
"Ah, Hideo, sini!" panggil Ken seiring pemuda berambut ungu itu datang.
"Ya?"
Ken menarik bahu Hideo. "Ini, anak baru minta ditemani ke sana ke sini lihat sekolah kita. Bisa 'kan?"
Pemuda berambut ungu itu tersenyum. "Siap!"
Pemimpin geng itu segera meninggalkan mereka berdua. Terlihat gadis itu mengerucutkan mulutnya melihat Ken pergi tapi mata Hideo terlihat berbinar melirik Lucille.
"Ayo, mau ditemani ke mana?"
----------------+++--------------
"Oya, ini ada anak baru yang akan bekerja di sini," sahut pemilik restoran.
Ken yang sedang menguliti kentang, menoleh. Astaga, dia lagi ... Pemuda itu menyentuh keningnya. Segera ia berbalik dan menekuni pekerjaannya.
"Dia akan melayani tamu seperti Ken. Oh, Ken!"
Pemuda itu terpaksa menoleh. "Iya, Pak!"
"Tolong bantu dia mengerti tugas-tugasnya."
"Iya, Pak." Ken mengangguk.
"Dia teman sekelas Saya, Pak," sahut gadis itu.
"Oh, bagus dong. Sudah saling mengenal. Ya sudah. Pahami dulu pekerjaanmu ya?"
"Baik, Pak."
Pemilik kemudian meninggalkan Lucille dan memeriksa ruang depan. Para juru masak dan pegawai yang lain melirik Ken karena gadis cantik itu langsung melangkah ke arahnya sementara pemuda itu tak peduli.
"Ken, mau kubantu?" Gadis itu berjongkok di samping pemuda itu.
"Oh, tidak usah," ucap Ken yang sedang menguliti seember besar kentang.
"Tapi ini banyak sekali, Ken."
"Ken, kenalin dong bule cantik itu, Ken," sahut asisten tukang masak.
Pemuda itu menoleh. "Oh, namanya Rusiru," ucapnya sedikit kaku.
"Halo Rusiru!"
__ADS_1
Banyak yang ingin berkenalan dengan Lucille membuat gadis itu terpaksa melayaninya, sedang Ken menyibukkan diri dengan pekerjaan. Setelah sedikit berbasa-basi, kembali ia mendekati Ken. "Ayo, sini aku bantu mengupasnya."
"Nih!" Ken menyerahkan kentang beserta pisau yang ada di tangan pada gadis itu. Ia segera beranjak dari situ, tinggal Lucille yang merengut melihat dinginnya sikap pemuda itu padanya.
Namun Gadis itu tak menyerah. Ia mencari kesempatan untuk bicara dengan Ken. la mengikuti pemuda itu ketika buang sampah lewat pintu belakang.
"Ken."
Pemuda itu tentu saja terkejut melihat gadis itu tahu-tahu sudah ada di belakangnya saat ia buang sampah di wadah yang besar. Ia merengut dan berusaha membuka pintu yang berada di belakang Lucille tapi gadis itu menahan dengan tubuhnya. "Lucille, apa sih maumu!" hardik Ken karena sudah tidak bisa menahan kesal. Aslinya, ia takkan tega membuat seorang wanita menangis.
"Ken, aku hanya ingin bicara padamu, masa gak bisa?" Gadis memiringkan kepala melunakkan hati pemuda itu sambil tersenyum manis.
"Kalau gak bisa, gimana?" ucap pemuda itu dengan wajah datar.
"Ken, jangan begitu. Aku sekarang sedang berusaha jadi orang baik. Kalau seseorang ingin jadi orang baik, seharusnya didukung 'kan?"
Ken terdiam memandang gadis itu. "Entah ...." Ia menggeser tubuh gadis itu dan membuka pintu.
Terlihat Lucille begitu senang walaupun ia hanya mendapat peluang yang sangat kecil. Ia melonjak kegirangan.
Ken menemui pemilik restoran yang sedang berdiri memperhatikan para pelanggan yang makan. "Pak, maaf. Hari ini hari terakhir Saya bekerja di sini. Besok Saya harus fokus belajar. Maaf kalau Saya mendadak mengundurkan diri karena nenek Saya juga tidak setuju Saya bekerja."
"Oh, tidak apa-apa, Ken. Bapak senang kamu pernah bekerja di restoran ini, tapi bapak lebih senang lagi bila kau giat belajar. Oya, kau boleh mengambil gaji kerjamu yang sudah 2 minggu ini, sekarang."
Keduanya kemudian pergi ke kantor pria itu.
------------+++----------
Ken yang baru masuk kelas ditarik gadis bule berambut merah itu keluar. Ia terkejut.
"Hei, mau ke mana?"
"Ikut saja."
Banyak gadis yang melirik pada Lucille karena bisa dengan mudahnya menarik ketua geng anak berandalan itu dengan santainya. Banyak yang iri padanya karena banyak yang suka pada pemuda itu tapi tak berani mendekatinya.
Ken ternyata dibawa ke kantin. "Mau apa kita ke sini?"
"Temani aku sarapan," kata gadis itu tersenyum senang.
Ken berusaha meninggalkannya tapi gadis itu kembali meraih lengan pemuda itu. "Eh, eh, eh, mau ke mana?"
"Mau ke kelas lah!" Ken menepis tangan Lucille.
"Temani aku dong, sebentar. Ngobrol," bujuk gadis itu.
__ADS_1
"Gak ada yang ingin aku omongin," ucap Ken ketus, melengos.
"Aku ada." Gadis itu mencari wajah pemuda itu. "Ya? Sebentar saja."
Ken hanya diam, berusaha sabar saat gadis itu memesan makanan lalu mencari tempat duduk.
"Sini yuk, Ken," ajak Lucille dengan santai.
Pemuda itu duduk berhadapan dengannya. "Kita mau bicara apa?" ujarnya.
"Mmh, kau masih marah padaku ya?" Gadis itu mulai membuka bungkus rotinya.
Kalimat itu membuat pemuda itu bingung. Lagi-lagi ditanyakan. "Kenapa memang?"
"Ken, aku sudah berusaha ...."
"Kepercayaan itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan," potong Ken karena ia tak suka didesak. "Sesuatu yang tumbuh atau hilang karena perbuatan."
Gadis itu memperhatikan wajah pemuda itu yang berusaha datar, seperti berusaha bersikap sopan padanya. "Ok, a—"
"Udah, ya? Aku ada urusan." Ken yang sudah tak tahan, berdiri dan meninggalkan gadis itu tanpa menunggu jawaban.
Lucille hanya bisa menghela napas melihat kepergiannya.
------------+++-----------
Ken melihat toko-toko itu. Bentuknya sederhana dan ukurannya luas. Toko-toko itu baru dibangun dan kini diperjualbelikan. Pemuda itu tertarik hingga masuk ke dalam. Ia bertanya-tanya soal harga dan fasilitas.
"Maaf ya, tapi ini dijual bukan disewakan," sahut pria itu. Padahal ada beberapa orang lain yang sedang menawar untuk menyewa dan mereka sedang bernegosiasi tapi melihat Ken yang berpakaian pelajar SMA, dan datang dengan sepeda, pria itu seperti menyangsikan pemuda itu bisa bayar toko itu tiap bulannya.
"Baiklah aku beli kedua-duanya. Berapa harganya, katakan saja," jawab Ken tanpa maksud menyombongkan diri. Ia ingin cepat selesai dan tidak mau bertele-tele karena ia tidak begitu mengerti soal sewa-menyewa ini sebenarnya.
Pria itu terkejut dan juga tamu yang lain. Orang-orang itu melihat kepada pria yang merupakan pegawai marketing itu yang terlihat sangsi pada Ken.
"Eh, tapi maaf. Harus ada uang jaminan yang sedikitnya 5% dari harga toko dan kalau tidak dibayarkan tepat waktu, uang itu hangus," terang pria itu lagi.
"Eh, sebentar ya?" Pemuda itu memunggungi pria itu. Bagaimana cara mengeluarkan koin emas itu ya? Ken memasukkan tangan ke dalam kantung jaket dan menghentakkannya sedikit. Kemudian ia menghentakkannya berkali-kali hingga terdengar gemerincing koin membuat semua orang yang ada di situ kebingungan.
"Eh, maaf ya, tapi kalau tidak ada, lain kali saja. Tidak apa-apa," ujar pria itu berusaha sopan. Sebenarnya ia merasa pemuda itu sudah gila, karena mau membeli toko-toko baru di daerah yang lumayan ramai itu. Ini saja, sudah ada yang mengantri hanya sanggup untuk menyewa tidak untuk membelinya.
Ken berbalik. Ia mengeluarkan satu koin emas dan memberikannya pada pria itu. Pria itu tercengang. Juga tamu yang lainnya.
Salah satu calon pembeli mengambil dan menggigitnya. Ia melihat kembali benda itu. "Ini asli, ini emas asli!"
Pria itu semakin terperangah.
__ADS_1
"Apa kurang? Aku masih punya lagi ini." Ken mengeluarkan dari kantongnya dan menyerahkan pada tangan pria itu yang bahkan berjatuhan, saking banyaknya. "Bagaimana?" Ia memunguti koin yang jatuh.