
"Kalau ada pertanyaan, kalian bisa mencari Saya ya? Untuk sementara pasien kami pantau dulu sehari dua hari." Dokter itu pun pamit.
Ryu yang sudah membelai tangan istrinya, tengah duduk di tepi ranjang. "Sayang, kamu lapar?"
Wanita itu mengangguk dengan wajah masih merengut.
"Kau mau apa?"
"Mi Udon."
"Eh, tapi di rumah sakit tidak bisa makan seperti itu. Mmh ... bagaimana kalau sandwich saja? Di rumah sakit rasanya ada sandwich."
Sang wanita segera bangun dan memegangi lengan Ryu dengan manja. "Bener ya, tapi minumnya teh dingin."
"Teh tawar?"
Wanita itu kembali mengangguk.
"Kamu sama Ken dulu ya?" Pria itu beranjak berdiri.
"Ken siapa?"
Semua orang melongo mendengar perkataan Dewi Sri.
"Ini Ken." Ryu menarik Ken mendekat. "Dia anakmu." Ia memberi tahu. Apa istriku lupa ingatan? Sebab gila dan lupa ingatan itu berbeda.
Wanita itu menatap bingung pada Ryu, lalu pada Ken. "Aku 'kan belum menikah? Kenapa bisa punya anak sebesar ini?"
Kembali pernyataan wanita itu membingungkan mereka berempat.
"Ibu, aku anakmu, Bu."
Perkataan anak satu-satunya itu membuat sang dewi mengerutkan keningnya. "Aku masih muda, jangan mengarang kamu ya!" ucapnya sinis.
"Tapi kamu masih ingat diriku 'kan?" tanya Ryu penasaran. Ia dengan suara lembut mengambil alih, karena ingin tahu sejauh mana ingatan istrinya saat ini.
Dewi Sri tersenyum malu-malu. "Aku suka wajahmu."
"Aku 'kan suamimu. Kita sudah menikah."
"Masa?" Sang wanita tertunduk malu.
"Iya. Apa kau tak ingat namaku?"
Dewi Sri menggeleng. "Ada pria tampan memanggilku 'Sayang' masa aku tidak suka?" Kini pipinya bersemu merah.
Ken kini menggaruk-garuk kepalanya. Ibu lebih mirip hilang ingatan di banding gila. Apa dokter itu tidak bisa membedakan?
"Apa kau tahu, kau seorang dewi?" tanya Ryu lagi, tapi kemudian wanita itu tidak fokus dengan apa yang diucapkannya. Sang wanita turun dari tempat tidur dan memeriksa lemari meja nakas.
"Kau mencari apa?" tanya pria itu lagi.
"Aku mau pergi ke pantai. Ke mana pakaianku? Kenapa tidak ada pakaianku?" Wanita itu panik. "Pakaianku ke mana ... hua ... ha ... ha ...." Ia seketika menangis.
Keempat orang itu kembali kebingungan. Ternyata benar, ada yang salah dengan ingatannya sehingga ia tidak bisa kembali menjadi Dewi Sri yang dulu. Ryu segera mendatangi sang istri lalu mendekap untuk menenangkannya. "Sudah, sudah, sudah. Tidak apa-apa."
Dewi Sri memeluknya balik dan mulai berhenti menangis. Ia terlihat tenang dan nyaman bersama sang suami.
__ADS_1
Ken kembali menggaruk-garuk kepalanya. Kini ia mengerti kenapa dokter itu berbicara seperti. Mira mencubit pinggang calon suaminya.
"Aduh, Mira ... ada apa sih?" Ken memiringkan pinggangnya dan mengusap-usap perut yang barusan dicubit wanitanya.
"Kamu gak pernah panggil aku 'Sayang'." Wanita muda itu mulai merajuk.
"Ya ampun, Mira. Ada yang lebih penting daripada memikirkan itu sekarang," bisik Ken kebingungan. Kenapa tiba-tiba saja Mira cemburu melihat kemesraan kedua orang tuanya?
Mira masih mengerucutkan mulutnya.
Pria itu jadi serba salah. "Mira ... aku tak bermaksud begitu. Aku ...."
Wanitanya masih diam ngambek.
"Sayang ...."
Seketika, terukir senyum di bibir sang wanita. Ia langsung memeluk pria itu dengan erat.
Ken hanya menghela napas panjang. "Iya, iya, aku salah. Maaf ya?" Ia mengusap punggung Mira dengan lembut.
Wanita itu melingkarkan tangannya pada pinggang pria itu dengan malu-malu. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ken.
Ken ingin mengusap kepala wanitanya tapi tusuk konde di kepala wanita itu cukup banyak hingga ia mengurungkan niatnya. "Eh, Mira. Tusuk kondemu itu coba dilepas. Aku agak sulit dekat denganmu."
Gojo menutup mulutnya menahan tawa.
Mira mengangkat kepala dan tersenyum malu. "Eh, iya." Ia mulai melepas tusuk konde pengantinnya itu satu-satu.
Ryu bergerak ke pintu. "Aku mau beli makan siang, apa kalian mau beli juga?"
"Ah, ini sudah jam makan siang, tentu saja." Ken menoleh pada calon istrinya. "Mira, kamu tolong belikan aku dan Gojo makan siang ya? Kami menjaga ibu di sini."
"Eh, ya. Maaf."
"Ok," sahut wanita itu yang menoleh sebentar lalu menghilang di balik pintu bersama ayah Ken.
Kini keduanya, Ken dan Gojo menatap ke arah Dewi Sri. Wanita itu kembali ke ranjang dan duduk sambil bersandar ke kepala tempat tidur.
Ken membalikkan tubuhnya dan berbisik dengan mendekatkan mulutnya pada sang sahabat. "Sst, aku rasa aku bisa menyembuhkan Ibu."
Pria berambut gondrong itu menoleh. "Benarkah?"
"Setidaknya aku harus coba. Apa kau bisa membantuku?"
"Bantuan apa?"
"Aku akan mendekatinya. Lalu meletakkan tanganku di kepala, tapi kalau ibuku berusaha kabur, apa kau bisa memeganginya?"
"Eh? Aku?" Gojo menoleh pada wanita itu. "Apa boleh? Rasanya tidak sopan."
"Ck, demi aku Gojo!" ucap Ken kesal.
"Eh, ya sudah."
Ken mulai mendekati ibunya. Wanita itu terlihat sedikit tak nyaman dengan kehadiran pria itu.
"Eh, Ibu."
__ADS_1
"Aku bukan ibumu ya!" ucap wanita itu sedikit ketus.
Gojo mendekati sisi ranjang yang berbeda.
"Eh, baiklah. Bagaimana kalau kupanggil Nyonya?" Pria itu memberi pilihan pada ibunya.
"Aku belum tua!"
Ken menggaruk-garuk kepalanya. "Eh, Nona."
Wanita itu hanya diam.
"Eh, apa kau tak ingat kalau kau punya anak?"
Dewi Sri memutar bola matanya dengan malas. Ia seperti sebal menanggapi.
"Eh, baiklah. Eh, begini saja. Apa yang kau ingat tentang masa lalumu?"
Wanita itu menatap langit-langit dan mulai berpikir.
"Apa kau ingat namamu?"
Wanita itu masih terdiam sesaat.
"Namamu Dewi Sri."
Dewi Sri mengerut dahi. "Apa itu namaku? Sepertinya nama yang aneh."
Komentar ibunya menerbitkan senyum di bibir Ken. "Eh, tapi itu tidak penting." Ia mendekati lagi sang ibu dengan bergeser di atas ranjang. "Apa Nona tak ingin ingat masa lalumu?"
Wanita itu kini menatap Ken.
"Aku bisa membantumu mengingatnya. Bagaimana?"
"Bagaimana caranya?"
"Aku tinggal meletakkan saja tanganku di atas kepalamu." Pria itu menggerakkan tangannya ke arah kepala sang dewi dan wanita itu hanya melihat saja tangan itu bergerak mendekat dan ....
"Aku malas di kamar. Aku mau jalan-jalan keluar saja." Dewi Sri bergeser turun dari tempat itu dan melangkah ke arah pintu.
"Gojo, tolong pegangi dia!" teriak Ken.
Pria gondrong itu menangkap sang dewi dari belakang hingga wanita itu meronta-ronta.
"Hei, lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Ken kembali mendekat. "Maaf ya, Bu. Ini untuk kesembuhanmu." Ia mendekatkan tangannya kembali ke kepala sang wanita.
"Lepaskan aku, lepaskan aku! Hei, pria tampan, tolong aku!" Wanita itu masih berteriak dan menolak.
Ken tersenyum mendengar perkataan ibunya. Berarti wanita ini tidak ingat siapapun. Bahkan ayahnya yang disebut 'pria tampan' itu.
"Hei, hentikan!" Ryu masuk dan melihat apa yang terjadi.
Ken yang mendengar teriakan ayahnya segera menoleh. "Tapi Ayah, aku ingin menolong ibu!"
"Hentikan, aku bilang." Pria setengah bule itu bicara tegas.
__ADS_1
Gojo melepas sang dewi sehingga wanita itu berlari ke arah Ryu dan memeluknya. Ayah Ken memeluk istrinya. "Biarkan dia seperti ini."
"Ayah!" Pria muda itu kini tak mengerti, apa yang diinginkan ayahnya.