
"Kerja di agen perjalanan yang kerjanya mengurusi perjalanan orang lain atau mengantar wisatawan. Nah, saat mengantar wisatawan itulah aku ketemu ibumu."
"Dan kalian menikah. Lalu tinggal di Bali?"
"Tidak. Dengan visa wisatawan, ibumu datang ke Jepang bersamaku."
"Dia masih di Jepang? Jadi aku bisa bertemu Ibu?" Ken hampir terlonjak.
"Itu aku tidak tahu." Pak Ryu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lho, bagaimana ini? Bagaimana cara aku tahu itu Ibuku? Aku tidak tahu wajahnya. Bagaimana, apa Ayah punya fotonya?"
Pak Ryu menggeleng.
"Jadi?"
"Ia bilang padaku bahwa ia akan datang menemuimu bila sudah saatnya."
"Sudah saatnya? Apa dia tahu wajahku?"
Pak Ryu menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Aku hanya manusia biasa, bukan dewa."
Ken menghela napas panjang dan menunduk. "Ayah ... katanya mau membantuku tapi kau sama sekali tidak membantuku tapi malah membuatku bingung."
Pak Ryu kembali tertawa. "Maaf Kenzie, tapi aku harus menyampaikan walau cuma sedikit karena informasi ini akan sangat kau perlukan nanti bila aku tiada."
Ken terkejut dan langsung menyentuh tangan Pak Ryu. "Ayah! Jangan bilang Lord Z akan membunuh Ayah."
Pak Ryu tersenyum simpul. "Sebenarnya kaulah yang pergi Ken, karena kau akan mencari Yumi. Iya 'kan?"
"Aku mencari ke mana? Aku tidak tahu ke mana mereka pergi," gumam Ken.
"Kau akan menemukannya."
"Caranya?"
"Menembus waktu."
"Menembus waktu?" Ken coba berpikir tapi ia tak juga mengerti. "Maaf Ayah. Mungkin aku murid paling cerdas di sekolah tapi untuk hal ini, aku benar-benar tidak mengerti. Maksud Ayah bukan time travelling kan?"
"Iya. 'Kan artinya sama."
Ken terperangah. "Bagaimana caranya?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu Ken aku benar-benar tidak tahu tapi kaulah yang akan mengerjakannya nanti."
"Kata siapa?"
"Kata peramal."
"Siapa sih sebenarnya yang meramal aku?" ucap pemuda itu mulai kesal.
Seorang dewa yang aku tidak tahu namanya. Saat kau tercebur di kolam dan diselamatkan, ia menyebutkan ramalan tentangmu padaku."
"Apa saja yang dikatakannya?" Walaupun kesal, Ken penasaran.
"Bahwa nanti akan ada banyak orang-orang baru sepertimu dengan genetik setengah dewa dan ia akan merajai dunia dan kau adalah pemimpinnya, tapi jalan hidupmu berliku penuh dengan air mata dan perjuangan tapi pada akhirnya kau takkan terkalahkan. Kau akan menguasai masa lalu, masa kini dan masa depan."
Ken menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengetuk-ngetuk kening. "Ini bukan makin sederhana tapi makin membingungkan."
Pak Ryu tersenyum. "Kuncinya ada pada Lord Z. Kau harus mengalahkannya terlebih dahulu baru kau bisa mengalahkan yang lainnya, dan kau harus menyelamatkan pacarmu, dan itu semua di mulai saat usiamu menginjak 20 tahun."
"Tapi Yumi bukan pacarku Yah. Di sinilah aku ragu dengan ramalan itu."
"Kalau begitu, temukan Yumi untuk memastikan hal itu."
"Duh, aku cari di mana lagi, tukang sulap sialan itu!" Ken mengacak-acak rambutnya.
Pak Ryu memandangi Ken tapi kemudian tiba-tiba ia mendekapnya. "Sebentar lagi, aku akan kehilanganmu. Entah kapan lagi kita bisa bertemu, atau mungkin tak akan pernah ...." Ia mendesah pelan, kemudian mengeratkan pelukan.
"Ayah ...."
Pak Ryu segera melepas pelukan. Terlihat kedua matanya memerah. Ia harus pasrah dengan takdir yang harus dijalani anaknya. "Mungkin sudah cukup waktu kita bersama ya?"
"Ayah ...." Entah kenapa Ken juga merasakan hal yang sama. Seperti akan pergi jauh ... Tiba-tiba ia berdiri. "Ah, sudahlah. Aku tidak tahu!" Ia segera melangkah ke luar ruangan.
"Ken!"
Namun pemuda itu tak menjawab. Ia terus saja keluar.
"Kamu mau ke mana?"
"Mencari udara segar."
"Ini sudah sore. Jangan pulang terlalu malam, aku masak nasi kari." Pak Ryu mengingatkan. Nasi kari adalah kegemaran seluruh anak panti karena saat itulah mereka bisa makan daging dan kuahnya sangat enak. Kalau telat datang, makanan akan dihabiskan oleh anak-anak yang lain.
Ken tak mengatakan apa-apa kecuali keluar tanpa pamit.
__ADS_1
Ia menelusuri jalan yang dilaluinya tanpa henti. Tak tahu ke mana melangkah, hanya mengikuti suara hatinya saat itu. Lurus, berbelok, menaiki tangga hingga pada akhirnya ia mendatangi sebuah gedung terbengkalai. Ia menaiki tangga hingga lantai 4. Dilihatnya orang lalu lalang di bawahnya.
Gedung itu kerangkanya sudah terpasang tapi dindingnya baru beberapa. Ken duduk di sisi pinggir yang tak berdinding. Ia menurunkan kakinya hingga menjuntai ke bawah. Sambil melihat pemandangan orang yang berlalu lalang di bawah, Ken mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Kalung dari koin miliknya yang sempat dipakai Mimi.
Mimi, kenangan indah bersamanya takkan pernah bisa dilupakan. Gadis kecil kesayangan hatinya telah dengan sadis dibunuh oleh Lord Z. Padahal gadis itu tak bersalah. Dialah manusia terkutuk yang telah membuat semua orang-orang baik terbunuh dan hidup sial. Kenapa tidak dia saja yang mati, bukan mereka. Ken menitikkan air mata.
Dengan segera ia menghapus air mata di pipi. Bekas pukulan Reo tadi membuat pipinya sebelah kiri lebam dan sedikit ngilu bila disentuh.
"Hei, mau apa kau di sini hah? Mau cari mati?"
Ken terkejut dan menoleh.
Ada Reo dan Tano sedang berdiri di belakangnya. Pemuda itu segera berdiri. Kedua pemuda lawannya itu membawa sebilah kayu yang mereka ayun-ayunkan dan tangkap dengan tangannya yang lain.
"Kalian mau apa?"
"Ya balas dendamlah! Kau yang menyebabkan kepalaku seperti ini 'kan? " Reo menunjuk kepalanya yang diperban.
"Tapi aku 'kan hanya menolong temanku, dan kalian memanfaatkannya."
Reo tertawa mengejek. "Lantas kenapa? Kau MENGGANGGUKU, BODOH!"
Ia mulai menyerang dengan kayunya dan Ken bisa menghindari tapi tidak dengan serangan kedua. Ketika pemuda itu memukul mundur Ken, pemuda itu jatuh ke arah dinding yang terbuka itu. Ia jatuh ke bawah.
Saat itu, Ken pasrah. Ia menggenggam erat kalung koin itu dan memejamkan mata. Lama ia menunggu. Kenapa ia belum juga jatuh ke dasar? Apa ia langsung mati?
Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menyentuh bahunya. Ken membuka mata. Seorang wanita cantik tersenyum padanya. Seorang wanita Eropa. "Tuan, ini jus jeruknya. Tadi 'kan minta?"
Ken mengerut kening. Ia ada di mana sekarang? Di surgakah? Pemuda itu menatap sekeliling dan makin heran. Ini tak mungkin. Sekarang aku ada di dalam pesawat?
"Tuan, ini minumnya." Wanita itu kembali mengingatkan.
Anehnya, wanita itu berbicara dalam bahasa Inggris tapi ia mengerti sepenuhnya. Ini sungguh luar biasa. "Ini kita sekarang ada di mana?"
"Kita sekarang berada 35.000 kaki di atas Tibet."
"Tibet, berarti bukan surga ya? Eh, Tibet?" Ken tercengang mengetahui hal itu.
"Iya, benar. Ini pesawat menuju India. Anda tidak salah naik pesawat 'kan, Pak?" Pramugari itu bercanda seraya tersenyum manis padanya.
Ken salah tingkah. "Eh, iya." Tangannya bergerak mengambil gelas plastik yang disodorkan pramugari itu, tapi kemudian ia menyadari, tangannya masih berisi. Ia membuka telapak tangannya. Kalungku? Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sebenarnya bermimpi atau apa, tapi kalung ini ada di tanganku, kalung koin ini dan aku bisa merasakannya.
___________________________________________
__ADS_1