Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Penasaran


__ADS_3

"Ada apa?"


Ketiganya terkejut dan menoleh ke belakang.


"Eh, Bos. Hanya iseng," Lisa langsung berdiri saat melihat bosnya datang. Begitu juga Costa dan Sinna. Mereka terlihat salah tingkah.


"Iseng apa?" tanya Lucille lagi.


"Eh, itu, Bos. Yang lagi ngobrol sama Ken, penasaran kita," sahut Lisa menunjuk pria itu yang sedang berbicara dengan seorang gadis. "Apa itu pacarnya?"


Lucille memperhatikan Ken dari jauh. "Apa itu bukan pengunjung?"


"Bukan, Bos, sebab Ken menunggunya datang di pintu masuk, tadi."


Wanita itu memperhatikan lagi gadis itu. "Oh, ya?Mungkin adiknya."


"Tapi tidak mirip, Bos," sahut Sinna.


"Mungkin, karena Ken yatim-piatu. Mungkin itu adik angkatnya sewaktu di panti asuhan." Lucille masih memperhatikan pria Jepang itu yang masih mengobrol dengan gadis itu.


"Oh, Ken yatim-piatu ya, Bos? Aku baru tahu."


Wanita itu melirik Sinna. "Bukankah sebagian dari kalian begitu? Sudah, jangan urusi urusan orang lain! Urusi urusan kalian, bukankah kalian mau tampil sebentar lagi?"


Suara pelan wanita itu yang sedikit tajam membuat ketiga orang itu kelabakan.


"Eh, iya, Bos, iya ...." Lisa segera mendorong teman-temannya untuk segera pergi ke arah tenda sirkus.


Lucille menunggu sampai ketiganya pergi menjauh dan kembali memperhatikan kedua sejoli yang duduk di kursi panjang, mengobrol berdua. Pria itu terlihat senang mengobrol dengan gadis itu sementara gadis itu terlihat dewasa saat berbicara dengan Ken. Lucille penasaran dibuatnya.


Ketika pengunjung kembali datang, pria itu kembali memasang kepala boneka itu di kepalanya dan mulai menghibur yang datang. Gadis itu menunggu dengan sabar.


Mmh, siapa gadis itu sebenarnya? Ken sepertinya sangat dekat dengannya. Wanita itu terus mengamati keduanya.


Mira menunggu sampai Ken selesai dengan pengunjung yang datang.


Begitu mulai sepi, pria itu kembali mendatanginya. "Mira, kau mau pulang? Ini sudah terlalu malam."


"Oh, iya, Kak. Aku mau pulang." Gadis itu beranjak berdiri.


"Tunggu sebentar." Pria itu menahannya. Ia membuka kepala boneka dan mengambil sesuatu dari dalam pakaian lewat leher. Ia mengeluarkan sejumlah uang dan diselipkan ke tangan gadis itu.


"Apa nih, Kak? Gak usah, Kakak pegang saja." Gadis itu mengembalikannya tapi ditolak Ken.


"Aku 'kan sudah bilang, aku mencari uang untukmu. Jadi terimalah."


"Kakak jangan gitu. Itu tidak ada dalam perjanjian kerjaku," gadis itu merengut.

__ADS_1


"Karena aku mengagumi hasil kerjamu, aku memberikannya," bujuk pria itu.


Gadis itu sedikit tersanjung, walau diam. Pipinya sedikit memerah.


"Kita juga bersahabat bukan? Aku laki-laki, mana tega melihat perempuan tidur di sembarang tempat."


Gadis itu menunduk.


"Setidaknya kamu tidur di penginapan murah. Jangan tidur di warnet lagi."


"Tapi Kakak bagaimana?" Mira merengut manja sambil menggoyang-goyangkan kakinya tanda senang diperhatikan.


"Kakak sedikitnya dapat uang tiap hari, tip dari pengunjung yang baik, jadi ada saja rejekinya."


"Ya, sudah," jawab Mira malu-malu.


"Yuk, aku antar kamu sampai depan. Maaf Kakak gak bisa antar kamu ya?"


"Ngak apa-apa, Kak." Gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Ken dengan berjalan setengah melompat seperti kelinci. Begitulah saat gadis itu senang. Ia tersenyum gembira mengikuti pria itu hingga pintu masuk area sirkus.


Mira melambai pada Ken. "Dah, Kakak!"


"Langsung pulang ya?"


"Iya, Kak!" teriak gadis itu menjauh.


"Siapa itu? Pacarmu?" tanya istri Bob, Diana yang juga bertubuh kerdil. Ia duduk di kursi yang sedikit lebih tinggi karena ia bekerja sebagai penjual tiket masuk.


"Oh, bukan. Adek," jawab Ken singkat dan langsung kembali ke dalam.


"Oh."


Tak lama Lucille mendatangi pintu keluar dan lalu melewatinya.


"Mau ke mana, Boss?" tanya Diana.


"Keluar sebentar," kata wanita cantik berambut merah itu tanpa menoleh.


Diana membiarkan saja bosnya itu keluar. Lucille sebenarnya ingin membuntuti Mira. Ia penasaran dengan gadis itu. Ke mana gadis itu? Ah, itu dia. Ia melihat gadis itu berbelok ke kanan di persimpangan. Ia terus mengikuti.


Tiba-tiba gadis itu memandang ke arah sebuah penginapan sederhana yang letaknya memang tidak jauh dari sirkus itu. Kemudian gadis itu menyebrang dan mendatanginya.


Mmh, dia menginap tidak jauh dari tempat sirkus. Mungkin karena tidak ingin berpisah jauh dari Ken. Ok. Berarti besok. Ia pasti akan kembali lagi besok. Ok, kita lihat besok. Lucille pun kembali ke tempat sirkus.


----------+++----------


Ternyata perkiraan Lucille meleset. Esoknya, Ken latihan berdua dengan Bill. Hanya berdua. Pria itu tampak serius belajar dengan pelatih Itali itu hingga jam makan siang.

__ADS_1


Tak ada tanda-tanda gadis itu kembali bertandang ke sirkus, dan ini mengherankan. Padahal kalau gadis itu mau, ia bisa langsung datang ke tempat sirkus itu karena letak tempat menginapnya tak jauh dari tempat sirkus itu tapi itu tak terjadi.


Ken juga terlihat sibuk dengan latihannya dan mengobrol dengan yang lain saat makan siang. Tidak ada tanda-tanda ia ingin keluar.


Ada apa ini? Apa aku terlalu curiga pada keduanya yang sebenarnya hanya berteman. Mmh, berteman ya ....


Bahkan saat malam hari, saat wanita itu coba mengintai. Ken sibuk bekerja di tempat penjualan suvenir, dan tidak terlihat ingin pergi ke mana-mana. Setelah larut, ia menutup tempat jualannya dan pria itu kembali ke tempat karavan Bill. Begitu selama 2 hari wanita itu pantau, tidak ada yang berubah.


Apa jangan-jangan mereka berpura-pura agar tak ada yang mencurigai mereka? Mmh, ini semakin mencurigakan. Berarti Ken sebenarnya pintar bersandiwara.


Namun saat wanita itu membayangkan wajah pria Jepang itu, rasanya tak mungkin. Dia terlalu lugu. Ah! Wanita itu menepuk dahinya.


------------+++-------------


"Ternyata kamu cepat sekali belajar. Lihat, tidak seburuk apa kau duga, 'kan?" ujar Bill yang sekarang berbaring di ranjang.


"Iya, Pak. Ternyata ketakutanku berlebihan. Aku bahkan bisa berjalan di udara kalau aku mau," sahut pria Jepang itu dari ranjang di bawah yang membuat Bill tertawa lepas. Berkat kau Mira, mataku terbuka tentang kemampuan diriku kini. Entah kenapa aku begitu takut kemarin, jatuh dari ketinggian. Ah, dasar! Pikiran sempit manusia.


"Berikutnya, apa kau mau coba sulap?"


"Sulap?" ucap Ken heran hingga terduduk dari tidurnya.


"Iya, sulap."


"Tapi, akrobat di udara saja aku baru mulai besok, tampil. Itu pun belum sempurna."


"Tapi kau tak bisa selamanya di akrobat. Bila Alden kembali, kau harus punya keahlian lain. Sulap sudah lama kosong sejak ayah Lucille meninggal."


"Oh, begitu, tapi siapa yang akan mengajari?"


"Aku."


"Bapak?" tanya pria Jepang itu keheranan.


"Iya. Pemain sirkus, sekarang sedang regenerasi. Yang dulu, sudah tua dan mereka pensiun. Aku belum mendapatkan anggota sirkus lagi secara keseluruhan, karena itu aku di sini kerja merangkap-rangkap. Aku dan Lucille adalah orang lama yang melihat semuanya dari kami kecil, sedang bibi Berta, Bob dan istrinya adalah orang-orang lama yang masih bertahan.


Aku agak lega, Jin Li bisa mengambil alih permainan ketangkasan dengan macan tapi aku tidak tahu nasib Alden. Kalau ia cepat kembali dan bekerja, kau harus punya keahlian lain bila kau ingin bertahan di sini."


"Aku takutnya tidak akan bertahan lama di sirkus ini." Ken berterus terang.


"Apa karena pacarmu itu?"


"Pacar?"


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2