
Wanita itu malah tertawa.
"Jangan bercanda! Aku benar-benar kaget, tau!" omel Ken, kesal. Ia menyelesaikan batuk dan rasa tidak enak karena air masuk sampai ke lobang hidungnya.
"Menurutmu?" Wanita itu masih tertawa.
"Lucille, aku tersedak," keluh pria itu.
"Kalau beneran bagaimana?"
"Lucille ...." Mulut pria itu mengerucut dengan dahi berkerut.
"Lho, aku 'kan gak bohong."
Ken memperhatikan lagi wajah wanita cantik itu dengan seksama. "Lalu kenapa kau tertawa?"
"Karena kau memang lucu, Ken." Wanita itu menutup mulutnya dan masih tertawa. "Kenapa saat aku menyatakan cinta, kau malah tersedak?"
"Karena aku kaget, tentu saja."
Lucille terlihat lebih serius dengan menghentikan tawanya. "Memangnya aku tidak cukup cantik, Ken, untukmu."
Pria itu kembali bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku menyukai orang lain."
"Siapa?"
"Eh, itu tidak penting," ucap pria itu dengan tatapan menghindar. Ia memang asal bicara.
"Kau bohong ya?"
Ken mengangkat bahunya. "Terserah mau percaya atau tidak." Ia kembali meminum cappucino-nya.
Lucille memperhatikan wajah pria itu. Ia mengambil cangkir tehnya. "Kalau aku menunggu, boleh?"
Pria itu kembali kebingungan dengan pandangan mata yang terpecah. "Kau ... tidak mengenalku. Kita baru saja bertemu. Apa bisa kekaguman disalahartikan dengan rasa cinta?" ucapnya bijak.
"Kau ternyata cerdas juga, tidak seperti yang terlihat dipermukaan. Benar sih, kita baru bertemu, tapi hatiku langsung bertaut padamu saat kita pertama kali bertemu."
Ken kembali menatap wanita itu. "Seyakin itu?"
"Iya, karena aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya."
Pria itu, yang hampir meminum lagi cappucino-nya, terhenti. Ia mencari jawaban yang tepat untuk menyudahi semua itu. "Aku ... kehidupanku rumit. Tidak seperti yang kau bayangkan."
"Kalau begitu kita hadapi sama-sama masalahnya."
"Ini tidak bisa aku bagi dengan siapa pun. Tidak akan."
"Kenapa? Berbagi itu mengurangi beban," bujuk wanita itu lagi.
Pria itu ingin menerangkan tapi sulit. Lagipula ia ingat pesan ibunya. Yang tertarik kehidupan dirinya yang asli hanyalah orang jahat. Sedang ia tak mau menerangkan pada Lucille karena baru mengenalnya, dan setelah tahu wanita itu menyukainya, ia makin tak ingin bercerita. "Sudahlah, tak perlu membahas tentang diriku lagi, itu tidak penting."
"Penting bagiku, Ken."
Ken menatap wanita pemilik sirkus itu. "Kamu bosku. Aku tidak ingin punya hubungan rumit dengan rekan kerja."
__ADS_1
"Kalau aku memodalimu untuk usaha, apa kamu mau memikirkan tawaranku tadi?"
"Bos ...." Ken mengiba.
"Ok, ok, tapi aku minta kau pertimbangkan ya? Kau pertimbangkan aku. Aku mungkin bisa memecahkan masalahmu, bila kau mau."
Itu tidak mungkin 'kan? "Eh, hari makin larut. Sebaiknya kita segera pulang."
Lucille pun setuju.
------------+++-----------
Bill masih tak percaya dengan yang didengarnya. Lucille pergi dengan Ken? Ke mana? Padahal, ia baru saja ingin mengajaknya pergi. Ia mendengar ini dari Bob. Pria itu duduk termenung sendirian di meja makan kayu sampai mendengar suara motor dari arah perparkiran. Ia sudah mengira-ngira itu Ken dan Lucille, dan benar saja. Keduanya datang hingga pria bule itu berdiri. "Lucille, kau dari mana?"
"Pergi dengan Ken," jawab wanita itu singkat dan tetap melangkah ke arah karavan miliknya.
Bill melirik ke arah Ken sekilas dan lalu mengejar wanita itu. "Lucille ...."
Pria Jepang itu menggaruk-garuk kepalanya. Waduh, pelatih apa menyukai Bos Lucille? Apa posisiku kini dalam bahaya? A-aku benar-benar tidak tahu. Apa Bill akan marah padaku? Seketika, tubuh Ken lemas. Ia tiada maksud menghambat kisah cinta orang lain. Ini terpaksa. Aduh, apa ia percaya? Pria itu kembali menggaruk-garuk kepalanya dan masuk ke karavan Bill.
Tak lama, Bill kembali. Ia tak mendapati Ken di dalam karavan. Ia kemudian menunggu di sana.
Tak butuh waktu lama, Ken kembali masuk ke karavan. Ia baru selesai mandi dan menggantung handuknya di leher.
"Eh, pelatih ...." Ia sedikit takut melihat pria bule itu tengah menunggunya. "Eh, maaf. Aku tadi pergi gak bilang." Hanya itu yang bisa ia katakan. Tentang hal yang lainnya, terlalu rumit untuk diucapkan. Ia hanya bisa menunduk dan berdiri di depan pintu.
"Kenapa kau di situ? Ayo, sini!" panggil pria bule itu.
Ken pun mendatanginya dengan kepala tertunduk. Ia tidak tahu kemarahan apalagi yang akan keluar dari mulut Bill tapi ia pasrah saja.
"Kenapa kepalamu menunduk begitu?"
"Maaf apa?"
"Maaf karena aku pergi tadi tidak bilang apa-apa padamu."
Pria yang duduk di kursi dan melipat tangannya di dada itu, sekali lagi memperhatikan pria Jepang itu. "Apa itu budayamu, menyesal dengan menunduk?"
Ken mengangguk.
"Tapi kini kau tinggal di Eropa dengan dikelilingi oleh banyak orang Eropa jadi tegakkan kepalamu!" ucap bule itu tegas.
Pria Jepang itu mengangkat kepalanya.
"Bagi kami, sangat penting berbicara dengan berhadapan wajah. Jangan menunduk seakan kamu sedang ditimpa kemalangan besar. Mengerti?"
Ken mengangguk.
"Nah, tadi kau ke mana dengan Lucille?"
Ken langsung merasa bersalah. "Eh, aku hanya mengikuti permintaannya, Pak. Dia katanya bosan berada di tempat sirkus terus." Apa dia percaya ya, tapi aku 'kan gak bohong.
"Mmh ... jadi hanya jalan mutar-mutar saja." Bule itu menggerak-gerakkan tangannya dan kemudian menggaruk-garuk pangkal leher.
"Iya, Pak."
__ADS_1
"Kau emh, tidak berhenti di suatu tempat, mmh?" kembali tangan bule itu di gerak-gerakkan.
"Aku tidak tahu jalan, jadi hanya pergi ke tempat kemarin Bing bawa aku. Di situ ada kafe dan sempat duduk sebentar."
Orang ini sangat jujur. Terlalu konyol kalau aku menanyakan semuanya. "Mmh, kalau begitu kamu sebaiknya tidur saja, karena besok pagi-pagi sekali kau harus bangun seperti biasa."
"Oh, iya, Pak." Ken kemudian meletakkan baju kotor dan handuk di samping ranjangnya dan kemudian ia bersiap tidur. Lega rasanya pria itu bertanya hanya sampai di situ, tapi kenapa?
Pria bule itu juga naik ke atas ranjang melewati tubuh Ken. Keduanya berbaring menghadap langit-langit. Untuk sementara mereka terdiam menikmati ke sendirian sampai Ken akhirnya kembali buka suara.
"Pak."
"Mmh."
"Kenapa Bapak gak marah aku pergi dengan Bos Lucille?"
"Memang kau pikir, aku suka padanya?"
"Lho, bukan begitu?" Ken memiringkan kepalanya ke arah ranjang pria itu.
"Iya, aku memang menyukainya." Pria bule itu berbaring dengan melipat tangan di belakang kepala.
"Lantas kenapa gak marah?"
"Bos kita 'kan memang tidak punya pacar."
"Maksudnya?"
"Dia masih orang bebas dan siapapun bisa bersaing mendapatkan hatinya."
"Aku tidak."
Bill sedikit terkejut mendengar pengakuan pria Jepang itu. "Sudah, tidur sana." Pria itu memunggungi pria Jepang itu.
"Mmh." Ken memiringkan kepalanya ke arah sebaliknya tapi kemudian ia berbalik lagi. "Pak, boleh aku bertanya lagi?"
"Tanya apa?"
"Kenapa nama Bapak, Bill, tapi Bapak lebih mirip orang Itali dibanding orang Amerika? Apa Bapak campuran?"
"Aku orang Italia asli."
"Lalu?" tanya Ken terkejut.
"Aku benci nama asliku."
Pria Jepang itu melongo, tapi ia tak berani bertanya lagi.
-----------+++----------
Ken bangun pagi dan menjalani rutinitas. Di meja makan ternyata banyak yang sedang mengelilingi Lucille seperti sedang membahas sesuatu. Ia ikut mendekat. "Ada apa?"
"Ah, Ken. Kau mau diramal?" tanya Lisa saat melihatnya.
"Apa?"
__ADS_1
___________________________________________