Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pertunjukan Pertama


__ADS_3

"Iya. Gadis yang beberapa hari yang lalu, katanya mengunjungimu. Aku dengar itu pacarmu. Iya?"


"Maksudmu Mira? Dia seperti adik bagiku."


"Seperti adik?"


"Eh, aku dibesarkan di panti asuhan."


"O ... oh, aku tidak tahu." Bill duduk karena terkejut. "Tapi alangkah bagusnya kalau kau punya banyak kebisaan. Kau tidak ingin belajar sulap?"


"Mmh ... boleh. Kenapa tidak?"


-----------+++---------


Ken terlihat cemas. Ini penampilan perdananya untuk melakukan atraksi di atas sana. Bolak-balik ia melangkah di tempat tunggu, membuat teman-temannya memberinya semangat.


"Jangan takut, Ken. Kau pasti bisa!" seru Lisa.


"Yang semangat, Ken," timpal Anita yang menggendong seekor ular di tangannya.


"Eh, iya. Terima kasih." Namun bukan mereka yang diharapkan pria itu memberi semangat tapi Mira. Ia tak melihat gadis itu di antara para penonton. Walaupun mereka tidak janjian tapi Ken merasa Mira pasti tahu, hari itu adalah hari pertama kali ia melakukan pertunjukan pertamanya. Ia ingin gadis itu datang karena ia ingin mendapat dukungan dari gadis itu saat ia ada di atas sana.


Ah, Mira. Kau di mana? Aku ingin kau datang melihat pertunjukanku.


Costa dan Lisa kemudian menarik Ken yang berpakaian badut, keluar. Kini giliran mereka melakukan pertunjukan. Costa dan Lisa naik ke atas untuk melakukan atraksi terlebih dulu sedang Ken bermain-main di bawah. Ia melambai pada penonton dan anak-anak yang suka pada badut, dan menjawab lambaiannya dengan lambaian pula.


Ken kadang bergerak berkeliling atau duduk di pinggiran pembatas kayu sambil menyapa anak-anak atau orang tua yang menonton di kursi-kursi penonton terdekat. Ia melakukan itu sambil mencari sosok Mira di antara para penonton tapi ia tak menemukannya.


Mira, kau di mana? Aku ingin mempersembahkan pertunjukan pertamaku padamu, batinnya resah.


Kemudian akhirnya, gilirannya tiba. Setelah Costa dan Lisa turun, Ken menaiki tangga tali untuk bisa sampai di atas. Ia akan melakukan pertunjukan itu sendirian. Tanpa Mira.


Mira kau di mana? Sejenak pria itu ragu untuk memulai. Ia sudah memegang tongkat di tangan tapi ia tak kunjung melangkah. Penonton bertanya-tanya karena Ken tak kunjung memulai.


Para pemain sirkus di ruang tunggu juga mengintip dari bawah.


"Ken tunggu apa, kok lama sekali gak mulai-mulai?" tanya Sin Hye.

__ADS_1


"Mungkin demam panggung," ujar Lisa.


Bill juga menengadah, dan khawatir. Kenapa dia jadi ragu? Dia seperti menunggu sesuatu tapi menunggu apa?


Lucille pun yang ingin tahu pertunjukan pertama pria Jepang itu, ikut bingung melihat Ken terdiam di atas sana. Apa jangan-jangan dia menunggu gadis itu? Sebelum ia sempat bertindak apa-apa, terdengar suara keributan karena seseorang datang dan mendesak orang-orang untuk minggir. Seorang gadis dari arah pintu masuk tenda, berlari-lari ke arah kursi penonton dan melambai-lambai ke arah atas.


Ah, Mira! Pria Jepang itu tersenyum simpul. Ia menunggu gadis itu duduk di antara penonton, barulah ia memulai pertunjukan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian penonton sehingga mereka bertepuk tangan.


"Pacarnya ya? Untung kamu datang," ujar wanita yang duduk di samping Mira.


Mira hanya tersenyum malu. Gadis itu kemudian menonton pertunjukan Ken dari awal hingga akhir. Banyak adegan yang lucu, seperti hampir jatuh dari tali, atau dari sepeda, atau juga sepeda jatuh ke bawah dan ternyata bannya menempel pada tali. Gadis itu menikmati semuanya sambil tertawa bersama penonton yang lain.


Hingga akhirnya pertunjukan berakhir, pria itu turun. Ken mendatangi kursi tempat Mira duduk yang membuat gadis itu tersipu-sipu. Tentu saja, karena begitu banyak orang yang kini menyoroti mereka berdua. Begitu sampai di hadapan, pria itu mengeluarkan sekumpulan bunga plastik dari balik jaketnya. Ia memberikan bunga itu untuk gadis itu. Sambil tertawa, Mira menerimanya.


Ken mengajaknya turun, membuat gadis itu turun bersama. Setelah sampai di tengah arena, pria itu membonceng Mira naik sepeda. Ia melambai-lambai pada para penonton dengan topinya karena berhasil membawa gadis itu naik sepeda.


Penonton bersorak.


"Semoga berhasil!"


"Semoga bersama sampai akhir!"


Pria Jepang itu membawa Mira hingga ke belakang panggung. Ia menemui Bill. "Bagaimana, Pak? Bagus 'kan?"


Pria bule itu memperlihatkan ibu jarinya hingga Ken tersenyum. Mira yang turun dari sepeda terkejut karena orang-orang sirkus mengelilinginya. Ia bersembunyi di balik punggung Ken.


Pria Jepang itu bisa melihat teman-temannya antusias ingin mengetahui siapa gadis ini. "Oh, ini adikku, Mira."


"Halo, Mira. Salam kenal."


"Halo, Mira!"


"Wah, wajahnya manis ya?"


"Oh, adiknya ...."


Beragam komentar keluar dari mulut para pemain sirkus. Mereka masih memandangi gadis itu yang keluar pelan-pelan dari punggung Ken, tapi masih menggenggam bahu pria itu erat-erat karena malu.

__ADS_1


"Pak, aku izin keluar ya, Pak?" tanya Ken, pada Bill.


"Oh, ya sudah. Tugasmu sudah selesai. Kau boleh pergi," sahut pria bule itu.


Pria Jepang itu membawa Mira keluar. "Kau sudah makan malam?"


"Sudah."


"Yaaa, padahal aku mau ajak kamu makan di luar," ujar pria itu setengah bergumam.


Gadis itu tersenyum kecil. "Kita, nonton yuk!"


"Nonton? Bioskop maksudmu?"


"Iya. Di dekat sini ada bioskop terbuka gitu, jadi kamu bisa makan sambil nonton. Murah lagi."


"Mmh, boleh juga. Kamu tunggu di sini ya? Aku mau tukar baju dan membersihkan make-up badutku dulu."


Mereka tengah berhenti tepat di samping meja makan.


"Oh, iya." Gadis itu duduk dan menunggu di kursi sementara Ken masuk ke karavan Bill.


Mereka tak sadar seseorang tengah memperhatikan keduanya sejak dari ruang tunggu di tenda sirkus. Ya, siapa lagi kalau bukan Lucille.


Wanita ini curiga dengan hubungan Ken dengan gadis itu karena perasaannya mengatakan hubungan mereka tak biasa, tapi ia belum bisa menemukan buktinya. Bahkan sampai keduanya pergi dengan motor Bing dan memperhatikannya dari jauh.


Ken akhirnya menemukan bioskop yang diceritakan Mira lewat arahan gadis itu. Ia memarkir motor dan mereka duduk di tanah rerumputan di samping motor Bing. Mira membelikan makanan dan minuman dan mereka makan sambil menonton bioskop.


Layar yang besar dan penonton yang kebanyakan membawa mobil, menikmati makan mereka di dalam mobil, tapi Ken dan Mira cukup puas dengan duduk di atas tanah berumput liar sambil menonton film di udara terbuka. Untung sekali cuaca cerah hingga keduanya bisa nonton sampai film berakhir. Mereka kemudian mengantri keluar dengan motor untuk pulang.


Di tengah perjalanan, Ken sempat melihat rombongan mobil hitam di sebuah pertokoan elit. Dari mobil-mobil itu keluar rombongan pria dengan jas hitam dan ada satu pria paruh baya dengan kaca mata hitam keluar kemudian. Pria itu sepertinya adalah pimpinan mereka yang kemudian dikawal masuk ke dalam sebuah restoran mahal.


Ken hanya melihat sekilas lalu menatap ke depan. "Eh, kamu tinggal di mana sekarang, Mira?"


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2