
Kaki pria Jepang itu pegal tapi ia berusaha bertahan. Ia menghela napas pelan. Kenapa saat ia ingin bekerja jadi orang baik-baik, selalu sulit.
Sebelumnya, menjadi seorang pencuri permata, latihannya tidak sesusah ini. Ia bisa melewatinya dengan baik hingga ia bisa mencuri permata itu dengan mulus, tapi ini? Berjalan saja ia tidak bisa, sungguh mencengangkan.
Oh, hampir saja ia terjatuh saat sedang berpikir sehingga Ken berusaha menjaga keseimbangannya lagi. Ia menggerak-gerakkan tangannya agar keseimbangannya terjaga. Ken tidak sadar, Bill memperhatikannya dari atas.
Bagus Ken, pertahankan. Pria itu tersenyum. Ia kembali melirik Costa yang bergelantungan hendak menangkap Lisa. "Pastikan kau mengambil di saat yang tepat, Costa!" teriak Bill.
Costa fokus, tapi di saat Lisa melompat, Costa tak bisa mengambil gadis itu sehingga gadis itu jatuh ke jaring bawah. Untung saja keduanya memakai ikat pinggang yang disambungkan ke tali pengaman sehingga Lisa bisa aman jatuh ke jaring. "Ah!"
"Lisa, jangan buru-buru. Costa belum siap!" teriak Bill. Ia beralih pada pemuda itu. "Kau juga, harus beri kode Lisa agar ia tak menunggu. Intinya, komunikasi."
"Siap, Pak." Costa mulai mengayun kursi ayunannya. Ia menunggu Lisa kembali naik ke atas.
Pelatih itu kembali melihat ke bawah. Ia melihat Ken berusaha bertahan dengan kaki satunya. Mmh, dasar keseimbangannya kurang bagus. Karena itu dia harus latihan dasar dulu.
Seseorang memasuki tenda sirkus itu. Jin Lin sang asisten, mencarinya. Pria Itali itu turun lewat tangga tali. "Iya?"
Mereka berbicara sesuatu dan kemudian pergi. Ken, walaupun tidak ada pelatih itu di sana, tetap bertahan dengan kaki satunya, walaupun kaki yang menjadi tumpuan mulai pegal.
Butuh waktu 15 menit untuk pelatih Bill kembali. Ia melihat Ken mulai goyah walau terus bertahan. Ia mendekat dan menyentuh pria Jepang itu. "Kau boleh berhenti."
"Ah ...." Ken berpegangan pada bule itu saat menurunkan kakinya.
Bill membawa pria Jepang itu ke tepi arena karena kakinya sedikit kaku dan mengajaknya duduk di sebuah pembatas dari kayu. Ken beristirahat sementara pria bule itu duduk di samping sambil memperhatikan Sin Hye dan Sinna latihan berkuda.
Pria Jepang itu memperhatikan pelatih itu dari samping. Kadang pria itu galak, tapi juga kadang baik, memberi kesan seperti seorang ayah pada anak asuhnya. Hal ini membuat Ken teringat pada Pak Kepala Panti, ayahnya. Bedanya, Ryu bukanlah seorang pemarah. Ia bersyukur Ryu adalah ayahnya karena di luar sana, tidak ada pria yang sebaik Sang ayah.
"Kau sudah selesai istirahatnya?"
Ken terkejut karena pria itu akhirnya memergoki dirinya sedang memandangi pria itu. "Oh, eh, i-iya."
"Ayo, latihan lagi."
Ken kembali menaiki bata tadi.
"Saat kau akan menginjak bambu, ingat keseimbangan waktu kau hanya punya satu kaki seperti tadi. Lalu coba pelan-pelan dengan kaki kedua, lalu tongkat bambu ini." Bill masih memegang tongkat bambu itu di tangan.
Ken mencoba saran pria bule itu. Ia mencoba menginjak bambu dengan keseimbangan satu kaki sebelum kakinya yang lain ikut menginjak di depannya. Ia bergerak dengan tangan sedikit direntangkan. Tubuhnya berusaha mengimbangi.
"Tubuhmu jangan ragu. Harus yakin!" tegas pelatih itu.
__ADS_1
Ken menegakkan tubuhnya. Ia masih bertahan saat kaki keduanya menginjak bambu. Pelatih itu memberinya tongkat bambu, tapi tak lama pria Jepang itu jatuh walau dengan tegak berdiri.
Ken tersenyum senang sambil menggenggam tongkat di satu tangan dengan gemasnya.
"Bisa 'kan?"
"Iya," ucap Ken dengan tersenyum lebar.
"Yang penting kamu harus bisa menguasai keseimbanganmu dulu, dan yang lain akan mengikuti. Mengerti?"
Pria Jepang itu menggangguk.
Pelatih Bill mengacak-acak poni pria itu karena ikut senang. "Aku akan mengurus binatang dulu. Kau berlatihlah sendiri."
"Iya, Pak," ujar Ken bersemangat.
Pelatih Bill langsung pergi meninggalkan pria Jepang itu, dan lalu ditengoknya lagi Ken yang mulai kembali latihan. Mudah-mudahan bisa memenuhi target walaupun sulit.
----------+++----------
Orang-orang mulai memenuhi meja makan tapi Bill tak melihat Ken di sana. Ia menyentuh Sinna yang baru datang. "Ken mana?"
"Masih latihan di sana, Pak."
Meja makan tak jauh dari karavannya tapi ia tak melihat pria Jepang itu di sana. Apa dia masih latihan?
Bill kemudian pergi keluar dengan meminjam motor Bing dan kembali dengan membawa bungkusan. Ia membawa bungkusan itu ke tenda sirkus.
Benar saja, Ken masih latihan sendiri di sana. Pria Jepang itu sudah mulai bisa berjalan sampai ke tengah bambu tapi kemudian jatuh lagi. Bajunya sedikit kotor terkena debu pasir dan tanah karena tenda didirikan di atas tanah lapang.
"Ken, kau tak istirahat?"
"Tapi, Pak, tinggal sedikit lagi. Aku penasaran," ucap pria Jepang itu dengan raut wajah penuh senyum.
"Iya, tapi saatnya istirahat, ya istirahat."
"Tapi tinggal sedikit lagi."
"Tapi, setelah ini masih akan ada latihan yang lain dan kamu juga mulai bekerja nanti malam."
"Apa? Bekerja? Aku sudah mulai akrobat nanti malam?" Netra pria Jepang itu membulat sempurna. Ia melongo.
__ADS_1
"Oh, bukan. Kau akan menjaga stan popcorn nanti malam, karena itu saatnya istirahat, kau harus istirahat sebab banyak yang akan kita kerjakan dalam sehari. Kalau kau tak istirahat, kau bisa sakit."
"Oh."
Pria bule itu melihat kaki Ken dan menendangnya.
"Eh?"
"Lihat, kakimu mulai goyang. Ayo, cepat makan!" Bill menyerahkan bungkusan plastik yang dibawanya.
"Apa ini?" Pria Jepang itu mengambilnya.
"Sandwich daging dan minuman kola. Kau pasti suka 'kan?"
"Oh, Terima kasih, Pak." Senyumnya melebar saat melihat isinya.
"Aku beri kau satu jam istirahat di mulai dari sekarang. Setelah itu kita latihan lagi."
"Terima kasih, Pak." Ken menganggukkan kepala.
Bill meninggalkan pemuda Jepang itu sendirian. Tidak seperti dugaannya, Ken ternyata rajin berlatih sehingga ia tinggal menunggu pria Jepang itu untuk memulai pekerjaan pertamanya sebagai seorang pemain akrobat di sirkus itu.
-------------+++----------
"Popcorn 2, kola 2 ya?" ujar seorang pria yang baru datang bersama seorang wanita muda.
"Oh, iya. Sebentar." Ken mengisikan es ke dalam gelas plastik lalu kola dengan mesin. Kemudian diberi tutup agar tak tumpah. Demikian juga dengan popcorn yang tinggal diisi dari mesin. Setelah memberi kembalian uang yang diterima dari pria itu, ia menyerahkan bungkusan yang berisi popcorn dan kola tadi pada pria itu.
Sang wanita yang mengambilnya. "Terima kasih."
Ken memberi senyum pada pembeli. "Sama-sama."
Setelah itu, datang lagi pembeli popcorn dan kola dan pria Jepang itu melayaninya dengan baik. Ia tidak sadar seseorang tengah mengamatinya. Ketika mulai sepi pembeli, orang itu mendatanginya. "Ken, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau mulai terbiasa?"
Pria itu tentu saja terkejut. "Oh, Bos. Syukur Saya sudah mulai bisa bekerja, Bos. Jadi sudah bisa mulai mengurangi hutang Saya."
"Mmh, untuk sementara, aku akan membiarkanmu menikmati sebagian dari gajimu. Itu cukup adil, bukan?" sahut Lucille tersenyum.
Pria Jepang itu menautkan ujung bibirnya lebih lebar. "Oh, terima kasih, Bos."
"Tapi dengan satu syarat."
__ADS_1
"Mmh, syarat?"
"Temani aku keluar malam ini ya?"