Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pertengkaran


__ADS_3

Ben berhasil memisahkan mereka dengan menarik tubuh Vicky menjauh. "Sudah, Vic. Sudah."


"Kau dekat dengannya tapi kau malah menelantarkannya!" tuding pria bule itu dengan raut kesal.


"Menelantarkan? Aku mengikuti perintah, Vick." Ken berusaha menjelaskan.


"Bohong! Kau lepas tangan!"


Devan bahkan akhirnya ikut memisahkan mereka dengan mendorong Ken menjauh. "Sudah pergi saja."


"Tapi aku melakukan tugasku, Devan. Bukan lepas tangan, " terang Ken dengan masih kebingungan.


"Mmh, terus saja menghindar. Pergi saja kamu sana!" ledek Vicky memanas-manasin.


"Vicky," sahut Ben dari samping. Pertengkaran mulut susah dihindari bila Vicky sedang panas begitu, dan ia sebagai sahabat tahu betul watak Vicky yang bila sudah kesal, takkan berhenti sampai ia puas.


"Sudah, pergi saja. Jangan diladeni," sela Devan pada Ken.


Ken yang bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, akhirnya mengikuti saran pria India itu. Ia pun pergi menjauh.


Namun Vicky tak puas. Ia masih meledeknya terus. "Oh, pergi saja kamu pengecut! Dasar pengecut!"


Ken sebenarnya kesal tapi berusaha abai. Ia pergi bersama Mira yang mengikutinya. Namun ternyata pria itu masih tak puas saja. Ia dongkol hingga mengambil belati miliknya di atas meja dan melemparnya ke arah pemuda Jepang itu, tapi sebelum sampai, Mira dengan cepat melempar tas kainnya melindungi punggung Ken. Belati itu tertancap pada tas kain itu.


Gadis itu menoleh ke arah pria bule itu, geram. Ia mencabut belati itu dari tasnya dan melempar lagi belati itu ke arah Vicky tapi pria itu bisa menghindar.


"Vicky, sudah!" teriak Ben memperingatkan.


Ken menoleh tanpa tahu apa yang terjadi. Ia kemudian melihat Vicky memegang belati dan ingin melempar ke arahnya, membuat ia menarik Mira ke arah pintu keluar. Padahal ia tadinya hendak naik ke lantai atas, ke kamarnya. "Sudah kita pergi saja," ucapnya pada gadis itu.


Keduanya kemudian naik motor.


"Kita mau ke mana, Kak?" tanya gadis itu.


"Ke mana saja, sesukamu." Namun ia memperhatikan gadis di depannya. "Sebaiknya tidak ke jalan raya, karena kita tidak pakai helm."


"Baik, Kak."


Di markas West Eagle, Jack terlambat keluar dari kamar. Ia mempertanyakan, ada keributan apa yang terjadi tadi. "Apa Ken sudah kembali?"


Devan menyerahkan berkas yang dibawa Ken tadi. "Iya. Dia membawa ini tadi."

__ADS_1


Jack memeriksanya. "Bagus. Eh, coba tolong panggil dia."


"Ken baru saja pergi."


"Apa? Kenapa dibiarkan pergi?"


Devan yang dipandangi, kini mengarahkan pandangan pada Vicky.


"Ada apa ini?"


"Orang itu sangat tidak bertanggung jawab. Dimarahi malah pergi keluar bergitu saja," ucap Vicky sambil mendengus kesal.


"Bukan karena bertengkar denganmu? Sebab aku mendengar suaramu yang keras itu hingga ke kamarku, jadi aku pikir Ken pergi ke kamarnya," tanya Jack tak percaya.


"Teman macam apa yang membiarkan seorang wanita tertangkap dan ia kabur dengan wanita lain," ledek Vicky yang masih saja panas bila ditanya soal Ken.


"Kamu itu bodoh atau apa? Ken mengikuti perintah untuk menyelesaikan tugasnya dan ia melakukannya dengan benar. Tentang masalah Irish, dia pasti akan segera dibebaskan oleh klien kita karena kita sudah mendapatkan berkas ini. Berkas ini dicuri oleh pria itu dan kini akan kembali pada pemiliknya." Pria kulit hitam itu menerangkan seraya mengangkat berkas yang dipegangnya. Ia tak habis pikir kenapa Vicky begitu emosional bila bicara soal pemuda Jepang itu.


Jack bertelak pinggang. "Jadi begini. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, tapi kau harus segera membawa Ken kembali, sebab ia adalah tim inti yang, suka atau tidak suka, harus diakui membuat organisasi ini jalan dan menghasilkan banyak uang. APA KAU SEKARANG MENGERTI, VICKY?"


Pria itu menatap bule bodoh itu dengan seksama tapi kemudian ia tak peduli. Ia kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Ia mengangkat berkas itu tanpa menoleh. "Aku hanya ingin mendengar kabar baik saja ya, kabar buruk ... kau telan saja sendiri."


Kini Devan dan Ben menoleh pada Vicky dengan wajah kesal.


Ken mengikuti Mira berjalan di daerah pertokoan. Ia juga lapar tapi tak berani bicara pada gadis itu karena ia tak memegang uang sepeser pun. "Jadi kau tinggal di mana?"


"Oh, kamu ingin beristirahat?"


"Oh, boleh."


Gadis itu membawa Ken ke sebuah gang sempit. Dengan beberapa kali belokan mereka berhenti di depan sebuah warnet. Mereka masuk ke sana. Gadis itu memilih bangku kosong di sudut. "Sini, Kak duduk." Ia menyodorkan kursinya pada Ken.


"Mmh?" Walau kebingungan, pemuda itu duduk.


Gadis itu duduk di kursi sebelah dan menyalakan layar. Ia memeriksa layanan internet yang ada.


Ken mulai lapar. Apa ia pinjam dulu saja uang gadis itu? Padahal kemarin gadis itu baru saja membayar uang minum birnya di bar, masa sekarang ia harus pinjam lagi uang gadis itu? Duh, padahal tadi ia bisa mengambil uangnya yang baru ia dapat dari Jack, untuk membayar hutangnya pada gadis itu, tapi ... untuk apa? Itu 'kan uang hasil dari mencuri.


Pemuda itu mengusap perutnya. Ia benar-benar lapar, apa gadis itu tidak? Ken melirik Mira. Bukankah tadi dia mengeluh lapar?


"Eh, tadi bukannya kamu bilang lapar ya?" tanya Ken akhirnya.

__ADS_1


Gadis itu melirik sekilas dari balik kaca. "Mmh?"


"Kau mau main game?"


"Tidak."


"Lalu kenapa kita ke sini?"


"Aku tidur di sini."


"Apa? Ini warnet milikmu?" tanya Ken masih tak mengerti.


"Bukan. Maksudku duduk di sini dan tidur."


Pemuda itu kembali melihat tempat itu. Dia tidur di sini? Berarti dia tak punya tempat tinggal ya? Ken menoleh kembali pada gadis itu. Apa dia juga gak punya uang? "Jadi, kamu gak makan malam?"


"Makan malam ya?" Gadis itu berpikir. "Ok deh!" Ia beranjak berdiri.


Nah, begitu. Aku bisa makan. Ken begitu senang dan mengikuti Mira keluar dari warnet itu dan kembali ke pertokoan. Tidak apa-apa tidak punya tempat tinggal, yang penting aku kenyang.


Namun apa yang dilakukan Mira hanya melihat-lihat. Ken hanya bisa mengikuti tanpa bertanya sampai mereka berhenti di depan sebuah restoran China.


Mira menatap bebek panggang yang digantung di balik kaca sambil mengeluarkan lidah. "Enak kayaknya ya, Kak ya?"


"Oh, jelas," jawab pemuda itu masih kebingungan.


Gadis itu celingak-celinguk sambil memperhatikan bebek itu dan memperhatikan keadaan restoran yang sepi itu. Kemudian ia dengan cepat masuk dan mengambil bebek panggang yang tinggal satu itu lalu membawanya keluar. Gadis itu kemudian menarik pemuda itu ke sebuah gang. Ken melongo.


"Ini, Kak makan malam kita," kata gadis itu dengan senyum lebar.


"Mencuri?"


"Tadi katanya mau makan malam," ucap Mira sambil mengerucutkan mulutnya.


"Tapi tidak dengan mencuri, Mira." Ken menghela napas panjang. Dilihatnya wajah gadis itu yang masih merengut. "Kau tidak pernah makan malam ya?"


Gadis itu masih merengut dengan menunduk.


"Kau tak punya uang?"


Gadis itu terlihat hampir menangis.

__ADS_1


___________________________________________



__ADS_2