
Namun kemudian pria itu menurunkan kucing itu ke lantai dan melepaskannya. Kasihan Kenzie. Baru pertama kalinya ia begitu gembira karena punya binatang kesayangan. Sebaiknya aku tak perlu mengusik kebahagiaan kecilnya ini. Lagipula, kesalahan binatang kecil ini tidaklah besar.
Hah, untunglah ia berubah pikiran. Kucing itu berlari-lari menjauh.
---------+++---------
"Ayah, aku ingin bermain ke hutan."
"Tidak usah." Pria itu mengambil rotinya di piring.
Ken terkejut, hingga menurunkan garpu yang sudah berisi omelet ke piring. "Biasanya boleh?" protes pemuda itu.
"Nanti siang, ayah akan membawamu ke mal."
Mulutnya yang masam tiba-tiba berubah tersenyum. "Bener, Yah?"
"Iya."
Ken melonjak kegirangan. "Yei!" teriaknya dengan mengangkat kedua tangan. Ia makan sarapan pagi dengan semangat.
Pemuda itu begitu antusias melihat isi mal itu. Ia bahkan senang berkeliling melihat begitu banyaknya orang dan toko di sekitar, seakan-akan ia belum pernah ke mal sebelumnya.
Jack merapikan topi dan kaca mata hitamnya agar tidak ada yang mengenalinya. "Tapi kamu harus makan ya?"
"Iya, Yah."
Namun tetap saja, mereka berdua menarik perhatian karena biar bagaimanapun cara menutupinya, mereka tetap terlihat sebagai dua orang yang berbeda. Jack tetap terlihat sebagai orang bule hingga orang fokus padanya dan Ken, yang memanggil 'ayah' pada Jack, juga terlihat asianya.
Jack memilih sebuah restoran yang menyajikan daging steak sebagai makanan utamanya. Ken makan dengan lahap. Untuk pertama kalinya, ia memutuskan untuk tidak memberi pemuda itu racun walaupun ia masih setengah hati setiap mengingat keputusannya itu.
"Kau ingin beli apa, Kenzie? Dari tadi kau hanya berputar-putar saja." Jack memotong kembali daging steak-nya sambil meminum segelas Champagne.
Ken memperhatikan gelas itu. "Apa itu, Ayah? Itu Champagne?"
Pria itu memperhatikan gelasnya. "Oh, ini? Iya. Kau mau coba?"
Pemuda itu menggeleng. "Nanti kepalaku pusing."
Jack malah tertawa. "Sebenarnya kau belum pernah meminumnya 'kan?"
"Eh?" Pemuda itu melirik gelas dan juga pria bertubuh kekar itu.
Pria itu menyodorkannya pada Ken. "Nih, coba."
Pemuda itu memperhatikan gelas itu dengan seksama.
"Kau penasaran 'kan?"
Warna gelas yang berubah kuning bercahaya karena Champagne itu memang terlihat menarik dan menggiurkan. Pelan, tangan itu bergerak mendekati gelas itu. Ken mengambil dan mencicipinya. Ia mengernyit dahi. "Ayah, ini tidak enak, sumpah!"
"Tapi itu bagus untuk meluruhkan lemak dalam tubuh ketika makan daging-daging seperti steak ini."
__ADS_1
"Tapi ini tidak enak, Ayah. Benar-benar tidak enak. Kenapa ada orang yang suka meminum minuman yang tidak enak seperti ini, bahkan sampai mabuk lagi." Ken mengeluarkan lidahnya karena rasa Champagne itu.
Jack tertawa. "Ini masalah kebiasaan, Kenzie. Kebiasaan!"
Pemuda itu banyak meminum air putih sesudahnya untuk menghilangkan rasa Champagne yang masih melekat di lidah. Pria itu dibuat tersenyum karenanya.
Keduanya sempat membeli makanan untuk kucing Ken di rumah sebelum pulang, tapi saat di perparkiran, Jack seperti melihat seseorang yang di kenalnya. Ia panik. Segera ia menarik Ken masuk kembali ke dalam Mal.
"Ayah, kita mau ke mana lagi?" tanya pemuda itu bingung.
"Eh, apa kamu mau es krim?"
"Bukannya es krim dari susu, Ayah?"
"Oh, ada yang tidak. Gelato misalnya."
"Mau, Yah."
"Ayo kita cari."
Sementara itu seorang wanita berperawakan sedikit gemuk seperti mengenali seseorang. Ia berusaha mencari di keramaian karena ia melihat pria itu masuk kembali ke dalam Mal dengan seorang pemuda berwajah asia. Ia penasaran dan yakin dengan yang dilihatnya tapi pemuda yang bersamanya itu siapa? Wajahnya tidak bule seperti pria itu tapi berkulit asia seperti dirinya. Mungkinkah itu ....
Wanita yang terlihat kaya dengan bajunya yang mahal, itu membulatkan mata. Kalau itu benar, maka kesempatanku masih ada. Ia mulai giat mencari.
Sementara itu, Jack kembali membawa Ken keluar.
"Ayah, kita tidak jadi beli?" Pemuda itu semakin bingung.
"Eh, mmh, kucingmu 'kan ditinggal sendirian di rumah. Sudah lama 'kan ditinggal, kasihan. Mungkin dia kesepian tak ada kamu di rumah."
Sementara itu, Jack sibuk berpikir hingga tak menyadari Ken kembali pergi keluar mencari kucing itu. Mmh, apa dia sempat melihatku tadi? Apa dia mengenaliku? Pria itu tak bisa memastikan.
Ken mencari kucing itu ke halaman belakang hingga tak sadar sampai ke hutan. "Pus ... Pus, kamu ke mana Pus." Ia melihat sekeliling dan ia sadar kini sudah sampai di tengah hutan. "Ah, dia ke mana ya?"
"Halo."
Ken menoleh ke belakang. "Eh, Gojo."
"Mmh. Kau sedang apa di sini?"
"Aku mencari kucingku."
"Kucing? Tidak ada kucing di sini. Ini 'kan hutan."
"Tapi aku menemukan kucing itu keluar dari sini."
"Aku tinggal di sini, tidak ada kucing yang tinggal di hutan."
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Ken undur diri. "Oh, baiklah. Aku cari di tempat lain saja." Ia membalikkan tubuhnya.
"Tunggu dulu!"
__ADS_1
Ken membalikkan lagi tubuhnya.
"Kenapa mencari kucing yang hilang?"
"Dia temanku."
"Kenapa tidak berteman dengan manusia?"
Ken bingung disodori pertanyaan itu. "Aku tidak bisa berteman dengan orang lain. Ayahku melarangnya."
"Kenapa? Kamu 'kan manusia?" Pemuda itu makin bingung mendengarnya. "Apa kamu bukan manusia?"
Mendengar itu, Ken panik. "Eh, aku pergi dulu."
Namun pria itu meraih tangannya. "Boleh aku menjadi temanmu?"
"Eh?"
"Kenzie!"
Ken menoleh. Ia melihat Jack tergesa-gesa mendatangi mereka.
Pria bule itu melihat tangan Ken dipegang oleh pria itu membuat ia langsung menepisnya. "Jangan dekat-dekat dengan anakku," ucapnya sinis.
Ia kemudian beralih pada pemuda itu dan meraih tangannya. "Ayo, Kenzie, kita pergi." Pria bule itu membawa Ken pergi.
"Tapi aku belum ketemu dengan kucingku, Ayah."
"Nanti di tempat baru kita bisa dapatkan kucing yang lain."
Ken menoleh. "Tempat baru? Memangnya kita mau ke mana, Yah?"
"Ke tempat yang jauh dari sini. Kita pindah."
"Apa? Tapi kucingku ...."
"Tak perlu ribut masalah kucing, Kenzie!" Jack kesal dan menarik lengan pemuda itu kasar.
"Aku tak mau!" Ken lebih keras lagi menentangnya dengan menghempas tangan pria itu.
Tiba-tiba, terdengar suara kucing mengeong dari belakang.
"Ah, Pus. Kamu ke mana saja?" Ken berjongkok dan melebarkan tangannya. Kucing itu melompat ke dalam pelukan pemuda itu.
"Ayo." Jack lega dan kembali mengajak pemuda itu pergi.
----------+++----------
Sudah sejam lebih Jack berkendara tapi ia merasa aman karena Ken asyik dengan kucingnya.
"Ayah, kita ke mana, kok belum sampai-sampai?" tanya Ken yang berbaring di kursi belakang di temani kucing itu. Kakinya ditekuk agar bisa berbaring.
__ADS_1
"Tenang saja, ayah sedang mencari tempat baru yang bagus untukmu."
Tak lama pria itu melihat pom bensin dan berhenti untuk beristirahat. Saat Ken pergi ke toilet, ia menelepon seseorang.