Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Menyelamatkan Mimi


__ADS_3

Ia melepas sepedanya dan mengintip ke bawah. Bus dan mobil jatuh ke jurang dengan kedalaman sekitar 100 meter. Bus pariwisata itu terguling dan jatuh menimpa mobil bagian depan. Bus itu mulai terbakar.


"Mimi ... oh, Mimi ...." Ken syok melihat kecelakaan itu. "Kenapa saat aku sampai di sini aku masih tidak bisa menghentikan kecelakaan ini ...," ucapnya dengan pandangan nanar.


Saat ia melihat ke arah truk, kendaraan itu telah kabur melarikan diri. "Ah, mereka kabur lagi, sialan!" geram Ken sambil mengeratkan kepalan kedua tangannya.


Ia kembali melihat ke bawah. Ia ingin mengejar Lord Z, tapi menyelamatkan gadis kecil itu lebih utama. "Tapi, apa aku masih bisa menyelamatkan Mimi?"


Jurang itu sedikit landai sehingga Ken bisa turun. Ia harus berpacu dengan waktu karena bus sudah terbakar. "Ah, ya ampun ...." Dengan hati-hati ia turun, tapi kemudian ia nekat dengan sedikit menggulingkan tubuhnya ke bawah agar cepat sampai.


Terdengar suara minta tolong dan anak kecil menangis. Sepertinya, bus pariwisata itu juga membawa banyak anak-anak kecil selain orang dewasa. Ini benar-benar suasana yang menegangkan sekaligus mencekam.


Ken yang telah menggulingkan tubuhnya ke bawah hingga sampai ke dasar jurang, segera bangkit. Mobil yang ditumpangi Mimi ternyata telah terbakar. Ia terlambat.


Betapa syoknya pria itu melihatnya. Apalagi suara tangisan anak kecil bercampur dengan teriakan orang kesakitan dan minta tolong bersahut-sahutan. Terdengar sangat berisik dan mengerikan. Air mata pria itu pun jatuh tanpa diminta. "Mimi!" teriaknya sekuat tenaga.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya. "Kak Ken! Kak Ken!" Ternyata gadis itu masih ada di kursi belakang mobil yang sedang terbakar itu. Ia mengetuk-ngetuk jendela belakang agar pria itu melihatnya. Ken tertegun. Bagaimana bisa ia hidup di dalam mobil yang tengah terbakar itu?


Pria itu bergegas mendekati mobil itu. Bus pariwisata yang menghimpit mobil itu mulai meneteskan bensin ke arah mobil yang berada di bawahnya. Tentu saja Ken bertambah panik. Bagaimana cara menyelamatkannya?


Kemudian ia berusaha berpikir tenang dan melihat sekeliling. Ia mengambil batu dan melemparnya pada kaca belakang mobil. Lemparan pertama gagal. Lemparan kedua hanya bolong kecil. Mimi tak bisa keluar lewat lobang itu. Ken semakin kesal. Kemudian ia ingat ia bisa mengendalikan benda mati yang berarti ....


Ia berkonsentrasi. Dengan hanya melihat, pintu mobil yang terbakar dan rusak itu terbuka. Mimi keluar dari mobil itu dengan sebagian bajunya sudah terbakar oleh api, tapi anehnya, tubuhnya tidak tersentuh api sama sekali.


Ken menggendongnya dan membawa kabur gadis kecil itu sejauh mungkin dan bertepatan dengan itu mobil meledak, disusul berikutnya juga bus itu. Pria itu terkena lemparan serpihan ledakan di kepala hingga jatuh pingsan dengan masih memeluk Mimi. "Ah!"


"Kakak! Kakak!" Gadis kecil itu kemudian merasakan hembusan napas Ken. Ia tersenyum lebar dan kemudian berbaring di dalam dekapan pria itu.

__ADS_1


-----------+++----------


Ken terbangun. Hangatnya sinar mentari yang mulai terik menyentuh wajah. Saat ia bergerak, ia merasakan sesuatu yang lembut tengah mendekapnya. Ia melihat ke bawah. Ada seseorang gadis kecil tengah mendekapnya.


"Mimi?" Ken tak percaya. Gadis kecil itu ada dan tengah memeluknya. Ia telah berhasil menyelamatkannya. Eh, benarkah?


Gadis kecil itu menggeliat bangun dan menyadari ia tengah berada di tempat terbuka dengan banyak pohon-pohon. Tempat yang ia tidak kenali hingga ia segera menangis.


"Mimi. Ini kakak di sini, Mimi. Jangan takut." Ken menepuk-nepuk lengan gadis itu hingga gadis itu berhenti menangis. Melihat pria itu, sang gadis kecil langsung memeluknya. Ken begitu senang melihat Mimi selamat. "Mimi, ayo kita pulang."


Ken melihat wajah gadis kecil itu terkena pecahan kaca. Ia jadi serba salah. "Maafkan Kakak, Mimi. Gara-gara Kakak wajahmu terluka. Sebentar ya, Kakak obati."


Pria itu kemudian mendekatkan tangannya pada wajah gadis itu dan berkonsentrasi. Pecahan kaca halus pada wajah gadis itu terangkat. Juga saat ia hadapkan tangannya pada tubuh mungilnya itu. Kemudian ia menutup luka di wajah dengan tangan. Setelah dilepas, luka itu menghilang. "Apa kamu luka dalam?"


"Hah?" Mimi tak mengerti apa yang dikatakan Ken. Pria itu segera memeriksanya. Ternyata hanya memar di tangan dan sedikit bengkak. Mungkin karena terhimpit sesuatu. Ia coba meluruskan.


Kembali Ken meraih tangan kecil itu. "Eh, sebentar saja, Kakak sulap. Ting! Hilang sakitnya," bujuknya.


Ragu-ragu, Mimi membiarkan pria itu meraih tangannya kembali lalu diobati. "Ah! Sakit, Kak!" Ia berteriak kesakitan hingga memukul dada Ken. Pria itu bertahan sebentar hingga kemudian melepaskan, tapi gadis kecil itu sudah terlanjur menangis. Ia mendekapnya walau gadis kecil itu masih memukulnya.


"Ka-kak ... hu ...."


"Eh, lihat, sudah tidak sakit lagi," kata Ken yang sedang memangku sambil menggoyang-goyangkan tubuh si kecil.


Gadis kecil itu diam sejenak sambil merasai tangannya yang sakit itu, dan benar apa yang dikatakan Ken, tangannya sudah tidak sakit lagi. Segera gadis itu bersandar di dada bidang pria itu dan terdiam. Ia malu tapi Ken begitu bahagia.


Namun kini sang pria menyadari belakang kepalanya terasa berdenyut. Ia lalu menyembuhkan dirinya sendiri sambil meletakkan tangannya di belakang kepala. Ternyata saking khawatirnya, Ken tidak merasakan sakit di tubuhnya sendiri. Setelah keduanya merasa sehat, ia mulai berdiri dan menggandeng Mimi.

__ADS_1


Ken menoleh ke belakang. Bus itu telah rusak parah tak berbentuk bersama dengan mobil di bawahnya. Api telah padam, tinggal puing-puing berserakan. Dengan segera pria itu menggendong Mimi dan membawanya menjauh dari tempat itu, karena ia takut gadis itu trauma melihat sisa-sisa kecelakaan itu.


Ia kemudian mendaki naik. Di tengah perjalanan ia melihat kalungnya tersangkut di sebuah pohon. Ken mendatangi pohon kecil itu dan mengambilnya. Mimi mencoba meraihnya tapi kalung koin itu malah jatuh ke bawah ke tempat bangkai kendaraan itu berada. "Ya ...."


"Eh tidak apa-apa. Nanti Kakak belikan mainan lain untukmu."


"Eh, iya, Kak?" Bola mata gadis kecil itu yang membulat sempurna terlihat jenaka.


"Iya, sekarang kita ke atas dulu ya?" Sang pria tersenyum. Ia kembali mendaki jurang hingga sampai ke pinggir jalan tempat ia meninggalkan sepedanya. Ia meraih sepeda itu. "Aduh, panas." Ia menjatuhkan sepeda itu karena kepanasan.


Tentu saja, sepeda itu terpanggang di bawah sinar matahari membuat Ken terkejut. Gadis kecil itu menyentuh sepeda itu takut-takut. "Uh, panas," ucapnya dengan wajah datar membuat pria itu mengerut kening. "Panas itu apa?"


Ken melongo. "Kamu tidak bisa merasakan panas?"


Mimi masih menatap pria itu dengan mimik bingung.


Ken juga menyadari tubuh gadis kecil itu memang tidak terkena luka bakar sedikitpun. Hanya terkena luka gores atau bengkak saja yang terlihat. Yang terbakar malah pakaiannya. Itu berarti, Mimi pasti juga manusia setengah dewa seperti dirinya.


Ini cukup mengejutkan Ken, karena ia tidak menyadari bahwa selama ini ia punya teman sesama makhluk setengah dewa yang dekat dengannya dan hidup bersama. Pria itu mendekap gadis kecil itu dengan gembira. "Kakak bangga padamu, Mimi."


Mereka kemudian pulang dengan sepeda yang berjalan sendiri dan Mimi yang digendong di depan. Ken melindungi tubuh si kecil dalam pelukan karena baju gadis itu sudah terbakar sebagian.


________________________________________



Visual Mimi, adik kecil Ken di panti asuhan. Salam, ingflora💋

__ADS_1


__ADS_2