Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Temukan Aslimu


__ADS_3

Wajah wanita itu mengingatkan Ken akan masa-masa waktu ia masih tinggal di Nagoya dulu. Tinggal di panti asuhan dan makan di kedai mi Pak Nohara.


Ya, di kedai mi Pak Nohara itulah, Ken pertama kali mengenal wanita itu. Saat itu musim panas kelas 3 SMA.


Ia ketika itu datang bersama Yumi ke kedai itu ingin makan siang yang sedikit telat. Setelah makan siang, biasanya ia akan berangkat ke tempat kerja part-time-nya(paruh waktu) yang berada di seberang jalan raya.


Pemuda itu sedang asyik berceloteh dengan Yumi dan Pak Nohara ketika wanita itu datang dan masuk ke dalam kedai itu. Ketiganya menoleh ke arah wanita itu.


"Selamat datang," sambut pak Nohara.


"Oh, iya." Wanita itu sempat melirik ke arah Ken tapi kemudian mencari tempat duduk karena saat itu kursi dipenuhi pembeli. Ia tak bisa menemukan kursi untuk dirinya.


Seorang pria menawarinya kursi, tapi sedikit kurang ajar pada wanita itu karena melihat parasnya yang cantik. Ia menyentuh dagu wanita itu dengan lancangnya. "Di sini saja, Nona. Pasti kamu suka." Pria itu tertawa menyeringai.


Melihat itu, Ken segera berdiri membantunya. "Eh, kalau Kakak mau, Kakak bisa duduk di sini walau sedikit sempit."


Yumi hanya melihat saja karena gadis itu tahu, Ken adalah tipe orang yang tidak tegaan melihat orang lain menderita sehingga terkadang sifatnya itu membuat diri pemuda itu sering terlibat dalam masalah.


Wanita itu kemudian mendatangi Ken. "Baiklah," ucapnya sambil tersenyum.


Pria yang tadi menawari wanita itu duduk terlihat kesal pada Ken. Ia kembali duduk dengan mulut mengomel.


Ken dan Yumi yang duduk di kursi panjang dekat dapur terpaksa harus berbagi tempat duduk bertiga hingga berdesak-desakan duduk di kursi untuk kapasitas 2 orang itu. Ken duduk ditengah diapit dua perempuan itu.


Yumi dan Ken yang sedikit canggung dengan wanita itu, meneruskan makannya yang baru separuh.


"Saya mi juga seperti mereka ya, Pak?" ucap wanita itu menunjuk makanan Yumi dan Ken.


Ditilik dari pakaiannya, wanita itu sepertinya pekerja kantoran. Ia tersenyum pada Ken, saat pemuda itu melirik sambil mengunyah.


Ken menganggukkan kepala dengan sopan.


"Kalian anak-anak panti asuhan itu 'kan?"


"Oh, benar, Kak," sahut Ken ramah.


"Kalian dibesarkan dengan baik ternyata olehnya."


Yumi dan Ken tahu, siapa yang dimaksud dengan 'nya' di sini. Wanita itu pasti membicarakan tentang Pak Kepala Panti.


Wanita itu kemudian menerima minya di mangkuk yang dihidangkan oleh Pak Nohara. Ia mulai memakannya dengan sumpit. "Mmh, enaknya. Kalian sering makan di sini?" tanyanya sambil mengunyah.


"Mmh." Ken mengangguk sambil mengunyah mi. Sesekali ia menyendok kuahnya untuk diminum.

__ADS_1


"Tapi porsiku sangat banyak. Mungkin kalian bisa membantu menghabiskan ini untukku." Wanita itu memberi sedikit mi pada mangkuk Yumi dan Ken.


"Eh? Tapi kami pun mendapat banyak dari pemilik kedai," ucap Ken.


"Tidak apa-apa. Mau kusuapi?" Wanita itu menyodorkan mi yang ingin dibaginya pada pemuda itu langsung ke depan mulutnya.


"Hah?"


"Aaaa." Wanita itu mencontohkan.


"Tidak usah." Ken menggoyang-goyangkan tangannya.


"Aaaaa." Wanita itu tetap memaksa sehingga pemuda itu terpaksa menyerah. Yumi tertawa melihatnya.


Ken akhirnya mengunyah dari suapan wanita itu.


"Bagaimana, enak?"


Pemuda itu mengangguk sambil terus mengunyah. Wanita itu terlihat senang.


Setelahnya, Ken buru-buru menyelesaikan makan minya dan segera menbayar agar bisa cepat keluar dari kedai itu. Ia menarik Yumi yang belum menyelesaikan makannya sebab ia malu melihat wanita itu dan tidak mau berurusan dengannya lagi.


Sesampainya di luar kedai, Ken berhenti sebentar. Wajahnya terlihat panik. "Ah, Yumi. Wanita itu sungguh berbahaya." Ia menyentuh dadanya karena berdetak kencang.


Yumi tertawa. "Kau sendiri yang mengundang bahaya, Kak Ken."


Bersama Yumi yang masih tertawa, Ken menjauh dari tempat itu.


Mereka tidak lagi bertemu hingga suatu hari saat Ken pulang kerja di musim dingin, setelah ia lulus SMA. Ia telah diterima sebagai OB(Office Boy) di sebuah perusahaan besar dan baru melaksanakan pekerjaan itu di hari pertama.


Wanita itu menggunakan overcoat, berdiri di dekat pintu masuk. Ken tidak mengingatnya hingga wanita itu menegurnya.


"Ken, kau tak ingat padaku?"


"Mmh?" Ken melirik wanita itu. "Oh, kamu? Eh, bagaimana kau tahu namaku?"


Wanita itu tertawa pelan. "Bukankah kau sangat terkenal?"


"Aku?" Ken mengerut kening.


Kembali wanita itu tertawa. "Ken, apa kau sepolos ini? Aku 'kan cuma bercanda."


"Oh."

__ADS_1


Tiba-tiba wanita itu menghentikan tawanya dan menatap pemuda itu. Ia mendekati Ken dan mengusap kepalanya.


Tentu saja gerakan yang tiba-tiba itu membuat pemuda itu kaget. Ia mundur selangkah. "Ka-kau kenapa ada di sini?" ucap Ken terbata-bata karena gugup bertemu wanita itu kembali.


Wanita itu tersenyum. "Sampai ketemu lagi, Ken." Kemudian wanita itu pergi.


Ken hanya melongo. Ia tidak mengerti kenapa ia bertemu dengan wanita itu lagi. Apa ini kebetulan atau ia sengaja mencarinya? Tapi untuk apa?


------------+++-----------


Ken benar-benar terkejut dengan kehadiran wanita itu. Ini benar dia atau tidak? Bagaimana dia bisa melompat waktu seperti dirinya, atau ... wanita itu hanya mirip?


Dengan seksama Ken memperhatikan wajah wanita itu. Dari awal mereka bertemu hingga kini wajahnya tak pernah berubah. Tidak bertambah tua tepatnya, tapi benarkah ini dia? Ken saja tidak tahu namanya saat itu, bagaimana ia bisa memastikan wanita itu orang yang sama atau bukan karena ia sendiri tidak tahu tentang wanita itu di masa lalu. Tidak sedikit pun.


Wanita itu berpakaian khas orang Tibet dengan topi di kepalanya yang menandakan ia pemimpin. Bajunya mirip Miracle hingga Ken kembali teringat gadis itu. Di manakah gadis itu sekarang?


"Maaf Tuan Dalai Lama, Anda tak bisa mengobrol banyak dengannya karena aku harus membawanya pergi," ucap wanita itu tegas. Ia melirik ke arah Ken. "Kau tak boleh banyak bicara karena itu hanya akan merugikan diri kamu sendiri."


"Aku?" Ken menunjuk dirinya.


"Iya benar. Kau harus ikut denganku sekarang juga." Wanita itu mengumpulkan tangannya di belakang tubuh.


"A-aku?" Ken terlihat masih bingung. "Eh, tapi ...."


"Ken, waktunya sangat sempit. Sebentar lagi kau harus melakukan wawancara."


"Wawancara? Aku?" Ken masih terheran-heran. "Hei, kenapa kau tahu namaku? Kau ... bukankah kau yang waktu itu bertemu denganku?"


Wanita itu melirik pengawalnya dengan memberi kode agar segera membawa Ken pergi. Dua orang pria segera mendatangi pemuda itu dan menariknya bersama dalam lindungannya.


"Eh, tunggu. Kenapa aku harus ikut kalian."


"Tutup mulutnya."


Kedua pria yang sedang memegangi pemuda itu, salah satunya membekap mulut pemuda itu.


"Mmm mm mm."


Dalai Lama mendekati wanita itu, dan tersenyum. "Aku tahu siapa kamu."


"Kalau begitu, rahasiakan sampai mati seperti aku yang akan membantumu merahasiakan Yeti."


____________________________________________

__ADS_1


Yuk, kepoin yang satu ini, keren kayaknya.



__ADS_2