Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Tempat Persembunyian


__ADS_3

Pria berpakaian lusuh itu mulai memasuki hutan. Ia kini melompat dari pohon ke pohon seperti seekor burung. Ia menginjak dahan dan ranting dengan mudah tanpa takut terjatuh atau patah. Padahal ia sedang memanggul Ken yang berarti bobot tubuhnya tidaklah ringan.


Ken menyadari ia tengah diculik oleh pria dengan ilmu bela diri yang sangat tinggi. Takkan mungkin ia bisa kabur darinya, tapi pertanyaannya, kenapa pria ini menculiknya? Apa yang diinginkan pria itu darinya?


Ia sudah tidak bisa melihat Ejiro lagi, berarti pria itu gagal mengejarnya. Ia sudah pasrah.


Selama perjalanan, ia mencoba menikmati dengan melihat pemandangan yang dilewatinya. Sungguh berbeda melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Dari atas ia melihat orang-orang yang sibuk beraktivitas dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Persis seperti melihat dari lantai 2,tetapi ini bedanya letaknya lebih tinggi lagi. Mirip seperti naik pesawat terbang rendah. Apalagi suasana pagi itu membuat dirinya bisa melihat lebih banyak lagi orang yang berada di jalanan.


Ketika memasuki hutan, angin semilir dan sejuk menyapanya dengan sesekali melihat binatang-binatang yang menghuni hutan itu. Ada burung-burung yang terkaget melihat mereka lewat dekat sarangnya atau melihat sekumpulan monyet yang bergelantungan dan terkejut melihat mereka melewatinya. Ia juga melihat ikan dari atas saat melewati danau kecil. Semua terlihat sejuk dalam pemandangan mata.


Namun lain lagi ketika mereka berhenti di bibir jurang. Pria berbaju lusuh itu terdiam sesaat.


"Pak, kita tidak turun ke bawah 'kan?" Ken bertanya ragu.


"Kenapa tidak?"


Pria berambut pendek itu syok saat pria itu meloncat ke dalam jurang yang dalam sambil melompati dinding jurang yang sedikit menonjol hingga ia sampai ke atas pohon yang tinggi. Dari situ kembali pria itu melompat dari pohon ke pohon. Pemandangan tadi benar-benar sungguh mengerikan tapi pria itu melakukannya dengan enteng.


Kembali mereka melewati pohon-pohon hingga menemukan sebuah lubang besar di tanah. Pria itu kembali menuruni lubang itu dan Ken melihat ada pemandangan indah di bawahnya. Sebuah daratan dengan danau di sampingnya. Sungguh sangat menakjubkan.


Ada sebuah gubug di daratan itu dan pria itu membawa Ken ke sana. Setelah masuk, ia meletakkan pria yang tengah terikat itu di sebuah dipan. Ia sendiri kemudian beristirahat di sebuah kursi tak jauh dari situ.


Ken mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Rumah itu terbuat dari kayu yang kokoh. Rumah gubuk itu tidak terlalu besar tapi pencahayaan kurang. Mungkin karena letaknya di dalam lubang sehingga terlihat remang-remang.


Tiba-tiba perut pria berambut pendek itu berbunyi. Pria berbaju lusuh itu tertawa. "Kau memberiku uang untuk makan, tapi kau sendiri belum makan," ucapnya dalam bahasa Jepang. Ia kembali tertawa.


"Kau ... bisa bahasa Jepang?" tanya Ken heran.


"Iya, tentu saja, karena aku orang Jepang."


Pria berambut pendek itu memperhatikan pria itu. Kalau di perhatian lebih dalam memang pria itu lebih mirip orang Jepang dibanding orang Cina tapi bagaimana bisa? Dia malah punya murid orang Cina!


Pria berbaju lusuh itu mendatangi pembaringan pria muda itu. Ia kemudian mendudukkan Ken lalu membuka ikatan benang ulat sutra di tubuh pria kurus itu. "Sekarang kau harus memanggilku, 'Sensei'. Mulai besok kita akan latihan pernapasan untuk menyimpan dan mengeluarkan tenaga dalam."


"Hah?" Pria muda itu tak mengerti. "Maksudmu, aku jadi muridmu, begitu?"


"Iya, karena aku sudah memilihmu."


Ken tersenyum lebar dengan setengah hati.


Kini pria berpakaian lusuh itu yang heran melihat wajah Ken yang sedikit berbeda. "Kenapa?"


"Aku tidak pernah meminta, kenapa tiba-tiba Bapak bilang Saya murid Bapak?"


Pria berpakaian lusuh itu kemudian berhenti melepas ikatannya. "Karena itu aku menculikmu ke sini. Kau tak bisa memilih!" Kembali ia melepas ikatan itu.


Senyum Ken menghilang berganti merengut. "Itu curang namanya. Aku tidak melakukan sesuatu hal yang jahat kepadamu."

__ADS_1


"Ada."


"Apa?"


"Kau menghilangkan muridku."


"Itu 'kan Bapak sendiri yang membunuhnya," ucap pria muda itu kesal.


"Tapi karena bertengkar denganmu."


Ken semakin merengut. "Bapak curang, sama seperti muridnya."


"Apa kau bilang?" Mata pria berpakaian lusuh itu melotot.


"Eh, tidak." Ken malas bertengkar dengan pria keras kepala itu.


"Ini ada Bakpao, aku beli tadi di pasar." Pria berpakaian lusuh itu mengeluarkan 2 buah Bakpao besar dari balik bajunya dan sesuatu yang dibungkus daun. "Ini ada Onigiri(nasi kepal ala Jepang) juga."


Ken yang kelaparan tentu saja melihatnya dengan berselera, tapi sebelum sempat ia raih, pria berpakaian lusuh itu kembali menariknya.


"Panggil aku, 'Sensei'."


"Aturan apa itu?"


"Aturanku, karena tinggal di rumahku."


"Aku tidak minta ke sini," ucap Ken sengit.


"Memangnya aku anak kecil yang harus dibujuk dengan makanan?" Pria muda itu melipat tangannya di dada sambil masih merengut.


"Benarkah? Ini enak lho!" Pria berpakaian lusuh itu kembali menggodanya.


Ken harus menelan salivanya karena melihat pria itu menggigit bakpao itu dengan wajah senang.


"Mmh, enak. Benar nih, kamu tidak mau?"


Pria muda itu menghempas tangannya ke depan karena kesal. "Kenapa sih, Bapak tidak bertanya dulu padaku? Kenapa harus menculikku?"


"Apa kau mau datang ke tempatku yang seperti ini?"


Ken memutar bola matanya melihat sekitar. "Tidak."


"Nah, perkiraanku benar 'kan?"


"Tapi tetap saja, ini pemaksaan namanya!" Pria muda itu kembali berucap sengit.


"Kalau untuk yang terbaik kenapa tidak?"

__ADS_1


"Apanya yang terbaik?"


"Aku memilihmu. Apa kau tidak tersanjung mendengarnya?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena aku sedang belajar di tempat lain juga, tapi itu bukan inti masalahnya. Kalau Bapak ingin seorang murid, Bapak 'kan bisa membuka Perguruan Silat atau Ilmu Bela Diri, bahkan bisa punya banyak murid, lagi. Kenapa harus memaksakan kepada orang lain untuk menjadi muridmu sedangkan orang lain itu tidak mau? Bapak hanya menyusahkan diri Bapak sendiri, apa Bapak tidak tahu itu?"


"Memangnya kamu tidak mau?" tanya pria berpakaian lusuh itu, ingin tahu.


"Tidak."


"Walaupun aku jagoan nomor satu di dunia?"


"Ck, Bapak ini."


Pria berbaju lusuh itu menyodorkan Bakpao-nya pada Ken. "Cobalah pikirkan tawaranku. Banyak yang ingin jadi muridku lho!" bujuknya lagi.


"Lalu kenapa tidak mereka saja," ucap Ken sambil menggigit Bakpao-nya.


"Tapi mereka bukan orang Jepang."


"Jadi Bapak memilih Saya karena Saya orang Jepang?"


"Iya. Itu keinginanku sejak lama."


"Bapak 'kan bisa cari di tempat lain atau pulang kembali ke Jepang."


"Masalahnya aku suka tinggal di sini tapi aku ingin punya murid orang Jepang."


"Itu 'kan namanya menyusahkan diri sendiri, Pak?" Ken melirik pria itu kesal.


"Eh, tidak susah. Aku sudah menemukanmu," ujar pria berpakaian lusuh itu dengan percaya diri.


Ken benar-benar kesal dibuatnya. "Pak ...."


"Sudah, jangan panggil aku, 'Pak'. Panggil aku, 'Sensei'." Pria berpakaian lusuh itu pun bangkit. "Eh, si itu ke mana ya?"


Ken menepuk dahinya karena pusing bicara dengan pria keras kepala itu. Permintaan pria itu dirasa sangat berlebihan.


"Meong." Terdengar suara kucing mengeong. Pria muda itu menoleh. Seekor kucing masuk ke dalam rumah itu.


Pria berpakaian lusuh itu lalu menggendongnya. "Suchan, kau mencariku ya?" ucapnya lembut pada kucing berwarna putih itu.


Bagaimana caranya kucing ini ada di sini ya?

__ADS_1


_________________________________________



__ADS_2