Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Datang dan Pergi


__ADS_3

Gadis itu meniup sendok yang berisi bubur dan menyuapkannya pada mulut Ken.


"Ah, enak sekali. Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanya Ken sambil mengunyah.


"Tidak."


Ken melirik Miracle. "Apa kau yang datang bersama rombongan penyelamat itu?"


"Tidak juga."


"Lalu?" Dahi Ken berkerut.


"Aku mengikutimu."


"Mmh?" Pria itu menautkan alisnya. "Kau ... mengikuti makhluk itu?"


"Yeti."


"Apa? Yeti? Makhluk itu namanya Yeti?"


"Iya."


Ken melongo dan Miracle menyuapinya lagi. "Dari mana kau tahu tentang makhluk itu? Oh ... iya. Kau orang sini ya?"


"Bukan."


"Bukan?" Pria itu masih melongo melihat gadis itu, membuat gadis itu tersipu-sipu. Ken tahu apa yang dilakukannya, dengan memandangi pasti telah membuat gadis itu salah sangka hingga ia coba membenarkannya. "Eh, maksudku. Kau datang untuk ...."


"Untukmu."


"Eh?" Ken makin bingung. "Untukku? Maksudnya?"


Gadis itu hanya tersenyum.


Ken jadi salah tingkah. "Eh, sebaiknya kau tak usah berlama-lama di sini. Nanti makhluk itu, eh, Yeti maksudku, dia akan kembali."


"Makan saja Kak." Miracle kembali menyodorkan sendoknya.


"Tidak apa aku bisa sendiri. Agh!" Ken berniat mengambil alih mangkuk itu tapi kembali ia menggerakkan bahu yang retak itu hingga merasakan ngilu.


"Sudah, aku suapi saja Kak, nanti aku bantu bahunya."


"Bagaimana caranya, sedang bahuku retak." Pria itu menyentuh bahunya.


Miracle kembali tersenyum penuh misteri yang membuat pria itu sedikit heran dengan tingkah gadis itu.


Seusai makan, gadis itu memberi Ken minum dari botol yang diikat ke tubuhnya.


"Ah ...." Ken mengusap perutnya, kekenyangan. "Terima kasih ya?"


"Bagaimana dengan bahumu?"


"Mmh, rasanya masih sama." Pria itu melirik pada bahunya.


"Mau diobati sekarang?"


"Apa?" Ken menatap Miracle hampir tak percaya. "Tapi bahuku 'kan retak bukan memar. Re-tak." Pria itu sampai mengeja untuk memberi tahu.

__ADS_1


"'Kan kamu bisa menyembuhkan dirimu sendiri, Kak."


Kembali Ken terheran-heran menatap Miracle. "Bagaimana kau tahu itu? Eh, kau sepertinya lebih tahu dari aku. "


Wajah gadis itu terlihat berseri-seri dan tersenyum membuat Ken serba salah. Apa karena memandangi wajah gadis itu hingga gadis itu salah sangka dan tertarik padanya?


Ken selalu merasa bersalah setiap kali melihat wanita dan wanita itu terlihat senang menatapnya karena ia takut dengan apa yang akan terjadi kemudian. Kisah cinta lagi. Apalagi dikuatkan oleh ramalan yang diberitahukan oleh ayahnya waktu itu.


Miracle beralih menatap dinding gua. "Ah, Kakak bisa bersandar ke belakang Kak?"


"Apa?" Ken kemudian bergeser ke belakang di bantu Miracle hingga ia bisa bersandar.


"Yang retak bahu depan atau belakang?"


"Belakang."


"Sebelah mana?"


"Ini." Ken menunjuk bahu kanannya.


Tangan yang menunjuk itu ditarik Miracle ke belakang ke tempat bahu Ken yang retak. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di sana. "Pas di telapak tanganmu 'kan?"


"Eh, rasanya begitu." Ken masih kebingungan.


"Tahan ya?"


"Apa?"


"Tahan sakitnya, jangan ditarik tangannya."


Miracle mulai mengendurkan tekanan tangannya dan kemudian menarik tangan pria itu dari sana. "Sudah enakan 'kan Kak?"


Ken mencoba menggerakkan bahunya. "Iya sudah tidak apa-apa. Bagaimana kamu bisa menyembuhkanku?" Ia tercengang.


"Bukan aku, kan itu tangan Kakak sendiri."


"Tapi, bagaimana kau tahu aku bisa melakukan itu?"


"Apa Kakak sudah sehat?" Gadis itu mendekatkan wajahnya.


"Eh? Oh, hanya sedikit pusing, tapi sebaiknya kita keluar dari sini saja." Ken mencoba berdiri tapi ternyata ia harus berpegangan karena kepalanya masih pusing. Ia berpegangan pada Miracle. "Ayo kita keluar. Kau bantu aku."


"Kalau masih pusing sebaiknya Kakak minum obat, Kak. Aku punya obatnya."


"Tapi aku ingin keluar dari sini."


"Kakak jangan bingung. Nanti akan ada orang yang akan menjemput Kakak keluar dari sini."


"Eh, siapa?"


"Sudah, Kakak duduk dulu. Minum dulu obatnya." Miracle membantu Ken duduk dan mengeluarkan obat bubuk dari tas yang berada di pinggang. Ia menuangkan ke mulut pria itu bersama air dari botol miliknya. Ken meminumnya walau sedikit pahit.


"Tapi aku ingin keluar sekarang sebelum Yeti itu datang. Aku takut Yeti itu takkan melepaskan aku."


"Ya sudah, aku temani Kakak di sini ya?"


"Tidak, ini juga berbahaya untukmu." Ken terlihat panik. "Bagaimana kalau Yeti itu juga menahanmu?"

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu dengan senangnya memeluk tubuh Ken. "Ah, senangnya bisa bersama Kak Ken lagi."


"Mira." Ken menatap Miracle yang menyandarkan kepala pada dada bidangnya.


"Kakak tidur ya, Kak, biar cepat sembuh." Gadis itu mendongakkan kepalanya.


"Tapi ...."


"Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kok Kak, percayalah. Kakak tidur ya?"


"Bagaimana kalau ...."


"Kalau Kakak sudah sehat, kita bisa lari bersama dari sini."


"Mira ...."


"Tidur ya, Kak?"


Ken juga mulai merasa mengantuk dan terpaksa mau tak mau menuruti permintaan Miracle. Ia tidur di lantai gua dan gadis itu menyelimutinya dengan kulit binatang yang ia bawa untuk pria itu. "Tapi bagaimana kalau Yeti itu menyerangmu saat aku tidur?" Mata pria itu mulai sayu. "Aku tidak bisa menolongmu."


Miracle mendekatkan wajah mereka dan mengusap rambut Ken pelan. "Tidur ya, Kak. Aku di sini menemani Kakak hingga Kakak tidur."


"Mungkin, sebaiknya ... kau tak ada di sini." Ken mengucapkannya setengah sadar dan kemudian tertidur.


Ya, obat yang diberikan Miracle mengandung obat tidur hingga dalam sekejap pria itu sudah tertidur. Pelan-pelan gadis itu meninggalkan Ken dengan membawa mangkuk miliknya. Gadis itu kemudian keluar dari gua itu.


---------+++---------


Suara keras itu membangunkan Ken. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat sekeliling. Ia melihat makhluk itu tengah mendatanginya. "Mmh?" Ia berusaha duduk. Ternyata tubuhnya terasa ringan. Ia tidak lagi merasa pusing dan sakit di bahunya, tapi ke mana Miracle?


Saking bingungnya, Ken berdiri dan mencari-cari gadis itu dan ia tidak sadar Yeti terkejut melihat keadaan pria itu yang kini sudah sehat tak kurang suatu apapun. Yeti yang membawa buah-buahan untuk makanan Ken, menjatuhkannya karena terperangah.


Ken kemudian sadar, ia kini tengah berhadapan dengan makhluk yang bernama Yeti itu dan ia panik. Apalagi Yeti itu mulai mendekatinya.


"A-aku ... A-aku ...." Terpikirkan untuk lari, Ken menghindar ke samping dan lari, tapi ia kalah cepat. Yeti telah meraih kerah bajunya dan menariknya ke atas hingga Ken tergantung di udara. "Ah, maaf, tapi biarkan aku pergi!" teriak pria itu.


"Argggh!!!" Yeti terlihat marah dengan memperlihatkan wajahnya yang paling menyeramkan.


"Sudah kuduga," ucap Ken lemas.


Makhluk itu kemudian menurunkan Ken dan meletakkan pada dada kekar miliknya yang berbulu tebal lalu menjepit dengan tangan hingga pria itu tidak bisa berkutik. Ia kemudian membawa Ken keluar gua.


"Kita mau ke mana?"


Yeti hanya diam.


Ken bersyukur tidak ada Miracle saat itu karena bila gadis itu ada di sana, ia akan mengkhawatirkan gadis itu juga. Sekarang tubuhnya telah sehat, jadi ia dapat kabur kapan saja dari makhluk menyeramkan itu dengan menunggu Yeti itu lengah.


"Ah, Hai temanku Yeti!"


Teriakan itu membuat Ken menoleh. Ada 4 orang pria menghadang makhluk berbulu lebat itu.


"Arrgghh!!!" Yeti berteriak marah dan mendekap Ken.


___________________________________________


__ADS_1


__ADS_2