
Karena terlalu lama, wanita itu meletakkan gelas itu di atas kalung koin yang berada di tangan Ken. Mau tak mau, Ken harus segera sadar dari keterkejutannya dan menggenggam gelas itu agar tak jatuh karena pesawat sedang bergerak. "Oh, maaf."
Pramugari itu pergi dengan membawa kereta dorongnya. Ken masih bingung. Bagaimana caranya ia tiba-tiba bisa ada di dalam pesawat padahal baru saja ia bertengkar dengan anak-anak berandalan itu dan terjatuh dari lantai 4, tapi kini, ia berada di dalam pesawat?
Ia menoleh pada penumpang di sampingnya, seorang pria. Pria itu pun sedang melihat ke arahnya. "Bapak kenapa dari tadi bingung? Apa karena baru bangun?"
"Oh, i-iya." Ken menjawab seadanya. Ternyata ia duduk dekat jendela. Tepatnya, pria di sebelahnya itu.
Dilihatnya dari jendela kaca itu, awan berarak, tapi ada satu yang palingmengejutkan. Wajahnya. Wajahnya sedikit lebih matang dari usianya.
Pantas saja dari tadi orang-orang memanggil 'Pak', tapi ia kini siapa? Wajahnya tetap wajah dirinya. Ia berpakaian kemeja putih dengan sweater tanpa lengan berwarna biru di bagian luar.
Ken kembali melirik pria di sampingnya yang sibuk membaca sebuah majalah. Ia terkejut melihat tanggalnya. 7 November 1997. Padahal majalahnya terlihat baru. "Dapat dari mana majalah ini?"
"Dapat? Beli, Pak, sebelum naik pesawat. Lihat dong, ini tanggal sekarang." Pria itu memperlihatkan tanggalnya pada Ken.
Apa? Sekarang tanggal 7 November 1997? Yang benar saja! Aku melompat jauh ke belakang beberapa puluh tahun yang lalu? Bagaimana bisa? Aku pergi ke masa lalu? "Oh, maaf."
Ken kembali melihat sekeliling. Memang kalau dilihat dengan teliti ia menaiki pesawat model lama tapi masih terlihat baru. Rasanya aneh.
Orang-orang yang berada di sekelilingnya juga berpakaian yang sudah sangat ketinggalan jaman. Benarkah sekarang ia telah melompat ke masa lalu, tapi bagaimana caranya? Ia tidak melakukan apapun selain memejamkan mata dan ia telah berpindah.
Benar kata Ayah, aku bisa pindah menjelajahi waktu, tinggal aku harus mempelajari, bagaimana caranya aku pindah tadi.
Sambil berpikir, Ken menyimpan kalung itu dalam saku celana dan meneguk minumannya. Aku ternyata bisa membawa barang juga ternyata, seperti kalung ini dan ....
Tiba-tiba pesawat bergoyang. Apa ini? Beberapa penumpang terlihat waspada tapi kemudian kembali hening. Ken kembali berkonsentrasi. Sampai di mana tadi?
"Eh, maaf. Saya ingin ke toilet," ujar pria di sampingnya. Saat diperhatikan, wajahnya seperti keturunan India.
"Oh, ok." Ken memberi jalan.
__ADS_1
"Mungkin sebaiknya Bapak dekat jendela saja, tidak enak kalau saya bolak-balik ke toilet terus, mengganggu Bapak. Ini saja sudah yang ketiga kalinya saya ke toilet."
"Oh ya, tak masalah." Ken bergeser ke dekat jendela.
Kembali pesawat bergoyang, tapi sedikit halus.
"Pak, sebaiknya Bapak kembali ke kursinya karena sepertinya akan ada badai." Seorang pramugari datang memperingatkan pria itu.
"Cuma sebentar, Saya mau ke toilet."
"Cepat ya, Pak." Pramugari itu juga meminta para penumpang lainnya untuk memasang seatbelt.
Ken menurut. Tak lama pesawat kembali bergoyang. Pria itu belum juga kembali tapi guncangan tak berhenti. Riuh para penumpang panik sambil melihat situasi dan berpegangan pada apapun yang dapat menjadi pegangan.
Guncangan bertambah hebat dan akhirnya masker oksigen turun. Pria itu kembali seraya berpegangan pada tiap sandaran kursi penumpang yang dilewatinya. Ken baru saja memasang masker oksigen yang tergantung ketika pesawat mulai berputar dan berjungkir balik.
Ia menyaksikan sendiri pria itu terhempas ke atas, ke depan bahkan ke belakang. Ia berteriak minta tolong tapi tak ada satu pun yang dapat menolongnya.
Terdengar teriakan-teriakan ketakutan dari para penumpang. Ada yang berdoa dan yang histeris. Pria tadi melihat Ken dan meminta tolong saat ia bergelayutan pada salah satu bagasi atas yang terbuka. "Pak tolong aku!"
Aku ... apa aku bisa mati? Ah, biar aku coba nasibku ....
Ken dengan berani melepas maskernya. Juga seatbelt. Sambil berpegangan, ia mencoba berdiri di atas sandaran kursi dengan miring ke samping. Saat itu, pesawat hanya bergetar hebat tapi tidak berputar. Namun pada saat ia mencoba menggapai pria itu yang tinggal sedikit lagi ia raih, tiba-tiba pesawat menukik tajam ke bawah.
Kembali para penumpang berteriak histeris. Apalagi Ken yang tidak punya persiapan apapun. Saat getaran hebat berikutnya, pegangannya terlepas. Ia bergerak jatuh ke arah kokpit pesawat.
Sebelum sampai, pesawat terbelah tepat di tempat ia berada dan ia tertarik keluar pesawat. Barulah Ken bisa melihat dengan jelas, pesawat tergulung badai.
Ken tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri pun tergulung badai. Di dalam badai itu ia bisa melihat pesawatnya berputar-putar di antara barang-barang lain yang ikut diangkut badai. Ada rumah, mobil, sapi, kuda, berterbangan dan berputar bersama.
Ken melihat ke bawah. Inti pusaran. Ya, inti pusaran inilah biangnya. Kalau ia ingin menghentikan badai ini, ia harus merusak pusaran di bawahnya, tapi bagaimana caranya?
__ADS_1
Ia melihat sekeliling dan mencoba mengambil benda-benda kecil yang bisa diraihnya dan ia menemukan sebuah pintu mobil. Dengan cepat ia meraih pintu itu dan melempar ke bawah. Meleset, tapi badai sedikit terganggu geraknya dan mulai mengecil. Ken bersemangat.
Kembali ia mencari benda lain. Sebuah ban mobil. Ia kembali melempar ke bawah. Tak ada reaksi. Kemudian ... motor. Ia berusaha menahannya agar tidak ikut tertarik bersama motor itu. Dengan berusaha fokus, ia mendorong motor rusak itu ke bawah.
Apa yang terjadi? Motor itu jatuh tepat di tengah pusaran dan meledak. Badai itu kehilangan kekuatan berputarnya. Seketika barang-barang yang ikut berputar kini mulai terjun bebas jatuh ke bawah.
Kembali Ken yang tidak punya persiapan apa-apa, ikut jatuh. Sempat ia berada dekat dengan ekor pesawat sehingga ia berusaha menggapainya.
Di bawah terbentang gunung es. Sebelum jatuh ia akhirnya menggapai ekor pesawat tapi kemudian terpental saat pesawat terhempas di tanah bersalju. Ken terpental beberapa meter dari badan pesawat.
Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak, Ken membuka matanya. Kepalanya pusing. Udara cukup dingin karena ia terjatuh di atas salju yang dingin.
Ia coba menggerakkan tubuh dan mengetahui bahwa bahunya sakit. "Agh!" Rupanya ada batu di belakang punggung dan bahunya terbentur saat ia jatuh terlentang.
Adakah yang selamat seperti dirinya saat ini? Pria itu mencoba berdiri, tapi tubuhnya sempoyongan karena pusing hingga ia kembali jatuh di atas salju. "Aggh!!" Kembali bahu itu lagi yang terbentur menyebabkan pria itu kesakitan. Apa aku bisa menyembuhkan diriku sendiri bila patah tulang?
Kini Ken kesulitan berdiri karena pusing dan bahunya mungkin retak. Tidak adakah orang yang tinggal di sekitar sini?
Tiba-tiba saja ia teringat panti asuhan dan Pak Ryu, ayahnya. Betapa bahagianya dia dulu. Ayah, aku merindukanmu. Setetes air matanya jatuh melewati pelipis. Ia mulai menangis.
"Woagh!!"
Apa itu? Seketika Ken berhenti menangis. Suara itu berat dan keras. Terdengar seperti ada yang melangkah dengan berat di atas salju mendatangi tempat ia berada. Ken berusaha mencari sumbernya dengan hanya menoleh karena tak sanggup berdiri.
Tiba-tiba dari arah bawah terlihat sesosok wajah berbulu lebat berwarna putih yang tampak menyeramkan naik ke atas tempat ia berada. Tubuhnya ternyata besar sekali dan kini menatap ke arahnya.
Ahhh, makhluk apa ini? Ken panik.
____________________________________________
__ADS_1