Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Brangkas


__ADS_3

Mobil mewah itu akhirnya sampai ke tempat tujuan. Sebuah rumah mewah dengan pagar yang tinggi sekitar 4 meter. Antrian untuk masuk ke rumah itu membuat mobil itu harus ikut menunggu.


Mobil yang berisi Devan, Ben dan Vicky parkir tak jauh dari sana. Mereka berusaha memantaunya dari luar.


Mobil mewah yang ditumpangi Ken, sengaja memasang besi di bawah agar pemuda itu bisa bergelantungan dengan nyaman. Saat memasuki gerbang ternyata ada pemeriksaan oleh 2 orang sekuriti di bagian bagasi dan juga bagian bawah mobil. Sebuah besi panjang dengan cermin di bawahnya dimasukkan ke bawah mobil, dan itu bisa dihindari Ken dengan mudah dengan cara bergeser. Mobil kemudian dipersilakan masuk ke dalam.


Perjalanan sedikit agak jauh ke dalam. Terlihat sebuah rumah megah dan besar bertingkat 2, dengan gaya minimalis dan modern.


Hugo menurunkan Jack dan Irish di pintu utama dan kemudian memarkirkan mobilnya sedikit ke samping agar Ken bisa dengan cepat mencapai belakang rumah tanpa diketahui oleh penjaga.


Jack dan Irish masuk dengan memperlihatkan undangan mereka dan lalu bergabung dengan para undangan yang lain. Ternyata, karena banyaknya tamu, pesta di gelar hingga ke kolam renang di belakang rumah.


Karenanya, Ken terpaksa memanjat dari samping. Untung saja banyak tanaman rambat yang tumbuh di dinding samping rumah. Pemuda itu dengan mudahnya menaiki dinding dengan memanjat tanaman rambat itu. Sempat ia berhenti sebentar saat seorang penjaga melewati tempat itu. Gelapnya malam sangat membantunya untuk bersembunyi.


Ia akhirnya mencapai lantai dua tepat di depan kaca jendela. Ken kemudian mengenakan sebuah kacamata yang ia ambil dari ikat pinggangnya. Kacamata itu untuk mendeteksi keberadaan sinar X di dalam ruangan itu.


Ah, aku menemukannya. Wah, banyak juga. Berarti, pasti brangkas itu ada di ruangan ini. Pemuda itu menemukan satu di jendela sehingga ia bisa menghindari sinar itu bila ingin membukanya.


Namun tiba-tiba, pintu di ruangan itu terbuka sehingga pemuda itu dengan sigap langsung bersembunyi dengan menunduk. Ah, siapa lagi ini? Ia mencoba mengintip.


Seorang pria bule masuk dengan seorang wanita cantik. Pria itu menekan sesuatu di dinding sehingga sinar X itu menghilang dari dalam ruangan dalam sekejap.


Oh, di sana tombolnya, tapi dari tempatku sulit sekali untuk mencapainya. Sinar X yang harus dilewati juga cukup banyak. Eh, dia ke mana? Ken melihat pria bule yang berusia sekitar 30 tahun itu membawa wanita itu mendekati sebuah lukisan.


Sepertinya pria itu pemilik rumah itu karena selain penampilannya berkelas, ia mengenal setiap inci ruangan itu. Ia bahkan menggeser lukisan itu ke samping dan terlihatlah sebuah brangkas yang tertanam di dinding, tapi brangkas ini menggunakan kunci tombol.

__ADS_1


Mata Ken membulat sempurna. Seperti dugaannya, kalau tombol, bagaimana cara membukanya kalau tidak tahu nomor kunci itu? Tapi kenapa Irish tidak tahu ada brangkas dengan model kunci tombol seperti ini? Apa memang ini model terbaru tahun ini? Ah, aku lupa menanyakan, tahun berapa sekarang.


Ken kembali fokus. Ia memutar sesuatu di sudut bingkai kacamatanya. Seketika, gambar di kacamata itu membesar, sehingga ia bisa mengintip tombol yang ditekan pria itu.


Tepat saat itu, pria itu menekan tombol brangkas. Pemuda itu mencoba menghapalnya. Tak lama brangkas terbuka. Pria itu mengambil sebuah emas batangan dan diberikan satu pada wanita itu.


"Ken, kamu sedang apa? Kok belum masuk-masuk juga?" sahut Devan lewat earphone-nya. Ia melihat Ken tidak bergerak dari titik yang ia lihat di dalam denah rumah itu di laptopnya. Ken masih berada di luar rumah.


"Oh, ada pemiliknya masuk ruangan."


"Oh, kalau begitu, tunggu saja."


Brangkas kembali ditutup oleh pria itu, juga lukisan itu. Keduanya kemudian beranjak ke pintu.


Ah, syukurlah.


Ken berbalik dan duduk di lantai beranda dengan lemas. Aduuhh ... Ia menghela napas pelan. Mau berapa lama lagi aku harus menunggu?


Ia mencoba kembali mengintip, dan adegan di ruangan itu semakin panas. Pria itu telah berpindah ke kursi sofa dan mulai melakukan sesuatu.


Ken kembali membalikkan tubuhnya dan melapor langsung pada Devan. "Dev, mmh ... pria itu sedang berhubungan dengan wanita itu di kamar. Bagaimana ini?" ucapnya dengan enggan.


"Wanita?" Devan malah tertawa, membuat Ben yang berada di sampingnya menoleh. Juga Vicky yang berada di kursi pengemudi.


"Kenapa?" tanya Ben.

__ADS_1


"Pemilik rumah itu sedang bersama pacarnya di kamar itu," terang Devan sambil tertawa. "Kamu tahu 'kan maksudku?"


"Oh, aku tahu itu," sela Vicky dari depan. "Tapi masalahnya, apakah Ken cukup umur untuk melihatnya?" Ia tertawa terbahak-bahak.


Pemuda itu kesal ditertawakan Devan. Ia juga mendengar suara orang lain tertawa walau tak begitu jelas, dan ia yakin yang lain pasti tengah mentertawakannya. "Jadi ... aku tunggu saja ini?" tanyanya memastikan.


"Sepertinya nasibmu seperti itu, Ken," jawab Devan dengan sisa tawanya.


Ken menghela napas panjang. Ia menunggu beberapa saat dan kemudian mengintip lagi. Ternyata pintu telah terbuka. Pria itu tengah berbicara dengan seseorang di pintu. Oh, dia berbicara dengan Irish!


Ya, wanita itu tengah menolong Ken. Ia melihat pria pemilik rumah itu masuk ke dalam ruang yang sedang diincar Ken. Ia tahu karena mereka sama-sama melihat peta itu tadi di meeting dan ruangan memang tidak banyak berubah sehingga ia segera mengenali ruang target yang sedang menjadi incaran.


Melihat sang pemilik masuk dengan seorang wanita dalam jangka waktu yang lama, membuat Irish memutuskan untuk datang membantu Ken. Ia melihat pemuda itu mengintip dari luar jendela dan ia merasa lega. Ia juga melihat wanita tadi sedang membetulkan letak pakaiannya. "Eh, Tuan, maaf ya? Tapi aku belum mendengar apa-apa dari Anda. Apa aku datang terlambat?"


"Oh, tidak sama sekali. Saya baru akan menyambut tamu-tamu saya. Eh, Nona siapa ini?" Pria itu meraih tangan Irish dan mencium punggung tangannya.


Wanita yang tengah merapikan pakaiannya itu merengut melihat prianya bertindak terlampau sopan pada Irish. Apalagi mata biru lelaki itu tengah memandangi kecantikan wajah setengah Eropa milik Irish.


"Belinda," sahut Irish dengan senyum menawannya.


Pria itu bergeming menatap setiap inci lekuk wajah yang bak dewi yunani ini. "Eh, biar aku menemanimu melangkah keluar. Boleh 'kan?" Pria itu masih menggenggam jemari wanita itu.


Irish tersenyum manis. "Tentu saja. Aku tersanjung." Wanita itu menyentuh dada. Ia memainkan dramanya dengan sangat baik.


"Silakan." Pria itu menarik tangan Irish bersamanya. Wanita yang datang bersamanya itu mengekor di belakang.

__ADS_1


Ken bernapas lega. Apalagi, pria itu lupa menghidupkan lagi sinar X di ruang itu. Pemuda itu semakin leluasa untuk bisa masuk ke dalam. Ia menempelkan alat pemotongan kaca di kaca jendela dan menggerakkannya memutar seperti jangka. Setelah selesai, ia mencopot kaca itu.


__ADS_2