
Ranjang itu sedikit bergoyang dan Ejiro tertawa. "Kau masih lama 'kan di sini? Bagaimana kalau besok kita lakukan lagi?"
Lucille menatapnya dengan pandangan mata membunuh, dan pria bercodet itu menatap wanita itu dengan nakal.
"Sayang ...."
Wanita itu, yang telah selesai berpakaian segera keluar dari kamar itu dan Ejiro tersenyum lebar.
--------+++-------
"Nona Lucille datang."
Ken menatap ke arah pintu. "Oh, biarkan ia masuk."
Pria itu yang tengah duduk di tepi ranjang terkejut melihat wanita itu buru-buru masuk dan mendekatinya. Wanita itu menendang kaki Ken keras-keras.
"Auw!" teriak pria itu.
Lucille ingin memelintir tangan pria itu tapi dengan cepat Ken berbalik dan memelintir tangan wanita itu lebih dulu ke belakang.
"Ah!"
"Ada apa ini?" tanya pria itu.
"Kenapa kau biarkan aku bersama pria berengsek itu, Ken!" teriak wanita itu.
Para pengawal mendobrak masuk untuk mengetahui apa yang terjadi setelah mendengar suara ribut-ribut, dan ternyata Ken terlihat baik-baik saja. Pria berambut pendek itu mengusir pengawalnya dengan gerakan tangan pelan.
"Ejiro maksudmu? Kau sendiri yang bilang mau pergi dengannya," terang Ken.
"Apa?" Wanita itu coba mengingat, tapi ia tak bisa mengingatnya sama sekali. "Apa aku bicara begitu padamu?" Nada suaranya melunak.
Ken melepas wanita itu. "Aku lihat Ejiro bertanya padamu dan kamu mengiyakan. Karena itu aku membiarkanmu pergi. Memangnya ada apa sebenarnya dengan kalian?"
Lucille masih bingung hingga terlintas sesuatu yang menjawab semua teka teki itu. Apa dia bisa hipnotis?
Ken pun akhirnya tertuju pada kesimpulan yang sama, karena ia tahu pria bercodet itu bisa menghipnotis, tapi ia tak berani mengatakannya pada wanita itu karena berarti ia telah benar-benar menjerumuskan Lucille pada Ejiro.
"Maaf, permisi." Wanita itu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Lucille!"
__ADS_1
Wanita itu berlari keluar. Ken mengikutinya. Wanita itu pergi ke tepi danau dan ia duduk di sebuah kursi sendirian.
Pria itu merasa ada sesuatu yang tak beres terjadi dengan mereka berdua dan pikirannya kembali ke cerita Ejiro soal Cia. Apakah pria bercodet itu melakukan hal yang sama lagi dengan wanita berambut merah ini? Ken geram sekaligus merasa bersalah, karena ialah yang membawa Ejiro serta dengan mereka dan kembali ia melakukan hal yang sama dengan wanita lain.
Ken benar-benar geram. Ia mencari kuda dan segera menaikinya. Ia memacu kuda itu di pekatnya malam diiringi para pengawal hingga sampai ke penginapan Ejiro. Dengan napas terengah-engah, ia turun dari kuda dan masuk ke dalam penginapan.
"Ejiro! Di mana dia?" teriaknya.
Erina yang berada dekat dari pintu masuk mendatangi Ken. "Ada apa, Paman?"
"Di mana, Pamanmu?"
"Aku di sini." Pria bercodet itu keluar dari dapur. "Ada apa?" Ia sedikit bingung dengan kehadiran Ken yang secara tiba-tiba mendatanginya.
Seketika tanpa bicara apa-apa, pria berambut pendek itu meninju perutnya. Namun gerakan itu mampu ditangkap Ejiro dengan tangan kanan. Ken mencoba dengan tangan kiri dan juga mampu ditangkap pria bercodet itu sehingga ia menggantinya dengan lutut yang menyerang langsung ke perut pria bercodet itu.
"Agh!" Ejiro melengkungkan tubuhnya karena kesakitan. "Ada apa denganmu?"
"Apa yang kau lakukan pada Lucille!" teriak Ken.
Saat itu ada beberapa orang yang sedang makan di restoran hingga akhirnya perhatian tertuju pada mereka berdua.
"Kau merusak suasana restoranku, Ken," ucap Ejiro geram. Ia menarik pria berambut pendek itu kembali ke arah pintu depan dengan kasar.
"Apa pedulimu? Tak satu pun dari mereka kau inginkan, bukan?" Pria bercodet itu hanya mengangkat satu alisnya, kesal.
"Lalu, apa itu bisa dijadikan alasan untuk kau mempermainkan mereka? Bagaimana kalau itu terjadi pada Mira, adikmu? Mmh?"
Ejiro mendorong kasar bahu pria berambut pendek itu. "Kalau kau mau aku mencincangmu, silahkan saja."
Keduanya saling melempar tatapan mematikan. Dengan hati memanas, dan pikiran kacau, mereka saling menyalahkan. Kemarahan terpampang jelas di wajah mereka.
"Lalu apa bedanya Lucille dan Cia? Mereka juga anak kesayangan orang lain. Apa kau pikir keluarganya tak marah bila tahu apa yang kau lakukan dengan mereka?" tanya pria berambut pendek itu sedikit keras.
Erina yang mendengar itu hanya tersenyum. Pamannya dari dulu selalu begitu. Dalam berbisnis ia adalah pribadi yang disiplin, tapi kalau menyangkut soal wanita, ia adalah pria berengsek. Ia selalu bisa meniduri wanita yang disukainya, entah bagaimana caranya, dan sudah saatnya seseorang menyadarkannya.
"Aku melakukannya karena aku juga menyukai mereka, hanya saja mereka menolakku," terang Ejiro.
"Sudah tahu mereka tak suka padamu, kenapa kau memaksanya? Apa kau mendapatkan mereka setelah itu? Tidak 'kan? Tapi kau meninggalkan trauma bagi wanita-wanita itu, apa kau tahu itu?"
"Kau terlalu berlebihan," ucap pria bercodet itu mendengus kesal.
__ADS_1
Kalimat yang diucapkan Ejiro benar-benar menyebalkan. "Ejiro, saudaramu banyak perempuan. Adikmu, keponakanmu, Mira. Mereka ...."
"Aku akan membunuhmu bila itu terjadi pada Mira," ucap Ejiro dengan marah. Ia menyayangi Mira, karena ayah gadis itu tidak membencinya. Tidak seperti ibunya, yang memperlakukan ia dan saudara tirinya berbeda hingga ia tidak dekat dengan adik dari ibunya itu.
"Aku juga kakaknya, pasti merasa marah. Eh, kenapa kau malah marah padaku?" Ken baru menyadari kalimat pria bercodet itu, sudah 2 kali menyudutkannya.
Pria ini bodoh atau apa? Apa dia tidak sadar, ia menyukai Mira? "Kalau kau tanyakan padaku, kenapa Lucille? Aku menyukainya. Aku tidak sekadar tidur dengan sembarang wanita!" ucap Ejiro sengit.
"Lalu, kelanjutannya bagaimana?"
"Aku ingin menikahinya, itu sudah jelas."
Ken bingung dengan pemikiran Ejiro. "Apa yang ada dipikiranmu cuma menikah saja, mmh?"
"Lho, mau apa lagi? Pekerjaan sudah, umur juga cukup. Aku hanya butuh wanita untuk menyempurnakan hidupku!" Pria bercodet itu kembali menjawab sengit.
"Menikah itu butuh 2 orang yang saling mencintai," terang Ken.
"'Kan aku sedang mencarinya." ucap Ejiro mulai santai.
Ken menatapnya tak percaya seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Kau begitu kau tak usah ikut denganku!" sergahnya cepat.
Pria bercodet itu meraih lengan Ken. "Lho, kenapa? Aku ingin ikut denganmu."
"Bukankah kalau kau menikah, kau harus mendampingi mereka?"
"Buktinya, ayahku tidak. Dia tetap sibuk ke sana kemari."
Ken baru ingat ayah Ejiro dan Mira adalah Dewa Matahari. Dewa tertinggi yang pastinya lebih tinggi dari sang ibu. Ia baru sadar telah menghajar anaknya. Betapa berani dirinya. "Eh, aku pulang dulu ya?"
Pria bercodet itu malah menahannya dengan berdiri di depan Ken. "Stop!" Ia merentangkan kedua tangannya. "Kau akan membawaku 'kan, Ken?" tanyanya memastikan.
"Eh, kau tanya Mira saja," ucap Ken menghindar.
Pria bercodet itu kembali menahan lengan pria berambut pendek itu. "Ken."
"Bukan aku yang mengurus itu. Ibuku. Jadi tanya Mira, soalnya aku tidak tahu menahu soal itu."
Ejiro melepas pria itu. "Baik, awas saja kalau kau bohong."
Ken pun pergi, diantar pria bercodet itu hingga depan pintu. Ia menaiki kuda dan langsung pergi.
__ADS_1
Sulit mengajarkan Ejiro yang masih dengan pemikirannya. Apalagi ia merasa ia tidak menyakiti siapapun. Angin masih mengibarkan rambutnya yang pendek itu bersama dingin malam, dan para pengawal masih mengiringinya pulang ke rumah Menteri Pertahanan.