
"Maafkan aku, aku tidak tahu kau ada di depanku," ucap pria tua itu dengan suara serak. Ia menyatukan tangan di depan wajah memohon ampun.
"Eh, tidak, Kek. Maaf, Saya yang salah. Saya tidak lihat kalau Kakek ingin lewat di depanku. Maafkan aku, Kek." Ken melihat sekitar dan melihat mangkuk Kakek itu yang jatuh tertelungkup di lantai kayu. Ia lalu mengambilkan dan memberikannya pada kakek itu. "Ini, Kek. Kakek tidak punya tongkat?" Netranya masih mencari keberadaan tongkat kakek itu.
Pria tua itu menggeleng.
"Ah, biar kubelikan tongkat untukmu ya, Kek?"
Namun kemudian pegawai penginapan mencegahnya. "Jangan, Pak. Untuk apa? Tongkat itu mahal, dan tidak cocok untuk orang miskin seperti dia. Harusnya dia punya tongkat dari kayu ranting pohon mati, bukan seperti yang ada di toko-toko," bisiknya.
"Kau tidak boleh bicara begitu, Li Nuo. Kelihatannya kakek ini tidak punya siapa-siapa untuk membantunya ke mana-mana."
"Eh, tidak apa-apa. Niatmu saja, aku sudah sangat senang," sahut kakek itu. Ia berusaha berdiri dan dibantu oleh Ken.
Pria itu masih termangu menatap kakek itu. Ia ingin membantunya. Kemudian ia mengeluarkan uang dari kantong yang dibawanya. Ia memberikan seluruh uang yang ada di dalam kantong itu. "Ini untuk Kakek saja."
"Pak ...." Li Nuo melongo.
"Nak ...."
"Tidak apa-apa, Kek," potong pria berambut pendek itu. "Uang bisa aku cari, tapi apa kakek sudah sarapan? Belilah makanan, Kek. Bukankah itu yang kakek cari sekarang? Uang untuk beli makan?"
"Tapi itu 'kan sisa uang belanja restoran?" sela Li Nuo, menoleh pada Ken.
"Li Nuo! Ayo kita pulang! Belanjaan sudah selesai jadi tidak perlu bicara lagi!" hardik pria yang menggantungkan pedang panjang pada pinggangnya itu, kesal. Ia menarik pegawai penginapan itu ke gerobak mereka.
"Tapi, Pak, bagaimana kalau Pak Ejiro tanya?"
"Aku akan bayar dengan gajiku nanti."
Ken tidak tahu, netra kakek itu meliriknya. Mmh, orang Jepang yang bisa bahasa Cina. Menarik.
__ADS_1
Tiba-tiba ada keributan di pasar tak jauh dari gerobak mereka. Pria Jepang itu ingin melihatnya, tapi langsung dicegah Li Nuo, bawahannya.
"Sudah, Pak, jangan dilihat. Nanti lama lagi pulangnya, repot Saya. Pak Ejiro pasti ngomel, Pak jika pulang tak tepat waktu."
Mengingat belanjaan itu ditunggu untuk dapur restoran, Ken pun mengikuti permintaan Li Nuo. Namun ternyata tidak mudah. Mereka mau tak mau harus melewati tempat keributan berlangsung kalau ingin kembali ke restoran.
Gerobak melewati tempat itu dan mereka melihat apa yang terjadi.
Seorang pria muda dengan pakaian mahal, sedang menghina seorang penjual wanita hingga merusak dagangannya. Wanita muda itu menangis hingga bersujud pada pria itu meminta ampun.
Kembali pemandangan itu menggelitik rasa iba Ken pada wanita itu. "Li Nuo, tolong hentikan gerobaknya."
"Pak, ck!" Pria Cina itu terpaksa menghentikannya karena Ken adalah bosnya. "Bahaya, Pak. Jangan ikut campur."
"Tapi laki-laki harusnya tahu kapan berhenti menyiksa perempuan seperti itu."
"Ck," gerutu Li Nuo gundah.
Tentu saja pria itu tersenyum miring mengejek Ken. "Tahu apa kau, datang-datang membelanya! Apa kau tahu apa yang terjadi sebenarnya, mmh?" Ia kesal dengan pria sok tahu yang baru datang itu.
"Dia terlihat minta maaf padamu, masa masih kamu perkarakan?"
wanita itu masih berdiri dengan lututnya berharap pria itu menyudahinya, tapi cukup mengejutkan juga kedatangan seorang pria Jepang yang tiba-tiba datang menolong.
Pria itu tertawa setengah mengejek. "Apa kau tahu? Dia ini mantan pelayan di rumahku dan dia berhenti tanpa izin dariku, karena itu sekarang aku ingin membawanya kembali ke rumahku, jadi apa urusanmu membelanya?!" ucap pria kaya itu kesal.
Wanita itu yang ternyata cantik wajahnya, menggeleng-gelengkan kepala, bahkan berdiri dan bersembunyi di balik punggung pria Jepang itu.
"Hei, minggir orang Jepang bodoh, kalau kau tak ingin mati konyol di negri orang, mengerti?" Pria Cina itu memperingatkan sambil membusungkan dada mendatanginya.
"Tidak," jawab Ken singkat. Dia menjawab tanpa berpikir dua kali.
__ADS_1
Pria China itu gemas karena ada orang yang berani menentang anak penjabat seperti dirinya. Padahal mendengar namanya saja orang biasa pasti ketakutan, karena dengan mudahnya ia bisa memasukkan orang ke dalam penjara sesuai keinginannya.
Ia kemudian mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan sesuatu dari balik hanfunya. Sebuah gulungan pita. Ia melemparnya ke arah Ken tapi langsung ditebas oleh pedang pria itu.
Pria Cina itu geram. Ia mengeluarkan lagi 4 gulungan pita dan dilepas ke arah pria Jepang itu. Kembali Ken menebasnya berkali-kali hingga pita itu menjadi potongan kecil-kecil yang berterbangan di angkasa.
"Hanya itu?" ledeknya pada pria Cina itu.
Kalimat itu membuat pria kaya itu makin geram. Pengawalnya ingin maju menghajarnya tapi ditahan oleh pria itu. Ia kini menyerang Ken untuk ketiga kalinya dengan pita lain tapi kali ini lebih cerdik.
Ia mengeluarkan dua gulungan pita di tangan dan menyerang pria Jepang itu, tapi ketika pria Jepang itu ingin menebasnya, ia bisa menarik kembali gulungan itu dan menyerang tempat lain dengan cepat. Ken terkecoh hingga dada dan lengannya terkena pukul gulungan itu. "Ah! Uh!"
Pria Jepang itu tak menyangka serangan mengecoh itu memukul mundur dirinya karena memang pukulan dari pita itu sangat keras sehingga ia bisa merasakan panas di dada dan lengannya.
Orang-orang yang menonton mulai mundur untuk memberi jarak mereka yang beradu ilmu bela diri. Demikian juga dengan wanita cantik itu. Li Nuo yang melihat kejadian itu buru-buru membawa gerobak itu pulang dan menceritakan kejadian itu pada Ejiro.
Ia tak mau dipersalahkan karena mengabaikan tugas dan membiarkan Ken sendirian melawan musuh. Setidaknya Ejiro pasti akan menolong pria berambut pendek itu dari anak pejabat yang sombong itu.
Pria Cina itu menambah lagi pita di tangannya menjadi 4 gulung dan mulai menyerang Ken di dua tempat, badan dan kaki dan bukan itu saja. Ia menyerangnya bertubi-tubi dengan gaya serangan yang berbeda-beda. Kadang lembut, kadang keras, kadang mengincar kaki, kadang mengincar tangan pria Jepang itu.
Ken yang bertahan, berusaha menebak ke arah mana pita itu pergi, tapi ia kesulitan karena sering ada serangan yang mengecoh hingga beberapa kali ia kena pukul pita itu. Yang terakhir, salah satu pita itu berhasil mengikat pergelangan tangannya yang menggenggam pedang, dan memaksanya agar terlepas.
"Uh!"
Namun Ken sangat cerdik. Ia memutar tangannya itu dan akhirnya pita itu bisa dengan mudah ia tebas.
Pria Cina itu tak kehabisan akal. Ia mengeluarkan Pita yang ujungnya berbandul besi. Ia kembali melempar gulungan itu pada Ken dengan serangan-serangan tak terduga seperti tadi dan Ken mulai membaca polanya. Sayang, ia harus merasakan pukul bandul besi di beberapa tubuhnya sebelum akhirnya bisa menghindar. "Ah! Uh! Uh!"
_________________________________________
__ADS_1