Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Mengejar Ketinggalan


__ADS_3

"Ejiro, kenapa kamu pelit sekali. Mira adalah adikku sekaligus teman mainku," terang Ken.


Pria berkimono itu mengangkat satu alisnya. Kenapa Ayah mengangkat pria bodoh ini jadi pemimpin kami dulu? Apa dia tak salah lihat? Banyak orang yang bisa menggantikan posisi pria tak berotak ini yang masih saja ingin menyakiti Mira. Tak sadarkah dia akan hal itu? "Memang kenapa kalau aku pelit?"


"Ejiro, jangan begitu." Ken mulai merayunya. "Kita 'kan teman. Aku sudah lama bekerja sama dengan adikmu dan kamu tahu kualitasku, 'kan?" Ia mendekati si pria berpakaian kimono dengan menyentuh bahunya pelan.


"Menjijikkan!" Ejiro menepisnya dengan kasar.


Ken tergelak. "Kau pintar bercanda juga, Ejiro."


"Mmh!" Pria berkimono itu memalingkan wajahnya.


Pria berbaju chef itu tersenyum lebar. "Sudahlah, Ejiro. Aku tidak sedang bercanda. Aku serius."


"Aku dua rius!" Kini Ejiro menghadapkan wajahnya pada Ken. "Aku sering lihat kau sangat tidak memperdulikannya. Apa aku benar?"


Ken terkejut mendengar ucapan pria itu. Sepanjang ingatannya ia tak pernah menelantarkan sang gadis di mana pun dan kapanpun. "Benarkah?" Namun saat sorot mata Ejiro menatap tajam ke arahnya, ia memperbaiki kalimatnya. "Eh, tidak mungkin itu, tidak pernah!" sangkalnya cepat.


"Lalu di mana kamu saat ia juga bersedih melihat mayat Yumi? Kau menelantarkannya dan egois memikirkan perasaanmu sendiri. Padahal kalian berasal dari tempat yang sama dan selalu bersama-sama bekerja, tapi kau meninggalkannya saat sibuk dengan perasaan sendiri dan merasa paling tersakiti."


Ken syok mendengar hal itu. Ternyata, Ejiro memeriksa sejak kapan Ken dan Mira saling mengenal. "A-aku ... biarkan aku mencoba minta maaf dengannya."


"Minta maaf? Heh! Memangnya bisa segampang itu. Aku sebagai kakaknya, tidak akan mengizinkan kau bertemu lagi dengannya. Tidak akan pernah dan tidak akan boleh!" Ultimatum dari pria berkimono sepertinya sudah final. "Sudah jelas? Nah, keluar dari ruanganku!"


Pria berpakaian koki itu tak bisa berbuat apa-apa melihat wajah Ejiro yang begitu serius. Ia pun menurut dengan keluar secara diam-diam, tapi bukan berarti ia menyerah. Ia kini mendatangi ibunya.


Ken mengetuk pintu sambil menengok ke dalam. Dewi Sri menoleh dari meja kerjanya. "Kau belum pulang, Ken?"


"Aku mau pulang ke mana, aku tak punya rumah. Apa aku harus kembali ke panti asuhan?" Pria itu masuk dan menutup pintu. Ia kemudian duduk di sofa.


"Mulai sekarang kamu akan menerima tugas-tugas yang menyangkut manusia setengah dewa tapi tempat tinggalmu itu di bumi."


"Aku ingin tinggal dengan orang-orang yang sudah aku kenal, Bu. Seperti dengan Ayah atau Mira."


Dewi menaikkan sudut bibirnya. "Terserah saja. Kau mau yang mana?" Wanita itu berdiri dari kursinya dan mendatangi Ken.

__ADS_1


"Mira mungkin," jawab Ken cepat.


"Kenapa?" Wanita itu tersenyum di kulum.


"Eh, dia 'kan adikku. Aku harus menjaganya." Pria itu mengusap belakang kepalanya.


"Sampai dia menikah nanti. Apa kau sanggup?"


"Oh, pasti. Pasti ...." Namun wajah Ken terlihat kebingungan.


"Benarkah?" Dewi berusaha memperhatikan wajah anaknya.


"Iya, Bu. A-aku akan melakukan yang terbaik."


"Mmh. Ya sudah."


"Lalu?"


"Apa?" tanya Dewi pura-pura tak mengerti.


"Oh, oke." Wanita itu kemudian mengambil kembali bola kristalnya dan menyerahkan pada Ken.


Pria itu mulai memberi perintah pada bola kristal. Terlihat sebuah pemandangan perkelahian antara 2 orang dengan berpakaian hanfu China dan salah satunya menggunakan topeng setengah wajah. Ken terkejut melihatnya. "Apa wanita bertopeng itu Mira?" Tunjuk Ken.


"Ibu tidak tahu."


"Sepertinya aku harus segera ke sana, Bu."


"Hati-hati ya?"


"Iya." Pria itu kemudian membuat pintu portal dan kemudian membukanya. "Ibu, aku pergi dulu."


"Mmh."


Setelah Ken pergi, Dewi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mmh, anak muda ... tapi dia memang persis seperti ayahnya. Lama sadarnya. Wanita itu menahan tawa dengan menutup mulutnya.

__ADS_1


Ken membuka pintu. Kedua netranya kembali disuguhkan adegan seperti di dalam bola kristal itu lagi. Namun kali ini wanita bertopeng itu dikelilingi beberapa pengawal yang melindungi pria yang diserangnya tadi.


Pria Jepang itu kemudian menutup pintu dan menyimpan bola kristal di balik pakaian. Ia kemudian menutup sebagian wajahnya dengan saputangan dan mengambil sebuah tombak yang kebetulan sedang bersandar di dinding. Kemudian ia bingung, siapa yang harus ia lindungi. Benarkah manusia bertopeng itu Mira? Akhirnya ia mencoba bertanya. "Ada apa ini sebenarnya?"


Para pengawal itu melihat baju koki Ken yang berwarna hitam-hitam seperti yang dipakai wanita bertopeng itu, mengira pria itu adalah teman wanita itu, sehingga tanpa bertanya mereka langsung menyerang Ken.


"Hiat! Ini pasti temannya. Ayo serang dia!" Mendengar aba-aba dari salah satu pengawal, para pengawal yang lain ikut menyerang pria berpakaian hitam-hitam itu.


"Hei, tunggu dulu! Apa maksudnya ini!" Namun tak ayal, Ken menangkis serangannya yang datang. Kesempatan ini membuat wanita bertopeng itu bisa menyerang pria incarannya.


"Hiat, hiat, hiat!" Wanita itu menyerang sang pria yang berpakaian hanfu mewah sehingga pria itu mau tak mau mengangkat pedangnya lagi. Kembali terdengar bunyi suara gemerincing pedang yang beradu di berbagai tempat membuat suasana malam yang sunyi ini sedikit terusik oleh bunyi besi-besi runcing yang saling beradu.


Ken sedikit kepayahan karena di berondong pedang dari berbagai penjuru, sedang wanita bertopeng itu mendapat lawan yang seimbang. Ia sesekali melihat gaya menyerang wanita itu yang sangat hebat hingga meragukan kalau wanita itu adalah Mira.


"Ah!" Seorang pengawal berhasil melukai lengan Ken. Bertepatan dengan itu, wanita bertopeng itu juga berhasil melukai pria kaya itu di bahu.


"Ah!"


Sebelum wanita itu melanjutkan aksinya, Ken kembali terluka di bahunya.


"Ah!" Ken menatap nanar para pengawal itu. "Kalian curang," protesnya. Namun protesnya tak diindahkan. Bahkan kembali ia diserang oleh dua orang sekaligus dan pada saat itulah wanita itu datang dan menangkis serangan.


Wanita itu kemudian meraih tubuh Ken dan membawanya pergi dengan menaiki pohon dan naik ke atas atap, lalu kabur melompati pagar. Gerakannya ringan dan dengan mudahnya ia naik ke atas pohon dan atap seperti seekor burung hingga tak ada satu pun yang mampu mengejarnya. Wanita itu punya ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi juga seperti yang pernah Ken pelajari dulu.


Ken tak bisa berkomentar karena saking cepatnya wanita itu bertindak. Yang ia tahu, kini ia tengah dibawa berlari-lari dari satu pohon ke pohon yang lain. "Terima kasih." Hanya itu yang bisa ia katakan pada sang wanita.


Untung sekali wanita itu cepat bertindak. Jika saja ia terlambat, mungkin tubuhnya jadi makanan empuk pedang-pedang para pengawal itu yang menyerangnya secara membabi-buta. Apalagi, ia hanya bisa menggerakkan satu tangannya saja akibat dua kali dilukai di lengan yang sama.


Dalam keadaan sedekat itu, Ken masih belum bisa memastikan siapa wanita itu karena sang wanita membawa pria itu dengan memeluk pinggangnya. Bahkan saat melihat wajahnya dari samping. Keremangan malam di antara pepohonan membuatnya sulit melihat raut wajah wanita bertopeng itu.


__________________________________________



Visual Wanita bertopeng. Salam, ingflora 💋

__ADS_1


__ADS_2