
"Apa ayah tidak ingin ibu sembuh?"
"Mmh, begini." Ayah Ken kemudian membawa ibu ke sebuah meja kecil. Ia menyiapkan makanan untuk istrinya, setelah itu ia membawa Ken menjauh. Hanya Mira yang menemani ibu makan.
"Ken, biarkan ibumu seperti ini," bisik ayah.
"Kenapa, Yah?"
"Mmh ...." Pria itu menelan salivanya. "Mungkin ayah egois, tapi ini keinginan ayah."
Ken masih belum mengerti dan memandangi sang ayah, sambil menunggu.
Ryu sedang memikirkan kalimat yang tepat tapi ia kesulitan. "Ayah bukan berniat jahat, Ken, hanya ... mmh, ayah ingin memilikinya."
"Aku tetap tak mengerti, Ayah. Kenapa ayah tak ingin Ibu sehat?" Lagi-lagi pria muda itu bingung dengan tujuan dang ayah membiarkan ibunya tetap gila.
"Eh, kalian 'kan berumur panjang sedang ayah tidak. Ayah ingin di sisa umur ayah yang entah berapa lama lagi, ingin tinggal bersamanya. Ibumu selalu sibuk, tak punya waktu untuk ayah tapi kalau sakit begini, ayah selalu bisa tinggal bersamanya, 'kan?"
"Tapi pikiran Ibu ...."
"Tidak apa. Ayah menerimanya. Karena dengan begitu, Ibu bisa bersama ayah terus, iya 'kan?"
"Ayah ...." Ken terharu mendengarnya. Pasti Ayah sangat rindu pada Ibu yang selalu bekerja setiap waktu. Hanya saat ini saja dia bisa memilikinya. Aku kini mengerti apa yang dikatakan Ejiro. Aku berjanji, takkan membuat Mira kesepian. Ia menepuk bahu sang ayah. "Kalau ayah bahagia, aku juga turut bahagia, Yah."
Ryu mengangguk. Terpancar kebahagiaan di wajahnya. Walaupun tugasnya cukup berat, tinggal bersama sang istri yang gila tapi itu pilihan satu-satunya agar ia bisa melihat istrinya setiap hari. Ken membuat rencana untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
-------+++--------
Ken akhirnya menikah keesokan harinya dengan membawa Dewi Sri serta ke kuil yang sama. Kali ini Dewa Matahari ikut datang bersama Ejiro. Keduanya heran dengan kondisi wanita itu yang dibiarkan gila hingga sang pengantin pria menceritakan apa yang terjadi.
"Kau sebenarnya bisa menyembuhkan ibumu, Ken, tapi ...." Dewa Matahari melirik Ryu di samping manusia setengah dewa itu. "Kita tunda saja. Demi kebaikan bersama."
"Terima kasih." Ayah Ken tampak senang, sang istri dibebastugaskan.
"Untuk sementara, pekerjaan dewi Sri akan dipegang anak saya, Ejiro."
"Terima kasih, Ayah." Ejiro tampak senang mendapatkan dirinya naik jabatan seketika.
"Tapi tetap aku akan memantaumu, karena kamu belum siap dilepas sendiri."
Pria berambut panjang dengan dikuncir satu ke belakang itu bahkan lebih bersemangat lagi karena akan sering bertemu ayahnya saat bekerja. "Baik, Ayah."
Ayah Ejiro menepuk-nepuk bahu anaknya pelan. Ia bangga, salah satu anaknya bisa membantu pekerjaannya.
__ADS_1
Ken melihat di kejauhan, Dewi Sri bisa dekat dengan Mira. Wanita itu sibuk menyentuh tusuk konde pengantin wanita karena penasaran.
"Mami, jangan ditarik tusuk kondeku, nanti kondenya lepas," cegah Mira.
Hanya pada Mira, wanita itu tak marah di panggil 'Mami'. Dewi Sri mengikuti ke mana saja pengantin wanita itu pergi. Bahkan saat dinikahkan di depan pendeta. Ryu dengan sabar menemani istrinya duduk di belakang anaknya. Ken tentu saja bahagia, karena semua orang yang dibutuhkan, menghadiri acara pernikahannya.
Setelah acara pernikahan usai, ayah Ken membawa istrinya serta untuk tinggal di panti asuhan. Anak-anak panti asuhan terkejut mengetahui wanita itu adalah istri pak kepala panti, tapi kemudian menerima wanita itu untuk tinggal di sana. Ryu merasa senang, apalagi, Dewi Sri gampang berbaur dengan anak-anak.
Ken dan Mira mendatangi hotel tempat mereka berbulan madu. Wanita itu sangat bahagia mengetahui keinginannya untuk menikah dengan pria pujaannya menjadi kenyataan. Ken pun tak kalah senang karena akhirnya ia menyadari, ia sangat mencintai wanita itu hingga tak bisa jauh darinya.
Mira duduk di depan cermin sambil melepas tusuk konde dan rambutnya, juga membersihkan make up. Ia melirik dari sudut matanya, Ken yang sedang memeriksa kopernya. "Kakak mau apa? Mandi?"
"Iya. Capek hari ini. Nanti malam 'kan kita mau merayakannya di panti asuhan. Aku mau tidur dulu, sebentar."
Sang wanita mendatanginya. Rambutnya telah digerai melewati bahu dan disandarkan ke samping. Ia merangkul lengan Ken.
"Apa?"
"Kok apa? Aku mau itu ...," wanita itu mulai merajuk lagi.
Mulai lagi deh, manjanya. Dia mau apa sih? "Kamu mau apa, bilang saja. Aku gak mengerti kamu bilang begitu," ujar pria itu terus terang.
"Ih ...." Mira menghentak-hentakkan kakinya. "Masa dikasih kode gak ngerti juga?"
"Apa?"
"Mira?"
"Apa lagi?" tanya Mira kesal. Rambutnya yang panjang, telah mengurung wajah mereka berdua satu sama lain.
Ken menatap wanita itu dengan lembut. Ia sudah mengerti. "Tidak apa-apa, Sayang. Sini." Ia mengangkat kepalanya hingga bibir mereka saling bersentuhan. Mereka meresapinya hingga tangan mereka bergerak sendiri.
Mereka saling membantu membuka pakaian dan menyatukan tubuh mereka. Keduanya saling mencurahkan kasih sayang dengan dengan caranya hingga lelah menghampiri. Saking lelahnya, Mira tertidur di atas tubuh suaminya.
Ken menarik selimutnya tinggi-tinggi menutupi tubuh keduanya. Setelah mengecup kening sang istri, ia pun tertidur.
-------+++--------
Waktu berlalu. Karena tuntutan dari Ejiro, Ken akhirnya mendirikan perusahaan yang membawahi beberapa rumah sakit dan restoran. Ia juga mengelola panti asuhan yang dipegang ayahnya sehingga banyak anak-anak yang terlantar bisa sekolah dengan layak. Ia juga dikarunia seorang putri cantik bernama Miyuki.
Hampir tiap hari Ken sibuk bekerja. Mira melihat Ken tidak bahagia. Begitu pula dirinya. Serasa ada yang hilang setiap pria itu pulang ke rumah. Pria itu sering pulang larut malam, dan langsung tidur bila sampai di rumah.
"Papa ...." Seorang gadis kecil berlari-lari masuk ke kamar orang tuanya yang mewah.
__ADS_1
"Sst!" Seorang wanita cantik menyuruh gadis kecil itu untuk tidak berisik. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang segera mendatangi gadis itu dan menggendongnya. Ia membawanya mendekati tempat tidur. "Lihat, Papa sudah bobok, sekarang Miyuki bobok ya?"
Ken terbaring dengan wajah lelah di ranjang, masih menggunakan pakaian kemejanya. Ia tertidur tanpa sempat berganti pakaian.
"Ya ... Miyuki dari tadi nungguin Papa, kok Papa bobok sih?" rengut gadis cilik itu.
"'Kan udah malem. Miyuki harusnya bobok 'kan?" Wanita itu mencolek hidung anaknya.
Gadis kecil itu menggulung bibir bawahnya. "Hem ...."
"Sudah, jangan seperti itu. Jelek wajahmu, mmh." Mira mencubit dagu si kecil dengan lembut. Kemudian ia membawa gadis itu ke kamarnya.
"Sudah, sekarang Mama saja yang cerita dongeng sebelum tidurnya ya?"
"Ya ... padahal Papa yang paling seru kalo cerita," gerutu si kecil yang berkuncir dua.
"Memangnya Mama tidak bisa. Mmh, jahat ...." Wanita itu kembali mencubit dagu Miyuki dengan pura-pura sedikit ngambek.
"Tapi Papa yang paling keren!" Gadis kecil itu mengangkat tangannya dengan bersemangat setiap kali berbicara tentang ayahnya. Sayang, waktu Ken sangat jarang bisa bersama keluarga. Walaupun mereka tinggal bersama tapi pria itu jarang ada bersama mereka.
"Ma."
"Mmh."
Gadis itu bangun dan duduk di samping ibunya di atas ranjang. Mira biasanya menemani Miyuki sampai si kecil tertidur.
"Culik Papa dong!"
Mira tertawa mendengar komentar anaknya hingga ia mengangkat kepala dan menopangnya. "Culik bagaimana maksudnya? Papa 'kan Papa kamu. Kenapa harus diculik?"
"Habis Papa pergi terus!" Gadis kecil itu kembali menggerutu.
Mira merapikan baju anaknya yang berantakan. "Memang maunya kamu bagaimana? Papa 'kan kerja, Sayang. Cari uang buat kita."
"Papa 'kan uangnya sudah banyak, Ma. Untuk apa lagi dicari? Culik Papa saja, Ma ... terus, kita bawa dia jalan-jalan. Miyuki 'kan mau jalan-jalan sama Papa. Sebel lihat Papa pergi ke kantor tiap hari! Memang Papa Miyuki milik orang kantor, gitu?" omel si kecil, kesal.
Mira tersenyum. Dirapikannya poni Miyuki ke samping. Apa yang dikatakan sang anak ada benarnya. Ken tanpa kerja keras pun sudah punya uang banyak. Pembuktian bekerja itu sebenarnya tak ada gunanya. "Ok, tapi ini rahasia kita berdua ya? Yang lain tak boleh tahu." Ia mengangkat jari telunjuknya.
"Sst!" Miyuki meletakkan telunjuknya di depan bibir meniru sang ibu bila menyuruhnya diam, tapi malah membuat ibunya tertawa lagi.
____________________________________________
__ADS_1
Visual Mira yang menjadi kaya setelah menikah dengan Ken. Salam, ingflora 💋