
"Ini, ada jamur musim hujan yang baru diambil tadi sore. Silahkan dicoba. Rasanya masih segar. Baik untuk kesehatanmu, Kakak," ucap Chen Zen meletakkan makanan itu dengan sumpitnya, pada nasi di atas mangkuk yang dipegang Ken.
"Oh, terima kasih." Ken mencobanya. "Mmh, lezat."
"Jangan lupa, ini daging sapi terbaik di kota ini," Cia tak mau kalah, meletakkan potongan daging sapi pada mangkuk pria berambut pendek itu.
"Oh, iya, terima kasih." Ken pun mencobanya.
Ia melirik istri Lian Luo, yang terdiam di depan mangkuk nasinya. "Nyonya, ayo makan." Ia sedikit merasa bersalah karena tahu, karena dirinyalah anaknya meninggal dunia. "Saya jadi merasa tak sopan bila makan, tapi Nyonya rumah tidak makan."
Wanita itu mencoba tersenyum menatap Ken. "Baiklah." Wanita itu mulai makan.
Ejiro sedikit iri dengan pencapaian Ken yang dengan cepat populer di hadapan para wanita. Sedang dirinya, mungkin karena ada bekas luka di wajah, memberi kesan bengal dan urakan. Wajahnya jadi tidak sempurna. Ken yang penampilannya rapi, mirip anak rumahan, apalagi pembawaannya yang sopan dengan kulit putih bersih, semua kalangan pasti menerima orang seperti ini dalam pergaulan.
Namun, bukan Ken namanya, kalau hanya memikirkan diri sendiri. "Ejiro, ayo makan." Ia meletakkan potongan daging pada nasi hangat di mangkuk pria itu.
"Terima kasih." Pria bercodet itu mulai menyuap makanannya.
Walaupun Lian Luo sibuk berbicara dengan temannya, ia juga sempat memperhatikan kedua putrinya yang tertarik pada Ken, dan betapa sopannya pria muda itu pada istrinya yang sedang kesulitan makan. Ia hanya tersenyum tipis.
Melihat Ejiro yang terlihat pasif, Ken mengajaknya mengobrol dengan kedua gadis itu. "Oh, ini kakak seperguruanku. Dia adalah pemilik penginapan di pinggir kota itu, lho!"
"Oya," seru Cia membelalakkan matanya.
"Iya. Kapan-kapan, aku akan mengajak kalian ke sana," sambut Ejiro. Ia senang Ken mengajaknya mengobrol dengan kedua gadis cantik itu.
Seusai makan malam, ketiganya ikut Lian Luo pergi ke rumah menteri Pertahanan dengan berkuda. Di sana sudah banyak orang yang mulai berdatangan dari berbagai tempat untuk mengikuti undangan rapat itu.
Mereka kemudian mendatangi sebuah ruangan terbuka di mana banyak orang sudah masuk dan duduk di lantai menunggu menteri itu datang.
15 menit kemudian, menteri Pertahanan itu datang bersama pengawalnya. Semua orang di ruangan segera berdiri dan membungkuk, memberi hormat padanya termasuk rombongan Lian Luo.
Setelah itu semua duduk kembali dan mulai mendengarkan menteri itu bicara. Pria itu mulai bercerita tentang kejadian yang menimpa negri itu akhir-akhir ini dan meminta mereka yang hadir bisa bahu membahu untuk menuntaskan masalah ini.
Lian Luo berdiri. "Maaf, Menteri. Ada yang ingin aku sampaikan pada Anda, Menteri, terkait kejadian ini." Lalu berceritalah ia apa yang sudah dicerita Odagiri padanya.
__ADS_1
Menteri itu terdiam sejenak, setelah pria itu menyelesaikan bicaranya. "Mmh, apa informasi ini bisa dipercaya?"
"Bisa, Menteri. Aku dapat dari sumbernya langsung, teman Saya di sini, Odagiri. Ia sudah pernah membunuh orang yang terkena racun dlakula tersebut." Pria kaya itu menoleh pada temannya itu yang kemudian berdiri.
Oh, orang Jepang ini. Pantas tadi sedikit mencurigakan ada orang Jepang di sini. "Benar mereka harus dimusnahkan? Apa tidak ada obat yang bisa menetralisir racun itu?" tanya Menteri itu pada Odagiri.
Odagiri malah melirik Ken. "Bagaimana?"
"Eh ...."
"Sebenarnya, siapa yang mengerti soal dlakula ini?" tanya Menteri itu keheranan.
Odagiri akhirnya buka suara. "Sebenarnya, muridku inilah yang mengerti bagaimana cara berhadapan dengan orang yang sudah terjangkit penyakit ini sebelumnya. Aku mendapat semua informasinya dari dia."
Ejiro mendorong Ken untuk berdiri. Mau tak mau pria berambut pendek itu berdiri. Orang-orang yang hadir melihat penampilan pria itu yang cukup aneh karena di jaman itu semua orang, pria dan wanita berambut panjang. Rambut pendek jadi tren setelah beberapa ratus tahun kemudian.
"Maaf, Menteri. Mungkin Saya bisa menjawab," ujar pria berambut pendek itu terpaksa bicara.
"Ya silahkan."
"Mereka yang sudah terjangkit racun ini susah dikendalikan karena ada sisi buasnya yang menyebabkan orang itu jadi berbahaya. Selain bisa menularkan lagi sakit ini pada orang lain, mereka juga tergoda untuk meminum darah manusia untuk memuaskan dahaga dan itu dilakukan ketika malam tiba. Jadi untuk obatnya, sejauh ini hanya bagi yang belum lama tergigit oleh mereka, yang bisa diobati. Yang sudah lama sudah tidak bisa. Itupun dengan pengobatan akupunktur dengan mengeluarkan racunnya," terang Ken panjang lebar.
"Iya, menteri. Nalurinya jadi seperti itu."
"Kalau aku melakukan itu, berarti sebagian besar penduduk kota pasti akan habis ya," gumam pria yang berpakaian kerajaan itu saat berpikir panjang.
"Iya, Menteri," sahut pria berambut pendek itu menunduk.
"Jadi mereka menularkannya dengan menggigit? Berarti mereka yang tak tahan keluar siang hari berarti sudah terjangkit wabah ini. Bukan begitu?"
"Mungkin tidak semua."
"Lho, katamu ...."
"Yang punya bekas gigitan di leher mungkin, Menteri, karena ciri-ciri orang sakit, ada yang tidak kuat menahan terik matahari tapi bukan berarti kena virus dlakula ini."
__ADS_1
"Begitu." Pria berpakaian kerajaan itu menghela napas dengan berat. "Akhirnya terjawab sudah semua teka-teki yang menyelimuti masalah ini, kenapa terjadi pembunuhan sadis di kota ini, tapi orang bule itu, aku harus mencarinya. Dia penyebar pertama wabah ini. Dia harus dihukum mati."
Ia kemudian melirik Ken. "Kalau begitu, karena kau yang mengerti mengenai hal ini, kau kuangkat untuk memimpin penyelamatan kota ini. Mulai besok, kau yang akan mengurus semuanya. Semua orang akan tunduk dan taat pada perintahmu."
"Baik, Menteri." Semua orang bersujud kepada Menteri Pertahanan termasuk Lian Luo dan Odagiri.
"Eh, apa?" Karena semua orang bersujud, Ken ikut bersimpuh dan bersujud ke arah Menteri itu. Walaupun begitu, ia masih belum mengerti apa yang terjadi. Memimpin penyelamatan kota? Orang semuda dirinya? Ia bahkan mungkin orang paling muda di ruangan itu. Ia ikut menegakkan tubuhnya ketika yang lainnya menegakkan tubuhnya.
"Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini. Kau akan jadi anak buahku," titah Menteri itu.
"Eh?"
Kembali orang-orang itu bersujud dan pria berambut pendek itu pun ikut bersujud pada menteri itu, lalu kembali menegakkan punggungnya mengikuti yang lain.
"Jadi, Sensei. Aku harus bagaimana?" bisik Ken tepat di telinga gurunya.
"Ikuti perintah Menteri itu. Jadilah kebanggaanku."
"Tapi ...."
"Eh, siapa namanya?"
Ken terkejut mendengar suara Menteri itu yang seperti tertuju padanya. Ia menoleh. "Saya, Menteri?"
"Iya."
"Ken Tachibana."
"Ken Tachibana ya?" Pria itu menyentuh janggut panjangnya. "Baik. Kau ikut aku."
"Apa?"
Menteri itu beranjak berdiri dan meninggalkan tempat itu, dan Ken mengekor pria itu dari belakang. Kemudian diikuti oleh para pengawal kerajaan. Semua orang bersujud ketika rombongan itu keluar dari tempat itu.
Pria berambut pendek itu bingung. Kini ia harus mengikuti pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Kenapa jadi begini ceritanya?
__ADS_1
___________________________________________