Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Rahasia


__ADS_3

"Dia juga anakku seperti juga, Lucille. Ada apa denganmu, Edmon? Kau seperti menghindar," protes Gillian.


"'Kan sudah aku bilang, pekerjaanku sedang banyak! Tidak bisakah kau berhenti menggangguku, Gillian. Heh?!" Edmon mulai naik darah dengan tangan ditaruh di pinggang. Suaranya terdengar menggelegar.


"Mami, sudah ya? Papi sepertinya lelah tapi banyak pekerjaan. Sebaiknya kita tak usah ganggu ya." Wanita berambut merah itu merangkul bahu ibunya agar mengalah.


Walaupun tak rela, wanita itu akhirnya mau juga pergi dengan Lucille. Ia pergi dengan sedikit heran karena ia yang biasanya bersin-bersin di sertai gatal di beberapa bagian tubuhnya kini berubah tanpa reaksi. Apa ia kini sudah sembuh dari alergi kucing?


Ibu Kepala juga merasa tak nyaman. Baru pertama kali ia melihat Tuan dan Nyonya besar bertengkar, padahal sebelumnya mereka tampak baik-baik saja. Tak pernah ada pertengkaran dan terbilang akur walau pria itu memang selalu terlihat dingin dan yang wanita selalu memperlihatkan kemesraannya di luaran. Entah ada angin apa yang berhasil mengobrak-abrik biduk rumah tangga mereka hingga kini menjadi pertengkaran yang membuat tak nyaman semua orang.


Keduanya mendekat. Ken dan Ibu Kepala berdiri di hadapan Tuan Edmon.


Ibu Kepala memperkenalkan pria Jepang itu pada pemilik rumah. "Eh, ini pelayan, pengganti Eduardo," ucapnya kikuk.


"Kau orang Jepang ya?" Sekali lirik, pria itu langsung tahu.


"Eh, iya, Tuan," jawab Ken sambil mengangguk. Akhirnya ada juga yang tahu Jepang. Ia lega.


"Siapa namamu?"


"Ken, Tuan."


"Mmh." Edmon melirik ke arah Ibu Kepala. "Jam makan malam memang sudah lewat tapi aku belum makan. Apa ada makanan yang masih tersisa?"


Lirikan tajam pria itu membuat Ibu Kepala terbata-bata. "Eh, i-itu ...."


Pria itu sudah tahu. "Kalau begitu, buatkan yang baru untuk aku dan Ivan."


"Baik, Tuan." Ibu Kepala membungkukkan tubuhnya.


"Dan aku minta dilayani oleh Ken, di sini."


Wanita itu terlihat bingung. Belum pernah Tuan Besar itu makan di ruang kerjanya kecuali minum teh. Ada apa sebenarnya yang terjadi di antara suami istri itu, ia penasaran. "Eh, baik, Tuan." Wanita itu kemudian mengundurkan diri tapi Ken masih tetap tinggal di sana.


Dengan lugu pria itu menawarkan mereka minum. "Eh, Tuan mau minum apa? Mau teh hangat atau kopi?"


Pria itu memandangi Ken karena keberaniannya. "Aku lebih suka teh. Teh Jasmine tanpa gula."


"Bagaimana dengan Tuan Ivan?" Pria Jepang itu beralih pada pria muda itu.


"Aku sama dengan Papi."


"Ok, aku ambilkan. Ada yang lain mungkin? Kue-kue atau pie buah rasberi?"

__ADS_1


"Ah, itu boleh. Pie saja. Ivan juga pasti suka, tapi tolong dihangatkan," sahut Tuan Edmon. Wajahnya yang terlihat lelah sehabis perjalanan jauh, mulai bergairah. "Aku sudah sangat lapar." Raut wajahnya yang dingin, sedikit demi sedikit mulai mencair. "Cepat ya?"


"Ah, baik, Tuan." Ken bergegas keluar.


"Coscow, sini Coscow ...," panggil Ivan dengan menepuk-nepuk kakinya.


Kucing itu pun turun dari atas meja dan mendekati Ivan di sofa. Pria itu meraih kucing itu dan mengangkatnya ke atas wajah pria itu. "Wah, Coscow ...." Ia kemudian memeluknya.


"Sebentar lagi akan ada gerhana bulan merah sesuai perhitungan papi, tapi papi belum tahu tepatnya kapan. Jadi, untuk sementara kau jauh dulu dari Coscow, Ivan. Biarkan kucing itu tinggal di kandang luar sampai gerhana itu lewat. Kita pulang tidak tepat waktu jadi Mami curiga. Seharusnya kita dalam perjalanan atau di hotel saja lebih aman."


"Iya, Papi."


Gojo terkejut mendengarnya. Gerhana bulan merah? Bukankah itu untuk ... Apa mereka ....


Ivan bermain sebentar dengan Gojo, hingga tepat saat Ivan ingin membawa kucing itu keluar, Ken datang.


"Ini teh dan pie blueberry-nya. Oh, kucing itu mau dibawa ke mana?" Pria Jepang itu meletakkan pie dan tehnya di atas meja kerja.


"Mau ditaruh di kandang luar."


"Oh, kasihan sekali. Di luar cuaca mulai dingin. Takutnya ia tidak bisa bertahan di sana. Apa boleh ia tinggal di kamarku?"


Pria itu dan anaknya saling berpandangan.


"Eh, boleh saja, asal kau tak keberatan," ujar Tuan Edmon mengangkat bahu.


"Oh, ya sudah."


Pria Jepang itu kemudian keluar membawa kucing itu. Setengah jam kemudian, ia kembali membawa makan malam.


Saat malam semakin larut, Ken membawa piring kotor ke dapur. Ia bertemu dengan Ibu Kepala saat hendak mencuci piring.


"Ken, kau tak usah mencuci piring," sahut Ibu Kepala.


"Aku tahu ini bukan tugasku, tapi piringnya hanya sedikit kok. Tanggung, Bu kalau tidak dicuci karena dapur sudah bersih." Pria itu menyingsingkan lengan baju.


"Kalau Tuan pulang, disini berlaku jam malam. Semua orang harus sudah berada di dalam kamar sebelum jam 10. Sebentar lagi jam 10, Ken. Ayo kembali ke kamar." Wanita itu mendorong Ken menjauh dari tempat cuci piring.


"Tapi ...."


Pria itu tak bisa melakukan apa-apa karena ia diseret paksa hingga depan kamarnya. Ia juga diwanti-wanti wanita itu. "Ingat, Ken, apapun yang terjadi jangan keluar kamar. Kau baru boleh keluar lagi besok pagi, jam 5."


"Kenapa?" tanya pria itu heran.

__ADS_1


"Jangan membantah!" tegas wanita itu. "Kerjakan yang aku suruh, kalau mau selamat di sini!"


Ken mengangguk pelan. Kemudian wanita itu meninggalkannya. Pria itu masuk ke dalam kamar dan bertemu Gojo yang sedang termenung.


"Gojo, kau kenapa? Apa masih lapar?"


"Eh, tidak," ucap pria dengan rambut sedikit gelombang itu tersadar. "Apa malam ini ya?" gumamnya.


"Apa?" Ken mulai duduk di tepi ranjang.


"Gerhana bulan merah."


"Mmh, aku tak tahu soal itu. Memang kenapa?"


Pria China itu menggigit bibir. Ia ragu menceritakan hal ini pada Ken karena tak yakin. Ia tak tahu kebenaran adanya makhluk itu.


"Gojo, sebaiknya kau tidur jadi kucing saja, sempit jadinya ranjang tidurku. Lagipula, aku takut ketahuan kalau kau bukan kucing."


Gojo merengut. "Pelit! Memangnya ada yang mau masuk ke kamarmu? Bilang saja, kau tak mau meminjamkan pakaianmu."


"Gojo, bukan begitu ...."


Namun pria itu telah berubah menjadi kucing dengan meninggalkan pakaian Ken di atas ranjang.


"Gojo ...." Pria Jepang itu menghela napas. Ia kemudian mengambil handuk untuk mandi, tapi kemudian ia melihat ada bayangan orang di jendela. Kemudian terdengar ketukan di jendela itu, setelahnya. Ken terkejut. Ia dan kucing itu saling berpandangan.


Perlahan pria Jepang itu menyingkap kain gorden. Ternyata, pria yang membawanya kerja di sana sedang berdiri di depan jendelanya. Ken kemudian membuka jendela itu. "Bapak kenapa malam-malam kemari? Aduhh, bikin jantungan saja." Ia mengelus dada.


"Ini ada pesan dari bosku." Pria itu memberikan sebuah amplop pada pria Jepang itu. "Setelah itu musnahkan kertas itu ya, dan kerjakan tugasmu."


"Oh, iya," ucap Ken pelan.


"Kami akan memantau sampai bisa dipastikan kau melakukan tugasmu, barulah gadis itu kami bebaskan."


"Kau tak melakukan apa-apa padanya 'kan?" tanya pria Jepang itu lagi.


Pria bule itu hanya menatapnya dingin. "Lakukan atau kau tak akan melihatnya lagi," ketusnya.


"Oh, iya. Baik, baik," sahut Ken cepat.


Pria bule itu pun pergi. Pria Jepang itu melihat ke arah amplop yang bentuknya menggembung itu. Ia membukanya. Amplop itu berisi sebuah botol kecil dan secarik kertas. Saat ia membaca nama yang tertera di situ, bola matanya langsung membulat sempurna.


Belum selesai ia dari keterkejutannya, sebuah teriakkan mengerikan terdengar dari luar sana. Suara pria itu!

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2