
"Itu aku 'kan? Aku yang jadi pria misterius itu, sewaktu pergi ke istana Lord Z." Ken mengingat kembali kejadian itu.
"Benar. Sekarang tugasmu adalah menyelamatkan Mimi dan membawa mayat Lord Z dan Yumi ke panti asuhan. Serahkan semuanya pada Ayah, ia akan mengurusnya."
Mendengar kata 'mayat Yumi dan Lord Z', Ken kembali bersedih. Kejadiannya belum lama, hingga walaupun ia sudah berusaha melupakannya, tapi saat diingat kembali hatinya masih terasa pedih.
"Ken ...."
Panggilan ibunya membuyarkan lamunan pria itu. "Eh, iya, Bu."
"Kau sanggup?" Sri bertanya dengan lebih lembut.
Ken berusaha tegar. "Mudah-mudahan sanggup, Ibu."
"Kalau kau belum bisa, kita bisa menundanya lain waktu." Wanita itu menyentuh lengan anaknya.
"Aku bisa melaluinya. Waktu itu bisa, sekarang pun pasti bisa." Pria itu meyakinkan diri lalu mengenakan jaket yang diberikan hingga penutup kepala.
"Ingat, Ken. Jangan sampai dirimu yang dulu mengenalimu."
Sang pria mengangguk. Dewi Sri mengeluarkan bola kristal dari sebuah wadah berbentuk kotak dengan kain lembut sebagai alasnya. "Bola ini akan mengantarmu ke tempat yang kau inginkan. Begini caranya."
Wanita itu meletakkan bola itu di telapak tangan. Ia kemudian berbicara dengan bola itu. "Bola kristal, kembalilah ke waktu di mana Ken merayakan ulang tahun yang ke 20, di panti."
Warna bola kristal bening itu kemudian berubah menjadi putih seperti terisi asap. Lalu keluarlah gambar seperti video yang sedang memutar kejadian di saat Ken tengah merayakan ulang tahunnya. "Ini Ken. Kau mau masuk kapan? Ini kejadiannya bisa dimajukan. Tinggal beri perintah saja pada bola kristalnya."
"Ah, saat ini saja. Saat merayakannya bersama anak-anak panti." Ken menunjuk ke sebuah kejadian yang terlihat di dalam bola kristal itu.
"Ok, kau akan membawa bola kristal ini, Ken. Jangan sampai hilang. Ada saku dibalik jaketmu itu, kau bisa simpan di sana. Sekarang, kau buat pintu portal ke masa lalu dengan bantuan bola kristal ini. Kau bisa konsentrasi dan meminta dalam hati pada bola ini, sambil jarimu membuat gambar pintu di depanmu."
Ken menurut. Ia membuat gambar pintu di hadapannya dan seketika tercipta sebuah pintu. Ia membukanya. Terlihat warna pelangi dibalik pintu itu.
"Ini, Ken." Sri menyerahkan bola kristal itu pada Ken.
Pria itu mengambil dan meletakkan bola kristal itu dibalik jaket lalu menutupnya. Ia berpamitan pada ibunya. "Aku pergi dulu, Bu."
"Kau sudah siap?"
__ADS_1
"Mudah-mudahan." Ken memalingkan wajah ke arah pintu sambil mengambil napas. Lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ia melangkah dengan mantap ke dalam pintu yang tengah terbuka itu. Setelah melewatinya, ia menutup pintu.
Ken sempat menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Ia akan bertemu Yumi. Lalu ia harus bilang apa?
Segera ia membuka pintu. Terdengar suara ramai orang sedang mengobrol dan berkelakar. Kebanyakan dari suara mereka adalah suara anak-anak.
Ken makin menenggelamkan kepalanya pada tutup kepala itu agar raut wajahnya tak terlihat. Ia mengintip keluar. Ternyata ia berada dekat dengan pintu kamar tempat keramaian itu berada. Ia bergegas keluar, menutup pintu, lalu masuk dengan hati-hati pada kamar di sebelahnya. Ia menunggu sambil mengintip keluar.
Bertepatan dengan itu Yumi keluar dari kamar itu, beserta Nara, teman sekamarnya. Ken kemudian membuka tutup kepala dan mengikuti mereka. "Yumi."
Kedua gadis itu menoleh.
"Ken?"
Melihat akan ada pembicara serius, Nara mengalah. "Eh, aku ke dapur duluan ya?" Ia meneruskan langkahnya mendatangi tangga.
Ken masih kebingungan harus bicara apa sementara bayangan yang telah ia lewati sejauh ini membuat ia ingin menangis. "Eh, boleh aku bicara sebentar." Ia membuka pintu kamar yang berada di samping untuk Yumi.
Gadis itu masuk sambil menghidupkan lampu kamar. "Ada apa?"
Tiba-tiba Yumi membekap mulut pria itu. "Itulah artinya berteman. Kita saling tolong menolong. Bukankah begitu seharusnya 'kan, Ken? Aku tidak pernah menyesal pernah jadi temanmu." Gadis itu tersenyum lebar memberinya semangat.
Ken menatap kedua bola mata Yumi dengan nanar. Seorang gadis yang setiap hari tak pernah lelah memberinya semangat, dan selalu berbagi suka dan duka bersama. Hanya bersama gadis itu ia merasa punya keluarga. Ken segera memeluk gadis itu yang membuat sang gadis terkejut.
"Ken?" Tiba-tiba Yumi mendorongnya menjauh.
"Eh, Yumi ...." Namun sebelum sang pria menyelesaikan kalimatnya, gadis itu membuka pintu dan berlari keluar.
"Eh, apa aku salah bicara?" Ken tertegun. "Eh, aku ...." Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ken kemudian mengekor turun. Ia melihat Yumi pergi ke dapur di lantai satu dan bertemu dengan Nara. Ia lalu mencoba menguping pembicaraan mereka dari luar.
"Aku bingung dengan sikap Ken," keluh Yumi. Ia membantu Nara mencuci piring yang tersisa.
"Kenapa?"
"Entahlah. Hari ini dia aneh."
"Aneh kenapa?" Nara menyudahi mencuci piring lalu mengeringkan tangannya.
__ADS_1
Gadis berponi tipis itu melirik temannya yang berkuncir satu ke belakang. Ia mengerucutkan mulutnya kesal.
"Apa dia menyukaimu?"
"Jangan bercanda deh!" Yumi menepuk lengan temannya itu.
Nara tertawa. "Lagi kamu juga aneh. Kalau suka bilang saja, kenapa menunggu Ken yang memulai. Kalau pun dia tak suka, kau tetap bisa berteman dengannya 'kan?"
Ken terkejut mendengarnya. Jadi ciuman saat dia mabuk waktu itu, itu sungguhan? Jadi dia melakukan itu dalam keadaan sadar? Tanpa sadar, pria itu menyentuh bibirnya sendiri.
"Aku tidak mau kalau gara-gara ini hubungan persahabatan aku dengannya rusak. Aku sudah tidak punya keluarga, apakah harus kehilangan teman juga?" ungkap Yumi dengan wajah sedih.
"Yumi ...." Nara mendekapnya. "Aku 'kan temanmu, Yumi. Kenapa kau tidak belajar berani mengungkapkannya? Kalau Ken tidak mau berteman lagi denganmu, 'kan masih ada aku?"
"Tidak." Gadis berponi itu menggeleng saat temannya melepas pelukan. "Aku juga tidak bisa kehilangan dia. Aku tidak bisa."
Nara menautkan ujung bibirnya seiring ia menatap wajah gadis itu yang masih ragu. Ia meraih kedua tangan gadis itu dan menyatukannya. "Baiklah. Aku akan menjadi pendengar saja. Semangat ya, Yumi!" Ia mengangkat kepal tangannya.
Yumi, maafkan aku. Aku ... tidak bisa membalasmu, batin Ken.
Tiba-tiba pintu di seberang Ken terbuka. Terdengar suara dirinya sedang berbicara dengan Pak Kepala Panti. Aduh, bagaimana ini? Aku yang dulu tidak boleh bertemu dengan aku yang sekarang.
Buru-buru pria itu menutup kepala dengan hoddie-nya. Ia melihat pintu depan dan bergegas ke sana. Ken keluar lewat pintu itu dan mengintip ke dalam.
"Ken, masih ada lagi yang harus kau dengar ...," sahut ayahnya dari dalam ruangan.
Ken kembali tertawa. "Iya, iya. Besok saja ya, Yah, ini sudah larut malam," ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala keluar dari sana. Ken yang berada di zaman itu, tertegun melihat Yumi yang keluar dari dapur dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Eh ...."
Ia baru saja mengangkat tangan ketika gadis itu buru-buru meninggalkannya dan menaiki tangga. Walau bingung, ia kemudian acuh dan mengekor dengan menaik tangga itu juga.
"Rupanya aku sebodoh itu dulu, hah!" Ken yang sekarang tercengang melihatnya.
__________________________________________
Visual Ken sebagai pria misterius. Salam, ingflora 💋
__ADS_1