
"Ya, kau benar." Pesona Dewi Sri tak juga pudar di mata pria itu, bahkan wanita itu semakin cantik saja hingga ia tanpa aba-aba mencium istrinya di depan Ken dan Mira.
Ken tentu saja kaget. "Ayah, kenapa Ayah tidak malu mencium Ibu di sini? Ini 'kan kantor Ayah?" Namun Ken ikut berbahagia melihat keduanya bersama lagi.
Ryu yang menyadari dirinya terlena, buru-buru menyudahi ciumannya. Wajahnya memerah karena malu. "Eh, udara sedikit panas karena Ayah tadi sempat minum sake." Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
Ken terkekeh sedang kedua wanita itu tersenyum simpul. Setelah itu mereka membicarakan tentang rencana pernikahannya sambil makan malam di sebuah restoran.
Anak-anak panti hanya diberi tahu, Ken akan menikah tanpa diberi tahu siapa itu Mira dan Dewi Sri. Mereka hanya tahu bahwa keduanya adalah calon istri dan ibunya. Anak-anak panti ikut berbahagia dengan pernikahan Ken dan mendoakan yang terbaik.
----------+++---------
Hari pernikahan pun tiba. Mereka mendatangi kuil Shinto untuk melakukan upacara pernikahan di sana. Udara yang cerah pagi itu membuat suasana meriah dengan kicauan burung yang berada di atas pohon. Mira minta melakukan upacara pernikahan dengan pakaian adat Cina sehingga Ken akhirnya hanya melakukan penyesuaian saja.
Karena Ayah Mira telat hadir, Ejiro akan menggantikan posisi Dewa Matahari di sana. Pendeta belum datang sehingga Mira merapikan dandanannya di belakang kuil. Ia di sana ditemani Dewi Sri.
"Eh, Mami ke toilet dulu sebentar ya?"
Wanita muda yang tengah merapikan dandanan sambil mengaca itu mengangguk. Setelah selesai merapikan dandanan, ia melihat Dewi Sri datang dengan membawa minuman dan sebuah tongkat di tangan.
Ibu Ken menyerahkan minuman jus kotak itu pada Mira. "Ini minumlah. Mungkin kau merasa tegang. Itu hal biasa bila sudah dekat waktunya."
"Iya, terima kasih, Mami." Mira menancapkan sedotan pada minuman kotak itu dan mulai menyedotnya. "Mmh, kok rasanya sedikit aneh, Mami. Sedikit pahit." Ia mengerut dahi. Wanita itu juga melihat sangat Dewi memegang tongkat. "Mmh, Mami kenapa pegang tongkat itu? Itu untuk apa?"
Dewi Sri tersenyum lebar melihat Mira meminum jus itu. "Ayo minum yang banyak," pintanya.
"Iya, tapi rasanya tidak enak. Kok lama-lama rasanya begini?" Mira memicingkan matanya hingga berhenti minum. "Ngak mau ah, apa jangan-jangan ini sudah kadaluwarsa?" Ia memeriksa bungkusnya. "Sepertinya belum." Namun tiba-tiba kepalanya pusing dan perut mendadak mual.
"Mami, kenapa kepalaku ...." Mira menjatuhkan minuman kotak itu ke tanah. "Mami ...."
__ADS_1
Namun Dewi Sri malah tersenyum lebar. "Bagus obatnya sudah berjalan. Kau baru saja meminum racun dariku." Wanita itu tertawa terbahak-bahak. Dengan tongkat di tangan, ia berubah menjadi Lucille!
Wanita berpakaian pengantin Cina itu terkejut. "Kau ... kau Lucille ... Kau jahat. Kau menyamar jadi Mami," ucap Mira terbata-bata. Tubuhnya mulai lemas akibat racun yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia segera menotok beberapa bagian tubuhnya agar racun itu tidak menjalar cepat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya wanita berambut merah itu kebingungan.
Mira kembali menotok beberapa titik vital di tubuhnya agar racun pelan-pelan keluar dengan sendirinya dari dalam tubuh. Ia kemudian berteriak walaupun tubuhnya sudah melemah. "Kak Ken, Kak Ejiro, tolong aku! Gojo ...!"
Mendengar itu, Lucille segera mengeluarkan tali dan dengan bantuan tongkatnya, tali itu mengikat sendiri mengelilingi tubuh sang pengantin.
Orang-orang berlari ke arah belakang kuil tapi sudah terlambat. Lucille telah mengeluarkan bola kristalnya dan pintu telah terbuka. Ia membawa tubuh Mira dalam dekapan. Wanita itu tersenyum senang. "Ayo kejar aku Ken. Kita akan menikah di tempat lain."
Ken geram. "Aku akan mengejarmu, tapi untuk menyelamatkan Mira!" Tangan pria itu terkepal erat karena melihat wanitanya tengah tak berdaya dan lemah di tangan wanita berambut merah itu.
"Kalau begitu, ayo kejar aku sampai dapat." Lucille dengan gembira pergi sambil menarik paksa sang pengantin ke dalam pintu itu dan kemudian menghilang.
Ken segera mengeluarkan bola kristalnya. Ia segera meminta bola kristal itu menunjukkan ke mana Lucille membawa Mira. Mereka bersama-sama melihat ke mana wanita berambut merah itu membawa sang pengantin.
"Sekarang yang penting menyelamatkan Mira, Bu." Ken membuat pintu karena pikirannya hanya tertuju pada calon istrinya.
Namun Gojo meraih tangannya. "Aku ikut!"
"Ayo!" Keduanya masuk ke dalam pintu itu lalu menghilang.
"Siapa yang akan memberi tahu pendeta? Aku ingin menyusul mereka." Dewi Sri terlihat bingung dan sedih.
"Biar aku saja. Kau pergilah bantu anak kita menyelamatkan Mira," sahut Ryu berusaha untuk menenangkan hati istrinya dengan berkata lembut.
Ada perasaan aneh bergejolak di dada. Dewi Sri seperti tak ingin berpisah dengan suaminya. Mungkinkah ini sebuah firasat? Didekatinya pria itu demi memberikan ciuman sebelum ia pergi. Ejiro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hal itu.
__ADS_1
"Aku pergi ya?"
Ryu mengangguk. Wanita itu mengeluarkan bola kristalnya. "Ternyata bola kristal yang ketiga ada pada Lucille. Mungkin ia mengambilnya dari Lord Z. Kini aku tahu siapa yang telah mencuri bola kristal ketiga itu." Ia menoleh pada Ryu. "Maafkan aku. Mungkin gara-gara aku kakakmu itu jadi jahat kepadamu." Ia menatap pria itu dengan pandangan mata yang sayu karena dipenuhi rasa bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu. Semua sudah berlalu," ucap Ryu kembali menenangkan sang istri.
Wanita itu kemudian membuat pintu dan ketika ia ingin masuk, Ejiro mengikuti. "Ejiro, kau harus lapor Ayahmu," terang sang dewi.
"Tapi nanti akan terlambat!"
"Tidak. Mungkin saja kami mendapatkan jalan buntu. Penyihir punya banyak cara untuk mengalahkan musuhnya terutama ilusi. Hanya kamu satu-satunya yang bisa memberi tahu cara mengalahkannya. Tanyakan itu pada Ayahmu. Kamu kekuatan cadangan terakhir kami." Wajah Dewi Sri yang terlihat bersungguh-sungguh membuat pria itu mengurungkan niatnya mengikuti wanita itu.
"Baiklah," ucap Ejiro lemah dengan mundur teratur.
Sang dewi kemudian pergi menghilang di balik pintu bersamaan dengan hilangnya pintu ketika ditutup. Ryu pun telah meninggalkan tempat itu. Ejiro mendatangi kolam yang berada tak jauh kuil itu. Kebetulan bunga-bunga teratai sedang bermekaran. Dipinggir kolam ia duduk bersila. Ia mulai bersemedi dan berdoa pada ayahnya, Dewa Matahari.
-----------+++----------
Lucille akhirnya sampai ke tempat persembunyiannya. Sebuah gua besar dengan langit-langit yang tinggi. Ia menurunkan Mira di lantai gua. Dilihatnya wajah sang pengantin yang mengeluarkan darah dari mulutnya. "Sebentar lagi kau akan tersiksa, hidup tidak mati pun tidak." Wanita berambut merah itu tersenyum penuh kemenangan. "Dan setelah itu Ken akan menikah denganku."
"Pernikahan macam apa itu? Aku sebagai wanita malu mendengarnya. Sudah tahu yang lelaki tidak suka, tapi memaksa ingin menikah dengannya. Apa kamu tak punya harga diri? Bagaimana kalau ia memperlakukanmu buruk dan berselingkuh di luaran? Kau bodoh. Kau tak bisa membeli hati," ucap Mira ketus.
Wanita itu naik darah ketika sang pengantin menyebutnya 'bodoh'. Tanpa pikir panjang ia menceki k leher wanita itu.
"Aggh ...."
__________________________________________
__ADS_1
Visual Mira yang ditawan Lucille di sebuah gua. Salam, ingflora💋