Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Dewa Matahari


__ADS_3

Makan malam kali ini teramat tertib. Cia tak banyak bicara, hanya Chen Zen yang bicara. Lian Luo sibuk mengobrol dengan Odagiri dan Ejiro berusaha tenang. Ia hanya ingin tahu,Cia akan mengakui keberadaannya atau tidak. Walaupun ia yakin, gadis itu akan menendangnya keluar dari keluarga itu.


“Ayah.” Tiba-tiba Cia bicara.


Semua orang menatap ke arahnya. Begitu juga pria bercodet itu.


“Aku ingin belajar melukis di kota sebelah, Ayah.”


“Apa?” Lian Luo terkejut.“Tapi kau belum pernah meninggalkan rumah. Apalagi belajar melukis,kau paling tidak bisa. Apa kau yakin dengan keputusanmu,Cia?”


Cia melirik pria bercodet itu sekilas.“Aku bosan di rumah.Setidaknya ada keturunan Ayah yang coba berprestasi. Apa Ayah tidak bangga?”


Pria kaya itu tersenyum kecil.“Baiklah.Bila kau suka,kau bisa belajar ke sana.”


Gadis berambut panjang digerai ke depan itu tersenyum penuh kemenangan.Terlihat sekali ia berusaha menghindari Ejiro dan mencoba menunggu kepastian apa ia hamil atau tidak atas peristiwa bersenang-senang mereka tempo hari. Pria bercodet itu paham, Cia memang tidak menyukainya dari awal. Walaupun begitu, ia sempat berharap dan kecewa.


-----+++----


Ketiganya sedang duduk-duduk di tepi danau. Gojo, Ken, Mira. Gadis itu tengah asyik memperhatikan kupu-kupu yang sedang singgah di kuncup mawar yang tengah mekar, sementara Gojo mengajak Ken mengobrol. Gojo melakukannya sambil berdiri, sedang Ken duduk seraya memperhatikan Mira yang hilir mudik mengikuti kupu-kupu yang berwarna hitam kemerahan.


Ken lebih nyaman ada Gojo di antara mereka. Bukan saja karena ramai tapi ia kini takut gadis itu punya perasaan padanya. Apalagi setelah berbicara dengan Ejiro, ia bingung menentukan sikap. Meninggalkannya ia tak sanggup, bersamanya ia mulai tersiksa.


Ia takut Mira benar-benar jatuh cinta padanya, karena mengingat ramalan tentang kolam cinta. Adalah ia yang takut segala tindak tanduknya menyakiti hati gadis itu. Padahal jauh di lubuk hati, benih cinta telah tumbuh dan bersemi tanpa ia sadari.


“Wah, sehari-hari kau menemani, Nona Besar ini?”


Gojo tertawa.“Jangan cemburu dong. Ini ‘kan pekerjaan. Salahkan dirimu yang bukan aku.” Tawanya makin menggelegar.


“Mmh, begitu ya?” Pria berambut pendek itu tertawa. “Apa kau tidak melihat sesuatu yang mencurigakan?”


“Tidak. Ada apa ya?” tanya pria berambut berombak itu mulai serius.


“Ah, tidak.” Ke mana perginya wanita itu ya? Ivan ada, lalu Lucille … ke mana?”


------+++------


Pagi itu, setelah sarapan, Ken, Latihan pedang di tempat terbuka tak jauh dari situ. Keringat menetes, di sela-sela rambut di kening dan pelayannya, Bao Ki menungguinya berlatih. Ia akan menyeka kening tuannya saat diminta.


Udara pagi itu memang sedikit panas. Mira mengintip dari jendela kamarnya. Ia sedikit iri pada pelayan itu, tapi sulit baginya bisa menggantikan posisi pelayan itu saat itu.


Sejak keberadaan Lucille, Mira malah sulit berdekatan dengan Ken. Hanya di waktu-waktu tertentu saja mereka bisa Bersama, selebihnya rumit. Ia harus punya alasan untuk bertemu pria itu. Padahal ia rindu masa-masa itu di mana ia bebas bertemu Ken.

__ADS_1


Apa aku makin lama makin sulit kehilangannya? Oh, hati … kenapa aku jadi begini, batinnya.


------+++------


Di kayangan, Dewi Sri mendatangi Dewa Matahari di kediamannya.


“Oh, apa kabarmu?” sapa Dewa Matahari.


“Baik.”


“Pasti ada yang penting hingga kamu datang ke tempatku.” Pria itu tersenyum.


“Aku hanya ingin mengobrol tentang masa lalu.”


“Masa lalu?” Pria itu mengerut kening. “Tentang apa?”


“Boleh aku berterus terang?”


“Cepat saja katakan, waktuku tak banyak. Kau tahu ‘kan aku sangat sibuk?”


“Ini tentang anakmu.”


“Mimi? Aku sudah katakan, aku sangat sibuk dan tak tahu bagaimana mengurusnya. Karena itu, aku sangat terbantu kau mau menolongku membesarkannya. Sejak istriku meninggal, aku tak tahu lagi bagaimana mengurus bayi sekecil itu, apalagi kesibukanku sangat padat.”


“Mmh?” Dewa Matahari mengerut kening. “Lalu siapa? Setahuku, anakku cuma Mimi seorang.”


“Apa benar kau tak punya anak dengan Wanita lain? Anakku menemukan seorang anak dengan kemampuan setengah dewa seperti dirimu. Orang itu bisa mengeluarkan api dari tangannya.”


Pria itu berpikir keras. “Di jaman apa itu?”


“Di jaman belum ditemukan tehnologi dan manusia masih mengandalkan hewan untuk membantunya bekerja.”


“Sebelum masehi?”


“Aku tidak meragukanmu, hanya mungkin kau pernah turun ke bumi dan mengenal seorang wanita. Mungkin keberadaannya tak menarik bagimu tapi ….”


“Ah, Wanita itu ….”


“Ya?” Dewi Sri sempat kebingungan.


“Mungkin dia. Aku pernah mengenal seorang Wanita. Ya, waktu itu jaman di mana penduduk bumi masih sedikit. Aku sempat pergi ke Cina untuk suatu urusan dan aku sempat mabuk, tapi ….”Dewa itu melirik Dewi Sri. Apa yang dikatakan orang itu pada anakmu, eh siapa namanya?”

__ADS_1


“Namanya Ken.”


“Iya. Apa yang dikatakannya pada Ken.”


Dewi Padi terdiam sejenak. Ia harus hati-hati mengatakan hal ini. Walaupun ia dekat dengan Dewa Matahari, pria ini juga bosnya. Dia yang mengatur seluruh pergerakan bumi dan takdirnya dan dia pula yang memilih Ken untuk jadi pemimpin masa datang hingga ia tak boleh salah langkah. “Pria ini sepertinya mendapat keterangan yang amat minim soal siapa ayahnya dari sang ibu. Jadi dia hanya tahu, ayahnya seorang dewa.”


“Pria ya?” Nampaknya Dewa ini bahkan tidak tahu akan kehadirannya. Pria itu menghela napas pelan. Aku pernah mengenal wanita Jepang di Cina. Kalau tidak salah dia seorang penari.” Dewa itu melirik Dewi Padi. “Aku mirip manusia rendah ya?”


Wanita itu hanya tersenyum datar.


“Kejadiannya, aku mabuk dan dia menari.” Namun kemudian pria itu berhenti bicara. “Aku bahkan tidak tahu Namanya. Aku benar-benar makhluk rendah,” gumamnya. “Aku … sebenarnya hanya minum dan tidak menginginkan yang lainnya tapi kemudian aku tidak mengingat apapun lagi selain wanita itu datang padaku dan menyebut namanya. Ah ….” Ia mengusap wajahnya.


“Sejak itulah aku tidak pernah menyentuh minuman itu lagi. Iya, wanita itu mengingatkanku akan kejadian itu. Ah, bodohnya. Seorang anak? Aku mendapatkan seorang anak darinya? Kenapa aku tidak menyadarinya? Padahal aku hanya beberapa kali bertemu dengannya dan ….” Kembali Dewa itu melirik Dewi Sri.


“Itu kecelakaan terburukku.” Pria itu terdiam sejenak. “ Mari sini, aku temui dia. Di jaman apa dia kini berada sekarang?” Ia beranjak berdiri.


------+++------


Seorang pengawal tergopoh-gopoh datang menghampiri Ken. “Tuan, teman Anda datang berkunjung.”


“Ejiro.”


“Iya, Tuan Ejiro.”


“Bawa saja masuk kemari.”


Tak lama Ejiro datang saat pria berambut pendek itu tengah Latihan. “Apa kabarmu?”


“Baik.” Ken menghentikan latihannya. Pelayan itu mendatanginya dan membersihkan keringat di dahi.


Ejiro memperhatikan dengan takjub.“Kau sudah punya pelayan sendiri rupanya.”


Ken tertawa. Setelah pelayan itu pergi, ia berbisik dekat telinga pria bercodet itu. “Sst, aku sampai sekarang masih canggung soal beginian.”


Ejiro tertawa lepas. Karena lugu, kadang Ken dinilainya sangat lucu. “Ayo, bagaimana kalau kita latihan tarung?”


“Boleh. Ayo kita mulai.”


Dari kejauhan Mira masih mengintip Ken lewat jendela. Ia menoleh ke arah Gojo yang sedang duduk-duduk di kamarnya. “Hei, itu Ejiro yang disebut Ken kemarin bukan?”


____________________________

__ADS_1



__ADS_2