Temukan Aku 1000 Tahun Lagi

Temukan Aku 1000 Tahun Lagi
Rapat


__ADS_3

"Eh, tidak ada apa-apa 'kan?" Ken segera menarik tangannya.


"Eh, iya." Wanita itu menggigit potongan terakhir sandwich-nya dan meminum air mineral dari botol. "Ayo, kita kembali." Ia beranjak berdiri.


Pemuda itu menyeruput ice tea yang tinggal sedikit dari gelas plastik di tangan. "Mmh."


Mereka berjalan kaki pulang. Ken sedikit kaku pada wanita itu karena tak tahu harus bicara apa. Ia hanya bisa diam sambil memikirkan kejadian tadi.


Ada apa dengan tanganku tadi sebenarnya? Ia bisa menelan seekor burung kecil? Astaga ... padahal tanganku itu yang kutahu hanya bisa mengobati luka atau patah tulang. Burung? Tapi ia masuk ke mana karena aku tidak merasakan apa-apa. Ken menunduk dan memperhatikan tangannya itu.


Apa pesulap juga melakukan hal itu? Tapi ... ah, aku makin merasa tidak waras saja. Kalau bukan karena melihat sendiri, aku pasti merasa diri ini benar-benar tidak waras.


"Adikku, kalau ia masih hidup, ia pasti seumur kamu, Ken." Irish memulai percakapan.


"Oh. Laki-laki?"


"Iya." Kemudian langkah wanita itu terhenti dan menatap Ken.


"Mmh? Apa?"


Wanita itu tiba-tiba mendekat dari samping dan merangkul Ken. Ia mengacak-acak poni pemuda itu.


"Eh!" sahut pemuda itu kesal. Ia berusaha menepis tangan Irish.


"Kadang, kau mengingatkanku padanya." Wanita itu tersenyum lebar.


Ken yang terkejut mendengar penuturan wanita itu, hanya bisa diam. Kembali mereka melangkah pulang hingga sampai ke depan gedung tempat mereka tinggal, tapi mereka tidak segera masuk.


Pemuda itu memperhatikan Irish yang menatap ke arah motor yang mereka naiki kemarin. Motor itu terparkir tepat di samping gedung. Sebuah gang kecil.


"Kau bisa bawa motor?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut wanita itu.


"Tidak."


"Mmh, mau belajar?"


"Apa?"


"Ini penting untukmu juga."


Ken hanya garuk-garuk kepala sebab bila ia menolak, praktis wanita itu pasti akan memaksa. Percuma juga bertanya. "Terserah."

__ADS_1


Lima menit kemudian mereka sudah kembali pergi dengan menaiki motor, membelah jalan raya dan mendatangi taman kemarin. Di balik taman itu ada lapangan luas mirip lapangan basket yang tak terpakai, karena ring untuk memasukkan bola sudah tidak ada.


Irish berhenti di sana dan keduanya turun. "Sekarang giliran kamu di depan," sahutnya.


Ken menurut dan sekarang ia yang memegang kemudi sedang wanita itu membonceng di belakang sambil memeluk pinggangnya. Sedikit risih tapi ia terpaksa biarkan.


Irish memberi tahu setiap benda-benda yang ada di motor dan kemudian kegunaannya. Lalu ia meminta pemuda itu menjalankannya. "Pernah naik sepeda 'kan?"


"Pernah."


"Bagus. Mulai dari ini dulu."


Ken mulai mendengarkan instruksi wanita itu dan menjalankan motornya. Ia bisa menjalankan dengan perlahan. Bergerak lurus, belok, lalu keluar dari lapangan itu menuju jalan raya. "Eh, kita ke jalan raya." Beri tahunya.


"Teruskan."


"Eh?"


"Kita langsung menuju tempat tinggal."


"Apa?" Ken menoleh.


"Bisa 'kan?"


"Oh, kalian habis dari mana?" sapa pria itu mencoba ramah.


"Latihan. Ada apa?" tanya Irish datar.


Ken yang tidak mau ikut campur, segera melangkah ke pintu depan.


"Oh, boleh kita bicara?" tanya Vicky pada wanita itu.


"Bukankah kita sedang bicara?"


"Maksudku ... ke tempat lain."


"Tidak sekarang. Sebentar lagi kita ada rapat 'kan, dengan ketua?"


"Eh, iya, tapi ini sebentar saja."


"Vic, maaf. Aku belum mandi." Wanita itu segera meninggalkan Vicky.

__ADS_1


Pria itu bergegas mengejar Irish. "Sebentar saja, masa tidak bisa? Atau setelah rapat?" Ia mensejajarkan langkah.


"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa janji." Wajah wanita itu terlihat amat datar. Vicky tak tahu apa yang ada di dalam benak wanita itu.


Pria itu langsung menghadangnya. "Ok, tapi tolong luangkan waktu. Ini penting."


Wanita itu mengerut dahi. "Lihat nanti saja," ujarnya meninggalkan pria bule itu.


Setengah jam kemudian, semua anggota tim sudah berkumpul mengelilingi meja dan Jack mulai berdiri memimpin rapat. Sebuah layar laptop dibuka lalu dioperasikan oleh Devan. Setelah itu dihadapkan ke semua orang.


Jack kemudian duduk di tepi meja. "Ini adalah permata incaran kita permata Ainun Zah. Permata itu baru datang kemarin dari tanah Arab. Penjagaannya sangat ketat karena milik keturunan kerajaan keluarga Arab. Ini dipamerkan di Musium Nasional kota New York ini."


Mereka melihat tayangannya di laptop. Sebuah permata besar berwarna merah delima dengan bentuk oval diletakkan di sebuah meja kecil dan tinggi, di dalam sebuah kotak hitam yang terbuka. Permata itu diletakkan di tengah-tengah ruangan dengan diberi pembatas. Pengunjung hanya bisa melihatnya dari jarak tertentu.


"Seorang pria Arab menginginkan permata itu dan ia menyewa kita. Hari ini musium sudah dibuka untuk umum dan sudah banyak pengunjung. Oya, Ken. Bagaimana persiapanmu?"


Semua mata tertuju pada pemuda itu, membuat ia gelagapan. "Eh, aku ...." Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan melirik Irish yang membiarkannya bingung sendirian. "Sejauh ini bisa mengerjakan latihan yang diberikan. Iya," ucapnya apa adanya.


Jack tersenyum datar. "Bagus, tinggal yang lain yang mendukung pekerjaannya, diharap bisa bekerja pada saat dibutuhkan. Ok, Devan. Kau sudah dapat struktur rangka gedung?" Jack beralih ke Devan.


Ken menghela napas. Di saat rapat masih berlangsung, ia mengingat kejadian barusan. Ia sedikit terkejut karena jadi orang pertama yang ditanya. Untung saja pertanyaannya tidak susah. Irish hanya tersenyum melihat pemuda itu yang sedikit panik dengan pertanyaan tadi.


"... Ok, jadi kita akan mulai beroperasi jam satu nanti malam."


"Apa?" gumam Ken. Ia menoleh pada wanita itu tapi ia tak sempat bertanya.


"Irish, ke sini sebentar," panggil Jack.


Rapat selesai dan semua orang membubarkan diri. Ken terpaksa ikut membubarkan diri karena wanita itu sibuk mendiskusikan sesuatu dengan Jack, sehingga pemuda itu memilih kembali ke kamar.


Kenapa beroperasi di jam orang tidur sih? Ah, mengganggu saja! Apa ... sebaiknya aku tidur siang saja?


Tiba-tiba seseorang menariknya, lalu membuka pintu dan mendorongnya masuk ke kamar. Pemuda itu terkejut karena yang melakukan itu adalah Vicky, bule yang sering bertopi koboi. "Eh, ada apa?"


"Jangan mentang-mentang kamu baru di sini, kamu sok kuasa ya! Hanya karena semua orang bekerja untukmu bukan berarti kamu anak kesayangan! KAU itu, tidak lebih dari pemula yang BODOH! Kau dipilih karena tubuhmu yang kurus dan bisa masuk lewat pipa itu. Kalau tidak pun, kau bukan siapa-siapa! Ingat itu, KAU BUKAN SIAPA-SIAPA!!!" Pria itu menunjuk-nunjuk wajah Ken dengan geram.


Pemuda itu tentu saja terkejut mendengar pernyataan pria itu. Ia ada di tempat itu karena terpaksa, bukan pilihannya. Kenapa ia dituduh mencari muka dan sok kuasa? Dari mana datangnya pemikiran pria itu hingga bisa berpikir begitu? "Eh, maaf tapi aku rasa kamu salah sangka."


"Apa?!!" Pria itu semakin geram. Ia mendorong bahu Ken dengan kasar. "Kau pikir aku buta, kau berusaha bersikap manis di depan Irish, heh!"


____________________________________________

__ADS_1


Yuk, kepoin novel satu ini.



__ADS_2