Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Emas Batangan


__ADS_3

Ken mengeluarkan lagi beberapa koin emas dari saku celananya. "Segini?"


Hannon membelalakkan matanya. Selama ini ia membantu mahasiswa, baru kali ini ia bertemu orang yang punya koin emas sebanyak itu. Orang ini pasti sangat-sangat kaya, pikirnya.


"Paling sedikit 10 buah koin emas," pria bule itu memberi batas minimal. Ia meragukan Ken punya uang sebanyak itu dilihat dari penampilannya yang sederhana.


Pria Jepang itu mengeluarkan lebih banyak lagi koin emas yang membuat Hannon melongo, karena Ken mengeluarkannya dari kantung celananya yang tidak kembung. "Segitu saja," ucapnya. Ia meletakkan di atas meja, gunungan koin emas seukuran dua tangkupan tangannya.


Phil kini melongo, tentu saja karena ia belum pernah melihat koin emas sebanyak itu di depan matanya. Ini sungguh luar biasa.


"Berapa tarifnya?" tanya sang pria Jepang.


"Eh, beri aku satu koin emas untuk sepuluh batang emas yang aku buat," ujar pria bule itu dengan pemandangan mata yang masih belum bisa ia percaya.


Wanita itu memukul bahunya. "Masih mahal!"


"Ok, sekaligus pembuatan KTP."


Kembali Hannon memukul bahunya. "Untuk semua, satu koin emas."


Pria bule itu menghela napas kasar. "Heh ... iya!" ucapnya kesal.


Setelah menyelesaikan KTP palsu, Phil meleburkan koin emas. Yang mengherankan, emas batangan yang terakhir masih kurang beberapa koin lagi, dan pria Jepang itu masih bisa menggenapi kekurangannya dengan mengeluarkannya beberapa buah.


Kedua orang itu terheran-heran melihat kekayaan pria Jepang itu. Hannon bahkan penasaran hingga menarik Ken ke sudut ruangan dan berbisik. "Kau dapat dari mana koin emas ini semua?"


"Oh, dari nenek moyang."


"Oh." Penjelasan yang masuk akal. Wanita itu membayangkan pria Jepang itu dari keluarga yang kaya raya, tapi ia heran kenapa Ken berpakaian sederhana seperti dirinya?

__ADS_1


Ia jelas anak beasiswa di kampus itu hingga mencari uang tambahan dengan membantu siswa lain dengan kuliahnya, tapi ia tak menyangka pria Jepang itu sekaya ini. Ia tadi berpikir akan membantunya mencarikan pekerjaan bila ternyata uangnya terbatas.


Setelah peleburan selesai, Ken mendapatkan emas batangannya dan ia membayar jasa orang itu, tapi ia belum puas. "Apa, aku bisa membeli cetakan emas itu?"


Hannon menoleh ke arah pria bule itu. Phil tercengang. "Kenapa? Biaya meleburkan emas itu murah kok. Kau bisa kembali lagi kemari."


Wanita itu memukul lengannya. "Mahal tau! Harusnya kau berikan cetakan itu gratis untuknya," gerutunya.


"Enak saja. Aku mencari nafkah dengan cetakan itu, Hannon. Aku mendapatkannya dengan tak sembarangan," sahut Phil sengit.


"Ya sudah, aku beli saja seharga satu koin emas, bagaimana? Aku hanya butuh cetakannya saja," ujar Ken pelan. Ia mengucapkannya dengan tenang.


Akhirnya Phil terpaksa menjualnya dan mendapat satu buah koin emas sebagai gantinya. Wajah pria itu tampak lesu. Hannon menyikutnya. "Harusnya kamu senang karena kami memberimu dengan harga yang pantas. Daripada kami mencuri darimu, hayo?"


Ken kembali mengantungi emas-emas itu, dan anehnya, kantong celana pria itu tidak terlihat mengembung di tubuh kurusnya yang memakai celana panjang yang sedikit longgar.


Kembali wanita itu terperangah. Ia mencoba mengintip dan ia melihat kantong itu terlihat penuh. Padahal Ken hanya mengantungi dua batang emas dan sisanya ia masukkan kembali ke dalam telapak tangannya. Hanya cetakan emas batangan saja yang dititipkan di dalam tas ransel wanita itu karena Ken tidak membawa tas. Mereka pun pamit.


"Ok, tapi jangan lupa persenanku ya!"


"Beres!" seru Ken sambil tersenyum dan Hannon benar-benar membantunya. Dari menguangkan emas batangan itu, menyimpan uang di bank, membayar biaya kuliah hingga mencarikan apartemen untuk pria itu tinggal. Setelah itu wanita itu masih menemaninya berbelanja pakaian di pusat perbelanjaan dan makan siang. Ken mentraktirnya.


Sesuatu yang jarang dilihat wanita itu. Kebanyakan anak orang kaya di kampus berusaha memperlihatkan kalau dirinya kaya tapi tidak dengan pria Jepang ini. Ken malah memilih pakaian yang nyaman dipakai di banding barang bermerek padahal mereka sudah pergi ke mal besar untuk berbelanja. Bahkan pria itu berniat membeli motor untuk kendaraan sehari-harinya pergi ke kampus.


"Kenapa kamu gak beli pakaian yang bagus sih, Ken?" tanya Hannon yang mengambil kentang goreng setelah menggigit burgernya.


"Mmh? Tidak perlu. Aku 'kan tidak sedang berbisnis, jadi buat apa?"


Wanita muda itu tersenyum lebar. "Ya, buat memberi tahu semua oranglah, kamu kaya."

__ADS_1


"Kalau hidupku masih mengandalkan uang orang lain, sebaiknya aku begini saja. Kecuali aku sudah bisa menghasilkan sendiri uang itu."


Hannon bertepuk tangan. "Sangat idealis."


Ken tertawa dan menyomot kentang gorengnya. "Aku 'kan mau jadi mahasiswa. Wajar 'kan?"


Wanita itu mengacungkan ibu jarinya.


-------+++---------


Sore menjelang, Ken kembali sendirian ke apartemen yang disewanya. Wanita itu telah menemani hingga ia mempunyai motor sendiri, dan telah membayar jasa wanita itu sesuai permintaan.


Hannon berasal dari keluarga miskin, karena itu Ken berjanji membantu biaya kuliah wanita itu, bila Hannon membutuhkan. Wanita itu juga ternyata sosok wanita tangguh, yang tidak suka meminta-minta kecuali telah mengeluarkan tenaga untuk membantu Ken.


Pria Jepang itu kini merebahkan dirinya di dudukan sofa panjang ruang tamu, dengan banyak bungkusan belanjaan bertebaran di lantai. Tubuhnya yang lelah membuat ia malas membuka belanjaan yang telah dibelinya dan membiarkan saja barang-barang itu tetap di lantai.


Pikirannya tengah mengembara ke kejadian yang baru dilewatinya. Dunia persilatan. Padahal ia sempat menikmati kehidupannya seperti kehidupan yang ada di film-film silat, tapi saat ia kehilangan gurunya dan ilmu yang di dapatnya membuat ia sadar. Sesuatu yang berawal pasti ada akhirnya dan akhirnya, ia kembali sendiri lagi.


Walaupun ada teman-teman yang kemudian datang membantu tapi ia sebenarnya sudah lelah. Kapan perjalanan ini berhenti dan bertemu Yumi?


Ah, Yumi. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa, bila bertemu dengan wanita itu. Bila ia bertemu dengan wanita itu dan menyelamatkannya, ia harus apa? Kehidupannya dan Yumi sudah tak lagi sama. Apa aku harus mengantarkannya kembali pulang ke Jepang? Lalu, apa yang akan aku lakukan setelah itu?


Ken mendesah resah. Kenapa tiba-tiba ia memikirkan ini? Ah, mungkin aku hanya lelah saja. Ia pun meletakkan bantal di belakang kepala dan mulai memejamkan mata.


Apa aku mulai kehilangan tujuan? Pria itu kembali membuka mata. Ia belum ingin tidur hingga ia terduduk di sofa.


Sebentar ia terdiam lalu bersila dengan merapatkan lipatan kaki. Tubuhnya memang terasa lemah sejak kejadian itu. Karena itu ia coba berkonsentrasi menyalurkan tenaga dalam guna menambah kekuatan tubuh.


Butuh waktu beberapa menit untuk menyadari bahwa itu tidak berguna. Tubuhnya malah terasa semakin lelah. "Ah ...." Ken menyudahi meditasi itu. Sepertinya jalan darah di tubuhnya juga berbeda sehingga ia tidak bisa memaksa tubuh itu latihan lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


Ia harus sabar karena tubuhnya masih belum pulih seperti sediakala. Setidaknya ia sudah mencoba. Ia tinggal menunggu Ejiro dan semua akan kembali normal. Sementara itu ia punya kegiatan yang tidak membosankan saat menunggu pria bercodet itu datang, yaitu kuliah di kedokteran.


----------+++----------


__ADS_2