
Pria itu membawa Ken ke sebuah rumah kayu sederhana dan membaringkannya di sebuah ranjang dipan. Ia kemudian duduk di tepi ranjang sambil memeriksa nadi pemuda itu di pergelangan. Ini adalah ketiga kalinya ia melihat pemuda itu jatuh pingsan dan ia terkejut melihat hasilnya.
Ia mengerut kening. Racun? Orang ini diracun? Aku pikir ia sakit tapi siapa yang meracuninya? Apa pria bule itu? Siapa pria itu sebenarnya? Pria berwajah asia dengan rambut berombak gondrong sebahu itu menopang dagu. Ada hubungan apa pria bule itu dengan anak ini?
Terdengar suara seorang pria yang berteriak di luar sana. Pria tampan berwajah asia itu terlihat ragu. Sebaiknya aku kembalikan saja orang ini pada pria itu. Ini bukan urusanku, dan aku tidak mau ikut campur urusan mereka.
Pria itu kini kembali mengendong Ken dan membawanya keluar.
"Kenzie, di mana kamu! Kenzie!" teriak pria bule itu lagi.
Tiba-tiba ia melihat semak-semak bergerak di sampingnya.
"Kenzie?"
Pria asia bertubuh kekar dan berotot itu keluar sambil menggendong Ken di kedua tangannya. "Kau mencari orang ini 'kan?"
Pria bule itu terkejut. Ia tidak menyangka ada orang lain di tempat itu. Ia mengira tempat itu tak didatangi manusia selain ia dan Ken. "Berikan anakku padaku." Ia langsung mengambilnya dari tangan pria itu.
Pria asia itu mengerut kening. Anaknya ... tapi orang ini berwajah asia sedang dia sendiri berwajah Eropa, apa benar ini anaknya?
Pria bule itu telah mendapatkan Ken dalam gendongan. "Terima kasih." Ia segera pergi.
"Mmh." Pria berotot itu hanya tersenyum mendapat terima kasih yang tidak selayaknya tapi ia sudah tak ingin berurusan dengan keduanya sehingga ia pergi dari tempat itu dengan santai.
------------+++------------
Pria bule itu membaringkan Ken di atas ranjang lalu menyelimutinya. Ia mengusap kening pemuda itu dengan lembut sambil menepikan rambutnya. Lama ia memandang wajah pemuda itu sebelum akhirnya ia keluar dari tempat itu.
Sejam kemudian Ken terbangun. Ia merasa aneh berada di tempat itu karena terakhir ia pergi ke hutan tapi kenapa tiba-tiba ada di sana?
Ia mencoba bangun tapi kepalanya sedikit pusing.
Bertepatan dengan itu, pria itu kembali masuk. "Kenzie, kau sudah bangun?"
"Kenapa aku ada di sini, Ayah?" Pemuda itu masih kelihatan bingung.
"Kau pingsan dan ayah menemukanmu. Apa kamu bertemu dengan orang lain dihutan itu?"
"Orang? Tidak."
"Ya sudah." Pria itu bernapas lega.
"Tapi kenapa aku pingsan di sana, Ayah?"
"Mmh, apa kamu minum Champagne ayah lagi?"
"Tidak. Aku ingat betul, aku tidak minum apa-apa selain yang Ayah berikan. Apa kita ke dokter saja, Yah?"
__ADS_1
Pria itu terlihat panik. "Oh, tidak perlu. Kau sudah diperiksa dulu dan itu karena kondisi badanmu lemah dan ada kelainan di otakmu."
"Otak? Kelainan apa?"
"Oh, eh, kamu 'kan hiperaktif begitu."
Hiperaktif? Benarkah? Ken tidak mengerti tentang penyakit itu hingga ia hanya melongo. Saat ia mencoba bangun kembali, kepalanya masih pusing. "Ah ...." Ia mengernyit dahi sambil memejamkan mata.
"Sudah, kau istirahat dulu saja. Nanti jam makan malam, ayah bangunkan."
"Tapi tidak enak tidur terus, Yah." Ken merengut.
"Tapi kamu tidak bisa bangun 'kan?"
"Apa tidak ada obatnya?"
"Obatnya istirahat saja," ucap pria itu sambil tersenyum.
"Tapi lebih baik minum obat pusing, Yah. Aku gak mau begini terus," protes pemuda itu.
"Iya, iya. Ayo tidur lagi." Pria itu merapikan selimut Ken dan mengusap kepalanya. "Besok, kita jalan-jalan ke supermarket ya, sama ayah."
Ken terlihat senang. Akhirnya ia bisa melihat dunia luar.
----------+++---------
"Maksudmu, untuk di makan dengan cream sup?"
"Bikin garlic bread juga enak."
"Mmh, berarti ayah tinggal tambahkan cream sup instan dan garlic butter." Pria itu kemudian pergi ke rak lain.
Ken yang ditinggal sendiri, sibuk merapikan belanjaan di keranjang dorong. Tiba-tiba seseorang menyentuhnya. "Lucille?"
"Hai, Ken." Gadis itu mengangkat satu tangannya sambil tersenyum semanis mungkin. Gadis yang pantang menyerah.
Pemuda itu tanpa berkata-kata segera mendorong keranjang dorongnya menjauh, tapi Lucille dengan cekatan mengaitkan tangannya di lengan pemuda itu. Ia segera berhenti dan menepis tangan gadis itu. "Ah, jangan ikuti aku terus!"
Gadis itu merengut. "Aku 'kan tidak melakukan hal-hal yang jahat lagi, kenapa kamu tidak bisa ramah padaku, Ken?"
"Aku tak ingin diganggu. Pergi sana!" Ken kembali mendorong keranjang belanjanya.
Lucille kembali mendekat. Ia meraih lengan pemuda itu.
"Lucille!" Ken kesulitan melepaskan diri dari tangan yang menggenggamnya erat.
"Ken, aku 'kan hanya ingin memegang tanganmu."
__ADS_1
"Tidak. Lepaskan aku, heh!" Pemuda itu gemas hingga mencoba membuka satu persatu jari gadis itu yang mencengkram lengannya. "Lucille ...."
"Ken ...." Gadis itu merengut tapi berusaha mempertahankan.
"Apa ini?" Pria bule itu datang dan melihat seorang gadis berusaha berpegangan pada Ken.
Gadis itu kaget tapi lebih terkejut lagi ketika pria itu mendorongnya kasar hingga terjatuh. Ken bahkan ikut terkejut.
"Jangan sembarangan ganggu anakku ya? Atau kau akan berhadapan denganku!" Pria itu berjongkok mendekati Lucille dan menyentuh dagunya. "Kau memang cantik tapi aku tak segan membunuhmu," ucapnya dengan sorot mata tajam nan menusuk, seakan-akan ia sanggup mencin*cang gadis itu bila masih mengganggu Ken.
Lucille hanya diam.
"Ayah, sudah, Yah, kita pulang saja. Ayah sudah belanjanya?" Pemuda itu berusaha mengalihkan fokus pria itu pada hal lain agar tidak hanya tertuju pada gadis itu. Ia sebenarnya tak tega melihat gadis itu diancam pria itu. "Ayah ...."
Perlahan pria itu berdiri dan menarik Ken ke tempat lain.
"Ayah, apa kau masih ingin belanja lagi?" tanya Ken sambil memperhatikan wajah pria itu.
"Entahlah, padahal tadi banyak yang ingin dibeli," ujar pria bule itu memandang ke arah lain. Ia tidak ingin Ken melihat wajah muramnya.
Pemuda itu bergerak ke depan keranjang dorong membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Ayah mau masak apa, nanti aku yang cari bahannya, bagaimana?"
Pria itu tersenyum. "Memangnya kamu bisa masak?"
"Biar, aku belajar dari Ayah." Pemuda itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum senang.
Pria itu meraih kepala Ken dan mengacak-acak poninya melihat tingkah pemuda itu. "Mmh, tidak usah, biar ayah saja." Berbicara sebentar dengan pemuda itu membuat mood-nya membaik. "Ayo, kita belanja lagi." Ia merangkul bahu pemuda itu dari samping.
"Ayah, hari ini kita makan siang di luar saja ya, Yah?"
"Kenapa begitu?"
"Bosan di rumah terus."
"Ya sudah, ok!"
-----------+++-----------
Mobil masuk ke halaman depan rumah dan di situ ada sebuah mobil terparkir lebih dahulu dekat pintu masuk. Seorang wanita muda yang cantik tengah menunggu di beranda.
"Siapa, Yah?" tanya Ken penasaran. Ia hanya ingin tahu apa ia mengenal wanita itu atau tidak.
"Oh, itu mungkin ada yang minta dilukis. Ayo, turun."
___________________________________________
__ADS_1