun tak mungkin. Daripada berdebat, ia terpaksa menerima nasib.


Saat itu Balto keluar dari dapur. Ia menyambangi meja Ramires karena khawatir pria itu membujuk Ken untuk bekerja padanya. Tentu saja, melihat Balto datang, pria kaya itu mempercepat maksudnya pada sang pria Jepang.


”Kecuali, kau kerja padaku selama 6 bulan tanpa dibayar. Bagaimana? Tapi jangan ceritakan ini pada bosmu. Katakan saja, kau berhenti kerja padanya dan pindah kerja padaku."


Ken membulatkan matanya. Ia bingung dengan permintaan pria itu. Ia sempatkan diri menoleh ke belakang dan ternyata Balto tengah mendatangi meja itu.


"Bagaimana?"

__ADS_1


Ken menoleh pada pria kaya itu. "Eh, Bagaimana ya?" Ia masih ragu.


"Kau ingin aku menuntutmu?" Ramires mulai tak sabar dan menegakkan tubuhnya.


Manik mata pria Jepang itu melirik ke arah pria kaya di hadapan. Bisakah pria ini dipercaya? Belum apa-apa ia sudah diperas dengan perjanjian yang merugikan tapi saat ini ia memang bersalah.


Sulit rasanya berkelit dari masalah ini, dan ia juga memikirkan nama baik restoran itu bila ia benar masuk penjara. Apalagi berdasarkan cerita Irene dan Min Shi, pria ini sering datang dengan selalu cari gara-gara. Demi menyelamatkan restoran ini, ia harus ....


"Ken, kau sudah bicara dengannya? Biar sekarang aku yang bicara." Sengaja Ken dibiarkan bicara dengan Tuan Ramires oleh Balto karena ia tidak ingin menimbulkan kekacauan di restorannya. Apalagi sedang banyak pelanggan yang makan di sana siang itu.


Pria Jepang itu perlahan berdiri, tapi kemudian menghadap ke arah Balto. "Pak, apa boleh aku berhenti bekerja pada Bapak? Aku ingin bekerja pada Tuan Ramires."


Bagai disambar petir, pria paruh baya itu kaget mendengar pengakuan Ken. Kenapa ceritanya jadi begini? "Kenapa ...." Balto tak tahu bagaimana cara Ramires membujuk Ken tapi ia menyesali telah membiarkan pria Jepang itu bicara padanya. "Jangan dengarkan omongannya, Ken. Dia ...."


"Apa aku tidak boleh berhenti bekerja darimu, Pak?" tanya Ken lagi.


"Bukan begitu, Ken. Dia ...." Namun pria paruh baya itu teringat, ia mengajak Ken bekerja padanya bukan atas kemauan sang pria Jepang. Jadi sebenarnya Ken juga bukan karyawannya. Ia bebas bekerja di mana saja dan pergi sesukanya.


"Benar, Pak?"


"Iya." Sejujurnya Balto mulai menyukai pria itu karena rajin bekerja dan berbakat masak. Ia hanya bisa mendoakan pria itu sukses di perusahaan besar milik Tuan Ramires. Sebenarnya ini kesempatan emas untuk Ken, karena pria kaya itu memang mencari orang-orang yang berbakat masak, untuk bekerja di perusahaannya yang bergerak di bidang makanan.


Ramires cukup puas karena akhirnya mendapat satu lagi pegawai untuk perusahaannya. "Eh, maaf ya? Waktuku sempit. Tolong acara perpisahan ditiadakan karena aku buru-buru. Kalau bisa aku akan bawa eh, siapa namanya tadi? Ken ya? Pergi denganku sekarang." Pria itu beranjak berdiri.


Ken dan Balto saling berpandangan.


"Apa dia punya barang-barang yang mesti dibawa?"


Kembali keduanya saling pandang.


------------+++-----------

__ADS_1


Mira menangis. Ia di kunci di dalam kamar oleh Ejiro agar ia tak bisa ke mana-mana. Gadis itu mogok makan dan berbaring terus di atas ranjang.


Tiba-tiba pintu dibuka. Gojo masuk ke dalam membuat Mira terkejut.


"Gojo?" Mira menghapus air matanya yang masih mengalir sesekali. Kelopak matanya bengkak dan kemerahan di sekitar kantong matanya.


Gojo kembali mengunci pintu kamar itu agar tidak ada yang tahu ada yang masuk ke sana. "Mira, kamu kenapa?" Pria itu masuk dan duduk di tepi ranjang. Walaupun Gojo pria, keduanya cukup akrab dan sahabat dekat.


"Kak, Ejiro ...," jawab Gadis itu sambil merengut. Ia berusaha bangkit dan duduk di samping pria itu.


"Lagi sih, kamu nekat cari Ken. Sudah tahu Ken lagi labil dan Ejiro sensitif, kamunya cari masalah."


"Aku kasihan pada Kak Ken," ucap Mira masih merajuk.


"Kamu itu, jangan mentang-mentang perempuan, semua pakai emosi. Gak selesai-selesai nanti urusannya."


Mulut gadis itu masih mengerucut.


"Kamu sendiri, lihat, malah tambah parah. Ke sini sakit hati, ke sana marah-marah." Gojo menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mengikuti ucapannya. "Apa gak sakit kepala jadinya? Sudah, biarkan semuanya begini dulu apa adanya. Jangan dicampur aduk dan jalan sendiri-sendiri. Itu lebih aman sepertinya untuk saat ini. Kau, harus pindah ke tempat lain biar bisa sama-sama menenangkan diri."


"Maksudnya?" Gadis itu membuka matanya lebar-lebar.


"Ejiro butuh mendinginkan kepala dan Ken butuh menyembuhkan luka hatinya, jadi jangan dekat-dekat dengan mereka dulu. Kau dan Ken juga butuh jarak. Aku tak bisa menerangkan ini tapi aku mau kalian berdua bertemu lagi saat kalian sudah benar-benar bisa menenangkan diri. Jangan memutuskan sesuatu dengan tergesa-gesa."


Nasehat Gojo didengar Mira dalam diam. Hanya pada pria itu, ia mau mendengarkan nasehatnya. "Jadi, aku harus bagaimana?"


"Ayo kita pindah dimensi, jalan-jalan ke tempat lain sambil menuntut ilmu. Mungkin saja kau di sana mendapat pencerahan."


Gadis itu mengerut dahi. Ketika mengejar Ken dirasa sulit, ia ingin belajar melupakannya. "Tapi bola kristalku dirampas Kak Ejiro."


"Untuk apa bola kristal? Kita bukan mau mencari orang tapi menghilang."

__ADS_1


 


__ADS_2