
Permaisuri masuk ke kamar raja ketika Ken tengah berpakaian dibantu para dayang. Seketika para dayang menoleh. Ratu mengibaskan tangannya membuat dayang-dayang itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
Permaisuri mendatangi Ken dan merapikan pakaiannya. Setelah itu memeluknya dari belakang. Pria itu risih tapi tak bisa berkutik karena adanya ikatan perkawinan di antara mereka.
"Sayang, kamu jangan lama-lama ya? Adinda sedih kenapa Kakanda pergi ke negri Cina," ucap wanita itu lembut di telinga. Cahaya matanya yang indah redup karena sedih.
Walau Ken tak berani menyentuh tangan wanita itu, tapi ia ikut merasa sedih melihat sang wanita makin merana ia tinggalkan. Namun meninggalkannya adalah demi kewarasan dirinya dan menjaga setia pada Mira.
"Iya, eh ... aku takkan lama." Ken segera menjauh karena tak ingin berlama-lama dalam pelukan sang ratu. Ia mengambil pedang dan ratu memasangkan topinya.
Wanita itu menarik wajah sang pria dalam tangkupan tangannya sambil menyatukan wajah mereka dengan mata terpejam. Ken sedikit terkejut tapi ia maklum. Seorang istri mana yang mau ditinggal dalam waktu lama seperti saat ini. Pria itu jadi berkeinginan ingin menikah dengan Mira secepatnya. Ingin merasakan bagaimana teduhnya tinggal bersama. "Aku pergi dulu ya?"
"Mmh." Sang ratu melepasnya dengan mata yang berkaca-kaca membuat Ken salah tingkah.
Keduanya kemudian keluar ruangan dan bergerak menuju selasar. Di sanalah raja di tunggu oleh pasukan dan Mira. Ken sedikit canggung di depan wanitanya karena datang dengan ratu. "Eh, semua apa sudah siap?"
Mira mengangkat pedang sambil memberi penghormatan. "Sudah siap, Yang Mulia."
Raja pun naik kuda beserta Mira dan pasukan. Mereka berangkat dengan diiringi wajah sedih sang ratu. Selama perjalanan, Ken tak banyak bicara. Ia hanya melakukan hal-hal yang formal saja karena keberadaan mereka diiringi para pasukan kerajaan beserta pengawal raja. Hingga sampai saat jam makan siang, mereka mampir ke sebuah rumah makan karena mereka sudah sampai ke pinggir kota.
Raja memilih meja di salah satu sudut ruangan. "Eh, siapa namamu?" tanya raja menunjuk Mira.
"Saya, Baginda?" tanya wanita itu mendatangi meja Ken.
"Iya," jawab pria itu singkat. Ia tak tahu nama Mira saat itu.
"Mi Lang, Yang Mulia," ucap tentara Cina itu sambil memberi hormat.
"Eh, Mi Lang. Temani aku makan di sini," sahut Ken sambil melihat situasi. Ia dikepung pengawal kerajaan yang coba menjaganya di sekeliling. "Oh, kalian makan saja. Tidak apa-apa," ujarnya pada para pengawalnya.
__ADS_1
Para pengawal itu kemudian mundur teratur dan mulai mencari tempat duduk di meja berbeda. Saat itu, Ken merasa lega karena mereka tidak terlalu dekat menjaganya hingga ia bisa leluasa makan bersama Mira. Wanita itu mengambil tempat duduk berseberangan dengan Ken. Mereka kemudian memesan makanan dan kemudian menunggu.
Sang Raja mencondongkan tubuhnya pada Mira sambil berbicara dengan berbisik. Ia juga melihat situasi agar tidak ada yang curiga. "Mira, eh ... kamu tidak cemburu pada ratu 'kan?" Rupanya Ken sangat khawatir dengan pandangan sang wanita pada dirinya.
"Mmh, tergantung," ucap Mira dengan wajah datar. "Apa yang kamu lakukan padanya semalam?"
Ken masih berusaha waspada dengan melirik kanan kiri. "Mira, demi dewa langit, aku tidak melakukan apapun. Kami bahkan tidak sekamar sama sekali," ucapnya penuh penekanan. "Biarlah langit runtuh menimpaku bila aku berbohong kepadamu, Mira."
Wanita itu senang mendengarnya. Ia hanya menguji Ken, walau tahu pria itu takkan mendekati wanita kalau wanita itu menyukainya. Mira pura-pura cemberut. "Kamu 'kan juga dewa. Berbohong tidak masalah, 'kan?"
"Ya ampun, Mira. Demi apapun aku sanggup berjanji. Aku tidak mau kehilanganmu, Mira. Tolong, percayalah." Ken bahkan dengan berani, menggenggam tangan wanita itu yang berada di atas meja.
"Kak Ken ...," Mira memperingatkan sambil melirik kanan kiri dan menarik tangannya. Nada suaranya dibuat serendah mungkin.
Kini Ken yang tampak cemberut. Ia sedih karena wanitanya tak percaya padanya. Harus bagaimana lagi ia menerangkan pada Mira agar wanita itu percaya?
Makanan kemudian datang, tapi tampaknya Ken tak begitu berselera makan. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya dengan sumpit.
Mira jadi serba salah dibuatnya. "Eh, sudah. Lupakan saja."
"Kau tak percaya padaku." Ken masih ngambek. Bibir bawahnya menggulung dengan wajah tertunduk.
"Baiklah, aku percaya. Kita akan bicara lagi nanti malam ya?"
Dengan cepat wajah pria itu beralih senang. Ia mulai tersenyum. "Kita akan cari tempat yang bagus. Di hutan di tepi sungai atau danau, kita berkemah. Bagaimana?"
Mira tersenyum malu-malu dan mengangguk. Entah kenapa, semakin hari sang wanita semakin dewasa tapi Ken di hadapan Mira malah seperti anak kecil. Seusai makan siang mereka kembali berangkat.
Ketika menjelang malam, mereka memasuki hutan. Butuh waktu lama hingga mereka menemukan sebuah danau. Kemah pun di bangun tapi itu hanya untuk raja, sedang yang lainnya tidur mengelilingi api unggun.
__ADS_1
Ken tidak tega melihat Mira harus tidur di antara para tentara dan pengawal. Malam juga makin larut. Akhirnya ia menurunkan perintah bahwa tentara Cina itu akan menjaganya di dalam tenda, sedang di luar akan dijaga oleh para pengawal. Walau begitu, Mira melakukan tugasnya. Ia duduk di dekat pintu tenda.
"Mira, kenapa kau di sana? Ke sinilah. Di sini ada selimut dan kasur empuk untukmu," panggil pria itu.
"Tapi Kak Ken tadi suruh aku jaga di dalam, 'kan?" Wanita itu merangkak mendekati Ken yang berada di tengah-tengah tenda yang cukup besar itu.
"Maksudku, agar kamu tidak tidur di luar dengan para pria itu," Ken menyodorkan selimut.
Mira menatap sang pria dengan dahi berkerut. Ia kemudian menepis pipi Ken pelan sambil tersenyum lebar. "Bilang saja kamu mau tidur denganku."
"Astaga, Mira. Tak pernah terpikirkan olehku untuk melakukan hal itu!" terangnya sungguh-sungguh tapi kemudian pria itu meralatnya ketika wajah Mira jadi merengut. "Eh, bukan aku tak mau tapi aku tak mau curang. Kita akan melakukannya saat kita telah menikah nanti."
Dilihatnya wanita itu masih merengut. "Bukankah seharusnya begitu?"
Tiba-tiba wajah Mira berubah tersenyum manja. Ia menyentuh dada bidang Ken dengan jemarinya pelan dengan sedikit genit. "Bagaimana kalau sekarang saja?"
"Hah?"
Wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang sang pria dan mulai mengecup bibir pria itu. Wajahnya penuh dengan kegembiraan. Namun karena kaget, Ken mendorong pelan wanita itu menjauh. "Tu-tunggu dulu. Apa kau yakin?"
Mira tersenyum tersipu. "Aku mau," jawabnya malu-malu sambil tertunduk.
"Tapi bagaimana kalau kakakmu tahu, aku telah menidurimu?"
Jemari wanita itu kembali menyentuh kerah kimono sang pria dan mulai menggesernya. "Bagaimana kalau kau buat aku hamil? Dia pasti mau tak mau menyetujuinya." Mira mulai menyusupkan jemarinya di antara sela-sela kerah Kimono yang terbuka itu dan merasakan kulit tubuh Ken yang hangat.
"Dan kalian pikir, aku sebodoh itu?"
Keduanya menoleh dan terkejut melihat Ejiro yang tiba-tiba sudah ada di dalam tenda itu.
__ADS_1