
Tangan pria itu kemudian berpindah ke kaki. Dari mimik wajahnya, ia kembali menahan sakit dengan memamerkan gigi putihnya dengan mata terpejam. "Eh!" Untungnya itu hanya sebentar. "Uh ...." Ia menghembuskan napas dari sela-sela pipi di dalam mulut. Ia terdiam sejenak.
Matanya menoleh ke arah Mira yang terdiam sejak tadi memandanginya. "Aku sebenarnya hari ini mau istirahat, tapi aku juga harus lapor banyak orang bahwa aku baik-baik saja lalu baru bisa istirahat. Huh ...." Ia menatap meja dengan malas dan kembali memandang Mira.
"Bagaimana kalau kau menemaniku?" Wajahnya berubah cerah seketika.
"Eh?" Mira teringat sesuatu. "Eh, aku izin pergi sebentar tadi, sama bos." Gadis itu panik dan langsung berdiri. "Aku harus segera kembali."
Namun sebelum sampai ke pintu, Ken menghalanginya dengan menahan pintu itu. "Kalau misalnya aku sampai malam berada di rumah itu, apa kau tetap di sana?"
"Mungkin," jawab gadis itu setelah berpikir sebentar.
"Tapi kenapa setelah bertemu denganku, kau malah pergi?"
"Tidak. Aku 'kan menemanimu sebentar tadi."
"Tapi kenapa harus buru-buru? Tempat tadi 'kan lumayan jauh, jadi pasti tidak sebentar kamu meninggalkan pekerjaanmu."
"Karena itu aku jadi ingat, aku sudah lama meninggalkan pekerjaan. Aku harus lapor sebelum aku kena pecat," terang Mira lagi.
"Kenapa harus takut dipecat kalau kamu berpindah-pindah dimensi mengikutiku?"
"Lah, Kakak sendiri kenapa pusing harus lapor banyak orang kalau memang pindah-pindah dimensi?"
"Ini soal sikap."
"Aku hanya mengikuti, Kakak saja lho," tangkisnya.
"Mmh, benar juga." Ken menggaruk-garuk kepalanya. "Atau begini saja. Kau minta cuti, lagi pula waktunya sudah tinggal beberapa jam lagi."
"Kakak juga harus cuti," ucap Mira balik pada sang pria.
"Kau temani Kakak jalanlah, sekali-sekali. Kau selalu datang dan pergi, dan menghilang tak tentu rimbanya belakangan ini!" protes keras Ken mengejutkan gadis itu.
"Aku hanya mengikuti tugas, Kak," ucap gadis itu mengingatkan.
Kini Ken kebingungan. Ia sendiri tak tahu kenapa ia begitu kesal. Ia memang kelelahan dengan tugas kampus, sehingga kesulitan bertemu orang yang diinginkan, dan salah satunya adalah Mira. Jadi bukan gadis itu yang berusaha menghindar tapi Mira menyesuaikan dengan kebutuhan pria itu di setiap tugasnya.
Mira masih menunggu. Pria itu menatap manik mata gadis di depannya. Betapa ia merindukan hari-hari bisa bersama dengannya. Pada akhirnya ia melepas pintu itu. "Eh ... tidak apa-apa. Kau bisa pergi."
Gadis itu membuka pintu dan pergi. Ken beranjak ke kamar sambil merenggang tubuhnya. "Aduh malasnya ...!"
10 menit kemudian Ken telah mandi dan berganti pakaian. Setelah merapikan rambutnya ia pun bergerak keluar apartemen, tapi ia terkejut ketika membuka pintu. Gadis itu telah berdiri di sana.
__ADS_1
"Mira?"
Gadis itu menunduk. "Aku sudah izin cuti hari ini walaupun bos kesal kelihatannya."
"Kenapa kau tak masuk ke dalam saja tadi?"
"Dikunci."
"Oh, iya. Maaf." Netra pria itu kembali berbinar melihat gadis itu kembali.
Terdengar bunyi aneh yang membuat Mira menahan tawa.
Ken menyentuh perutnya. "Maaf aku sangat lapar. Bisa temani aku makan siang?"
"Aku bisa temani Kakak seharian, Kak." Pipi gadis itu memerah dengan senyum lebar.
"Yah, ayo!"
Mereka sempat makan burger di sebuah restoran dan setelah itu Ken mengambil motor di motel tempat ia menginap. Keduanya lalu pergi ke kampus. Mereka bertemu Hannon.
"Oh, kau dari mana saja Ken?" Wanita itu sedikit terkejut melihat Ken datang bersama gadis laundry yang dikenalnya di apartemen pria itu.
"Ada sedikit masalah. Handphone-ku juga hilang, jadi aku harus ke sana sini memberi tahu."
"Oh, tidak usah. Aku bisa pergi bersama dia." Pria itu menunjuk Mira.
"Oh ...." Hannon memperhatikan gadis itu. Ia mendekati Ken dan menopang dagunya dengan tangan di atas bahu sang pria sambil masih menatap Mira.
Gadis Cina itu sedikit terkejut dengan keakraban Ken dengan wanita itu.
"Pacarmu?" tanya Hannon pada sahabatnya itu.
"Oh, bukan. Dia sudah seperti adik bagiku." Ken menatap gadis itu dengan tersenyum.
Saat itu, entah kenapa Mira merasa rendah diri. Ia merasa seperti jadi pengganggu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu Ken, pria itu jadi akrab dengan yang lain itu wajar. Seperti dulu akrab dengan Gojo dan Ejiro, tapi ini seorang wanita. Ia merasa bukan siapa-siapa dibanding wanita ini. Ken sudah memilihnya.
"Eh, kalau mau pergi, gak papa, Kak. Aku bisa pergi denganmu lain kali saja," ujar gadis itu mulai buka suara.
"Eh, aku maunya pergi denganmu ya?" imbuh Ken cepat.
"Tapi ...."
Ken menepis Hannon dari bahunya karena terganggu, dan meraih pergelangan tangan gadis itu. "Dokter Barnes di mana? Dia mencariku ya?" tanyanya pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Ditanya begitu, Hannon gugup. "Eh, eh, oya. Tadi dia ada di kampus tapi aku gak tahu sekarang ada di mana."
"Kau tahu nomor teleponnya?"
"Iya."
"Tolong sambungkan untukku."
Sambil menyambung telepon, wanita itu melihat gerak gerik pria itu yang membingungkan. Ken memegangi pergelangan gadis itu seakan tak ingin kehilangan, sedang gadis itu terlihat malu-malu berada di sampingnya. Jelas-jelas keduanya saling menyukai tapi kenapa Ken mengatakan sebaliknya?
Terdengar suara di ujung sana membuat wanita itu menyahut ponselnya. "Oh, Dokter Barnes ... Ini ada Ken ingin bicara." Ia menyerahkan telepon itu pada pria Jepang itu yang disambut oleh tangannya yang satu lagi.
"Halo, Dokter. Begini ...." Ken menerangkan secara garis besar apa yang terjadi dengannya yang membuat Hannon melongo. Wanita itu juga masih melirik keduanya dengan tanda tanya besar di kepala. Sebenarnya hubungan mereka apa sih?
"Eh, terima kasih, handphone-nya. Ini."
"Oh, eh, ya." Hannon tersadar.
"Aku harus ke rumah sakit. Ada operasi. Mereka mau menungguku." Ken menoleh pada gadis itu. "Ayo, Mira."
"Eh, tunggu!"
Pria itu melirik Hannon.
"Kalian benar tidak pacaran?" tanya wanita itu kembali memastikan.
Ken langsung melirik pegangan tangannya yang tiba-tiba ia lepas. "Tidak 'kan ya, Mira?" Ia menyembunyikan tangannya di belakang.
"Iya," sahut gadis itu singkat.
"Sudah dengar 'kan?" tanya sang pria pada Hannon dengan sedikit membesarkan suaranya. "Ayo, Mira!"
Keduanya memunggungi Hannon sambil tangan Ken meraih bahu Mira. Hannon menggaruk-garuk kepalanya melihat kenyataan ini. Jangankan wanita itu, Mira pun bingung. Gadis itu mengiyakan karena tuntutan tugas.
-------------+++-----------
Mira menunggu di depan ruang operasi. Terdengar langkah sepatu high heels yang sedikit berisik beradu dengan lantai keramik karena berbunyi berurutan seperti bergegas. Ia menoleh. Wanita itu adalah bagian dari pertemuannya dengan Ken karena setiap ada Ken pasti ada wanita berambut merah ini.
"Kamu lagi. Untuk apa kamu di sini? Sudah sana pergi, sudah ada aku di sini menunggunya."
Mira sangat kesal pada penyihir ini, tapi ia berusaha fokus pada tugas daripada berbantah-bantahan dengan manusia egois satu ini. "Maaf, aku diminta untuk menunggunya," ucapnya datar.
"Hei anak kecil sepertimu, sebaiknya di rumah saja. Sudah sore, sudah waktunya pulang. Ini rumah sakit. Tidak baik bagimu berlama-lama di sini, nanti tertular penyakit," ejek wanita berambut merah menyala itu.
__ADS_1
Mira menatapnya tajam. Kekesalannya sudah di ubun-ubun. "Mudah-mudahan penyakit pencuri sepertimu, tidak menular ya," ucapnya ketus.