
Ejiro melongo. "Kau bilang dia penjagamu? Dia anak kecil 'kan?"
"Dia memang lebih kecil dariku tapi dia sudah dewasa dan dia bekerja pada ibuku."
Pria bercodet itu hampir tak percaya. "Harusnya kamu yang menjaga dia bukan dia yang menjaga kamu."
Ken tak tahu harus bicara apa. "Kau benar, tapi ini kenyataan."'
"dia menjagamu...," gumam Ejiro. Sebuah kenyataan yang sulit dimengerti. "Apa kehebatannya yang tak kau bisa?"
Butuh waktu lama untuk pria berambut pendek itu menemukannya. "Dia bisa mencariku."
"Maksudmu?"
"Aku yang sering berpindah-pindah dimensi dan dia bisa mengikutiku."
"Benarkah? Apa lagi? "
"Mmh, dia bisa tahu apa yang akan terjadi kemudian sehingga dia datang menolong."
"Bantuan seperti apa?"
"Menunjukkan arah kemana harus pergi, menemaniku, memantau keadaan dan lain-lain."
"Tendengar seperti seorang teman, bukan seorang pelindung. Lagi pula hari ini dia malah dilindungi temanmu yang satu lagi." Ejiro menunjuk ke arah rumah itu.
"Itu karena wanita berengsek itu mengacaukan segalanya. Sekarang aku lega Gojo melindunginya."
"Wanita? Wanita siapa?"
"Lu ... ah, sudahlah, Aku malas membicarakanya." Ken kembali menatap ke arah jendela. Ia melihat sedikit bayangan gadis itu bergerak di jendela dan bertanya-tanya dalam hati. "Apa yang sedang dilakukannya?"
"Ken."
"Mmh." Pria berambut pendek itu sibuk menatap ke jendela.
"kau tahu Cia dan Chen Zen?"
"Anak Lian Luo."
"Iya." Pria bercodet itu mulai bercerita. "Aku tidur dengan Cia."
Ken menoleh heran. "Kau.... "
"iya," jawabnya menyakinkan Ken. Seketika pria berambut pendek sebahu itu menarik kasar kerah kimono Ejiro. "kau tidak memaksanya kan? Tidak melakukan trik keji padanya?"
"Apa maksudmu?" Pria bercodet itu tersenyum lebar. "Lagipula dia sendiri yang salah kamar. tadinya dia mencarimu, tapi karena bertemu denganku dia jadi tidur denganku."
Ken kembali menarik kasar kerah kimino pria bercodet itu. "jangan bohong, Ejiro gadis itu tidak serendah itu. Kau pasti telah menipunya. Memberinya obat tidur atau apa ...."
Ejiro menepis kasar tangan pria berambut pendek itu. "Justru Cialah yang berlaku curang. Dia sebenarnya mengirimi apel yang telah diberi racun dan dia berencana untuk memberikannya padamu."
"Tidak, itu tidak mungkin!"
"Kalau tidak percaya, kau boleh bertanya padanya, tapi aku rasa dia akan malu menjawabnya karena kau telah membongkar kejahatannya." Ejiro tertawa. "Dasar wanita. Aku tidur saja dengannya."
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan tidak lebih baik darinya, Ejiro!" bentak Ken.
"Kau ini aneh, aku menyelamatkanmu, kamu malah marah-marah padaku," ketus pria bercodet itu.
"Tentu saja aku marah. Kau membalas kejahatan dengan perbuatan jahat. Apa tidak sama kamu dengannya?"
"Aku tidak berbuat jahat, hanya memberikannya sebuah pelajaran. lagipula, kalau aku harus menikahinya, aku tidak masalah. Malah menerimanya. Tinggal Cianya saja mau atau tidak menikah denganku."
"Berarti kau tidur dengannya dengan memaksa gadis itu 'kan?"
"Hanya menghipnotisnya," ucap Ejiro pelan.
"Ejiro, itu sama saja kau telah memaksanya' kan? apa kau tidak kasihan kepadanya? Dia wanita lho!"
"Dan kamu? Bagaimana kamu dan Mira? Gadis itu masih terlalu kecil untuk dipekerjakan dengan pekerjaan berbahaya ini. Seharusnya kamu yang melindunginya, bukan dia melindungimu kamu paham 'kan?"
Ken seperti hilang kata. "Aku juga sebisa mungkin menolongnya. bukannya aku tak mengerti itu. Mira adalah tentara ibuku dan aku tak bisa merubahnya."
"Bisa, kau tinggal bilang saja ibumu untuk menggantinya dengan wanita lain yang lebih mahir bela diri dan bisa menolong tugasmu. Bereskan?"
"Eh, tidak boleh. Mira tidak boleh digantikan oleh siapapun!" Dengan serta merta pria berambut pendek itu menghalangi jendela.
"kenapa? " Ejiro bertanya setengah meledek karena ia tahu sebabnya.
Ken mencari kata-kata yang tepat. "Mmh ... mmh ... aku sudah terbiasa dengannya dan lagipula dari sejak awal, dia sudah menemaniku."
"Setia, maksudmu?" Pria bercodet itu menyatukan tangannya ke belakang.
"Begitulah."
"Eh, aku juga kadang membantunya. Bukan berarti aku tidak tahu itu."
"Oooh .... " Ejiro mendengarkan alasan Ken.
"Aku pria, harus jadi pelindung, bukan?"
"Benar sekali." Pria bercodet itu
mengangguk-angguk.
Namun Pria berambut pendek sadar. Ejiro tidak benar-benar mendengarkan. Pria bercodet itu beranggapan ia hanya mencari-cari alasan saja. "Sudahlah kalau tidak percaya."
Ejiro tertawa terkekeh.
"Kau tidak percaya padaku, 'kan? Yang pasti, aku tidak sepertimu."
Hei, jangan sembarangan bicara ya!"
"Itu benar adanya. Bagaimana kalau Cia hamil?"
"Aku bilang aku akan bertanggung jawab kepadanya."
"Bagaimana kalau dia tidak menginginkan kehamilan itu dan kau juga tak mencintainya?"
"Yang penting aku tanggung jawab, 'kan?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau suatu hari kamu bertemu dengan wanita yang kau suka?"
"kenapa kamu peduli sih? Aku saja tidak mau pusing soal masa depan."
"Apa kau yakin itu?"
Ejiro terlihat kesal. "Kau selalu merasa dirimu benar. Bagaimana kalau Mira menyukaimu?"
Saat itulah Ken terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. "Tidak mungkin 'kan? aku hanya menganggapnya adik dan dia tahu itu."
"Perasaan itu tidak bisa dibuat. Dia ada dengan sendirinya walau kau mau atau tidak mau. Dia berdiri sendiri dan tak bisa diperintah. Aku membiarkannya mengalir dengan begitu saja."
"Jadi kau mau bilang, kau juga menyukai Cia, begitu?"
"Iya."
"Cih.. " Namun ada rasa lega di dalam dada Ken. setidaknya Ejiro tidak main-main soal Cia.
--------+++---------
Ken kembali mengurus orang-orang yang kembali dari tugas penyisiran. Sisanya lega karena tidak banyak penduduk yang harus mereka bunuh. Sejauh ini pekerjaan telah selesai dilakukan dalam sehari dan ia merasa lega.
Seorang pengawal mendatanginya. "Tuan ken, Anda diundang untuk menghadiri makan malam di tempat Nona Mi La."
"Oya?" Netra pria berambut pendek itu berbinar. "Kapan?"
"Kalau anda sudah selesai anda bisa kesana sekarang juga."
"Tentu saja." Ken beranjak berdiri dan mengikuti pengawal itu. Setelah melewati lorong panjang dan keluar ke halaman belakang, mereka menuruni tangga dan mendatangi tempat itu.
"Nona Mi La, Tuan Ken datang."
"Biarkan dia masuk."
Pengawal itu membukakan pintu rumah itu.
Di sebuah meja dekat pintu, duduk gadis itu dengan Gojo disampingnya. 2 Orang pelayan diperintahkan gadis itu untuk menyiapkan makan siang untuk 3 orang. Ia menoleh pada pria dengan rambut berombak itu. Tidak lazim seorang Cina berambut berombak seperti Gojo.
"Gojo. kamu ikut makan bersama ya?" pinta Mira pada pengawal pribadinya.
"Oh, terima kasih, Nona."
"Kak Ken, ayo duduk." Gadis itu memberikan senyum cerianya.
"Aku tidak tahu kalau kita ternyata berada bersebelahan, Mira." Aku baru masuk kemarin ke rumah sebelah itu, tanpa tahu kaulah yang bertentangga denganku." Pria berambut pendek itu menarik kursi.
"Yah, yang penting kita ketemu sekarang. bagaimana kabar Kakak? Baik?"
"Iya." Ken menoleh pada Gojo. "Enak sekali pekerjaanmu, cuma sebagai penghubung," ledeknya.
Gojo tertawa. "Aku hanya menjalankan tugas."
"Oh, ya. Aku menemukan lagi orang yang seperti kita ...." Ken tiba tiba teringat Ejiro.
Mira meletakkan telunjuk di depan mulut. Kedua pelayannya telah kembali sehingga Ken harus menunda ceritanya. Pelayan itu menuangkan teh ke gelas mereka bertiga dan menyajikan makanan. Setelah itu, keduanya keluar.
__ADS_1
"Siapa lagi yang kakak temukan kali ini?" tanya Mira antusias.