
Ken mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah besar itu. Walaupun bentuknya seperti rumah klasik Cina tapi terlihat mewah dan megah. Ia terus saja mengikuti pria itu hingga kembali keluar ke taman belakang. Ternyata di belakang sana terletak beberapa rumah-rumah kecil lainnya.
Menteri itu tiba-tiba berhenti dan berbalik, membuat Ken hampir saja menabraknya.
"Ah, maaf."
"Oh, tidak." Pria berjanggut panjang itu tertawa lepas. "Kau lucu juga anak muda." Kemudian ia memutar tubuhnya menghadap rumah-rumah yang berada di belakang bangunan utama. "Yang itu kediaman anak perempuanku jadi kau akan menempati kediaman yang berada di bagian barat." Tunjuknya pada kiri kanan taman belakang.
"Baik, Menteri." Pria muda itu menganggukkan kepala.
Menteri itu kemudian meninggalkannya.
"Eh, tunggu."
Pria berjanggut panjang itu berhenti dan berbalik.
"Eh, maaf. Aku ingin kembali pulang untuk mengambil pakaian."
"Aku rasa itu tidak perlu. Pakai saja yang ada di sana. Semua telah tersedia."
"Oh, baiklah."
Pria berjanggut panjang itu kemudian meneruskan langkahnya dan Ken menundukkan kepala. Setelah pria itu pergi ia malah kebingungan, pasalnya sebagian pengawal masih tinggal bersamanya. "Eh, aku mau ke sana dulu ...," ucapnya bingung pada para pengawal itu.
"Mari sini Saya tunjukkan jalannya, Tuan." Seorang pengawal maju mendekat.
"Oh, iya." Sedikit canggung, pria berambut pendek itu kemudian mengikuti pengawal itu.
Setelah menuruni tangga, mereka mendatangi rumah yang berada di sebelah barat. Mereka menaiki beberapa anak tangga, lalu pengawal itu membukakan pintu rumah. "Silahkan masuk, Tuan."
Ken masuk. Ia melihat ruangan besar itu. Ruang itu lebih mirip kamar dibanding sebuah rumah. Ruang kamar yang besar yang berisi ranjang, meja di dekat pintu masuk lalu lemari pakaian dan sebuah meja pendek dekat sebuah dinding. Di bagian tengah sengaja dikosongkan sehingga ruangan terasa luas.
Ketika pengawal itu keluar, pria itu mencoba merasakan ranjang yang empuk dengan duduk di tepi tempat tidur. Wah, mewah sekali tempat ini. Aku punya kamar ini sendiri? Beda dengan kamarku di rumah Odagiri yang harus bersempit-sempitan tidur bersama Ejiro. Di sini aku bisa tidur di ranjang besar sendirian.
Ia kemudian memeriksa lemari pakaiannya. Ah, hanya ada pakaian orang Cina. Kata Sensei, aku harus bangga jadi orang Jepang, tapi baju gantiku tidak ada di sini ... bagaimana ini?
Tak sengaja, Ken menoleh ke arah jendela yang ditutup gorden tipis berwarna putih. Dari kediaman rumah sebelah, jendela mereka saling berseberangan. Walau begitu, jarak antar kedua gedung itu cukup jauh sehingga sulit untuk melihat isi rumah. Apalagi, kediaman anak Menteri Pertahanan itu dijaga ketat oleh beberapa pengawal.
Terlihat siluet seorang wanita dibalik gorden tipis di seberang sana. Sepertinya wanita itu berdiri dekat jendela. Gorden itu sesekali bergerak karena ditiup angin.
Terdengar suara wanita itu bersenandung. Walau tidak jelas tapi suaranya sangat enak didengar, membuat siapa saja yang mendengarnya ingin mendekati tempat itu dan melihat wajahnya.
Cantikkah wanita ini? Ah, apa yang kupikir. Sebaiknya aku tidur saja. Pekerjaanku pasti banyak besok pagi. Ken kemudian beranjak ke pembaringan.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dan seorang gadis masuk. "Maaf, Tuan. Apa Anda butuh bantuan?" Rupanya seorang pelayan.
__ADS_1
"Oh, tidak ada."
"Apa Tuan ingin mandi atau dibantu berpakaian?" Gadis itu bergerak maju.
Tentu saja Ken terkejut dan bergerak mundur. "Eh ... tidak, tidak, tidak. A-aku mau tidur."
"Oh, begitu, Tuan." Gadis itu menunduk. Ia kemudian mengundurkan diri.
"Eh, tunggu."
Pelayan itu berbalik dan menatap pria itu. "Iya, Tuan?"
"Eh ...." Ken hanya tak ingin melihat gadis itu kecewa. "Tolong buatkan aku teh hangat pagi-pagi ya?"
"Ah, baik, Tuan," jawab gadis itu dengan senyum ceria. Baru saja gadis itu akan berbalik, Ken kembali memanggilnya.
"Apa aku bisa mendapatkan pakaian Jepang ya?"
"Ah, nanti akan aku tanyakan." Kembali gadis berambut panjang itu menjawab dengan senyum lebar.
"Terima kasih."
Gadis itu begitu gembira karena baru pertama kalinya ada majikan yang mengucapkan terima kasih padanya. Ia bergegas keluar dengan senyum yang tak lepas dari wajah cerianya. Ken lalu membaringkan tubuh di ranjang dan mulai memejamkan mata.
------------+++------------
Ejiro masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ken. Ia menemukan di atas ranjang, ada sebuah apel yang diletakkan di tengah-tengah. Pria itu tersenyum. Apa gadis itu salah meletakkan 'hadiah'?
Malam mulai larut dan seseorang masuk ke dalam kamar itu dari pintu depan dengan berjingkat-jingkat. Orang itu memperhatikan seseorang yang tertidur di ranjang, tapi karena lilin sudah dimatikan ia hanya mengandalkan cahaya dari jendela yang terbuka. Ia mendekati ranjang. "Kak Ken."
Gadis yang memakai hanfu tipis menerawang itu, naik ke atas ranjang dan menelusuk masuk ke dalam selimut karena wajah pria itu tertutup selimut. Namun saat ia masuk ke dalam selimut, pria itu bergerak dan menghadapnya. Betapa terkejutnya ia, pria itu bukan pria yang diharapkan ada di atas ranjang. Ia hampir saja berteriak jika saja pria itu tidak membekap mulutnya.
"Hei, jangan berteriak. Kau mau semua orang lihat kau di mana?" bisik pria itu.
Gadis itu bingung mendengar pernyataan Ejiro.
Perlahan pria itu membuka bekapannya. "Kau mencari Ken ya?"
"Iya."
"Kau salah kamar."
"Ah, sialan. Bodohnya aku." Cia mengomel. Ia melakukan itu agar tidak kalah dari Chen Zen, adiknya.
"Kau menyukai Ken?"
__ADS_1
Gadis itu menatap wajah pria itu. "Iya."
"Kau tidak menyukaiku?"
"Oh, maaf." Mata gadis itu menyipit.
"Kau yakin?"
"Mmh?" Bola mata gadis itu kini membulat sempurna.
Saat itulah, Ejiro menghipnotisnya. "Tatap mataku dalam-dalam. Apa kau yakin kau tak menyukaiku?"
"Mmh ...."
"Lebih dalam lagi. Kau yakin kau tak menyukaiku?"
"... entahlah."
"Jauh dilubuk hatimu, pasti ada rasa itu. Apa kau menyukaiku?"
"Rasanya ... iya."
"Apa kau juga mencintaiku?"
"Mmh ...."
"Coba sebentar, kau rasakan ciumanku." Ejiro mencium gadis itu dengan lembut. Namun kemudian semakin bergairah untuk melakukan lebih. Gadis itu hanya diam tak melakukan tindakan apapun. Tangan nakal pria itu mulai menggerayangi tubuh ranumnya. "Apa kau mau tidur denganku?"
"Iya."
"Kau tak menyesal?"
"Iya." Cia bagaikan patung yang didoktrin untuk patuh. Ia diam saja saat Ejiro menindih dan menghimpitnya, dan jadilah itu malam panas bagi mereka berdua.
Malam semakin kelam hingga suara-suara desah itu meramaikan malam di kamar itu. Suara lolongan anjing, tak lagi menakutkan. Hingga menjelang pagi dan pria itu kelelahan.
Dini hari ia mendengar Cia terbangun. Gadis itu mengumpat dengan berbisik, lalu berpakaian cepat dan pergi dengan diam-diam. Ejiro hanya tersenyum lebar dan kembali tidur.
----------+++----------
Pagi itu, pelayan Ken telah membangunkannya dengan bau teh segar. Ken segera membuka matanya dan melirik ke samping. Karena melihat gadis itu, pria itu buru-buru terduduk dari tidurnya. "Ah, ya. Aku lupa ...."
Tentu saja, karena ia terkejut melihat ada seorang gadis berada di dalam kamarnya. Ia lupa bahwa ia kini berada di rumah Menteri Pertahanan.
Gadis itu tersenyum melihat tingkah Ken yang seperti anak kecil. Pria itu mengucek-ngucek mata sambil menurunkan kakinya ke lantai. Ia menguap dengan menutup mulutnya. "Pagi."
__ADS_1
"Pagi, Tuan." Lucu bagi gadis itu, karena baginya Ken seperti memperlakukan dirinya sebagai seorang teman. "Ini tehnya, Tuan, masih hangat. Apa, Tuan mau mandi, biar aku siapkan air hangatnya?"