
Ken duduk di samping seorang gadis manis yang terlihat genit padanya. Namun ia resah duduk di sampingnya karena pakaian yang dipakai gadis itu terlampau ketat dengan buah dada yang terlampau besar. Ia hanya bisa membayangkan pria macam apa orang yang digantikannya ini.
Di seberang meja mereka, ada teman-teman gengnya yang duduk santai sambil melirik Ken seraya berdecak kagum dengan apa yang bisa ia peroleh. Padahal, kalau ditanya, ingin saja ia berikan gadis murahan yang berwajah lugu itu pada siapa saja, anggota gengnya yang mau mendapatkan gadis itu. Ia benar-benar gerah dengan tingkah laku Yukie.
"Ken, kamu kok matanya ke mana-mana? Lihat sini dong, Sayang," sahut gadis itu manja menakup wajah pacarnya. "Kamu mau minum lagi? Sini kutuang birnya."
Gaya centil gadis itu membuat Ken pusing memikirkannya tapi ia tak ingin hidup tak nyaman seperti itu. Ia harus tegas. Bukankah itu yang diajarkan ibunya padanya? Berjuang mendapatkan yang diinginkan. "Eh, maaf, tapi aku rasa aku tak ingin bertemu lagi denganmu."
Gadis itu mengerucutkan mulutnya sambil meletakkan gelas bir itu dengan kasar. "Kau sudah punya pacar baru ya?" Ia melipat tangannya di dada.
"Eh, bukan itu ...."
"Bohong!"
"Yukie."
Gadis itu langsung menangis membuat pemuda itu semakin bingung.
"Yukie." Ken memejamkan mata. Aku harus bilang apa lagi padanya, aduh .... "Daripada aku berbohong di depanmu, sebaiknya aku berterus terang 'kan?"
Gadis itu makin merengut. Bibirnya bergetar karena menahan tangis tapi tangannya bergerak cepat. Yukie menyiram kepala Ken dengan bir.
"Ah!" Pemuda itu gelagapan karena terkejut. Ia tak menyangka gadis itu nekat menyiramnya hingga basah kuyup, tapi ia ikhlas karena itu adalah bagian dari konsekuensinya.
Gadis itu meninggalkannya, sementara teman-teman geng malah menertawakannya. Ken kesal hingga keluar dari bar itu.
"Eh, Bos ... Bos!" Mereka mengejar pemuda itu.
Ken terus bergerak meninggalkan mereka.
"Bos, bos, jangan begitu dong! Kita kan cuma bercanda."
"Iya, cuma bercanda."
"Kalau kamu diposisiku, bisa tertawa?!" hardik pemuda itu.
Mereka semua diam dan tafakur.
"Sekarang ini aku sedang sibuk berpikir, kelanjutan sekolahku sesudah lulus SMA ini mau bagaimana? Aku gak mau jadi manusia sampah yang terbuang, jadi mulai sekarang aku ingin hidup serius. Terserah kalau kalian tak sepaham lagi, jadi aku bisa keluar dari pertemanan yang sudah tidak menguntungkan lagi bagiku." Setelah itu Ken pergi.
"Eh, jangan begitu dong, Bos," ucap Akibara.
"Iya, Bos. Kita 'kan teman." sahut Hideo.
__ADS_1
Yang lain menyahut setuju.
"Pokoknya, Bos mau apa, kita ikut, Bos," lanjut Hideo.
Yang lain mengiyakan.
"Tapi besok jadi 'kan tawurannya, Bos?"
Seketika, kepala Ken pening. Kenapa dia punya anak buah yang bodoh semua, hingga tidak mengerti apa yang sudah diucapkannya? "Eh, aku harus pergi dulu," ucapnya bergerak menjauh dengan tergesa.
"Mau ke mana, Bos?" tanya Hideo.
"Cari kerja, part-time."
"Ya, sudah, Bos. Semoga berhasil!" Hideo melambaikan tangan.
Huh, menyebalkan! Kenapa mereka tak bisa pergi jauh dariku?
Pemuda itu berjalan pelan menyusuri jalan aspal yang tak begitu lebar. Ia memandangi toko-toko kecil yang ada di sana. Sebentar ia berhenti. Dengan memantapkan hati, ia mencoba mendatangi sebuah toko kecil di depannya.
Awalnya memang tak mudah, tapi ia mencoba terus dari toko satu ke toko yang lain. Mereka semua menolak karena Ken berambut pink. Akhirnya ia membeli pewarna rambut hitam agar bisa melamar pekerjaan. Benar saja, ia mendapat pekerjaan di sebuah restoran sebagai seorang pelayan.
Betapa senangnya Ken kala itu, mendapat pekerjaan. Setiap pulang sekolah ia langsung pergi ke restoran itu untuk bekerja. Bosnya sangat senang karena Ken bekerja dengan sangat rajin.
Pemuda itu mengangkat plastik sampah yang sudah penuh dan menggantinya dengan yang baru. Ia kemudian mengikat plastik sampah yang sudah penuh itu dan dibawa ke belakang restoran. Di sana ada tempat untuk membuang sampah-sampah itu di wadah yang lebih besar.
"Bos, sudah selesai, Bos?"
Ken menoleh. Di situ sudah ada Hideo dan yang lainnya datang mengunjungi. "Ada apa?"
"Jadi gak, Bos, tawurannya? Mereka sudah menagih janji kita terus lho, Bos," sahut Hideo lagi.
"Aduhh." Ken menyentuh keningnya. "'Kan aku sudah bilang, aku ingin serius. Aku ingin bekerja bukan main-main lagi."
"Mereka juga serius, Bos."
Ken menatap Hideo dengan raut wajah bingung karena tak tahu lagi bagaimana caranya menerangkan bahwa ia sudah tidak ingin lagi mengurusi masalah tawuran itu. "Begini ya? Bisa gak, tawuran itu tanpa aku?"
Hideo terdiam sejenak. "Bisa. Ya, 'kan teman-teman?"
Yang lain mengiyakan.
Ah, ini aku yang bodoh atau mereka? Kenapa dengan cepat mereka mengiyakan? Ken menepuk bahu temannya itu. "Kalau begitu aku percayakan saja semuanya padamu. Katakan saja aku sibuk jadi tidak bisa memenuhi undangan tawuran itu, dan kamu bisa mewakiliku untuk tawuran ini, ok?" Ia menepuk-nepuk dada temannya itu.
__ADS_1
"Ok, siap."
Kemudian teman-teman gengnya itu pergi.
Ternyata sangat mudah mengusirnya ya, Ken menggeleng-gelengkan kepala. Ia kemudian membuang sampah yang dibawanya itu ke wadah tempat sampah yang lebih besar.
Lima belas menit kemudian, ia kembali membuang sampah keluar, tapi kali ini ada yang mencegatnya.
"Hei, Ken." Seorang pemuda berambut putih yang didirikan ke atas, menyapanya di pintu belakang. Ia bersama 2 orang lainnya yang punya model rambut yang mirip berada di kiri kanannya.
"Si-si-siapa?" sahut pemuda itu kaget.
"Masa kau lupa denganku? Kau belum memenuhi janjimu 'kan?" Pemuda berambut putih itu mendekatkan wajah mereka ketika bicara.
Ken membulatkan matanya saat wajah pria itu mendekat. "Eh, janji apa ya?"
Dua orang yang berada di kiri kanan pemuda itu dilirik untuk membawa Ken.
"Eh!"
Ken ditarik dan ia melihat di belakang pemuda itu, berdiri teman-teman gengnya, menunggu. "Eh, kalian ...."
"Mereka tidak mau karena kalau gak ada Bos, gak seru katanya," timpal Hideo yang melihat saja, Ken dibawa.
Ken dibonceng naik motor ke suatu tempat tanpa bisa menghindar. Teman-teman gengnya mengikuti dari belakang. Di tempat itu sudah ada segerombolan pemuda yang menunggu kedatangan mereka.
Kemudian mereka berkumpul dengan geng mereka masing-masing. Mereka membagi-bagikan senjata yang berbeda-beda. Ada pisau, kayu, besi, dan lain-lain seadanya.
"Tunggu!" Ken yang mendapat kayu dari Hideo menghentikan pembagian ini. "Kalau kita saling kenal, kenapa kita harus berkelahi?"
"Ya, biar seru saja."
"Kenapa tidak mengerjakan yang lain?"
"Apa?"
Ken berusaha berpikir cepat. "Membantu Nenekku di ladang, mungkin?"
"Kamu sudah gila ya? Kita preman bukan relawan!" bentak pemuda berambut putih itu bertelak pinggang.
Ken sedikit takut dengan pemuda berwajah garang itu.
Terdengar suara sirine mobil polisi. Seketika kumpulan pemuda itu melempar bawaannya ke tanah.
__ADS_1