
Saat itu kuda Gojo datang bersama Mira. Ejiro membantu Ken berdiri.
"Hah! Ilmu yang aku pelajari susah payah telah dihilangkannya dalam hitungan detik," gerutu Ken. "Lebih baik jadi dokter saja. Ilmu seperti itu takkan hilang."
"Aku akan membantumu memulihkannya," sahut Ejiro berusaha menenangkan hatinya.
"Benarkah?" Ken memicingkan matanya. Ia menegakkan kaki tapi karena tubuhnya masih tertutup jangkar, ia tersandung dan jatuh. Seketika ia menghilang. Jangkar itu jatuh ke tanah tanpa ada siapapun di dalamnya.
"Lho ... Ken ke mana?" Pria bercodet itu menoleh ke arah Mira yang turun dari kuda.
"Dia sudah pindah dimensi," sahut gadis itu singkat.
"Lho, kenapa aku tak diajak?"
"Kak Ken selalu pergi sendirian. Kitalah yang mencarinya."
"Oh, begitu. Kalau begitu, tolong bawa aku bersamamu."
"Ok. Kita bisa pergi sekarang, Kak." Mira baru saja hendak beraksi ketika Ejiro menghentikannya.
"Tunggu, aku harus mengubur Sensei Odagiri dulu."
---------+++--------
Ken mengangkat tubuhnya dan menyadari ia tengah berada dalam sebuah kerumunan. Semua orang menatapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seorang wanita bule bertanya dalam bahasa Inggris. Ya, ia sekarang berada di lingkungan orang Eropa.
"Eh, tidak apa-apa. Pria itu berdiri dan merapikan pakaiannya. Ternyata ia kini kembali ke zaman modern, tapi tempat apakah ini? Ia melihat sekeliling. Belum selesai ia mengamati, sebuah suara memanggil namanya.
"Kenzie Brightman!"
Ken terkejut dan mencari sumber suara itu.
"Itu namamu ya?" tanya wanita bule tadi, tak yakin.
"Eh, iya."
"Itu, dicari petugas pendaftaran." Wanita itu menunjuk ke arah meja yang tengah dikerumuni banyak orang.
Di situ duduk seorang pria yang sedang mencari orang yang baru saja dipanggilnya. "Kenzie Brightman!" teriaknya sekali lagi.
"Eh, iya. Itu Saya." Ken bergegas mendatangi meja itu. Dalam hati ia bingung, ia tidak tahu tengah mengantri apa.
__ADS_1
"Ini tanda kamu lulus ujian masuk. Silahkan transfer uang pangkal dan uang semester. Seminggu lagi kuliah akan di mulai," terang pria Meksiko bermata coklat itu sambil menyerahkan kertas hasil ujian pada Ken.
"Apa?" Pria Jepang itu memeriksa kertas itu dengan seksama. Di situ ditulis bahwa ia lulus ujian masuk universitas itu pada bidang studi kedokteran, dan di situ ditulis pula ke mana ia harus mentransfer uang sekolahnya beserta jadwal masuk kuliah. "Kuliah kedokteran?"
Pria itu melihat bingung pada Ken. "Kamu ikut ujian itu 'kan? Tidak ada yang salah dengan datanya 'kan?"
"Oh, iya. tidak, tidak, tidak. Data ini tidak salah. Yei!" Pria Jepang itu meloncat kegirangan saking senangnya. Pada akhirnya ia bisa kuliah kedokteran. Sesuatu yang selalu dicita-citakannya sejak dulu.
Ken pun menepi. Kini ia bingung bagaimana caranya membayar uang sekolahnya. Walaupun ia punya harta tapi itu koin emas. Ia harus terlebih dahulu menukarnya ke bentuk uang biasa, tapi bagaimana caranya?
Perlahan ia melangkah keluar area kampus sambil berpikir tenang. Ia membiarkan kakinya melangkah ke sembarang arah hingga ia menemukan perempatan jalan. Pria itu berbelok hingga tanpa sengaja menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh.
"Ah!" Ken berusaha duduk dan menyadari yang menabraknya adalah seorang wanita. "Oh, Nona. Maaf!" Ternyata wanita itu adalah wanita bule yang diajaknya bicara tadi.
"Ah, kau ...." Sang wanita menunjuk wajah pria Jepang itu.
"Ah, Nona. Maaf." Ken segera berdiri dan membantu wanita itu berdiri.
"Namamu, Kenzie tadi ya?" ucap wanita itu ketika berdiri. Ia menyodorkan tangannya. "Namaku Rihanna Barrier. Panggil aku Hannon."
Ken menyambut tangan wanita itu. "Kenzie, kamu bisa panggil aku Ken."
Mereka bersalaman.
Ken terkejut. "O ... oh, aku minta maaf. Aku tadi tak sengaja menabrakmu. A-aku ...." Ia begitu gugup tak tahu harus bicara apa. Bisa-bisanya ia menabrak seniornya, apa ia ingin celaka?
Ah, tidak apa-apa." Wanita itu, penampilannya terlalu sederhana untuk orang yang bersekolah di kampus kedokteran, sebenarnya telah memperhatikan Ken sejak tadi. "Eh, kamu ada masalah? Bisa aku bantu?"
Ken sedikit bingung dengan wanita ini. Berambut panjang, sedikit urakan, tapi santai. Apa bisa dipercaya? Ia mencobanya. "Mmh, aku tidak punya KTP ...."
"Kau punya uang 'kan?" Matanya yang bulat kecoklatan seperti warna rambutnya tampak bersinar.
"Mmh?" Ia mengangkat satu alisnya.
"Kalau kau menginginkan sesuatu, harus ada imbalannya. Benar 'kan?"
"Oh, iya." Ken baru mengerti.
"Aku bisa membuatkan KTP palsu untukmu."
Ken terkejut. "Benarkah?"
"KTP-mu hilang 'kan?"
__ADS_1
"Oh, iya." Pria itu mengiyakan saja tebakan wanita itu.
"Ayo, ikut aku." Wanita itu membawanya kembali ke kampus. Mereka mendatangi pelataran parkir. Ternyata sang wanita punya motor dan dengan itu mereka keluar dari kampus menuju jalan raya.
Tak berapa lama, motor itu memasuki daerah komplek pertokoan di dekat pasar terbuka. Motor masuk ke dalam gang-gang sempit dan setelah beberapa kali belok, motor berhenti di depan sebuah toko di dalam gang sepi yang sedikit tertutup. Setelah dimasuki, ternyata itu adalah toko senjata api.
"Eh, aku 'kan ...."
"Wanita itu melirik Ken. "Sudah, ikut saja."
Ken akhirnya diam dan mengamati. Sang wanita menemui si penjual, seorang pria Itali dengan wajah putih pucat dan rambutnya yang putih walaupun ia belum tua benar. "Kamu butuh apa, Hannon?" tanyanya.
"KTP palsu, di tunggu," sahut wanita itu. Rupanya ia sudah biasa bertransaksi dengan pria ini.
Sang pria melirik Ken. "Buat dia 'kan?" Ia memiringkan kepalanya pada pria Jepang di hadapan.
"Ya, orang baru."
Pria Itali itu menatap Ken sejenak. "Ayo ikut aku." Ia masuk ke pintu belakang toko itu dan mendapati sebuah ruangan dengan barang-barang aneh di dalamnya.
Pria itu menurunkan gulungan kertas di salah satu dinding berwarna putih. Kertas itu menjadi latar untuk Ken berfoto di depannya.
"Saya foto dulu. Kamu diam di sini dan hadap ke kamera."
Hannon ikut-ikutan dengan merapikan rambut Ken dengan sentuhan jemari wanita itu. Kemudian foto diambil menggunakan kamera HP dengan latar belakang tadi. Setelah itu, sang pria bule membuat KTP dari data yang diberikan Ken.
Sambil menunggu KTP jadi, pria Jepang itu melihat-lihat barang yang ada di sana. "Apa ini?" tanya Ken mengangkat sebuah cetakan. Sepertinya ia bisa mengira-ngira cetakan itu.
"Itu cetakan emas batangan, tapi sangat jarang yang membutuhkan. Paling sering, perhiasan dilebur lagi jadi emas batangan ini."
Netra Ken membulat sempurna. "Oh." Ia menoleh pada pria bule itu. "Kau menjualnya?"
Manik mata pria bule yang berwarna abu-abu itu menatapnya. "Tidak. Kenapa? Tapi aku membuka jasa mencairkan emas hingga menjadi batangan."
"Koin emas seperti ini, bisa?" Ken pura-pura mengeluarkan sebuah koin emas dari saku celananya, padahal ia mengeluarkan koin itu dari telapak tangannya.
Hannon dan pria itu segera mengerubunginya.
Pria itu mengambil dan mencoba menggigit koin itu. "Ini asli," ujarnya.
"Benarkah, Phil?" Hannon menatap wajah pria bule itu lalu kemudian beralih pada Ken. "Kau punya koin emas?" tanyanya heran tak percaya.
"Tapi harus banyak. Kalau satu tidak bisa. Kau harus meleburnya sendiri," terang Phil.
__ADS_1