Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Sihir


__ADS_3

Pagi itu Ken terbangun lebih dulu. Di bagian atas tubuhnya masih menempel si kecil Miyuki yang tidur tengkurap dengan nyenyaknya. Ia menoleh ke samping dan sang istri pun masih tertidur lelap. Ia takut bergerak, takut membangunkan si kecil bila terlalu banyak bergerak, hingga ia merenggangkan ototnya di tempat sambil menguap.


"Hoam ...." Pria itu mengucek-ngucek mata seraya melihat sekitar. Sepertinya sudah pagi karena terlihat seberkas sinar masuk ke dalam ruangan lewat sela-sela gorden di jendela kamar hotel.


"Mira." Ken terpaksa membangunkan istrinya karena tenggorokannya terasa kering.


"Mmh?" Wanita itu terbangun dengan menyipitkan matanya yang sudah kecil itu. Rambutnya yang panjang, tergerai hingga ke samping bantal. "Kenapa, Sayang?"


"Tolong, aku ingin minum."


Wanita itu kemudian berusaha duduk sambil melihat sekeliling. Kamar itu sedikit redup karena hanya satu lampu duduk di atas meja nakas yang dihidupkan. Sementara dari gorden ada bias sinar masuk. Ia mengecek jam yang ada di atas meja nakas. "Oh masih, pagi."


Ia merenggangkan tangan sambil menguap dan beranjak berdiri. Mira mengambil air mineral botol dari kulkas kecil yang berada di atas meja dan menyerahkannya pada sang suami.


Pria itu terpaksa duduk. Miyuki diambil Mira dalam keadaan setengah sadar. Gadis kecil itu merengek karena masih mengantuk. Sang wanita berusaha mendiamkan dengan memeluknya. Si kecil kembali tidur.


Setelah meminum beberapa teguk, Ken menutup botol minuman itu. "Kau ingin sarapan di mana? Dikamar apa di luar?"


"Di luar saja, biar Miyuki semangat bangun."


Pria itu tertawa. "Iya, iya. Entah kenapa dia suka sekali keramaian."


Tak lama keduanya sudah pindah ke lantai satu hotel dan makan dekat kolam renang. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat kolam renang lewat pintu kaca yang setengah terbuka.


Yang sarapan pagi itu juga lumayan banyak. Selain warga lokal, warga asing pun menjadi tamu di sana. Miyuki sudah membuka matanya walaupun masih dalam pangkuan Mira dan bersandar malas pada tubuh ibunya. Ia tengah memperhatikan beberapa tamu hotel yang tengah berenang di kolam renang. "Papa, Miyuki mau berenang sama Papa," pintanya manja.


"Mmh, boleh, tapi makan dulu ya?"


"Mmh ...." Gadis kecil itu menggulung bibir bawah karena merajuk.


"Makan dulu, kalau tidak Papa tidak mau temani kamu berenang." Dilihatnya lagi wajah si kecil yang setengah hati mendengar permintaannya.


Ken mencoba menyuapi dengan potongan omelet ke mulut gadis kecil itu dan ia berusaha memakannya. "Pintar anak Papa!Ayo, makan yang banyak biar bisa berenang yang lama."


Gadis kecil itu makan setiap suapan dari Ken tanpa banyak bicara. Namun dengan wajah datar seakan ia ingin protes tapi tak berani.


Mira menyelesaikan sarapannya lebih dulu, tapi mereka tak menyangka, seseorang yang mereka kenal datang menyambangi.


"Halo, semua." Ucapan pria itu singkat, padat, tapi tak diharapkan. Karena kedatangannya selalu membawa masalah. Miyuki saja memberi mimik wajah tak bersahabat pada pria itu. Bukan tak suka, karena pria itu sering memanjakannya, tapi setiap dia datang, pasti ayahnya terpaksa pergi.


"Hei, gadis kecilku!" panggil Ejiro pada Miyuki. Ia mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut. Pria itu hadir dengan rambut pendek dengan pakaian kemeja dan celana panjang seperti pria lain pada umumnya. Ia mulai belajar beradaptasi.


"Oh, Kak. Silakan duduk." Ken menarikkan kursi untuk pria itu.


Ejiro duduk sambil merapatkan kursinya ke meja. "Maaf, ya, mengganggu."


"Oh, tidak. Apa Kakak ingin sarapan dulu?"

__ADS_1


"Iya, sebenarnya aku ingin sarapan. Mmh ...." Pria itu melirik Ken. "Ayo temani aku mengambil sarapan."


Ken melirik istrinya. Keduanya tahu, pasti Ken mendapat tugas baru. Pria itu mengikuti kakak Mira itu ke tempat pengambilan makanan. "Ada apa, Kak?" Mereka berdiri di depan meja salad.


Ejiro mengambil piring dan memilih makanannya. "Kelihatannya ada pengacau baru tapi masih belum diketahui siapa. Dia bisa pindah dimensi seperti dirimu."


"Benarkah? Tapi jejak kekacauannya?"


"Itulah yang membingungkanku. Aku mengira ini pasti manusia setengah dewa tapi dia juga bisa sihir."


"Maksudmu dia penyihir?"


Ejiro menoleh. "Aku tak tahu, karena itu aku minta kau menyelidikinya. Orang ini mengirim ke jaman di mana adik-adikku masih hidup, manusia kertas."


"Manusia kertas?" Ken mengerut dahi. Ia baru kali ini mendengar ada mahkluk seperti ini.


"Iya, manusia kertas. Benar-benar kertas. Jadi kalau kau lihat dari samping, mereka hanya selembar kertas, tapi dari depan mereka manusia kartun. Mahkluk-mahkluk ini diambil dari buku cerita atau komik dan yang bisa melakukan itu hanya penyihir. Sedang mereka itu tokoh-tokoh komik jaman sekarang. Karena itu, aku mencurigai ada manusia setengah dewa lain yang baru muncul sekarang."


"Kenapa sekarang?""


"Entahlah."


Entah kenapa, pikiran keduanya tertuju pada satu orang yang sama yang rasanya tak mungkin ada. Lucille, tapi ia sudah lama meninggal.


"Kau tahu apa yang kupikirkan?" tanya Ken lagi.


"Lucille, 'kan?"


"Tentu saja. Aku yang membakar mayatnya hingga menjadi abu."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja!" sahut Ejiro sewot.


"Berarti dia kemungkinan punya teman."


Kakak Mira itu berpikir sejenak. "Mungkin." Ia kemudian mengambil gelas berisi jus jeruk. "Karena itu aku minta kau segera berangkat."


Keduanya melangkah ke arah meja Ken. Mira dan Miyuki memperhatikan mereka.


"Mmh, kalau begitu, aku titip Mira dan Miyuki. Antar mereka pulang."


"Ok."


"Oh, ya. Bola kristalnya," tagih Ken yang menyodorkan tangannya.


"Kau tinggalkan lagi bola kristalmu?" Ejiro merengut kesal.

__ADS_1


"Aku 'kan sedang jalan-jalan dengan keluargaku, Kak."


"Dan kau tinggalkan perusahaan?"


"Yah, karena istriku ingin jalan-jalan," ucap Ken santai.


Kakak laki-laki Mira itu menghela napas panjang. "Heh, ya sudah. Kau antar mereka pulang dulu, sepertinya tugas ini masih bisa menunggumu ya?" ledek pria itu.


Ken tersenyum senang. "Terima kasih, Kak!"


"Mmh."


Mira pasrah dengan pekerjaan suaminya yang satu ini. Ia tahu ada tanggung jawab yang harus diemban Ken. Butuh beberapa hari untuk keluarga kecilnya sampai ke rumah dengan mobil itu. Setelah itu ia melepas sang suami pergi.


----------+++---------


Semua orang bertepuk tangan melihat kehebatan gadis kecil itu. Rambutnya pirang panjang melewati bahu dengan paras yang cantik. Dengan burung hantu yang hinggap di bahunya, gadis itu dengan lincahnya mengerahkan tangannya ke sana kemari dengan memegang kayu yang tengah terbakar.


Semua penonton berdecak kagum melihatnya. Ia hanya seorang anak kecil tapi mampu mempertontonkan pertunjukan yang mengagumkan seperti itu. Setelah selesai pertunjukan, gadis kecil itu memberi hormat dengan membungkuk, dan pergi ke belakang panggung.


"Noir(baca, 'noar')!"


Gadis cilik itu mendatangi seorang wanita setengah baya yang sedang menantinya. "Oma Berta!" Ia datang dan memeluk kaki sang wanita layaknya anak kecil pada umumnya.


"Mmh, Sayang. Penampilanmu bagus sekali tadi, tapi coba kau cuci dulu tanganmu."


Noir melepas pelukan dan melihat ke kedua telapak tangannya yang menghitam. Ia tersenyum lebar.


"Lihat, kau merusak gaun Oma. Ayo, cuci tangannya." Wanita itu menarik tangan gadis itu ke keran terdekat. Gadis itu hanya mengulum senyum melihat rok sang wanita meninggalkan bercak hitam di sana sini.


Setelah mencuci tangan si kecil, wanita itu menatap ke arah anak itu. "Kenapa kau hilangkan lagi gambar buku cerita yang Oma beli kemarin? Untuk apa?"


"Aku kirim ke dalam mimpiku, Oma."


"Mimpi?"


"Ya, mimpi. Katanya kalau aku kirim gambar itu ke tempat itu, aku akan bertemu dengan laki-laki yang sering aku lihat wajahnya di dalam mimpi itu, Oma."


"Wajah ayahmu?"


"Tidak tahu, Oma."


Wanita itu kemudian berjongkok dan memeluk gadis kecil itu. "Maafkan ibumu ya, Noir. Oma sampai sekarang tidak tahu keberadaan ibumu dan ia juga tidak pernah cerita tentang ayahmu. Kita berharap saja ibumu kembali dengan selamat suatu hari nanti." Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan keponakannya itu, tapi ia punya firasat buruk bahwa wanita itu takkan mungkin kembali, karena memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ia mengusap punggung cucunya ini dengan iba.


T A M A T


_______________________________________

__ADS_1



Visual Noir dengan burung hantu kesayangannya. Salam, ingflora💋


__ADS_2