
"Eh, berhenti di sini saja," ucap pria bule itu pada Ken.
Pria Jepang itu menepi. "Kau mau ke mana?"
"Aku tidak tahu. Eh, sudah. Biarkan aku di sini," ucap pria itu dengan suara serak. Itu menandakan tubuhnya makin lemah.
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, ia takkan tega melihat orang yang ditolongnya belum ia selamatkan tapi sudah ia tinggalkan di pinggir jalan. Itu juga melawan hati nuraninya yang tak tega melihat pria muda itu berjuang sendirian, sedangkan ia sendiri adalah calon dokter.
Ia memeriksa kanan kiri dan melihat sebuah motel tidak jauh dari situ. Ken kemudian berdiri. Ia melepas jaketnya yang berwarna hitam. "Kau pakai jaket ini. Kita akan ke motel itu saja."
Mendengar itu, pria bule itu menurut saja. Walaupun ia sedikit membungkuk karena perutnya yang terluka, ia bisa mengenakan jaket pria Jepang itu tanpa bantuan. Ken kemudian membawa pria itu ke sana.
Dengan mengancingi jaket Ken dan menggunakan celana jeans hitam, tak ada yang mengetahui kalau pria itu terluka. Di tambah bekas darah di tangan ia hilangkan dengan mengantongi tangannya di saku jaket.
Ken pun memesan kamar di sana. Setelah lolos, ia membawa pria itu ke kamar yang telah disewa.
"Kenapa temanmu itu?" tanya penjaga penginapan ketika melihat pria bule itu jalan tertatih.
"Oh, dia sakit. Rumahnya jauh jadi terpaksa menginap di sini." Ken berbohong.
"Oh, begitu. Tak jauh dari sini, hanya beberapa blok saja, ada apotik yang buka 24 jam. Kau bisa ke sana membeli obat untuk temanmu itu."
"Oh, terima kasih, Pak. Saya akan coba ke sana."
Sang pria Jepang membawa pria itu ke kamar dan mendudukkannya di kursi. Ia duduk di kursi di hadapan dan membuka kancing baju jaket yang dikenakan pria itu. "Jangan takut, aku adalah mahasiswa kedokteran. Mudah-mudahan aku bisa menolongmu."
Mendengar ucapan Ken, pria muda itu terlihat lega. "Apa aku bisa mempercayaimu?"
Ken melihat luka di perut pria itu yang masih mengalirkan darah. Ia kemudian membuka kemeja pria itu dan melilitkannya pada pinggang pria itu sendiri. Ia menekannya di bagian luka bekas tembakan itu.
__ADS_1
"Ah ...." Pria bule itu sedikit membungkuk karena kesakitan.
"Maaf tapi tekan bagian sini. Ini untuk mengurangi darah yang mengalir." Ken kemudian berdiri. "Aku pergi sebentar, tapi percayalah, aku akan kembali. Jadi rilekskan tubuhmu agar tak tegang."
Pria bule itu menatap punggung Ken yang melangkah keluar ruangan. Mmh, aku ingin lihat apa aku bisa mempercayainya. Kalau bisa, aku akan memanfaatkannya.
Dua puluh menit kemudian, sang pria Jepang kembali. Ia membawa beberapa bungkusan plastik di tangan. Ia kemudian mulai memeriksa luka pria itu lebih teliti lagi.
Rupanya luka tembak itu tembus hingga ke punggung yang berarti pelurunya sudah keluar. Tinggal bagaimana mengakali lubang bekas luka itu agak tak terus mengeluarkan darah sebab wajah pria bule itu sudah tampak pucat.
Ia sebenarnya bisa saja menggunakan kemampuan dewanya untuk menyelamatkan pria itu, tapi itu berarti ia membongkar rahasia dirinya yang sedang menyamar jadi manusia. Oleh karena itu, ia berniat menjahit bekas luka itu agar bisa menghentikan darah yang masih saja keluar dari luka bekas tembakan itu.
"Maaf, sepertinya aku harus menjahit lukamu, tapi aku tak punya obat bius untuk menghilangkan rasa sakit saat dijahit."
"Lakukan saja, aku akan berusaha menahannya. Yang paling buruk terjadi, paling aku pingsan."
Ken melihat pria muda itu sudah pasrah. Padahal, ia masih sangat muda untuk mengalami hal-hal seperti ini. Mungkin usianya seumuran atau lebih muda yang entah kenapa, mengalami kesialan terkena tembakan di sore menjelang malam itu.
Pria Jepang itu menjahit bekas luka di bagian depan tubuh pria bule itu dengan hati-hati. Sang pria bule mengerang kesakitan hingga mencengkram lengan Ken, tapi pria Jepang itu membiarkan saja agar ia tahu tingkat kesakitannya.
Setelah 2 kali mengerang karena menjahit di dua tempat berbeda, depan dan belakang, bule itu sempat menyandarkan kepalanya pada bahu Ken karena lemas. Keringatnya bercucuran dari atas kepala sambil sedikit terengah-engah.
Mahasiswa kedokteran itu membiarkannya beristirahat sebentar, lalu setelah itu membersihkan luka, memberi obat lalu memasang perban di sekeliling pinggang Diego. Ia membaringkan pria itu di ranjang yang sudah ia alas jaketnya.
"Kau sudah makan?" tanya pria Jepang itu lirih.
Bule itu menggeleng lemah.
"Aku beli burger. Apa kau mau makan, sebab kau harus minum obat."
__ADS_1
Ternyata selera makan pria itu tidak berubah. Ia makan burger bersama Ken. Sambil duduk di atas ranjang mereka mengobrol.
"Kenapa kau tertembak?"
Bule itu melirik Ken yang duduk di sampingnya. "Kau takkan percaya kalau aku ceritakan, jadi tidak perlu cerita," ujarnya singkat.
"Mmh, peluru nyasar ya? Kenapa kau ada di sana?"
Pria bule itu menghentikan makannya.
"Maaf, mungkin kamu melewati hari yang buruk. Baiklah, aku takkan bertanya lagi."
Pria itu melirik Ken. Ia menyodorkan tangannya. "Namaku Diego. Terima kasih, kau telah menolongku, aku takkan melupakan itu."
"Aku Ken." Sang pria Jepang meraih tangan pria itu. "Tidak apa-apa, tidak masalah."
Setelah makan malam, Ken memberi obat untuk diminum lalu membiarkan pria itu membaringkan tubuhnya untuk tidur. Pria Jepang itu juga membaringkan diri di ranjang single yang satu lagi. Tidak butuh waktu lama, Kenlah yang tertidur lebih dulu karena ia sudah sangat kelelahan. Sedang pria itu ... ia beruntung menemukan Ken.
-------+++-------
Mentari pagi sedikit banyak telah membangunkan Ken karena sinarnya mengenai wajah yang lewat dari sela-sela gorden kamar itu. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah tubuh pria itu yang terbaring di ranjang sebelah dan pria itu masih tertidur. Bahkan cukup nyenyak karena terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.
Ken mulai teringat lagi tentang kejadian kemarin dan lega pria itu bisa tidur nyenyak setelah apa yang telah dilaluinya. Pasti sulit dan menyeramkan untuk pria semuda itu, mengalami penembakan brutal yang untungnya hanya sebutir peluru yang menembus kulitnya, tapi bagaimana kalau dalam jumlah banyak? Ken tak bisa membayangkan bagaimana rupanya, tapi pasti pria bule itu takkan selamat.
Ken mencoba duduk di atas ranjang. Ia sendiri cukup lelah kemarin, setelah begitu banyak kegiatan yang telah dilakukannya. Untung saja, hari ini hari sabtu. Ia tidak perlu pergi ke kampus, tapi ia tetap harus pergi ke rumah sakit karena masih ada 3 kali operasi lagi yang mesti ia lihat agar ia bisa menjadi asisten dosen Dokter Barnes.
Ken teringat sesuatu. Ia bergeser turun dari ranjang dan mendekati tas ranselnya yang ada di atas meja. Ketika ia membukanya, pria itu terbangun.
"Mmh, kau mau ke mana?" tanya Diego yang melihat pria Jepang itu membuka tasnya.
__ADS_1
"Oh, kau sudah bangun? Aku baru ingat aku bawa baju ganti di dalam tasku. Kau mau pakai? Aku pikir kita seukuran." Sang pria Jepang memperlihatkan kemeja lengan panjang berbahan flanel putih bergaris hitam dan merah.
Pria bule itu mencoba duduk ketika Ken melempar ke hadapannya.