
Ken merangkak di saluran udara. Saluran itu lebih panjang dari yang ia pakai untuk latihan tapi kali ini ia berusaha untuk tidak gegabah. Sepatu olahraganya menimbulkan bunyi saat bergerak sehingga ia berusaha untuk berjalan hati-hati untuk meminimalisir bunyi.
Setelah melewati saluran udara yang berbentuk kotak, ia kini melewati pipa yang ukurannya sama dengan saluran udara itu. Setelah lama merangkak, ia bertemu persimpangan. Ken menyentuh earphone di telinga. "Eh, aku bertemu pertigaan," bisiknya.
"Dua-duanya mengarah ke sana," sahut Devan.
Heh ... kenapa tidak bilang saja yang mana, biar aku mudah bekerja, hah, benak Ken sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Devan, pilihkan jalan yang mudah baginya," ujar Irish dari belakang. Ternyata wanita itu juga memantau pekerjaan Devan.
Devan mengurut jalurnya satu-satu. "Yang sebelah kanan. Pilih yang sebelah kanan."
"Kanan ya?" Pemuda itu belok ke kanan. Namun ia terkejut karena bertemu tikus yang sama terkejutnya hingga binatang itu melompat. "Ahk!" Dengan segera Ken menutup mulutnya.
Kembali penjaga musium itu mendengar sesuatu. Ia kembali menyorot ke atas. Terdengar suara tikus mencicit dan suara barang terjatuh. Lalu suara mencicit itu bergerak seperti berlari berpindah tempat.
"Ah, sialan! Tikus rupanya." Pria berpakaian satpam itu kemudian bergerak ke arah lain.
Ken masih menutup mulutnya karena mendengar suara pria itu. Haruskah aku bersyukur bertemu tikus atau bagaimana? Ia menghela napas kasar.
"Ken, kenapa kau tak bergerak?" tanya Devan. Ia ternyata bisa melihat pergerakan pemuda itu yang berhenti di depan sebuah pipa panjang.
"Oh, aku bertemu tikus. Jantungku masih berdebar kencang." Ken menyentuh dadanya.
Sebaliknya Devan malah tertawa.
Irish menempeleng pria itu dari samping karena mentertawakan Ken. "Kerja yang serius!"
Pria itu berdehem sebentar dengan wajah serius sebelum melanjutkan. Ia sedikit gengsi, dimarahi seorang wanita cantik yang sedang memantau pekerjaannya. "Sebaiknya kau teruskan saja langkahmu, Ken."
__ADS_1
"Iya." Lalu Ken mulai merangkak lagi hingga bertemu lorong pipa yang lebih kecil. Pria itu mengambil napas dan membuangnya perlahan. Ia memasuki lorong itu dengan merayap.
Benar memang, lorong itu sangat kecil hingga tubuh kurus pemuda itu saja yang bisa melewatinya. Ken yang sangat benci tempat sempit seperti itu, berusaha melawan ketakutan dengan menghadapinya.
Dengan bercucuran keringat, pemuda itu melewati lorong yang lumayan panjang sampai akhirnya ia menemukan saluran udara yang lebih besar di persimpangan. "Eh, aku menemukan perempatan."
"Terus saja, Ken. Permata itu sudah dekat," sahut Devan dari dalam mobil.
Pemuda itu merangkak ke depan. Sampai ia menemukan sebuah lubang angin di bawahnya yang tertutup besi penyaring udara. Ia mengintip dan melihat permata itu tepat di bawahnya.
"Ken, kau berdiri tepat di atasnya," sahut Devan.
"Iya, aku sudah lihat," bisik pemuda itu. Masalahnya permata itu dikelilingi penjaga, tidak seperti yang diberitakan. "Tapi, permata itu dijaga oleh para tentara."
"Apa?" Devan hampir terlonjak dari kursinya. "Ini tidak mungkin. Ini tidak seperti yang disiarkan."
Irish yang tengah melipat tangannya di dada pun terkejut. "Tidak mungkin. Kenapa tidak sama seperti yang diberitakan?"
"Jack!" Irish menoleh pada pria kulit hitam yang duduk di kursi depan.
"Ya, aku mendengarkan. Rupanya mereka memperketat penjagaan dengan cara mengirim misinformasi pada publik. Dengan begini, tidak akan mudah diketahui, sistem mana yang akan mereka pakai untuk pengamanan. Mmh, ini benar-benar cerdik." Pria itu melipat tangan di dada sambil menopang dagu.
"Jadi, kita harus bagaimana, Jack?"
Jack melirik wanita itu. "Katamu, Ken cerdas? Kita biarkan dia mengusahakannya sendiri. Sekarang kita bergantung padanya."
Irish yang khawatir kini menatap ke arah monitor.
Ya, Ken malah sedang berusaha membuka lubang angin yang berada di bawahnya. Ia mengeluarkan alat pembuka sekrup otomatis yang ujungnya bisa dibengkokkan sehingga bisa membuka skrup dari dalam. Pemuda itu berusaha bekerja dengan hati-hati agar benda itu tak jatuh ke bawah. Untung mesin itu juga tidak keras suaranya.
__ADS_1
Saat ia hendak membuka sudut yang terakhir, ia memegang besi penyaring udara itu dengan jarinya sehingga besi itu tak jatuh ke bawah ketika sekrup terakhir melonggar.
Ken menurunkan besi itu ke bawah sehingga ia bisa melihat secara keseluruhan, bagaimana keadaan di bawah. Ia melihat ada 4 orang penjaga berpakaian tentara, yang mengelilingi permata itu tapi mereka berdiri membelakanginya.
Ini sangat beresiko. Kalau ia ingin mengambil permata itu, ia harus mengambil dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Setidaknya ia harus mencoba karena sudah terlanjur sampai di sana. Ia tak mungkin kembali dengan tangan kosong atau Irish akan menghajarnya. Atau yang lebih buruk lagi, wanita itu takkan melepaskannya.
Ken mengeluarkan perekat seperti lilin lalu menempelkan penutup saluran udara itu di bagian luar pipa. Kini ia menatap ke arah bawah. Mudah-mudahan aku bisa mengambilnya tanpa ketahuan. Pemuda itu mengosok-gosokkan tangannya yang menggunakan sarung tangan sintetis berwarna hitam yang jarinya terlihat.
Pemuda itu mengeluarkan besi panjang dari punggungnya. Besi itu ditaruh melintang menempel di atas lubang angin. Ia kemudian memasang katrol dan tali di situ. Setelah terpasang kuat, juga pada tubuhnya, perlahan ia turun.
Di tengah jalan, Ken merubah posisinya menjadi terbalik dengan kepala ke bawah. Ia kembali menekan tombol dan turun. Tiba-tiba terdengar bunyi bel, membuat pemuda itu terkejut. Ia segera menekan tombol dan naik ke atas.
Dari arah depan datang seorang pria dengan pakaian militer yang terlihat berpangkat tinggi. Keempat penjaga itu memberi hormat padanya.
Pria itu berbicara dalam bahasa Arab dan entah kenapa Ken mengerti apa yang dikatakannya. Ia menyuruh keempat penjaga itu untuk beristirahat karena sebenarnya tugas jaga mereka berakhir jam sebelas tadi malam. Ia telat mengabarkan karena ia pun baru pulang dari bertemu raja Arab.
Ken masih bergelantungan menunggu tepat di bawah saluran udara. Saat para penjaga keluar, pria itu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu pengaman yang berjalan bergerak di dalam ruangan besar itu. Lampu itu disertai sensor yang langsung berbunyi bila sinarnya mengenai tubuh manusia.
Untung sekali pria itu tidak melihat ke atas sehingga keberadaan pemuda itu tidak diketahui. Ken menunggu hingga pria itu keluar dan menutup pintu.
Hahh ... padahal yang tadi lebih mudah. Sekarang lebih susah ... pemuda itu mengerucutkan mulutnya. Untung Irish pernah melatihku jadi aku punya bayangan, apa yang harus dikerjakan.
Pemuda itu fokus ke arah cahaya lampu yang bergerak dalam gelap. Sebenarnya lebih mudah melihat itu saat gelap dibanding saat terang sehingga ia dengan cepat bisa melihat pergerakan sinar lampu itu secara keseluruhan. Ia konsentrasi pada sinar yang menghalangi dari atas karena tercampur dengan sorotan sinar dari samping dan kemudian ia menemukan ritmenya. Ken bersiap turun.
Saat ia memutuskan untuk turun, ia turun tanpa jeda dan langsung mengambil permata itu lalu mengantunginya. Ketika ia menekan tombol naik, tali seperti tersangkut. Katrol di atas tak mau berputar. Ken, tentu saja panik!
___________________________________________
Yuk, kepoin novel yang satu ini.
__ADS_1