
Ramires menatap pria Jepang yang sibuk makan sandwich di depannya. Apa benar ceritanya tadi itu, rasanya tak masuk akal.
Ken menyadari, pria bule itu tengah memperhatikannya. Ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa, Tuan?"
"Apa bisa orang lupa ingatan, hanya ingat namanya saja?"
Ken ternyata telah bersepakat dengan Balto untuk mengatakan bahwa dirinya lupa ingatan, karena itu ia tidak punya barang untuk dibawa.
"Hanya itu sekarang yang bisa kuingat. Entah besok, apalagi yang bisa kuingat," ujar Ken dengan santai.
Pria bule itu terdiam sejenak, lalu kemudian mengangguk-angguk. "Berarti mulai mengingat secara bertahap ya?"
Ia sedikit terkejut mengetahui pria yang didapatnya adalah pria lupa ingatan. Mengingat kemampuan memasak Ken yang lumayan, ia akan coba untuk bertaruh, memastikan instingnya benar. Ada sesuatu dalam masakan yang dibuat pria Jepang itu yang membuat ia yakin akan hal itu.
"Sepertinya begitu."
"Ok, kita selesaikan makan siang yang telat ini, dan segera meluncur ke kantor."
"Eh, iya, Tuan." Ken kembali mengigit sandwich-nya. Ia sebenarnya sedikit merasa aneh dengan pria itu, karena Ramires tidak seperti yang diceritakan Irene dan Min Shi.
Seperti sekarang ini, ia diajak makan di restoran sebuah hotel mewah. Ia bahkan makan bersama pria itu. Tidak ada kecanggungan di diri pria itu makan bersama calon pegawainya. Padahal Ken yakin, saat bekerja nanti, ia belum tentu dapat posisi yang tinggi karena ia masih pemula di dunia masak memasak ini.
Seusai makan siang, mereka kemudian pergi ke perusahaan milik pria kaya itu. Sebuah gedung pencakar langit di daerah perkantoran elit dengan didesain minimalis modern. Kantornya berada paling atas gedung bertingkat itu.
Pria itu duduk sebentar di meja kerjanya dan memeriksa berkas, sementara Ken duduk di sofa sambil melihat-lihat interior mewah ruangan itu.
Ken yang pembawaannya santai cukup membuat Ramires takjub. Tidak banyak orang yang berani seperti itu terhadapnya. Padahal banyak orang yang takut bila berhadapan dengan pria bule satu ini. Sebenarnya Ramires tidak semenakutkan itu. Ia hanya ditakuti karena kekayaannya yang berlimpah dan sifatnya yang sedikit cerewet itu.
Setelah selesai memeriksa berkas, Ramires mulai membuka pembicaraan tentang usahanya. "Sebenarnya seperti yang kau tahu, aku adalah pemilik beberapa supermarket besar, dan sekarang ingin merambah mencoba usaha restoran. Aku sudah membukanya beberapa bulan lalu tapi ada masalah dengan sistem manajemennya yang sekarang sedang diubah. Aku mengganti sebagian besar pegawainya dan aku ingin memasukkan kamu di sana."
"Aku?"
"Iya."
"Tapi, sebenarnya aku belum pernah bekerja di bidang makanan. Kalaupun aku dimasukkan ke sana, pastinya aku hanya akan ada di posisi paling rendah, yaitu bagian bantu-bantu."
"Tapi kenapa kaldu buatanmu bisa masuk menu?"
"Itu hanya kaldu rumahan dan lagipula Pak Balto yang memintanya setelah aku buat kaldu itu untuknya."
Chef Balto saja tahu, dia berbakat. Pilihanku pasti tak salah, batin Ramires.
__ADS_1
"Mungkin saja sebenarnya kamu pernah kerja di restoran. Bukankah sekarang kamu lupa ingatan?"
Mulut Ken serasa terkunci. Ia tak mungkin menyangkalnya karena ia terlanjur berbohong soal itu.
"Restorannya aku tutup untuk sementara waktu, tapi kamu akan aku ikutkan kursus."
"Kursus?"
"Kursus masak. Tempatnya di gedung ini di lantai delapan. Kursus itu sudah mulai dan kau bisa bergabung dengan pegawai yang lain. Gurunya aku datangkan khusus untuk mengajarkan kalian keahlian masak yang kalian butuh, jadi kalian bisa minta diajarkan apa pun pada guru itu. Paham?"
"Eh, ya."
"Ok, sekarang kita ke sana." Ramires berdiri sambil mengaitkan kancing atas jasnya. Ia kemudian menyapa sekretarisnya di depan ruang kerjanya. "Jemima, aku ke bawah sebentar. Kalau tamuku datang, suruh tunggu sebentar."
"Iya, Pak."
"Oh, iya. Berkas yang di atas meja sudah diperiksa."
"Oh, ok, Pak." Sekretaris pria itu yang bertubuh ramping, beranjak berdiri dan masuk ruang kerjanya.
Keduanya kemudian keluar kantor itu dan menuju lift. "Kau akan tinggal di asrama karyawan," sahut pria kaya itu lagi.
"Oh, iya, Pak."
"Maaf sebentar, Chef Richard," ujar Ramires.
"Iya, silahkan," sahut pria bule bertubuh sedikit gempal itu. Ia sepertinya guru yang dimaksud Ramires.
"Ini ada satu orang lagi yang akan aku ikutkan kursus di sini. Tolong dibantu ya?"
"Oh, baik."
Para peserta kursus lainnya, menatap Ken dengan tanda tanya besar di kepala, karena hanya ia sendiri orang bawaan pemilik perusahaan. Sisanya adalah pegawai restoran yang lama.
"Ken, nanti setelah kursus, temui aku kembali di ruanganku," pesan pria kaya itu.
"Oh, iya, Pak."
Ramires kemudian keluar dan pria Jepang itu bergabung dengan yang lainnya. Selama kelas berlangsung, Ken jadi perhatian para pegawai. Mereka penasaran dengannya. Bukan saja karena dia orang Asia di antara mereka yang orang Eropa, tapi juga mereka curiga Ken adalah mata-mata perusahaan.
Ken bisa merasakan ada aura curiga dari para pegawai restoran tapi ia berusaha abai. Ia berusaha fokus pada pelajaran yang diberikan, karena ia merasa senang mendapat kesempatan belajar masak dari ahlinya. Ia mengikuti kelas itu dengan tekun.
__ADS_1
Kelas menggunakan lebih banyak praktek dibanding teori, sehingga sang pria Jepang dapat melihat secara langsung bagaimana memasak yang benar dan mengenal dasar-dasar memasak.
Setelah kelas usai, salah satu dari pegawai itu mendatangi Ken.
"Hai, apa kau pekerja restoran juga?" Seorang pria berperawakan tinggi tegap mendekatinya.
"Sebenarnya, aku belum lama kerja di restoran."
"Restoran mana?"
"Le Bleu."
"Mmh, aku tahu restoran itu. Itu punya chef Balto 'kan?" Seorang wanita ikut bicara.
Ken menoleh. "Oh, apakah itu restoran terkenal?"
"Oh, tentu saja. Banyak artis yang makan di sana. Padahal itu restoran kecil tapi banyak pelanggannya. Chef-nya sendiri yang memasak makanannya langsung untuk pelanggan."
"Ya, benar. Aku lihat sendiri," sahut Ken.
"Tapi kenapa sekarang kau ada di sini?"
Ken tentu saja tidak mau menceritakan kejadian yang sesungguhnya. "Mmh, Tuan Barnes memintaku bekerja padanya."
"Benarkah?" Pria bertubuh tinggi itu menatap Ken tak percaya. "Memangnya kamu kerja apa di sana? Chef juga?"
"Oh, bukan. Hanya bantu-bantu."
Para pegawai itu saling berpandangan mendengar cerita Ken. Antara percaya dan tidak mendengar jawaban pria itu karena Ken terlihat jujur. Namun sebenarnya apa ada alasan lain hingga pria Jepang ini ada bersama mereka, karena sebelumnya restoran tutup karena ada masalah penggelapan barang.
"Sudah ya? Aku ditunggu, Tuan Ramires." Ken kemudian keluar dan naik lift. Ia mendatangi kantor Ramires dan menemui sekretarisnya. "Tuan Ramires ada, Nona?"
"Oh, kamu sudah ditunggu olehnya. Masuk saja."
Ken membuka pintu sambil mengetuk. "Tuan ...." Dilihatnya pria itu tengah memeriksa berkas.
"Oh, ke sini saja." Pria kaya itu memanggilnya dengan jari tengah dan telunjuk yang digerakkan.
Sang pria Jepang menghampiri. "Iya, Tuan."
Pria itu mengeluarkan sejumlah uang dan meletakkannya pada genggaman tangan Ken. Pria Jepang itu melongo.
__ADS_1
"Kau tak punya pakaian ganti 'kan? Beli kebutuhanmu, sisanya uang makan. Supirku yang tadi sudah aku suruh menunggumu dibawah. Kau bisa pergi belanja pakaian dengannya."
Ken terharu. Pria itu tidak seperti dugaannya, ia sangat baik sekali.