Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Pelarian Yang Sia-Sia


__ADS_3

"Kak, Kak Ken ...," pinta gadis itu tapi pria itu tak peduli karena ia sibuk mengintip keluar. Masih ada orang yang mondar-mandir di koridor membuat pria itu bingung membawa keluar gadis itu.


Aku harus lari lewat mana? Kemudian ia terpikirkan untuk turun lewat beranda, tapi di sana juga sedang ramai. Ia bergerak ke arah tempat itu. Di luar dugaan, kereta yang membawa jerami itu kembali lewat dengan membawa jerami yang tinggal sedikit hingga Ken dengan cepat menarik gadis itu dan menjatuhkan diri ke sana.


Gadis itu hampir berteriak kaget karena Ken bertindak spontan tapi dengan sigap pria itu membekap mulut gadis dan memeluknya guna melindungi saat jatuh. Ken menjatuhkan diri dengan keadaan tubuhnya berada di bawah. "Ah ...."


Untung, jeraminya sedikit tebal hingga jatuhnya tidak begitu sakit. Perlahan pria itu melepas bekapannya sambil berbisik di telinga gadis itu. "Sudah, kamu jangan teriak ya, sebentar lagi kita akan keluar dari tempat ini."


Deru napas yang keluar dari mulut Ken ketika bicara menggetarkan daun telinga gadis itu sekaligus membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan. Ini sudah yang ke berapa kalinya dan pria itu tidak juga sadar, telah membuat suasana hati gadis itu keruh. Berjuang menahan rasa, sementara melepas tak juga rela.


Tubuh gadis itu menindih Ken, tapi pria itu masih tetap mendekapnya karena menunggu kereta itu melewati pintu gerbang. Saat itu, kehangatan tubuh pria itu membuat gadis itu enggan bergerak, seakan bila ia bergerak, pria itu akan segera melepasnya.


Saat mendekati pintu gerbang, pelukan Ken makin erat saja, seolah ia ingin mengatakan bahwa ia sanggup melindungi dirinya demi apapun, dan pikiran yang telah menterjemahkan secara serampangan arti gerakan pria itu mampu melumpuhkan gerak gadis itu hingga menikmati tiap debar yang tersisa di dada. Menikmati hingga tak mau pergi.


Tiba-tiba kecupan hangat menyentuh kening gadis itu. "Tunggu sebentar lagi, kita akan bisa bebas," bisik Ken lagi.


Kenapa setelah lama tidak bertemu, aku pikir rasa itu telah pergi, tapi tidak. Rasa itu hanya bersembunyi, dan keluar malu-malu saat bertemu lagi denganmu. Kenapa semua buntu saat setiap kali bertemu denganmu? Semua buntu. Hanya kamu dan kamu lagi yang mengusik di pikiran ini. Mira, sadarlah, kau sedang bekerja ... "Eh, Kakak. Sebenarnya Kakak tidak perlu menolongku karena ibumu yang akan menolongku."


"Apa?" Seketika pria itu menggulingkan tubuhnya ke samping dan kini menindih gadis itu. "Kenapa kau tak bilang?" bisiknya lagi.


Kini wajah keduanya saling berhadapan. Ken kembali mengagumi wajah baru gadis itu dan gadis itu masih menyimpan rindu.


Pintu gerbang dibuka dan di saat yang bersamaan, seorang pria berteriak dari balkon kamar Mira. "Hei! Seseorang membawa kabur perempuan itu di atas kereta!"


Karuan saja, Mira dan Ken menoleh. Pria itu membebaskan gadis itu dari jubah itu dan keduanya melompat turun ke tempat yang tidak ada penjaganya hingga mereka bisa kabur. Mereka dikejar-kejar oleh para penjaga.


Sambil berpegangan tangan, keduanya berlari menyusuri keramaian, gang-gang sempit, bahkan saat melewati sebuah jemuran, Ken masih sempat mengambilkan pakaian yang cukup panjang seperti dirinya agar Mira memakainya.

__ADS_1


"Untuk apa ini?" tanya Mira heran.


"Agar tidak gampang terlihat."


"Tapi bagaimana dengan kepalaku?" Kepala Mira yang bertumpuk banyak perhiasan adalah problem berikutnya.


Ken memberinya selendang. Mereka kembali berlari dan di saat-saat tertentu mereka berhenti untuk melihat situasi.


Di suatu kafe di pinggir jalan besar, seorang pria bule tengah menikmati sebatang cerutu. Dihisapnya dalam-dalam cerutu itu sambil kepalanya penuh dengan pikiran yang menggantung. Di mana aku bisa merekruit orang seperti ini? Rasanya sulit mencari orang yang sempurna.


Ia kemudian berdiri dan meninggalkan kafe itu. Di saat ia keluar, ia melihat sepasang pria dan wanita sedang saling serang dengan orang-orang yang mengelilinginya. Yang lelaki mempunyai jurus ilmu bela diri hingga mampu menghadapi lawan sedang yang wanita atau lebih tepatnya gadis itu, punya kemampuan untuk bertahan.


Pria bule itu menyaksikan pertarungan itu yang mulai berat sebelah itu. Ia memanggil orang-orangnya yang berada di mobil untuk turun dan mengikutinya. Ketika pria Jepang itu mulai kepayahan, anak buah orang bule itu yang datang menolong.


Ken sangat bersyukur ada orang yang tiba-tiba datang menolongnya mengalahkan orang-orang Arab itu, tapi yang ia tidak tahu, setelah mengalahkan orang-orang Arab itu, orang-orang bule itu malah menyergap dirinya dan Mira sesuai perintah bule itu kemudian.


"Hei, apa yang kau lakukan?" teriak Ken.


Pria bule yang berumur sekitar 40 tahun itu tertawa. "Kau pikir segala sesuatu di dunia ini gratis, heh? Kau sempurna, kau bisa bahasa Inggris dengan fasih. Kalau begitu, kau ikut aku ke Rusia."


"Tapi bebaskan gadis itu!" teriak pria Jepang itu.


"Justru gadis itu menjadi jaminannya." Pria itu kembali tertawa.


"Tunggu, hei!"


Ken yang sudah kelelahan diikat dan dibekap dengan sapu tangan, mulutnya. Begitu juga Mira. Keduanya kemudian dibawa dengan mobil yang berbeda.

__ADS_1


Kala itu, mobil sangatlah langka karena itu tidak banyak yang memiliki dan bentuknya masih sangat sederhana. Hanya orang kaya saja yang memiliki mobil, jaman itu.


Ke Rusia memakan waktu yang cukup lama melalui darat tapi pada akhirnya sampai juga. Setibanya di kota itu, mobil kemudian berpisah. Ken tak bisa berbuat apa-apa ketika mobil yang membawa Mira, pergi ke tempat lain. Keinginannya untuk menyelamatkan gadis itu malah membuat keduanya berakhir dengan terjebak di tempat lain. Sungguh, ini benar-benar sial yang tak berkesudahan.


Mobil membawa Ken dengan mata tertutup ke tempat lain dan pria itu pasrah. Ia merasakan ketika mobil itu sampai ke suatu tempat dan ia dibawa masuk ke tempat itu. Ia didudukkan di sebuah kursi dan penutup matanya dibuka.


Terlihat sebuah tempat yang gelap yang ia sulit untuk melihat kecuali yang ada di dekatnya. Ada sebuah meja di depannya dan pria itu ada di seberang meja itu duduk di kursi seperti dirinya. Sebuah lampu di atas mereka terlihat redup sehingga pencahayaan terbaik hanya pada mereka berdua.


"Aku akan memasukkanmu ke sebuah rumah seorang bangsawan. Di sana kau akan bekerja sebagai seorang pelayan."


"Pelayan? Untuk apa? Aku tak butuh pekerjaan itu. Begini saja. Aku Akan carikan orang lain untuk pekerjaan itu."


Pria itu langsung tertawa yang tawanya membahana ke seluruh ruangan.


Ken mengerut dahi. Apa ini rumah yang kosong? Kenapa bergema?


Kata-kata pria itu berikutnya, mencuri perhatiannya. "Untuk apa aku susah payah menculik orang dari Mesir ke Rusia hanya untuk mendapatkan seorang pelayan yang bodoh, mmh? Apa kamu tidak pikirkan itu?"


Pria Jepang itu kini mengerti. Ada hal lain yang membuat ia dan Mira diculik yang berarti ini bukan pekerjaan yang disukai semua orang. Orang yang paham pasti akan berusaha menghindarinya.


"Aku memintamu untuk bekerja di sana sampai aku menurunkan perintah."


"Perintah apa?"


"Perintah untuk meracuni seseorang."


"Apa?"

__ADS_1


__________________________________________



__ADS_2